5.2 C
New York
Monday, January 12, 2026

Meski Katolik Warisan, Kita Wajib Militan

Anda dan saya barangkali menjadi Katolik karena terlahir dan besar di dalam keluarga Katolik. Dalam situasi itu, kita memang tidak mempunyai pilihan; sebab pada saat bayi, orang tua membawa kita ke Gereja untuk dibaptis menjadi anggota Gereja Katolik. Maka, orang-orang menyebut iman Katolik yang kita anut itu sebagai ‘Katolik warisan’.

Seperti halnya menjadi Katolik itu bukan pilihan kita, demikian juga kita tidak pernah memilih untuk lahir dalam keluarga seperti apa. Lantas, siapa yang menentukannya? Orang tua kita? Bukan. Keluarga kita? Juga bukan. Lalu, siapa? Jawabannya: tentu saja Tuhanlah yang menentukannya.

Tuhan sendirilah yang menentukan di mana dan dalam keluarga seperti apa kita dilahirkan. Dengan kata lain, jika Tuhan menghendaki kita lahir di dalam keluarga Katolik, itu sama saja artinya kita dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Katolik. Maka, benarlah sabda Tuhan ini: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16).  

[postingan number=3 tag=”iman-katolik”]

Maka dari itu, sekalipun iman Katolik yang kita anut adalah ‘Katolik warisan’, yang diturunkan dari orang tua, namun tidak dibenarkan untuk tidak berbuat apa-apa terhadap iman Katolik itu. Sebaliknya, kita harus berbuat sesuatu. Iman Katolik yang kita anut tidak boleh dikasih kendor. Kita diberi tanggung jawab untuk memelihara dan menumbuh-kembangkan iman Katolik itu. Tuhan sendiri bersabda: “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh. 15:16).

Iman Katolik yang telah ditanamkan ke dalam diri kita sejak kecil harus dirawat dengan baik supaya bisa menghasilkan buah; sebab Tuhan sendiri telah menetapkan kita supaya berbuah, tidak kering dan layu. Tidak cukup dengan hanya menerima baptisan lalu selesai. Jangan menjadi orang Katolik ‘NaPas’ (Natal dan Paskah). Kita harus menjadi orang Katolik yang militan, tidak melempem dan loyo.

Tidak jarang kita tergelincir ke dalam salah dan dosa. Kita meminta ini dan itu kepada Tuhan dan berharap Tuhan mengabulkan semua permintaan kita. Ketika ternyata tidak dikabulkan atau belum juga dikabulkan, kita kecewa. Di situlah tawaran dunia masuk.

Dunia menawarkan kepada kita banyak hal; yang kadang-kadang menggoda kita untuk menggadaikan iman kita. Jika kita tidak kuat, kita pasti menyerah dan meninggalkan Tuhan.

Dunia seringkali menggunakan kelemahan kita. Ia memberi semua permintaan kita; yang membuat kita berpikir “Sepertinya saya tidak butuh Tuhan lagi”, yang akhirnya bisa menyeret kita keluar dari jalan Tuhan.

Maka dari itu, sekali lagi, iman Katolik kita harus kuat dan tahan uji. Kita tidak boleh menjadi orang Katolik yang ‘kaleng-kaleng’. Kita harus menjadi orang Katolik yang keras dan kokoh seperti besi baja.

Kita harus bangga menjadi orang Katolik. Menjadi Katolik berarti termasuk di dalam daftar orang-orang pilihan Tuhan. Jangan sampai kita menukar atau menggadaikan iman Katolik kita dengan apapun: harta, takhta, maupun wanita. Sekali Katolik, tetap Katolik selamanya. Lahir Katolik, hidup Katolik, dan mati sebagai orang Katolik.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

1 COMMENT

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Katharina Gosal
Katharina Gosal
3 years ago

Adalah sungguh benar – Bukan kita yg memilih tp Tuhan yg memilih. Dan saya sangat percaya manusia yg mengandalkan kekuatan logika suatu hari dalam hidupnya akan spt perahu terbalik, ada misteri yg tak dapat dijawab ketika berhubungan dengan penderitaan. Maupun dengan rejeki. Sesungguhnya adalah benar kita milik Tuhan. Namun sering kita spt anak bungsu atau anak sulung yg tdk menyadari betapa Tuhan sungguh murah hati dan penuh belas kasih !

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini