Krisis Jawaban

0
113
Sumber: Parokicikarang.org

Hari ini  adalah hari doa panggilan sedunia ke-57. Gereja Katolik di seluruh dunia secara serempak mendoakan panggilan. Tentang hari doa panggilan ini, saya tergerak untuk mengutip kata-kata penting Paus Paulus VI, sang peletak dasar hari doa panggilan, yang disampaikannya pada 11 April 1964 melalui Radio. Kata-kata ini saya ambil dari pesan Paus Benediktus XVI pada hari minggu doa panggilan sedunia ke-50, 21 April 2013. Kala itu, Paus Benediktus XVI menggemakan lagi pesan pendahulunya, Paus Paulus VI.

“Hal memiliki jumlah imam yang cukup berdampak langsung pada seluruh umat beriman: bukan semata-mata karena mereka bergantung pada jumlah imam tersebut terkait dengan masalah rohani umat Kristen di masa depan, melainkan karena persoalan ini menjadi indikator yang tepat dan tak dapat dihindari tentang dinamika kehidupan iman dan kasih dari setiap jemaat  paroki dan keuskupan, sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati Injil dengan tulus” (Paus Paulus VI, Pesan Radio, 11 April 1964).

Pesan ini digemakan lagi dengan tujuan agar umat beriman tak lupa alasan penting mengapa hari doa panggilan sedunia ini ditetapkan. Dari kutipan di atas, tampak bahwa Paus Paulus VI  memberikan penekanan tentang jumlah imam dan juga jumlah kaum religius (orang yang menjalankan hidup bakti: biarawan/ti) menjadi indikator dinamika kehidupan iman sekaligus bukti kesehatan atau kematangan moralitas keluarga-keluarga Katolik.  Bahkan Paus menggarisbawahi bahwa di mana ditemukan banyak panggilan menjadi imam dan hidup bakti (biarawan/ti), di sana banyak orang menghayati Injil dengan tulus.  

Menurut saya, dapat juga dikatakan sebaliknya. Tentu ini asumsi pribadi. Di mana tidak ada atau hanya sedikit yang mau menjadi imam atau menjalankan hidup bakti, di sana Injil belum dihayati dengan tulus. Bahkan di sana juga kematangan  iman dan moralitas umat Katolik perlu mendapatkan perhatian yang serius. Untuk tidak mengatakan bahwa kematangan iman dan moralitas di sana  belum bertumbuh dengan baik. Tentu  asumsi ini bisa diperdebatkan, sebab ada kompleksitas situasi dan kondisi yang menyebabkan hal demikian. Tidak bisa hitam dan putih. Akan tetapi, asumsi ini bisa menjadi kritikan, awasan bahkan nasihat yang agak keras agar umat beriman, terutama keluarga Katolik tak lelah membarui hidup iman dan moralitas mulai dalam keluarga sendiri.

Tak Banyak (lagi)  yang Berminat

Dulu Eropa terkenal sebagai benua yang sangat ‘fanatik’ dengan iman Katoliknya. Orang Eropalah yang  meneruskan pewartaan para rasul  untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia (Bdk. Mat. 28:16-20). Mereka pergi ke pelbagai pelosok bumi untuk mewartakan iman Katolik, tak terkecuali Indonesia.  Harus diakui dengan rendah hati bahwa iman Katolik di Indonesia bertumbuh dan berkembang dengan baik berkat pewartaan para imam misionaris dan biarawan/ti misionaris asal Eropa. Saat ini banyak di antara mereka yang sudah meninggal dunia; ada juga yang sudah pulang ke Eropa dan menikmati  usia lanjut di panti jompo; ada juga beberapa orang yang bertahan di Indonesia dan menikmati masa tua di daerah misi mereka ini.

Akan tetapi, serentak kita juga disadarkan bahwa saat ini benua Eropa tidak seperti dulu lagi. Mereka tidak lagi fanatik dengan iman Katolik dan tak berminat lagi menjadi orang Katolik. Lebih mengagumkan lagi, mereka tak berminat lagi dengan agama apapun.  Bahkan tak sedikit pula yang menganggap Tuhan itu tidak ada, atau Tuhan telah mati.  Ini bukan rahasia lagi.

Jika dulu, para misionaris itu sebagian besar dari Eropa, saat ini tidak lagi. Tak ada lagi misionaris dari sana. Betapa tidak, yang beriman Katolik saja sudah sedikit. Dengan sendirinya, tempat pembinaan calon imam dan misionaris hampir tak ada. Eropa  kini justru mengharapkan misionaris dari Asia untuk segera ke sana. Itu baru Eropa. Belum benua lain.Tapi, saya tidak mau bicara terlalu jauh litani tak dirindukan ini.

Menurutku,  di tengah situasi tersebut, Gereja Katolik tetap bersyukur karena di beberapa tempat tertentu di dunia ini, khususnya yang saya tahu dengan lumayan baik, di Indonesia, panggilan menjadi imam dan biarawan/ti itu masih lumayan diminati. Walau harus diakui pula bahwa beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Pertumbuhan panggilan di Indonesia yang masih lumayan subur ini ditandai antara lain dengan adanya tahbisan imam setiap tahun dan juga diutusnya lumayan banyak misionaris asal Indonesia ke seluruh dunia. Jumlah calon imam di setiap keuskupan dan kongregasi religius  juga masih lumayan banyak. Begitu juga jumlah suster di setiap biara. Belum lagi jumlah seminaris di seminari menengah yang lumayan banyak. Bagiku, ini membanggakan. Tentu ini anugerah Tuhan untuk Gereja Katolik dan  pantas selalu disyukuri.

Apakah menurunnya semangat menjadi imam dan biarawan/ti mencerminkan turunnya kualitas penghayatan Injil di dalam keluarga Katolik? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Ada banyak hal yang bisa didiskusikan tentang fenomena yang tak diharapkan ini. Akan tetapi, saya ingin membagikan penemuan pribadi saya tentang hal ini.

Bagiku, abad 21 ini adalah abad yang penuh tantangan bagi semua manusia, tak terkecuali Gereja Katolik. Di satu sisi, manusia berbangga karena pada abad ini, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Itu memudahkan urusan manusia. Semuanya serba cepat dan canggih. Komunikasi juga umumnya sangat lancar. Dunia seperti sebuah kampung global. Setiap orang bisa mengetahui keadaan  yang sedang terjadi di belahan bumi lain melalui internet. Pembelian dan pengiriman barang dan jasa juga tak sulit. Sepertinya manusia bisa melakukan segalanya dengan mudah dan dimanjakan oleh segala kemajuan ini. Tampak sekilas, semuanya baik-baik saja.

Benarkah demikian? Tidak juga. Ada banyak soal ditemukan pada abad canggih ini. Ada banyak krisis yang muncul sebagai konsekuensi logis kemajuan ini. Sebut saja krisis yang berhubungan dengan lingkungan hidup (kerusakan alam, kebakaran hutan, eksploitasi alam untuk kepentingan perusahaan, dan lain-lain), polusi udara dan air, pemanasan global (global warming) dan juga pelbagai masalah sosial-ekonomi-politik.

Ada juga masalah yang berhubungan dengan moralitas, antara lain: pengesahan undang-undang aborsi di negara tertentu, pemberlakuan hukuman mati, euthanasia, juga  aneka tindakan pencurian yang dilakukan dengan cara yang canggih (misalnya pembobolan bank atau ATM).  Perdagangan narkoba juga tampak lebih mudah di zaman ini. Ada juga perlombaan senjata antara negara-negara tertentu, bahkan diduga ada juga yang memproduksi senjata biologis yang sangat membahayakan peradaban. Ada juga persaingan datang antara negara tertentu yang turut mengacaukan dunia. Belum lagi orang begitu mudah saling menghina melalui media internet yang berujung pada masalah pidana bahkan perkelahian.  Ada banyak juga penipuan yang dilakukan melalui bisnis online atau sejenisnya yang memakan banyak korban.

Yang terbaru: wabah Corona (Covid-19) seperti dugaan banyak pihak, menjadi bagian penting dari krisis yang disebabkan oleh kemajuan iptek di abad 21 ini. Aneka kemajuan tampaknya  sedang memangsa  manusia yang membuatnya.

Belum lagi mental gaya hidup mewah dan mental instan (cepat saji) yang membius banyak orang. Ada juga pendewaan harta, kenikmatan tertentu dan pangkat-jabatan  di tengah masyarakat. Banyak orang tergoda bersaing mengumpulkan harta sebanyaknya, mengejar aneka kenikmatan tanpa batas dan juga meraih jabatan atau posisi sebanyak mungkin. Jika semua didapatkan, ada kepuasan tertentu. Walau tak bertahan lama.

Di tengah situasi yang kompleks ini, sudah  banyak orang juga yang memilih untuk meninggalkan  agamanya atau bahkan mengabaikan keberadaan Tuhan. Tuhan tidak ada. Tuhan sudah mati. Betapa tidak, segala kemajuan iptek dan segala kemajuan zaman ini adalah karya manusia, bukan karya Tuhan.

Atau ada juga yang tak seekstrim itu. Mereka masih beragama atau percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi merasa tak ada waktu untuk datang kepada-Nya. Semuanya sibuk memusatkan perhatian pada perkara duniawi (mengejar harta, pangkat dan kenikmatan tertentu). Bagi mereka duduk sejenak untuk berdoa di dalam keluarga atau berkumpul di Gereja adalah aktivitas membuang waktu saja. Tak ada gunanya. Atau paling-paling mereka mencari Tuhan saat dalam suasana penderitaan. Kalau sudah segar kembali, Tuhan dilupakan lagi. Begitulah seterusnya.

Bukan tidak mungkin, suasana seperti yang saya paparkan di atas dialami oleh banyak keluarga Katolik di abad 21 ini. Salah satu akibatnya, menurut saya, semakin sedikit anak remaja atau anak muda yang memilih cara hidup yang berbeda orientasi dengan cara hidup di atas, yakni menjadi imam atau biarawan/ti. Bagaimana mungkin ada anak muda dari keluarga Katolik berminat imam dan biarawan/ti sementara mereka sudah terbiasa hidup di tengah keluarga  atau masyarakat   yang sudah terbiasa mengabaikan Tuhan dan hanya fokus mencari dan mengejar kenikmatan dunia?  Cukup sulit, tampaknya.

Krisis Jawaban

Kalau demikian, apakah memang benar  bahwa saat ini Tuhan tidak lagi memanggil kaum muda  untuk mengambil bagian dalam pewartaan Injil dengan menjadi imam dan biarawan/ti? Apakah benar ada krisis panggilan itu? Saya merenungkan, Tuhan tidak pernah berubah sikap-Nya. Ia tetap memanggil anak-anak-Nya untuk menjadi pelayan-Nya sebagaimana dahulu Ia memanggil Abraham, Musa, Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Samuel, Petrus, Yohanes, Yakobus dan Paulus. Ia terus berinisiatif memanggil anak-anak muda sebagaimana pada abad yang lalu Ia memanggil banyak orang Eropa menjadi misionaris dan mengutus mereka ke seluruh dunia. Ia tidak mengubah sikap-Nya hingga kekal. Jadi, tidak ada krisis panggilan!

Menurutku, yang ada pada abad 21 ini adalah  krisis jawaban. Bukan krisis panggilan! Tuhan yang baik dan tak berubah itu, tetap memanggil anak-anak-Nya menjadi imam dan biarawan/ti. Sayangnya anak-anak-Nya tak mendengarkan panggilan-Nya. Karena tak mendengarkan, maka tak ada jawaban.

Mengapa tak mendengarkan suara panggilan-Nya? Mengapa tak menjawab panggilan-Nya? Barangkali karena anak-anak abad 21 ini  hidup di dalam keluarga atau masyarakat yang sibuk (hanya) mengejar harta, pangkat dan kenikmatan duniawi. Tak ada lagi waktu untuk berdoa bersama dalam keluarga; atau jarang ada waktu untuk membaca dan mendengarkan sabda Tuhan. Semuanya sibuk memusatkan perhatian pada perkara dunia. Tuhan tidak lagi menjadi pusat hidup mereka. Padahal panggilan Tuhan itu hanya bisa didengarkan kalau mau mengambil waktu dalam keheningan doa dan membaca sabda-Nya.

Selain itu,  tawaran  aneka kemudahan, kemewahan dan kenikmatan dunia  pada abad 21 ini jauh lebih menarik daripada ajakan menjadi imam dan biarawan/ti. Apalagi panggilan jenis ini mengharuskan anak-anak muda meninggalkan aneka kemudahan dan kenikmatan duniawi, dan berjuang dalam kesederhanaan. Ditambah lagi dengan aneka aturan yang mengikat dari pagi sampai malam, sepanjang hidup. Anak-anak yang sudah terbiasa hidup mewah dan bermental instan, sulit tertarik dengan cara hidup seperti itu. Terkecuali satu dua contoh tertentu, yang mana anak orang kaya dan terkenal yang terbiasa dengan kemewahan mau menjawab panggilan Tuhan menjadi imam atau suster. Ini sangat sedikit.

Inisiatif-Nya dan Jawabanku

Ada pula yang berdalih bahwa menurunnya panggilan menjadi imam dan biarawan/ti itu karena krisis keteladanan dari para uskup, imam dan biarawan/ti. Bagi mereka, banyak kaum terpanggil yang sudah menjawab panggilan Tuhan, tapi tak hidup sesuai panggilannya. Mereka tak memberi contoh yang lain. Mereka tak ada bedanya dengan kaum awam atau manusia umumnya. Itulah yang melunturkan minat anak muda menjawab panggilan Tuhan. Baiklah. Saya tidak menyangkal hal ini, walau bagiku, ini bukan masalah nomor satu.

Menurutku, panggilan hidup menjadi imam dan biarawan/ti pertama-tama adalah inisiatif Allah (bdk. Kisah panggilan Samuel  dalam 1Sam 3:1-21)). Allahlah yang terlebih dahulu berinisiatif memanggil manusia. Kisah panggilan Samuel juga hendak menegaskan bahwa Bapa yang baik itu selalu melibatkan umat-Nya dalam karya pewartaan di dunia ini. Inisiatif Allah ini tak lain adalah  rahmat-Nya yang tercurah untuk orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya seperti Samuel. Saya memang memegang teguh keyakinan ini. Panggilan yang sedang kujalani ini adalah rahmat Allah. Saya mensyukuri rahmat-Nya ini.

Akan tetapi, saya sungguh-sungguh menyadari bahwa jawaban iman dari pihakku terhadap inisiatif Allah itu tidak kalah penting. Jadi, panggilan ini adalah kerja sama antara rahmat Allah dan jawaban imanku setiap saat. Jawabanku ini bersifat personal/pribadi dan sama sekali tidak tergantung pada orang lain, termasuk orang tua, apalagi tetangga. Karena bersifat pribadi dan bebas tanpa paksaan, maka  saya berusaha tidak terpengaruh pada keteladanan orang lain (imam dan biarawan/ti) yang lebih dahulu menjawab panggilan-Nya.  Tentu saja sebagai makhluk sosial, keteladanan itu penting, tapi bagiku, itu bukan segalanya. Panggilan ini bersifat personal: Allah memanggil saya secara pribadi dan saya menjawabnya secara pribadi pula. Itulah alasan saya katakan bahwa krisis keteladanan bukan masalah nomor satu dalam ziarah menjadi imam dan biarawan/ti.

Karena panggilan ini pertama-tama inisiatif Allah yang ditanggapi dan dijawab dengan penuh iman, maka saya memiliki tanggung jawab untuk memeliharanya. Melalui perayaan liturgis dan devosional, secara istimewa melalui Ekaristi dan  merenungkan Sabda Tuhan, saya sungguh-sungguh diundang untuk menjaga ‘api panggilan’ ini. Tatkala ‘perawatan’ panggilan ini terus dilakukan, maka saya akan mengalami kebahagiaan sejati melalui jalan ini.

Senada dengan pesan Paus Fransiskus pada Hari Doa Panggilan sedunia ke-57 hari ini, saya akan terus BERSYUKUR atas  rahmat panggilan ini, juga terus menumbuhkan-mengembangkan KEBERANIAN mewartakan Injil di mana  saja saya diutus dan tiada lelah melambungkan PUJIAN atas keagungan Allah yang memanggilku seperti Bunda Maria (Bdk. Luk. 1:46-56). Saya tahu, kelelahan dan sakit kadang-kadang memberi warna bagi langkahku di jalan ini, tapi saya tak akan gentar dan terus melangkah dengan mantap, dalam iman, harapan dan kasih.

Akhirnya, di hari doa panggilan sedunia ke-57 ini, saya mengajak saudara/ti untuk mendoakan  Bapa Suci Fransiskus, para uskup, para imam dan biarawan/ti di seluruh dunia agar tetap menjalankan karya pelayanan yang dipercayakan Tuhan sebaik-baiknya dan semoha semuanya setia sampai akhir. Doakan juga para frater/bruder dan para  suster yang  masih dalam tahap formasi, juga para seminaris di seminari menengah, agar tetap menjaga dan merawat api panggilan dan terus membarui jawaban YA atas sapaan Tuhan. Doakan juga kaum muda/i, agar di tengah pelbagai situasi kemajuan dan juga kesulitan abad 21 ini, semakin banyak yang mendengarkan panggilan Tuhan dan mau menjawab YA atas udangan Tuhan mengambil bagian dalam karya pewartaan Injil dengan menjadi imam dan biarawan/ti.  Doakan juga keluarga katolik agar  terus menjadikan keluarga sebagai Gereja Kecil, tempat iman, harapan dan kasih ditumbuhkan, dihidupi dan dibagikan. Doakan agar setiap keluarga Katolik tidak terlena mengejar harta, pangkat dan kenikmatan duniawi, dan melupakan Tuhan sang asal dan tujuan hidup manusia. Sebab sesungguhnya, di dalam keluarga  yang tak melupakan Tuhan itulah, panggilan Tuhan menjadi imam dan biarawan/ti itu  bisa didengarkan dan akhirnya dijawab dengan YA secara mantap. Akhirnya, tak ada (lagi) krisis jawaban!***

 

Labuan Bajo, 3 Mei 2020

Hari Doa Panggilan Sedunia ke-57

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.