18.1 C
New York
Saturday, July 31, 2021

Kepemimpinan Kristiani: Meneladani Gaya Kepemimpinan Yesus

Pada 09 Desember 2020 (esok), sebanyak 270 wilayah di Indonesia, yang meliputi 9 Provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota, akan menyelenggarakan pemilu serentak untuk memilih pemimpin daerah/kota.  Para calon pemimpin ini berasal dari pelbagai latar pendidikan, suku, agama dan bahasa. Mereka sudah dengan lantang ‘mempromosikan’ dirinya kepada khalayak atau pemilih sebagai calon yang paling pantas dipilih menjadi pemimpin.

Di antara para calon pemimpin ini, tak sedikit juga yang berasal dari antara pengikut Kristus. Mereka semua sedang berjuang meyakinkan masyarakat bahwa mereka memiliki kemampuan mumpuni untuk memimpin. Di atas segalanya, katanya, mereka siap melayani kepentingan banyak orang di atas kepentingan pribadi atau golongan. Mereka mau menjadi pelayan masyarakat.

Kita tentu saja bangga dan terus mendukung mereka yang mau menjadi pemimpin. Apalagi, motivasinya  adalah melayani banyak orang. Mereka mau berjuang demi kebaikan bersama (bonum commune). Memang, menjadi pemimpin tak lain adalah menjadi pelayan bagi sesama.

Kepemimpinan adalah Seni

Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain sehingga dari orang-orang yang dipimpin timbul kemauan, rasa hormat, kepatuhan dan kepercayaan terhadap pemimpin. Kalau orang-orang yang dipimpin memiliki sikap-sikap demikian terhadap pemimpinnya, maka mereka akan menjalankan apa yang dikehendaki oleh sang pemimpin sesuai visi misi organisasi.

Seni kepemimpinan mengandung arti bahwa seorang pemimpin memiliki kecakapan dan keterampilan tertentu untuk mempengaruhi orang lain. Kemampuan ini tentu saja tidak muncul begitu saja, tetapi membutuhkan perjuangan dalam waktu yang tidak singkat. Keseriusan untuk mengembangkan diri adalah kunci utama dalam kepemimpinan.

Menurut John C. Maxwell, pemimpin yang baik selalu melibatkan orang lain.Yang harus disadari oleh seorang pemimpin adalah bahwa ia hadir bukan hanya untuk memimpin orang lain, tetapi terutama untuk memimpin bersama orang lain. Pernyataan ini memiliki arti bahwa seorang memimpin harus mampu bekerja sama dengan orang lain. Ia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Kerja sama ini bisa berjalan dengan baik hanya jika seorang pemimpin membina hubungan yang baik dengan orang-orang yang dipimpinnya. Di sini, seorang pemimpin harus memiliki kerendahan hati. Apabila seorang pemimpin memiliki kemampuan ini, maka ia pantas menjadi contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Selain itu, seorang pemimpin juga harus menyadari bahwa orang pertama yang harus diubahnya bukanlah orang lain, tetapi dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mengenal dirinya. Ia harus menyadari keunggulan dan kelemahan dirinya. Penyadaran ini bertujuan agar sang pemimpin pertama-tama harus mengembangkan dirinya dengan baik. Ia harus tekun mengembangkan potensi dalam dirinya dan juga berani memperbaiki kekurangannya selama ini.

Tentu memimpin diri sendiri juga tidak mudah. Akan tetapi, seorang pemimpin harus berjuang setiap saat untuk membina diri, memimpin dirinya agar bertumbuh menjadi pemimpin yang baik dan dapat diandalkan oleh banyak orang. Setelah mengubah dirinya, seorang pemimpin pelan-pelan mampu mengubah orang lain dan mengarahkan mereka untuk secara bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Pemimpin adalah Pelayan

Semangat melayani tentu saja harus menjadi jiwa calon pemimpin dan para pemimpin di bidang mana saja. Hal ini senada dengan uraian seorang pakar kepemimpinan, Robert Greenleaf dalam bukunya Servant Leadership. Menurutnya, seorang pemimpin pertama-tama adalah seorang pelayan. Kepemimpinannya ditentukan terlebih dahulu oleh sebuah keinginan untuk melayani kepentingan orang lain dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Seorang servant leader (pemimpin-pelayan) memperhatikan dan mengusahakan agar kebutuhan utama orang lain terpenuhi. Seorang servant leader tidak mengejar kekuasaan atau kekayaan. Tujuan seorang servant leader adalah membuat dunia menjadi kondusif bagi perkembangan tiap warganya.

Relasi yang dibangun dalam kepemimpinan pelayan adalah relasi persaudaraan. Seorang pemimpin yang adalah pelayan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia juga menaruh kepercayaan kepada mereka. Hal demikian berarti bahwa relasi atasan dan bawahan yang kaku tidak terjadi dalam kepemimpinan pelayan.

Seorang servant leader juga adalah seorang teladan. Cara hidup, baik tutur kata maupun tingkah lakunya menjadi teladan bagi banyak orang. Di dalam dirinya tumbuh kasih dan perhatian yang membantu orang lain untuk mengembangkan dirinya. Ia peduli dengan kebutuhan orang-orang yang dilayaninya. Ia juga memiliki wawasan yang luas tentang kepemimpinan. Ia melihat kedudukan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melayani. Tentu ini membutuhkan proses yang panjang dan menuntut ketekunan. Betapa indahnya jika setiap pemimpin adalah pelayan. Kebaikan bersama (bonum commune) atau kesejahteraan bersama (common welfare) pasti terpenuhi.

Belajar pada Yesus

Apa yang telah diuraikan oleh pakar kepemimpinan Robert Greenleaf di atas sesungguhnya telah diajarkan dan diteladankan dengan baik oleh Tuhan Yesus Kristus. Yesus adalah pemimpin sejati. Sebagai pemimpin sejati, ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tugasnya tak lain adalah melayani orang-orang yang dipercayakan Bapa kepada-Nya dengan tulus dan setia. Yesus adalah pemimpin-pelayan (servant leader). Kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang membawa hidup, “Supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10).”

Gaya kepemimpinan Yesus ini bisa digolongkan sebagai kepemimpinan transformatif. Dalam kepemimpinan transformatif ada interaksi yang melibatkan diri pemimpin maupun yang dipimpin. Semua pihak berusaha memberikan sumbangan pikiran dan juga keyakinan pribadi demi mencapai kebaikan bersama (bonum communae).

Seturut teladan Yesus, bisa dikatakan bahwa seorang pemimpin kristiani mempunyai tanggung jawab untuk menghidupkan orang lain. Sebagai pengikut Kristus, ia mengimani bahwa Yesus adalah teladannya dalam hal kepemimpinan. Dialah pemimpin sejati. Ia mengajarkan nilai-nilai kerajaan Allah dan hal demikian mengubah kehidupan para murid-Nya. Maka dari itu, mereka berani meninggalkan segala sesuatu dan bersedia mengikuti-Nya. Ia membagikan pengalaman-Nya akan Allah sebagai Bapa dan mengajak para murid untuk masuk ke dalam pengalaman yang sama. Mereka diajak untuk terlebih dahulu mengalami ‘hidup yang berkelimpahan bersama Allah,’ kemudian mereka membagikannya kepada orang lain.

Harapannya semangat  ‘kepemimpinan pelayan’ yang diteladankan oleh Yesus inilah yang menjiwai para calon pemimpin dan para pemimpin yang berasal dari agama Katolik khususnya, dan umat kristiani umumnya. Begitulah seharusnya kepemimpinan kristiani. Dengan cara itu juga, mereka menjadi saksi Kristus di tengah dunia saat ini.***

Referensi:
Martasudjita, Emanuel, Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal.82.
Musakabe, Herman, Roh Kepemimpinan Sejati, Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004.
Maxwell, John, The 5 Levels of Leadership (diterj. oleh Marlene T.), Surabaya: PT Menuju Insan Cemerlang, 2012.
Suharyo, Ignatius, “Memimpin dan mengembangkan: sebuah pemikiran mengenai kepemimpinan Kristiani,” dalam Teologi dan Spiritualitas, Yogyakarta: Kanisius, 1994.

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini