Katolik Menjawab: Keraguan Thomas Justru Membuktikan Ketuhanan Yesus

0
692
Ximena-c / Pixabay

Diceritakan dalam Kitab Suci bahwa setelah para rasul menyaksikan kebangkitan Yesus, mereka menceritakan peristiwa itu kepada Thomas, yang juga disebut Didimus. Mereka berkata: “Kami telah melihat Tuhan!” (Yoh. 20:25).

Thomas menjawab: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25). Thomas menuntut bukti. Ia tidak percaya sebelum ia melihat.

Yesus menerima tantangan dari Thomas. Tetapi, ketika Yesus menampakkan diri di depan Thomas dan menawarkan kepadanya supaya mencucukkan jarinya di bekas paku pada tangan Yesus sebagai bukti atas kebangkitan-Nya, Thomas tidak mau menerima tawaran itu. Sebaliknya, ia justru berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28).

Jawaban Thomas ini ternyata menuai banyak kritik, terutama dari 0rang-orang yang tidak percaya pada ketuhanan Yesus. Menurut mereka, ‘Thomas salah’, Yesus bukan Tuhan.

Pertanyaan kita adalah: jika saja Thomas salah, mengapa Yesus tidak menegurnya? Atau, jika Thomas salah, mengapa dia tidak dihukum karena penistaan yang dilakukannya itu?

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, setiap kali jemaat menyatakan pendapat yang keliru mengenai Allah, para murid mengoreksi mereka (mis. Kis 14: 8-15). Dalam Wahyu 19:10, rasul Yohanes tersungkur di bawah kaki seorang malaikat untuk menyembahnya, tetapi malaikat itu memberi tahu dia, “Kamu jangan melakukan itu!”

Jika saja Thomas salah, pastilah Yesus mengoreksi perkataan Thomas. Tapi, nyatanya, Yesus tidak mengoreksi perkataan Thomas; Ia tidak menyuruh Thomas untuk ‘memberikan kemuliaan hanya kepada Allah.’ Juga, tidak ada malaikat yang melarang Thomas. Maka dari itu, kenyataan ini seharusnya membawa kita pada kesimpulan bahwa tidak ada yang perlu diperbaiki dari perkataan Thomas. Justru sebaliknya, pernyataan iman Thomas ini sangatlah jujur.

Menurut peneliti (scholar) Perjanjian Baru, Murray Harris, ‘perkataan Yesus kepada Thomas — ‘Engkau telah percaya’ (Yoh. 20:29a) – menyiratkan bahwa Yesus menerima pengakuan Thomas. Yesus adalah ‘Tuhan dan Allah’.

Kita kadang seperti Thomas. Kita suka ragu-ragu. Kita sulit sekali percaya begitu saja terhadap hal-hal yang terjadi di luar nalar kita. Kita lupa bahwa Allah bisa karena kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Tapi, kita juga bangga dengan Thomas. Ia tidak larut dalam keraguannya. Ia justru dengan yakin mengucapkan keyakinannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian, kita harus meniru sikap Thomas dan tidak takut untuk menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan dan Allah’ kita.

Perkataan Thomas ini masih kita gunakan hingga saat ini. Sekarang, ketika dalam perayaan Ekaristi imam mengangkat roti dan anggur yang merupakan tubuh dan darah Kristus, kita berucap: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Seperti Thomas, kita yakin dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah ‘Tuhan dan Allah’ kita. Tidak ada lagi keraguan bagi kita untuk percaya kepada-Nya.

Referensi:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/how-doubting-thomas-proved-christs-divinity
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/did-thomas-think-jesus-was-god
https://www.catholic.com/tract/the-divinity-of-christ

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.