Mengapa?

0
125
Sumber ilustrasi: pixabay.com

Mengapa?

Mengapa bencana kian menyapa?

Sementara bumi kian rapuh

Mengapa bencana terus menggoreskan luka?

Sementara lekukan bumi yang semakin menua

 

Puing-puing derita masih berserakan disepanjang jalan

Cemas, bila bumi tak sudi lagi dipijak

Resah, jika laut tak mampu lagi membendung airnya

Takut, kalau gunung tak sanggup lagi berdiri tegak

 

Dalam hangat pelukan mentari

Diri terbalut mendung keresahan

Dalam alirannya yang kian mengeruh

Tak hentinya hingga alam penuh keheningan

 

Diseberang sana, ada harapan tentang kehidupan

Yang kemudian terluluh lantakkan

 

Air mata ini belum lagi kering

Terdengar jeritan saudaraku disana

Terdengar tangisan sahabatku disana

 

Bencana, mengapa dan mengapa?

Bumi bergejolak penuh kemurkaan

Tak henti-hentinya mengorehkan duka

 

Salah siapa ini terjadi?

Apakah ini suatu cobaan?

Ataupun peringatan?

Renungkanlah!

Hermei Pasalli Marjo Nabu paling senang disapa dengan panggilan Mei. Lahir di bumi Makassar pada tanggal 31 Mei 1994, anak ke-2 dari 4 bersaudara dari pasangan Nobertus dan Adolfina. Saat ini fokus dengan pekerjaan dan kegiatan di Gereja. Pernah mendapat beberapa kali juara kategori menulis cerpen dan puisi kampus.