Kejatuhan Manusia Pertama: dari Coba menjadi Dosa

0
550
MrMac2 / Pixabay

Acuan: Kej. 2:8 – 3:1-24

Cerita mengenai kejatuhan manusia bermula dari ditempatkannya manusia pertama, Adam dan Hawa ke taman Eden. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 2:9).

Tuhan memberi perintah kepada manusia itu, kata-Nya: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16-17).

Perintah yang diberikan oleh Tuhan itu sudah sangat jelas dan tegas: jangan makan buah itu; sebab siapapun yang memakannya pasti mati. Manusia pertama itu sebetulnya paham terhadap pesan itu. Namun, sayangnya, Hawa tergiur dengan bentuk dan khasiat dari buah terlarang itu. Ia melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Bukan hanya itu, pohon itu juga menarik hati karena memberi pengertian (Kej. 3:6). Bayangkan saja, dengan memakan buah dari pohon itu, ia akan menjadi sama seperti Allah, yaitu tahu tentang yang baik dan yang jahat. Nah, persis di sinilah yang menjadi titik awal dari kejatuhan manusia pertama itu, yaitu ketika mereka ingin menjadi seperti Allah.

Dari sini kita melihat bahwa dosa biasanya menggiurkan. Sumber dosa selalu berasal dari sesuatu yang ‘enak’. Karena enaknya dosa itu, makanya sekalipun dilarang, orang tetap saja mengulanginya lagi dan lagi. Seandainya saja dosa itu datang dari sesuatu yang ‘jelek’ tampaknya dan tidak enak rasanya, pastilah orang tidak akan pernah tergoda untuk melakukannya. Sebagai contoh, seandainya buah terlarang itu buruk bentuknya dan tidak mendatangkan khasiat apapun, atau bahkan justru bisa menimbulkan sakit perut; besar kemungkinan Hawa tidak pernah tergiur untuk mencoba memakannya. Tapi lihatlah, Hawa memakannya karena ia melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Apalagi ada khasiatnya: yaitu memberi pengertian.

Ular memanfaatkan kelemahan Hawa yang sudah tergiur duluan melihat buah terlarang itu. Ular ini cerdik. Dia tahu caranya merayu Hawa. Maka, dengan akal bulusnya ia mendekati Hawa. Ia berpura-pura tidak tahu mana buah yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Dengan caranya yang licik, ia menguasai dan mengarahkan perhatian Hawa pada buah yang terlarang itu. Ia berkata: “Tentulah Tuhan berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1).

Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah melarang manusia untuk memakan semua buah dari semua pohon yang ada di taman itu. Tuhan hanya melarang dua saja: yaitu buah dari pohon pengetahuan dan buah dari pohon kehidupan. Ular juga sebetulnya sudah tahu itu. Tapi, dia berpura-pura tidak tahu, sekedar sebagai cara untuk menguasai pikiran dan perhatian Hawa.

Hawa tidak tahu bahwa ular itu sedang ingin menguasai pikiran dan perhatiannya. Maka, dengan polosnya ia menjawab: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej. 3:2).

Hawa menjawab pertanyaan ular itu dengan menyampaikan konsekuensi dari memakan buah terlarang itu: yaitu kematian. Bahkan, sedikit lebay, Hawa mengatakan bahwa jangankan memakan buah terlarang itu, dengan merabanya saja sudah bisa membuat mereka mati (Kej. 3:2). Mengapa saya katakan lebay? Karena kata ‘meraba’ ini ditambahkan sendiri oleh Hawa; untuk menunjukkan kepada ular itu bahwa perintah Tuhan itu keras, dan dia tidak akan melanggarnya.

Tapi, sekali lagi, ular itu cerdik. Dia tahu kelemahan Hawa. Makanya, dia langsung to the point. Tanpa basa-basi lagi ular itu berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 35).

Perkataan ular itu langsung menusuk hati Hawa. Dia merasa bahwa omongan ular itu benar, persis seperti yang dipikirkannya. Hawa tergoda dan khilaf. Ia memakan buah terlarang itu. Tidak berhenti di situ, ia juga mengajak Adam, suaminya untuk memakan buah itu.

Beda dengan Hawa yang masih mengingat larangan dari Tuhan, meskipun akhirnya makan juga, Adam tidak ingat sedikitpun. Makanya, ketika Hawa memberinya buah terlarang itu, tidak ada penolakan sedikitpun darinya. Ia menerima buah itu dan memakannya. Apakah ini pertanda bahwa laki-laki lebih mudah tergoda atau cenderung cuek terhadap larangan? Entahlah.

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa penggoda itu ada di mana-mana dan bisa dalam banyak bentuk. Kebetulan dalam Kitab Kejadian berbentuk ular. Si penggoda masuk melalui apa yang kita sukai, apa yang kita rasa baik dan enak. Jika sekali ia tidak berhasil, maka kali berikutnya ia akan datang dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Kelemahan manusia adalah: makin dilarang, makin penasaran. Nah, si penggoda akan memanfaatkan rasa penasaran itu.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.