Ketika Wabah Melanda, Gembala yang Baik Tak Ingin Dombanya Panik

0
550
Tuhan Yesus gembala yang baik. Ia menjadikan segala-galanya baik.

Meningkatnya jumlah pasien positif Covid-19 tiap harinya menyebabkan situasi sekeliling kita dari hari ke hari makin sulit; sehingga rasa was-was, cemas, dan takut, selalu menghantui pikiran serta perasaan kita.

Menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini, banyak orang mulai bertanya-tanya: “Apakah Tuhan tidak peduli terhadap keadaan kita? Ataukah Ia tidur di saat-saat seperti ini? Di mana kah Tuhan?”

Sebagai orang yang percaya, kita yakin se-yakin-yakinnya – dengan tidak ada keraguan sedikit pun – bahwa Tuhan pastilah peduli terhadap keadaan kita. Jika saja Dia tidak peduli, tentu saja kita semua sudah binasa. Kita tak mungkin bisa hidup tanpa Tuhan; sebab hanya ‘dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (lih. Yoh. 1:4).

Tuhan tidak pernah tidur. Itu pasti. Dia juga tidak pernah menutup mata-Nya terhadap penderitaan kita. Tak mungkinlah Dia yang Mahabaik membiarkan kita menderita. Justru sebaliknya, ‘Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata’ (lih. Mrk. 7:37).

Bukannya tidak peduli, Tuhan hanya mau kita bersabar sampai waktu-Nya tiba. Tuhanlah yang paling tahu kapan waktu terbaik untuk memulihkan keadaan kita. Waktu Tuhan dan waktu kita tidaklah sama. Yakinlah, Ia akan ‘membuat segala sesuatu indah pada waktunya’ (Pkh. 3:11).

Tak perlu diragukan lagi, Tuhan sudah menyiapkan segala yang terbaik bagi kita masing-masing. Ibaratnya, jika para orang tua di dunia ini tahu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, apalagi Tuhan.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat. 7:11; Luk. 11:13).

Saat ini, sampai kapanpun juga, kita pasti membutuhkan yang namanya pertolongan. Dan, ‘pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi’ (Mzm. 124:8).  Kepada Dialah kita meminta pertolongan, dan Ia pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Yang perlu kita miliki hanyalah sikap sabar menanti dan setia berada di jalan-Nya.

Jangan sampai situasi sulit seperti sekarang ini membuat kita berubah pikiran dan mulai beralih ke jalan lain, atau malah mencari jalan sendiri-sendiri. Percayalah, itu hanya akan membuat kita tersesat.

“Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat” (lih. 2 Ptr. 2:15).

Tetaplah berada di jalan Tuhan; jangan sampai tersesat. “Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri” (lih. Ul. 5:32)

Kita bersyukur karena mempunyai seorang gembala yang selalu menuntun dan mengarahkan jalan kita. Gembala yang kita punyai bukan sembarang gembala. Dia adalah gembala yang baik.

Ingat, tidak semua gembala itu baik. Selain gembala yang baik, ada juga gembala yang jahat. Gembala yang jahat ‘ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu’ (lih. Yoh. 10:12).

Gembala yang baik tak begitu. Gembala yang baik tahu di mana sumber air dan rumput hijau. Ke sanalah domba-dombanya diantarnya.

“Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang” (lih. Mzm. 23:2).

Gembala yang baik, tatkala binatang buas datang menghadang, ia tidak kabur. Juga, ketika wabah melanda, ia tak ingin dombanya panik. Sebaliknya, ia rela menderita demi menjamin keselamatan domba-dombanya.

Siapa gembala yang baik itu? Dia adalah Yesus, Tuhan kita. ‘Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib’ (Flp. 2:8) – demi menjamin keselamatan kita, domba-domba-Nya. Ia berkata:

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11).

Tak ada gembala lain sebaik Tuhan Yesus. Ia mengenal kita, tahu segala kelebihan dan kekurangan kita, mengerti kebutuhan kita, dan peduli terhadap keadaan kita. Ia tidak akan membiarkan kita tersesat dan menderita.

Hanya saja, apakah kita sabar menunggu waktu-Nya dan setia mengikuti arahan-Nya, atau justru membelot ke jalan lain, dan atau membuat jalan sendiri? Jadilah domba yang sabar dan setia; bukan domba yang bandel apalagi rewel. —JK-IND—

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.