Inilah Kemenangan yang Mengalahkan Dunia menurut Kitab Suci

0
435

Allah mewahyukan diri-Nya kepada kita melalui Yesus dari Nazaret; sehingga Dia yang tadinya tidak kelihatan kini menjadi kelihatan. Maka, sebagai jawaban atau tanggapan kita terhadap wahyu Allah itu, kita harus beriman kepada Yesus.

Beriman kepada Yesus itu tidak bisa sekedar ‘ikut arus’. Jika bukan karena panggilan, kita tidak kuat. Tuntutan untuk menjadi pengikut Yesus itu berat; sebab yang diwariskan oleh Tuhan Yesus bukan kesenangan dan kenikmatan, melainkan salib. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24).

Beriman kepada Yesus tidak bisa kalau hanya ikut rame. Kita beriman karena kita dipilih. Kita adalah orang-orang pilihan dari antara sekian banyak orang. Kita beriman karena Tuhan sendiri yang memilih kita. Tugas kita adalah menjaga agar tetap menjadi orang pilihan Tuhan, dengan tidak menyangkal iman itu.  Tuhan Yesus sendiri berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:26). Bukankah ini merupakan kabar baik untuk kita? Maka, entah kita beriman Katolik karena ‘warisan’ orang tua, atau karena ‘terpanggil’, kita semua mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjaga iman itu.

Menjadi orang pilihan jelas banyak suka-dukanya, banyak lovers dan juga haters-nya. Tidak sedikit orang geram ketika beriman. Si jahat sakit hati kalau kita beriman; sebab jika kita beriman, dia tidak mempunyai celah untuk menguasai kita lagi. Jangan kalah terhadap si jahat. Jangan pernah mengorbankan iman demi apapun juga.

Tuhan Yesus menawarkan salib, dunia menyajikan sejumlah kemudahan dan kenikmatan. Kita pilih yang mana? Tidak sedikit orang mengambil jalan pintas: mereka memilih kemudahan dan kenikmatan dunia. Demi itu semua, mereka rela menukar imannya.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap orang-orang yang dengan sengaja rela mengorbankan imannya demi kesenangan pribadi. Segitunya kah kita membalas pengorbanan Yesus di kayu salib?

Dunia mencoba membenturkan iman kita dengan banyak hal. Jika tidak cermat, kita bisa mengorbankan iman kita. Orang merongrong iman kita dengan banyak isu dan propaganda. Jika kita gegabah, kita akan mengorbankan iman kita. Iman tak boleh kalah berhadapan dengan tawaran dan keadaan.

Dunia mencobai iman kita dengan beragam cara. Pilihan ada di tangan kita. Jangan sekali-kali mengorbankan iman demi apapun. Sebagus apapun tawaran yang diterima, jika taruhannya adalah iman, jangan sekali-kali mengorbankan iman.

Demi kita, Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Demi Dia, kita harusnya bertahan di bawah kaki salib-Nya, bukannya meninggalkan-Nya. Apapun situasinya, tetaplah bertahan dengan iman Katolik yang kita punya. Katolik harus selalu di hati kita. Sekali Katolik, tetap Katolik untuk selamanya.

Jika kita tidak beriman, kita akan terhempas. Tetapi, jika kita beriman, kita akan bertahan. “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yoh. 5:4).

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.