Lawan Radikalisme Agama: Tuhan Mau Kita Bhinneka

0
332
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Minggu lalu, saya menulis satu artikel di portal GEOTIMES berjudul: ‘Menyingkap Misteri dalam Agama’ (silahkan klik judulnya untuk membaca artikelnya). Dalam artikel tersebut saya menyorot soal adanya kecenderungan dari orang-orang untuk menolak perbedaan dalam masyarakat; terutama menolak perbedaan agama. Sampai-sampai ada orang yang merasa paling suci dan paling benar dari orang (beragama) lain.

Secara pribadi, saya melihat gejala itu sebagai kecenderungan yang ‘tidak sehat’. Dan, kecenderungan yang ‘tidak sehat’ seperti ini makin kuat dirasakan setelah orang-orang semacam itu mencoba ‘mengintip’ ajaran agama tetangga dan setelahnya merasa tahu ajaran agama tetangga. Dari situ, mereka kemudian membuat perbandingan secara sepihak, dan menyimpulkan bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar.

Padahal, kita tahu bahwa kegiatan ‘intip-mengintip’ terhadap ajaran agama lain tidak akan pernah memberikan pengetahuan yang komprehensif tentang isi ajaran agama lain; sebab ajaran suatu agama hanya dapat dimengerti dengan baik oleh penganutnya sendiri. Dengan kata lain, ‘intip-mengintip’ ajaran agama tetangga hanya akan memberikan pengetahuan yang serba terbatas.

Barangkali, orang-orang seperti yang saya sebutkan di atas mengharapkan agar kita semua menganut satu agama saja. Namun, tentu saja harapan seperti itu tidak mungkin terjadi; sebab yang namanya perbedaan, dalam hal apapun, merupakan kehendak Tuhan sendiri.

Sebagai orang yang beragama, kita semua percaya bahwa Tuhan yang kita imani itu baik. Ia tidak memihak siapapun. Setuju? Nah, Kitab Putra Sirakh, yang merupakan salah satu kitab dari Kitab Suci Perjanjian Lama umat Katolik, menerangkan bahwa ‘Tuhan adalah Hakim yang tidak memihak. Ia tidak memihak dalam perkara orang miskin, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. Jeritan yatim piatu tidak Ia abaikan, demikian pula jeritan janda yang mencurahkan permohonannya’ (Sir. 35:12-14). Dengan demikian, tak perlu diragukan lagi bahwa Tuhan itu adil. Ia mengasihi kita semua tanpa tebang pilih.

Di mata Tuhan, kita ini setara dan sederajat; tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mengapa? Karena Dia pencipta kita; dan kita ini adalah ciptaan-Nya. Dia menggambar wajah kita dari wajah-Nya sendiri. Karena-Nya kita ini adalah foto copy dari gambar wajah Tuhan sendiri. Kita adalah citra-Nya. Makanya, Ia mengasihi kita semua tanpa terkecuali. Matius dalam Injilnya menuliskan bahwa Tuhan ‘menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar’ (Mat. 5:45).

Ya, pastilah Tuhan mencintai apa yang diciptakan-Nya. Ia tidak membeda-bedakan mereka. Kitab Kebijaksanaan bilang, “Engkau mengasihi segala yang ada. Engkau tidak membenci pada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan” (Keb. 11:24).

Tidak mungkinlah Tuhan membenci ciptaan-Nya sendiri. Entah seperti apapun kita bentuknya, sifatnya, juga perbuatannya; Tuhan tetap mengasihi kita. Logikanya jelas: Ia yang menciptakan kita, pastilah Ia juga mengasihi semua yang diciptakan-Nya sendiri.

Tuhan mengasihi kita karena Ia Mahakuasa. Dia tidak akan menggunakan kuasa-Nya untuk menghancurkan ciptaan-Nya sendiri. Sebalik-Nya, dengan segala kuasa-Nya, Ia mengasihi kita, ciptaan-Nya. Kitab Kebijaksanaan sekali lagi menyebutkan: “Justru karena Engkau berkuasa akan segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat” (Keb. 11:23).

Tidak ada lagi kuasa lain di atas kuasa Tuhan. Nah, dengan kuasa-Nya yang tak terbatas itulah, Tuhan menciptakan masing-masing kita unik dan berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada satu pun di antara kita yang sama persis wajahnya, hobinya, maupun sifatnya. Boleh jadi ada kemiripan, tetapi tetap saja tidak akan pernah ada yang sama persis; bahkan, di antara saudara kembar sekalipun.

Padahal, jika Tuhan mau, bisa saja Ia membuat kita semuanya sama: dari segi wajah, hobi, sifat, pilihan politik, agama, dan sebagainya; sebab Ia Mahakuasa. Tapi, Tuhan ternyata tidak melakukan itu. Manusia diberi-Nya kebebasan untuk memilih apa yang disukai, dan jalan mana yang mau dilalui. Itu tandanya bahwa Tuhan tidak mau kita sama semuanya. Dengan kata lain, Dia sendirilah yang menghendaki adanya perbedaan ini.

Saya berpikir bahwa perbedaan dan keberagaman yang ada di dalam kehidupan kita, tidak lain kalau bukan merupakan kehendak Tuhan sendiri. Dialah yang mau kita berbeda; karena sejatinya berbeda itu indah. Pelangi itu terlihat menarik bukan karena warnanya semua sama, melainkan justru karena berwarna-warni. Demikian juga kita, betapa menarik dan indahnya hidup kita apabila kita menerima perbedaan dan keberamaan di antara kita dengan penuh syukur.

Jangan mengaku sebagai ‘pencinta Tuhan’, ‘abdi Allah’, ‘hamba Tuhan’, atau apapun sebutannya, kalau justru menolak perbedaan. Keberagaman adalah mahakarya dari Tuhan. Dia yang menghendakinya terjadi.

Jangan pernah menolak adanya keberagamanan. Kalau kita menolak adanya keberagaman, itu sama saja kita melawan kehendak Tuhan. Siapa kita sampai berani menolak kehendak Tuhan? Tunduklah pada Tuhan, dan patuhlah pada kehendak-Nya.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.