24 C
New York
Monday, June 27, 2022

Hari Minggu Gaudete: “Bersukacitalah di Dalam Tuhan”

Hari ini kita memasuki Minggu ke-3 Adven. Minggu ke-3 Adven disebut sebagai minggu Gaudete; minggu bersukacitalah! Kata “bersukacitalah” ini berasal dari antifon pembukaan pada Minggu ke-3, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5). Mengapa bersukacita? Karena hari raya kelahiran Tuhan Yesus sudah dekat. Kelahirannya harus  dinantikan dan disambut dengan sukacita.

Warna liturgi hari ini yakni warna merah muda (pink) mengungkapkan  suasana sukacita itu. Bacaan-bacaan suci yang akan dibacakan dan direnungkan, terutama Bacaan I, Mazmur Tanggapan dan Bacaan II, juga berisi ajakan untuk bersukacita. Tetapi sukacita tidak boleh mengabaikan aspek penting dalam masa adven yakni pertobatan. Pertobatan sesungguhnya mendatangkan sukacita: sukacita karena diampuni dan diberi waktu oleh Tuhan untuk membarui hidup. Orang yang sungguh-sungguh bertobat pasti mengalami sukacita yang bersumber dari Tuhan itu dan ia rasakan di dalam hatinya.

Tuhan sebagai Sumber Sukacita

Pada Minggu Gaudete ini, saya juga teringat akan apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Seruan Apostoliknya “Evangelii Gaudium: Sukacita Injil” pada bulan November 2013. Pada bagian awal seruan itu Bapa Suci berkata: Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus.” Perjumpaan dengan Yesus mendatangkan sukacita. Yesus adalah alasan kita bersukacita.

Nuansa sukacita sangat terasa dalam nubuat Zefanya sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama hari ini (Zefanya 3:14-18a). “Bersorak-sorailah, hai Putri Sion, bergembiralah hai Israel. Bersukacita dan beria-rialah dengan segenap hati, hai putri Yerusalem.” Mengapa Israel bersukacita? Karena Tuhan telah menyingkirkan hukuman atasnya. Lebih dari itu, sukacita itu terjadi karena Raja Israel, yakni Tuhan ada di tengah-tengah umat-Nya.

Hal penting yang hendak disampaikan melalui nubuat Zefanya ini adalah bahwa sukacita itu sumbernya adalah Tuhan. Ketika orang mengalami kehadiran Tuhan dan terus membuka hati bagi kehendak-Nya, ia pasti bersukacita.

Sejalan dengan Bacaan I, refrein/ulangan mazmur tanggapan juga mengungkapkan nuansa sukacita: Berserulah dan bersorak-sorailah, sebab Yang Mahakudus agung di tengah-tengahmu.

Ajakan untuk bersukacita juga disampaikan oleh Paulus kepada Jemaat di Filipi sebagaimana yang telah kita dengarkan dalam Bacaan II (Filipi 4:4-7). “Saudara-saudara, bersukacitalah dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Tuhan sudah dekat! Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi dalam segala hal nyatakanlah keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka, damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Seruan Santo Paulus ini pun menegaskan hal penting bahwa sukacita itu hanya ada dalam dan bersama Tuhan. Bersukacitalah dalam Tuhan! Dia datang untuk membawa sukacita. Karena itu, membuka diri bagi kehadiran Tuhan dalam hidup dan berjuang melakukan kehendak-Nya adalah cara terbaik untuk mengalami sukacita itu. Kalau sudah mengalami sukacita dalam Tuhan, jangan khawatir akan apapun juga. Teruslah mengarahkan pandangan pada Tuhan dalam doa dan permohonan. Kita pasti dibimbing dan diberkati oleh-Nya.

Saudara/i, apakah kita orang yang bersukacita? Apakah kita orang yang bersukacita di dalam Tuhan dan karena Tuhan? Dunia kita ini, dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, menawarkan aneka kesenangan yang menggiurkan, tetapi seringkali membuat hidup kita gersang, galau dan kacau. Tak ada sukacita di hati. Bagi kita orang yang percaya kepada Yesus, sukacita sejati itu hanya ada dalam perjumpaan pribadi dengan-Nya, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus pada bagian awal seruan apostoliknya Evangelii Gaudium. Sukacita di hati itu hanya dialami ketika orang membuka diri bagi kehadiran dan tuntunan Yesus.

Wujud Konkret Pertobatan

Sikap dasar masa penantian ini adalah pertobatan. Tentang warta pertobatan itu, Yohanes Pembaptis adalah figur yang penting. Ia dengan lantang menyerukan pertobatan. Injil hari ini (Lukas 3:10-18) menyadarkan kita bahwa pertobatan itu perlu diwujudkan dalam sikap hidup yang konkret. “Apa yang harus kami perbuat?” Ini pertanyaan orang-orang yang mendengarkan warta pertobatan Yohanes. Kepada mereka ini, Yohanes menjawab: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”

Saat pandemi yang belum berakhir ini, apakah yang telah kita lakukan? Sudahkan kita peduli dengan penderitaan tetangga kita? Sudahkah kita berbagi? Saat ini juga saudara/i kita di sekitar gunung Semeru sedang menderita. Mereka membutuhkan pertolongan kita. Apakah yang bisa kita lakukan? Semoga kita peduli dan mau berbagi kepada mereka, tentu melalui pihak-pihak yang terpercaya, misalnya melalui paroki atau posko yang dibentuk oleh Gereja agar bantuan kita tepat sasaran. Ini ungkapan konkret pertobatan kita pada masa adven 2021 ini.

Pertanyaan “apa yang harus kami perbuat” ditanyakan juga oleh para pemungut cukai. Kepada mereka Yohanes menjawab: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” Yesus menghargai pekerjaan mereka, tapi jangan melanggar ketentuan. Tagihlah sesuai dengan ketentuannya. Barangkali kita juga kadang-kadang bertindak melampaui aturan: memeras atau menindas orang lain atas nama hukum atau aturan yang direkayasa demi kepentingan kita.

Para prajurit juga mengajukan pertanyaan yang sama. “Apa yang harus kami perbuat?” Kepada mereka Yohanes berkata: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Mereka diminta untuk tidak tamak, rakus dan memeras orang lain. Tugas mereka adalah menjaga keamanan. Mereka punya gaji yang cukup untuk memenuhi kebutunan.

Saudara/i, barangkali, kita juga  sering jatuh pada kerakusan dan ketamakan. Kita sering merasa tidak cukup dengan apa yang kita terima, entah gaji, uang saku atau penghasilan tertentu. Tindakan korupsi, pencurian, penipuan dan aneka kasus serupa merupakan akibat dari ketamakan-kerakusan. Mari kita mengendalikan diri agar tidak jatuh dalam dosa kerakusan dan ketamakan ini.

Atas pewartaannya yang menggugah ini, orang banyak yang mendengarkan Yohanes menduga bahwa dia adalah mesias yang mereka nantikan itu. Tapi Yohanes tahu diri. Dia bukan mesias yang dinantikan itu. Karena itu, ia berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Dapat kita katakan, inilah ungkapan kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Bahkan untuk membuka tali kasut dari Mesias itu, Yohanes merasa tidak layak. Kita tahu bahwa mesias yang dimaksudkan oleh Yohanes adalah Yesus.

Kerendahan hati seperti Yohanes adalah keutamaan yang perlu kita miliki. Kita perlu tahu diri! Pertobatan juga diwujudkan dalam sikap rendah hati. Orang yang bertobat pasti berusaha untuk terus memiliki kerendahan hati. Apakah kita memiliki kerendahan hati?

Dalam renungan singkat sebelum Doa Malaikat Tuhan (Angelus) pada hari Raya Maria dikandung tanpa noda, di Lapangan St. Petrus, Rabu 8 Desember yang lalu, Paus Fransiskus berbicara tentang kerendahan hati. Menurutnya kerendahan hati itu memikat hati Allah. Allah terpikat pada orang yang rendah hati. Contohnya adalah Bunda Maria. Allah terpikat padanya karena kerendahan hatinya. Semoga teladan Bunda Maria menginspirasi kita agar menjadi pribadi yang rendah hati. Kerendahan hati adalah buah dari pertobatan. Kalau memiliki kerendahan hati, Allah juga terpikat pada kita dan memberkati kita, sebagaimana ia terpikat pada Bunda Maria.  (Malang, 12 Desember 2021)

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini