Maria, Bunda Keteguhan Hati dan Teladan Iman

0
319

Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa sejak lama Gereja menetapkan bulan  Mei sebagai bulan Maria. Tentu saja sangatlah beralasan jika Bunda Maria ditempatkan secara sangat istimewa di hati umat Katolik; sebab dia adalah bunda keteguhan hati (bdk. Ujud Gereja Indonesia tahun 2020) dan teladan iman.

Penulis Injil Yohanes mencatat, ketika Yesus disalibkan, Bunda Maria ada di sana berada di dekat salib-Nya.

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh. 19:25).

Catatan Yohanes di sini sangatlah penting mengingat situasi seputar penyaliban Yesus pastilah mencekam; sehingga boleh jadi saat itu para murid Yesus semuanya berada di tempat persembunyian.

Kitab Suci memberi kesaksian bahwa Yesus dihakimi dan dihukum secara tidak adil, bahkan sampai mati di kayu salib. Maria, sebagai seorang ibu, dalam situasi sulit itu, ada di sana untuk menemani putranya.

Semua peristiwa mengerikan yang dialami oleh putranya dilihat dengan mata kepala sendiri oleh Bunda Maria. Ibu mana di dunia ini yang bisa tahan berdiri melihat anaknya disiksa sampai mati?

Kita bisa bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu ketika menyaksikan sendiri anaknya diperlakukan demikian. Tapi, hati Bunda Maria tetap teguh; sebab sejak awal – terutama setelah mendengar perkataan Simeon – ia jadi tahu apa resikonya menjadi ibu Yesus.

Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk. 2:34-35).

Bunda Maria percaya pada apa kata Simeon itu. Tapi, ia tidak gentar. Ia justru sudah memasrahkan dirinya pada kehendak Tuhan. Apapun yang terjadi, ia sudah siap.

Ketika Malaikat Gabriel menjumpainya dan memberitahu soal kelahiran Yesus, ia tunduk pada kehendak Tuhan.

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Saat itu, ia tak banyak ngoceh, apalagi protes. Sebaliknya, ia justru menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya (lih. Luk. 2:19,51).

Sebagai ibu, Maria tahu persis siapa Yesus. Tatkala semua orang mempertanyakan kuasa Yesus (bdk. Mat. 21:23-27; Mrk. 6:2-3), Maria justru dengan yakin seyakin-yakinnya tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa. Maka, ketika tuan pesta di Kana kehabisan anggur, ia tanpa ragu meminta Yesus untuk menolong mereka.

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:3-5).

Jelaslah Bunda Maria tahu persis siapa Yesus, karena Yesus anaknya. Jelas juga Tuhan Yesus tidak menolak permintaan Bunda Maria, karena itu ibu-Nya.

Dari kisah ini kita melihat bahwa Tuhan Yesus awalnya jelas-jelas mengatakan bahwa waktu-Nya belum tiba, tapi karena yang minta adalah ibu-Nya, maka hal itu dilakukan-Nya juga.

Dan, menariknya, penulis Injil Yohanes menerangkan bahwa tindakan mengubah air menjadi anggur itu merupakan mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus.

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yoh. 2:11).

Perhatikan, betapa Tuhan Yesus mendengarkan permintaan ibu-Nya. Ia tidak mengabaikan permintaan Bunda Maria begitu saja meski Ia sendiri sudah bilang bahwa waktu-Nya belum tiba.

Artinya, jangan ragu untuk meminta doa dari Bunda Maria. Bunda Maria dekat dengan putra-Nya; segala permintaannya pastilah didengarkan oleh Yesus, putranya.

Maka, mintalah doa dari Bunda Maria. Tapi jangan lupa, selain meminta doa, kita pun harus belajar dari Bunda Maria untuk tetap setia berada di dekat salib Tuhan. Jangan pernah menjauh dari salib, apalagi meninggalkannya. —JK-IND—

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.