Hidup setelah Kematian menurut Katolik: Tidak Kawin dan Tidak Dikawinkan

0
1951
Couleur / Pixabay

Zaman dulu ada kelompok orang yang tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati dan ganjaran kekal setelah kematian. Kelompok tersebut namanya ‘Saduki’. Kelompok ini merupakan salah satu aliran dalam agama Yahudi. Mereka menerima dan mengakui adanya kehendak bebas, tapi menolak konsep takdir dan konsep kekekalan jiwa.

Dalam Injil hari Minggu yang lalu diceritakan bahwa mereka bertanya kepada Yesus mengenai keadaan orang yang sudah mati. Barangkali tujuannya hanya ingin menguji Yesus. Mereka bertanya kepada-Nya:

“Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia” (Luk. 20:28-33).

Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa dunia yang akan datang itu ada; dan memang ada. Hanya saja dunia seberang itu tidak sama dengan dunia sekarang. Bedanya apa? Kalau di dunia ini ada kawin dan dikawinkan, di dunia yang baru itu tidak ada. Yesus berkata kepada mereka:

“Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk. 20:34-36).

Yesus ingin memastikan bahwa ada hidup setelah kematian. Ada kebangkitan. Ada surga. Mengenai keadaan orang yang sudah mati, Ia mengatakan bahwa mereka akan hidup ‘seperti malaikat’. Apa maksudnya? Maksudnya, mereka hidup dalam roh, bukan fisik lagi.

Sebagai orang Katolik, kita meyakini bahwa Allah menciptakan manusia terdiri atas tiga unsur, yakni tubuh, jiwa dan roh. Tiga unsur dalam diri manusia itu dikenal dengan istilah TRIKHOKTOMI. Meski dalam kehidupan sehari-hari, kita sering salah kaprah dan menganggap bahwa unsur yang ada di dalam diri manusia itu hanya terdiri atas dua saja (yang dikenal dengan istilah DUALISME), yaitu tubuh dan jiwa atau roh saja.

Jiwa dan roh sering disamakan; padahal antara tubuh, jiwa, dan roh, ketiganya berbeda. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika jelas-jelas membedakan ketiganya. “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (bdk. 1 Tesalonika 5:23).

Tubuh adalah unsur lahiriah manusia; unsur daging yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dan sebagainya. Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia meliputi beberapa unsur: pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir; dengan perasaannya manusia dapat mengasihi, dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.

Roh adalah prinsip kehidupan manusia. Roh inilah yang oleh Kitab Suci dikatakan sebagai nafas yang dihembuskan oleh Allah ke dalam manusia (Kej. 2:7) dan karenanya akan kembali kepada Allah, kesatuan spiritual dalam manusia.

Roh adalah sifat alami manusia yang ‘immaterial’ yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah, yang juga adalah Roh. Dengan demikian, tubuh, jiwa dan roh adalah satu kesatuan yang ada dalam manusia yang hidup.

Ketika mati, tubuh kita akan hancur, secantik atau seganteng apapun tubuh itu; sebab prinsipnya jelas: ‘yang diambil dari tanah akan kembali menjadi tanah’. Tubuh kita diambil dari tanah, maka akan kembali menjadi tanah (Kej. 3:19); sedangkan ‘yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah’. Roh dihembuskan oleh Allah ke dalam hidung manusia sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7), maka roh ini kelak akan kembali kepada Allah.

Nah, karena yang tersisa hanya roh, maka tidak ada lagi perkawinan. Perkawinan itu hanya terjadi kalau ada tubuh. Jika tidak ada tubuh, tidak ada perkawinan. Nah, karena di dunia seberang itu hanya ada roh, tidak ada tubuh, maka di sana tidak ada lagi yang namanya kawin dan dikawinkan.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.