Maria, Bunda Gereja

0
137
Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.

Satu hari setelah Pentakosta (hari lahirnya Gereja), Gereja Katolik memperingati Maria sebagai Bunda Gereja. Peringatan ini ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada 3 Maret 2018 silam. Penetapan ini bermaksud  menyadarkan para pengikut Yesus bahwa Bunda Maria tak terpisahkan dari Gereja. Ia selalu hadir bersama dan di dalam Gereja dan menyertai para pengikut Putranya dalam situasi apapun. Ia hadir sebagai bunda yang melindungi, menemani, mendoakan dan memberikan kekuatan kepada Gereja.

Injil yang dibacakan pada peringatan ini (Yoh. 19:25-34) mewartakan tentang detik-detik terakhir hidup Yesus di salib. Pada saat tragis dan memilukan itu, Bunda-Nya berada di kaki salib. Tentu Sang Bunda sedang mengalami duka yang mendalam.

Di tengah situasi yang mencekam penuh duka itu, Yesus justru melakukan sesuatu yang mengharukan sekaligus mengagumkan. Dari atas salib, Ia menyerahkan para pengikut-Nya (diwakili oleh murid yang dikasihi-Nya) kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga menyerahkan ibu-Nya kepada para pengikut-Nya (diwakili murid yang dikasihi): “Inilah ibumu!” Sejak itu, murid yang dikasihi itu menerima Maria di rumahnya.

Kisah penyerahan Bunda Maria kepada para pengikut Yesus (Gereja) dan penyerahan para pengikut Yesus (Gereja) kepada Bunda Maria  yang dilakukan Yesus dari atas salib merupakan salah satu pendasaran Kitab Suci yang mengokohkan relasi Bunda Maria dengan Gereja. Bahwasannya, antara Maria dan Gereja tak terpisahkan. Relasi kokoh-tak terpisahkan ini adalah kehendak Yesus, Sang Kepala Gereja.

Karena itu, Gereja harus selalu yakin bahwa ia terus bertumbuh dan berkembang di bawah perlindungan dan pemeliharaan Bunda Maria. Sebab Sang Kepala Gereja (Yesus) telah menyerahkan tubuh-Nya (Gereja) kepada bunda-Nya. Sang Bunda pasti bertanggung jawab dengan perutusan yang ia terima dari Putranya. Ia pasti tak pernah membiarkan Gereja sendirian.

Di sisi lain tapi tak terpisahkan dengan itu, Gereja juga perlu selalu membuka hati bagi kehadiran Bunda Maria. Gereja harus selalu menerima Maria. Penerimaan itu, antara lain  ditandai dengan menghormati Maria melalui aneka devosi marial dan ketekunan meneladani aneka keutamaan Bunda Maria (kerendahan hati, ketaatan dan kesetiaan pada Allah, peduli, iman yang mendalam, dll.). Hal-hal demikian pasti menyenangkan Yesus dan berkenan kepada-Nya.

Bacaan pertama yang dibacakan pada peringatan ini adalah Kis. 1:12-14. Bacaan ini menampilkan sosok Maria yang hadir bersama para murid Yesus di ruang atas (senakel), ketika mereka berkumpul, berdoa dan menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Bisa dikatakan bahwa perutusan yang diterima Bunda Maria dari Putranya untuk menjaga dan menemani para pengikut-Nya (Yoh. 19:25-27) dihayati secara sungguh-sungguh oleh Maria.

Melalui teks ini, Lukas (penulis Kisah Para Rasul)  sesungguhnya juga hendak menegaskan peran kebundaan Maria yang tak pernah meninggalkan para pengikut Putranya. Kehadirannya jelas memberikan kekuatan kepada para pengikut Putra-Nya dan mendorong mereka untuk tak takut menjadi saksi kebenaran.

Bacaan ini juga menyadarkan para pengikut Kristus (Gereja) sepanjang zaman bahwa sampai kapan pun Bunda Maria tak pernah meninggalkan Gereja. Ia seorang bunda yang baik dan bertanggung jawab dan tak pernah membiarkan Gereja berjuang sendirian tanpa kehadirannya sebagai bunda.  Ia pasti setia menemani dan mendoakan Gereja, sebagaimana ia sangat setia menemani, merawat sekaligus mengikuti Putranya hingga di kaki salib.

Gelar Maria sebagai Bunda Gereja (Mater Ecclesiae) pertama kali digunakan oleh Uskup Treves bernama Berengaud ( + 1125). Dalam aneka tulisannya, ia menyebut Maria sebagai Bunda Gereja. Setelah itu, semakin banyak  tokoh besar dalam Gereja yang menyebut Maria sebagai Bunda Gereja, antara lain, Santo Antonius (+ 1458), Paus Leo XIII (+ 1903), Paus Yohanes XXIII (+ 1963), Paus Paulus VI (+ 1978) dan Paus Yohanes Paulus II (+ 2005).

Pada 21 November 1964, saat Misa Kudus penutupan sesi 3 Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI memaklumkan  lagi tentang Maria sebagai Bunda Gereja, sebagaimana  yang ditulis oleh P. Matthew R. Mauriello  dan yang saya kutip dari yesaya.indocell.net.

“Demi kemuliaan Santa Perawan dan demi penghiburan kita sendiri, kita memaklumkan bahwa Santa Perawan Maria Bunda Gereja, yaitu, ibu seluruh umat kristiani, baik umat beriman maupun para gembalanya dan kita menyebutnya Bunda yang paling terkasih.” Menurut Paus Paulus VI, gelar Maria Bunda Gereja akan “menghantar umat kristiani lebih menghormati Bunda Maria dan menyerukan namanya dengan keyakinan yang lebih besar. Karena itu, mulai sekarang, seluruh umat kristiani selayaknya memberikan penghormatan yang lebih besar kepada Bunda Allah di bawah gelarnya yang mengagumkan ini.”

Semoga Gereja semakin menyadari peran kebundaan Maria dan tak lelah membuka hati bagi setiap tuntunannya. Semoga Gereja juga semakin menghormati Maria melalui aneka devosi yang dilakukan dengan penuh iman dan semakin mampu meneladani aneka keutamaan hidupnya. Dengan demikian, Gereja (Tubuh Kristus) semakin bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kehendak Yesus, Sang Kepala Gereja.***

Maria, Bunda Gereja, doakanlah kami!

Labuan Bajo, 1 Juni 2020

Peringatan Wajib, Maria Bunda Gereja

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.