Kisah Heroik Riyanto, Anggota Banser NU, yang Wafat saat Menjaga Gereja

0
472

Setiap bulan Desember tiba, kisah tentang Riyanto bertebaran diberbagai media sosial. Seolah-olah bulan Desember adalah bulan untuk mengenang pengorbanan Riyanto, seorang Banser asal Jawa Timur. Riyanto adalah anggota Banser NU berusia 25 tahun yang menjaga Gereja Eben Haezer pada tanggal 24 Desember 2000.

Kala itu, Gereja Eben Haezer penuh dengan jemaat. Tidak terlihat ada bangku kosong, karena malam itu diadakan ibadah vigili Natal. Tidak diduga terjadi kegaduhan, karena ditemukan bungkusan yang berukuran besar seperti kado diselipkan di antara deretan bangku. Hal itu dinilai teidak wajar sehingga mengundang perhatian banyak orang. Sebagian orang menduga bahwa itu berisi bom, sehingga banyak orang yang panik.

Riyanto yang kala itu secara sukarela menjaga gereja segera mengamankan benda tersebut. Ia membuka dan tampaklah kabel-kabel menjulur. Riyanto segera membawa bungkusan itu keluar gereja. Ia membekap bungkusan itu dengan tubuhnya. Ia hendak membuang ke tempat sampah yang ada di depan gereja.

Namun sebelum sampai tempat sampah, bungkusan tersebut meledak. Karena daya ledaknya sangat keras, maka konon serpihan tubuh Riyanto ditemukan pada jarak seratus meter. Sungguh Riyanto menjalankan tugasnya dengan mulia, ia menyelamatkan nyawa banyak orang.

Karena jasa Riyanto yang luar bisa itu, kota Mojokerto mengabadikan namanya sebagai nama jalan. Kala itu, Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) memakai nama Riyanto sebagai nama beasiswa yang tiap tahun diberikan oleh Wahid Institut. Tujuannya adalah untuk mengenang pengorbanan sekaligus keberanian Riyanto.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: [email protected] atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289