Menabur di Kebun Anggur Tuhan — Renungan Hari Minggu

0
124

Menabur di Kebun Anggur Tuhan: Renungan Hari Minggu, 4 Oktober 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 5:1-7; Bacaan II: Flp. 4:6-9; InjilMat. 21:33-43

Di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang mengisi waktu #dirumahaja dengan berkebun dan bercocok tanam. Ada yang menanam bunga, ada juga yang menanam sayur-sayuran.

Meski terkesan sekedar mengisi waktu luang, sebetulnya kita tidak asal menanam. Kita pasti menaruh harapan pada apa yang kita tanam. Harapannya tentu saja adalah agar apa yang ditanam bisa berhasil baik.

Kadang, yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Namun, tidak jarang juga yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, kami menanam bibit sayur bayam. Setelah ditanam, kami rutin menyiram. Rumput-rumput di sekitarnya kami cabut. Harapannya agar ketika sudah tiba waktunya untuk panen, kami bisa memanen sayur bayam. Sayangnya harapan tinggal harapan. Bibit bayam yang kami tanam hanya tumbuh sebentar kemudian mati. Tentu ada rasa kecewa.  Siapapun pasti kecewa jika apa yang dihasilkan tidak sesuai harapan.

***

Hari ini kita mendengar ilustrasi tentang kebun anggur. Tuhan mempunyai kebun anggur. Sebagai pemilik, Tuhan memperhatikan perkembangan kebun itu. Ia mencangkulnya dan membuang-buang batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan. Harapannya: agar kebun anggur itu menghasilkan anggur yang baik. Sayangnya, yang dihasilkan berbeda dari yang diharapkan. Anggur yang dihasilkan justru anggur yang asam.

Ini ilustrasi tentang kita. Kebun anggur Tuhan itu ialah kita semua. Sebagai kebun anggur-Nya, Tuhan memperhatikan kita. Ia baik kepada kita. Ia menjamin kehidupan kita, menjauhkan kita dari wabah, dan sebagainya. Tapi apa balasan kita? Kita kurang bersyukur, malah banyak menuntut. Kita menjadi orang-orang yang tidak tahu diuntung. Air susu dibalas air tuba. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Hati siapa yang tidak sakit?

Tuhan mau supaya kita memurnikan hidup kita dari hari ke hari, terutama dari unsur-unsur yang menjauhkan kita dari-Nya. Semoga kita menjadi orang yang tahu bersyukur dan mau melakukan kehendak-Nya.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.