0.2 C
New York
Saturday, March 6, 2021

Jangan sampai Aturan Menghalangi Kita dalam Berbuat Baik — Renungan Harian

Jangan sampai Aturan Menghalangi Kita dalam Berbuat Baik: Renungan Harian, 20 Januari 2021 — JalaPress.com; Injil: Mrk. 3:16

Di tengah masyarakat kita terdapat banyak aturan. Ada aturan ini, ada aturan itu. Kita memang perlu aturan. Aturan diperlukan agar tidak terjadi pertentangan (konflik) dalam interaksi antar-sesama manusia di lingkungan masyarakat. Yang tidak dibenarkan adalah jika kemudian aturan itu dijadikan sebagai alat untuk mencari kesalahan orang lain.

Tidak sedikit orang menggunakan aturan untuk mencari kesalahan orang lain. Tentu kita mempunyai banyak contohnya, tapi tidak perlu disebutkan satu persatu di sini. Contoh yang paling jelas yang bisa kita angkat adalah dari bacaan Injil hari ini. Dikisahkan bahwa orang-orang Farisi menggunakan Hukum Taurat untuk menjebak Yesus.

Orang Farisi menggunakan aturan tentang hari Sabat untuk mencari kesalahan Yesus. “Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia” (Mrk. 3:2). Bagi mereka, aturan hari sabat sudah sangat jelas dan tegas, maka tidak boleh dilanggar demi alasan apapun. Siapa yang melanggar harus dihukum.

Memang, dalam Kitab Suci Perjanjian Lama rumusan tiap-tiap aturan sangatlah jelas dan tegas: “Jangan … siapa yang melanggar, maka hukumannya …”. Pelanggarannya apa, dan hukumannya apa, semuanya sudah tertera di sana. Tidak main-main, hukuman bagi orang yang melanggar aturan hari Sabat adalah hukuman mati.

“Inilah firman yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagimu, yakni sabat, hari perhentian penuh bagi TUHAN; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, haruslah dihukum mati” (Kel. 35:1-2).

Menurut Hukum Taurat, menyembuhkan orang dapat dikategorikan sebagai kerja, padahal bekerja pada hari Sabat tidak diperbolehkan. Di sini Yesus dihadapkan pada dua pilihan: antara menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya itu atau tidak berbuat apa-apa demi menaati Hukum Taurat.

Orang-orang Farisi yang sudah mengamat-amati Yesus menunggu kalau-kalau Yesus menyembuhkan orang itu, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia dan dengan demikian mereka bisa menjatuhkan hukuman atas-Nya. Namun, tanpa mereka duga, Yesus ternyata menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya itu dengan cara yang tidak dikategorikan sebagai kerja. Ia hanya meminta orang tersebut berdiri di tengah. Kemudian, Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu” (Mrk. 3:5). Dalam peristiwa ini, bukan Yesus yang mengulurkan tangan melainkan orang yang mati sebelah tangannya itu. Maka, orang-orang Farisi tidak dapat menyalahkan Yesus.

Yang paling penting dari cerita ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh Yesus kepada kaum Farisi itu. Yesus bertanya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk. 3:4). Melalui pertanyaan ini, Yesus ingin membuka pemahaman mereka.

Bahwasanya, mengikuti aturan itu baik, tapi harus tahu tujuannya. Sekedar mengikuti aturan, tidak dapat dibenarkan. Lagipula, aturan keagamaan jangan sampai  menghalang-halangi kita dalam berbuat baik.

Terkadang kita seperti orang-orang Farisi, sibuk dengan aturan-aturan, tapi mengabaikan orang lain yang membutuhkan pertolongan kita. Padahal, mengerjakan hal baik adalah kewajiban kita sebagai orang beriman. Iman mestinya berbuah dalam tindakan nyata sehingga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

avatar
RP Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,513FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini