13.5 C
New York
Thursday, May 13, 2021

Kang Je dan Es Cendol

Pagi baru saja kusambut, melepas malam yang dilewati bersama lelapnya tidur. Setelah beberes tempat tidur, bebersih diri dengan air hangat, aku bersiap hendak melaksanakan kegiatan seharianku selanjutnya.

Tapi, begitu pakaian bersih kukenakan mengganti pakaian sebelumnya, telingaku mendengar bunyi WA masuk. Tanpa ragu, kubuka ponsel yang memang kembali menyala begitu tuannya bangun menyambut pagi tadi.

Mata yang semula terasa cerah berhadapan dengan segala rencana sehari ini, terbelalak tak percaya. Bunyi kalimat dalam WA itu sungguh tak menyenangkan hati ketika membacanya.

Ada apa seseorang tiba-tiba memarahiku sepagi ini?

Mendadak saja, kesegaran tubuh sehabis dibayur air hangat tadi seperti kaku. Aku terduduk, tak berdaya.  Mencoba tenang, tapi gejolak sekonyong-konyong bergemuruh di dada. Tak terbendung. Ingin meledak.

“Pagimu menjadi sendu, anak-Ku?” sebuah kepala dengan rambut gondrong, tiba-tiba muncul dari balik jendela. Ia menyibakkan jendela tipis yang menutupi jendela. Kutengadahkan kepala memandang yang menegurku tadi. Ia memberikan senyum manisnya.

Aku diamkan saja.

Nampaknya Ia tahu, aku mencuekkannya. “Boleh Aku masuk?”

Aku hanya mengangguk-angguk. Pintu memang tidak kukunci. Tak lama, orang yang memang aku tahu selalu mengetahui apa pun yang terjadi sudah duduk di sebelahku.

“Ada apa? Apakah pagi ini tidak cukup juga membuatmu lebih bergairah menerusi hari? Apakah kesegaran ini masih kurang hingga membuatmu merasa seperti tak berdaya begini?” Ia menepuk pahaku pelan. Menyentuh sebagai tanda bahwa Ia peduli.

Aku tetap tertunduk.

Tanganku menunjukkan ponsel yang tadi berisi WA penyebab kemurunganku pagi ini. Yang kuijinkan membaca WA tadi memandangku ragu sebelum akhirnya tanganNya menerima dan membaca.

“Siapa yang mengirim WA ini?” tanyaNya semberi mengembalikan ponselku.

“Teman kantorku,” jawabku pelan.

“Kenapa dia mengirimkan WA seperti itu padamu? Apakah kamu melakukan sesuatu yang menyakitkan hatinya?”

Kutarik nafas dulu. “Itulah masalahnya, Kang … Aku merasa tidak melakukan apa yang membuatnya tidak enak. Apalagi seperti yang dituduhkan seperti itu.”

“Lalu, kenapa dia mengatakan kamu seperti itu?”

Mataku memandang ke depan. Lurus seperti hendak menembus apa saja yang bisa jadi penghalang. Bersamaan dengan itu, otakku seperti melanglangbuana pada peristiwa beberapa hari kemarin yang mungkin menjadi biang dari segala masalah ini.

Selama ini kami sedang melaksanakan sebuah proyek besar untuk kesekian kalinya. Semua orang di kantorku memang dilibatkan untuk bekerja dan melaksanakan proyek itu supaya sukses. Semua telah dibagi melakukan tugas sesuai kemampuan masing-masing. Demikian juga aku.

Ada seorang karyawan baru yang  baru melakukan proyek sebesar itu seringkali bertanya-tanya padaku dan yang lain. Dengan senang hati kami menjawabnya sebatas sepengetahuan kami. Tentu saja dalam konteks antar teman saja, bukan karena senior-yunior atau atasan dan bawahan. Kami malah saling bercanda.

Karena kedekatan itu, maka aku beberapa kali mengingatkan dia untuk melakukan pekerjaan yang telah kami beritahu itu. Pemberitahuan ini benar-benar murni sebagai pemberitahuan antar teman sesama tim besar. Tidak ada maksud lain. Sebab, aku pun pernah merasakan di posisinya sekarang. Yah, sharing saja…

Hingga datanglah WA pagi tadi.

WA itu berasal dari temanku lainnya yang menjadi koordinator divisi tempat pegawai baru yang pernah bertanya padaku dan teman-teman beberapa hari lalu. Sang koordinator menulis di WA bahwa dia merasa tersinggung karena aku mendahului dia memberitahu pekerjaan kepada anak buahnya. Dia menuduhku tidak profesional, tidak solid dan subyektif.

Oleh karena tuduhan itu aku merasa down dan menjauhkan segala keceriaan pagi ini.

Sebuah tangan terasa menepuk bahuku pelan.

“Aku mengerti, anakKu. Amat mengerti. Kamu pasti tidak terima atas tuduhan itu bukan?”

Kepalaku mengangguk-angguk.

“Tidakkah kamu akan menyelesaikan semua ini dengan baik-baik?”

Kutarik nafasku lagi. “Aku tahu, aku hrus melakukannya. Tapi…, hatiku masih payah. Aku tidak melakukan hal yang dituduhkan itu, berpikir pun tidak. Aku tahu tidak enaknya pekerjaan yang telah ditanggungjawabi kepada kita seenaknya diserobot teman sendiri. Maka aku tidak melakukannya hal itu pada temanku. Aku mencoba menghargai pekerjaan orang lain saja. Tapi, kenapa justru orang lain melakukan hal ini padaku?”

“Ketika proyek ini diberikan pada kami, aku juga sama dengan teman baruku itu kok. Masih meraba meski lebih punya pengalaman sedikit dari proyek sebelumnya. Aku bahkan mengistilahkan diriku seperti gelas kosong yang siap diisi air apa saja supaya bisa hasil pekerjaan ini baik dengan segala warnanya.”

“Tapi, ketika air itu mulai mengisi, aku juga sempat bingung. Kok ada air putih, sirup segala rasa, air teh, kopi bahkan ada es cendol yang pastinya kelihatan sangat beda. Terus terang, aku sempat bingung, kaget, tidak menyangka serumit itu mengerti banyak hal. Makanya secara pribadi aku mencoba tenang dan sempat menarik diri sejenak agar tidak lebih membuatku dan orang lain tidak mengerti. Di saat semua menjadi lebih baik, tiba-tiba muncul hal ini. Hal yang sama sekali tidak kusangka dari hal-hal lain yang selama ini seringkali pula mendadak muncul.”

Kang Je yang setia duduk di sampingku nampaknya membiarkan mulutku berbicara panjang, melepas beban di dada. Terbukti, memang seperti ada yang terlepas, bebas. Kegundahan ini laksana terbawa angin pagi yang selama ini menemani kami di kamar ini.

Detik jam di jam dinding kian berputar. Aku tahu, harus segera pergi ke kantor supaya tidak telat. Namun, dengan kondisi seperti ini, bagaimana caranya?

“Aku mengikuti segala perbuatanmu dan teman-temanmu selama ini, anakKu. Aku tidak jauh dari kalian. Dan, apa yang kalian lakukan sebenarnya sudah pada tempatnya. Tidak melebihi atau mengurangi. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13)

“Tapi, kenapa teman yang memberi WA ini menuduhku demikian?”

“Kamu ingat, sebab jika kamu rela untuk memberi maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” (2 Korintus 8:12)

Kembali aku menunduk.

Bunyi burung kecil mengiring perkataan-perkataan yang diucapkan seseorang yang selama ini memang selalu menjadi penguatku. Ah, karena pekerjaan ini aku nyaris melupakanNya. Aku beberapa kali lupa bergumul sesaat denganNya. Padahal Ia selalu setia. Alasan kesibukan serta kelelahan bukan dan kelelahan  rupanya tidak berlaku bagiNya.

“Jadi, anakKu… Jika pekerjaanmu dilakukan dengan kerelaan dan kebisaan yang ada padamu, jauhkan segala kekuatiranmu. Percaya saja, apa yang terjadi pagi ini semacam kerikil kecil. Kamu bisa menyingkirkan dengan niat baik. Terangkan baik-baik pada temanmu apa yang sebenarnya kamu maksud. Katakan padanya, kamu tidak berniat seperti yang ia pikirkan itu.”

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan., sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Itu ayat dari dua Korintus bab sembilan ayat tujuh.” Kang Je menyentuh ujung hidungku. Wajahnya sumringah.

Garis memanjang terasa di bibirku.

Aku sudah bisa tersenyum tipis.

Kang Je memang sumber penghiburanku.

“Sekarang bersiaplah jelang kelanjutan harimu selanjutnya. Tetap bersemangat dan bersukacita atas namaKu.” Tangan Kang Je memberi berkat di dahiku.

Ajaib.

Ada semangat serta keinginan kuat untuk cepat bergerak.

Aku beranjak dari duduk, bergegas menyiapkan segala bawaan yang biasa kubawa ke kantor. Beban pagi ini benar menguap seiring perputaran menit yang nampaknya tak bisa menungguku lagi.

“Eh…, gimana kalau kamu istirahat makan siang nanti, kita beli es cendol” usul Kang Je tiba-tiba. Ia berdiri lalu berdiri di depan pintu.

“Lho, kok es cendol? Lagi ngidam yaaa…,” godaku.

“Soalnya tadi kan perumpamaanmu pake es cendol segala sih. Siang-siang kan enak tuh makan es cendol.”

Aku tertaw pelan. “Oke deh… Aku tunggu nanti makan siang yaa… Aku pergi dulu. Dah, Kang Je…”

“Dah, anak-Ku… Hati-hati di jalan.”

Kukedipkan sebelah mataku dan bergegas ke luar kamar.

Hari ini kusanggupi dengan segala niat baik dan suka cita.

(thx to my bro untuk ayatnya)

Anjar Anastasia
Saya senang menulis, menulis apa saja maka lebih senang disebut "penulis" daripada "novelis" berharap tulisan saya tetap boleh dinikmati masyarakat pembaca sepanjang masa karena ... menulis adalah berbagi hidup .... Novel yang pernah saya tulis antara lain: Renjana: Yang Sejati Tersimpan di dalam Rasa (Gramedia), Kirana Cinta (Gramedia), Everything I Do (Gramedia), dan beberapa lagi.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,681FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini