0.2 C
New York
Saturday, March 6, 2021

Tuhan Melihat Iman Kita, Ia juga Memperhitungkannya

Tuhan Melihat Iman Kita, Ia juga Memperhitungkannya: Renungan Harian, 15 Januari 2021 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 4:1-5, 11; Injil: Mrk. 2:1-12

Kitab Kejadian memberitahu kita bahwa ‘Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu’ (lih. Kej. 2:2).

Penulis Surat kepada Orang Ibrani, sebagaimana yang kita dengar atau baca dalam bacaan pertama hari ini, mengajak kita untuk berusaha masuk ke dalam tempat peristirahatan Tuhan itu; sebab memang kita semua diundang masuk ke dalamnya. “Baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam istirahat Allah” (Ibr. 4:11).

Bagaimana caranya agar kita bisa masuk ke sana? Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Syaratnya adalah kita harus beriman kepada-Nya. Ya, memiliki iman adalah syarat utama dan pertama agar bisa masuk ke dalam tempat perhentian bersama Allah. Apa itu iman? Iman adalah tanggapan kita terhadap pernyataan diri Allah. Allah menyatakan diri-Nya kepada kita setiap saat. Pernyataan diri Allah itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus.

Iman bukan sekedar ucapan bibir melainkan harus ditunjukkan dalam perbuatan nyata. Adapun contoh dari iman itu diceritakan dalam Injil hari ini. Orang lumpuh dan empat orang yang menggotongnya percaya bahwa Tuhan Yesus dapat menyembuhkan penyakit si lumpuh. Makanya, mereka berusaha dengan segala cara untuk bertemu dengan Yesus, termasuk jika itu harus melewati atap rumah. Dan, itu yang mereka lakukan.

Mereka membuka atap yang di atas Yesus. Sesudah atap itu terbuka, mereka menurunkan tilam tempat orang lumpuh itu terbaring. Apa yang dilihat oleh Tuhan Yesus dari upaya orang-orang ini? Injil hari ini bilang bahwa Tuhan Yesus melihat iman mereka.

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Mrk. 2:5).

Tuhan melihat iman mereka, juga iman kita. Bukan sekedar melihat, Tuhan juga memperhitungkannya. Dengan melihat iman, Tuhan mengubah keadaan kita, dan dengan melihat iman pula, kita diperbolehkan-Nya masuk ke dalam tempat peristirahatan-Nya.

Karena itu, iman kita harus bertumbuh seiring dengan pertumbuhan kita. Apakah selama ini kita sudah sungguh beriman kepada Tuhan? Ataukah kita mengandalkan kemampuan sendiri semata? “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku” (Ibr. 4:1). —JK-IND—

avatar
RP Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,513FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini