Santo Yosef: Berawal dari Mimpi, Bekerja dalam Senyap

0
343

Beberapa waktu yang lalu, seorang umat mengirim pesan WA kepada saya, katanya: “Apakah saat menikahi Maria, Yosef berstatus duda ataukah masih bujangan?”

Tidak banyak yang bisa kita ketahui mengenai pribadi Yosef atau Yusuf, suami Maria. Dalam Kitab Suci hanya ada beberapa kali namanya disebut, itupun bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, tak ada satu pun kalimat yang diucapkannya. Dia diam seribu bahasa.

Juga, tidak ada data yang pasti mengenai dirinya, selain dari berbagai tuturan dalam tradisi, misalnya dari teks apokrif. Beberapa kisah menceritakan bahwa Yosef adalah seorang duda, saat ia bertunangan dengan Maria. Dari sini lalu orang memahami ungkapan dalam Injil tentang ‘saudara-saudara’ Yesus (lih. Mrk. 3:32; Mat. 12:47; Luk. 8:20).

Namun, beberapa penulis lain justru berpandangan sebaliknya. Menurut mereka, Yosef masih tergolong muda saat menikah dengan Maria. Ungkapan saudara-saudara tidak senantiasa terkait dengan saudara kandung.

Memang, pertanyaan mengenai Yosef dan perannya dalam sejarah keselamatan umat manusia seringkali diajukan oleh banyak orang. Mereka mempertanyakan apakah dia pasif atau sungguh terlibat, apakah kehadirannya penting ataukah tidak, dan sebagainya.

Kita tahu bahwa Matius adalah satu-satunya penginjil yang mengawali kisah Yesus dari figur Yosef. Yosef diperkenalkan oleh Matius sebagai keturunan Daud. Kiranya hal ini mengingatkan kita akan janji kedatangan Mesias yang berasal dari garis keturunan Daud.

Namun baik dalam Injil Matius maupun dalam ketiga Injil lainnya, tak terdengar kata-kata yang diucapkan oleh Yosef. Sepertinya tidak ada sesuatu yang istimewa yang dibuatnya. Makanya banyak orang beranggapan bahwa Yosef hanyalah tokoh tambahan atau pemeran figuran dalam sejarah keselamatan.

Tapi, sebenarnya, diamnya Yosef bukan diam yang pasif melainkan diam yang mendengarkan. Diperlihatkan dalam Kitab Suci bahwa memang semula ada keraguan dalam diri Yosef ketika pertama kali ia mengetahui bahwa Maria, tunangannya, hamil di luar perkawinan. Ia ragu karena ia tidak memahami apa yang sedang sedang terjadi terhadap Maria. Dia pun mempertimbangkan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang dihadapinya itu. Ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20).

Bagi Yosef, mimpi bukan sekedar ‘bunga tidur’ tetapi mengandung pesan penting dari Allah. Makanya, segera setelah bangun dari tidur, ia membuat suatu keputusan penting. “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya” (Mat. 1:24). Di sinilah kita bisa melihat bahwa memang Yosef bukan tipe orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Menariknya, Yosef kembali didatangi Malaikat Tuhan dalam mimpinya. Kali ini malaikat itu meminta dia untuk membawa kanak-kanak Yesus dan Maria, ibu-Nya, ke Mesir, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia (lih. Mat. 2:13). Di sini tampak sekali bahwa Allah berbicara dan menyertai Yosef dalam dan melalui mimpi.

Apakah Yosef diam saja dan pasif? Jawabannya: sama sekali tidak. Dia justru melaksanakannya tanpa bertanya mengapa dan berapa lama. Tanpa ragu Yosef mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya dalam mimpi meski ia tahu bahwa Mesir adalah tanah asing, bukan tempat yang ramah baginya. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk ketaatannya kepada kehendak Allah. Di sini kita melihat bahwa Yosef memang telah dirancang dan dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam rencana Allah.

Bersama dengan Maria, Yosef dipilih Allah untuk mengambil bagian secara langsung dan khusus dalam misteri agung penjelmaan dan karya penyelamatan umat manusia.

Berawal dari mimpi, Yosef bekerja dalam senyap. Mimpi telah mengubah hidupnya.  Ia menjalankan perannya dengan tanggung jawab. Dia membiarkan dirinya tersembunyi. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah alat di tangan Tuhan. Panggilan khusus yang diterimanya tidak membuatnya besar kepala. Dirinya tidak penting, hanya Allah yang penting, demikian bagi Yosef. Dapatkah kita belajar dari St. Yosef? –JK-IND—

Referensi Utama:

Cahyadi, Krispurwana. 2018. Keluarga Kudus, Belajar Beriman dari Yesus-Maria-Yosef. Yogyakarta: Kanisius.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.