Orang ‘Sok Suci’ Merajalela, Tuhan Mau Kita ‘Ngaca’

0
717
Gambar ilustrasi oleh geralt / Pixabay

Jika kita perhatikan di lingkungan sekitar kita belakangan ini, kita akan mendapat kesan bahwa banyak sekali orang yang sok suci, sok alim, dan merasa seolah tanpa cacat cela dalam hidupnya. Mirip sekali dengan cerita dalam Injil; yaitu ketika ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (lih. Yoh. 8:3-5).

Injil menerangkan kepada kita bahwa orang-orang itu mengatakan hal seperti itu sekedar untuk mencobai Yesus, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Mereka menunggu kalau-kalau Yesus ‘salah ucap’ atau salah jawab. Tetapi, ternyata Yesus tidak menjawab apa-apa. Ia hanya membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

Ketika mereka terus-menerus bertanya, Yesus pun bangkit berdiri lalu melemparkan satu perkataan yang secara luar biasa menghujam jantung orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7).

Perkataan Yesus itu kena telak. Semua diam dan merenung. Masing-masing tahu diri berdosa. Makanya, setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Hingga akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Mereka yang tadinya bermaksud untuk mempermalukan perempuan yang mereka anggap sebagai ‘pendosa’ itu akhirnya malu sendiri karena ternyata mereka tidak lebih suci dari perempuan itu.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kita semua rapuh dan seringkali tergelincir ke dalam salah dan dosa. Ya, kita semua berdosa; meski tidak selalu pada dosa yang sama. Tak ada manusia sempurna. Maka, jangan pernah merasa diri paling suci dari antara manusia yang lain.

Hanya ada dua hal yang perlu kita lakukan berhadapan dengan salah dan dosa kita, yaitu menyesal dan bertobat; sama seperti yang dilakukan oleh anak yang hilang dalam cerita Kitab Suci. Ia menyesal dan bertobat dari salah dan dosanya (bdk. Luk. 15:1-3, 11-32).

Mengapa kita perlu menyesal dan bertobat? Karena Tuhan yang kita imani bukan Tuhan yang suka menghakimi dan menghukum, melainkan Tuhan yang selalu mengasihi dan mengampuni. Ia tidak pernah menghitung salah dan dosa kita. Ia juga tidak mengingat-ingatnya; sebab Tuhan kita adalah Bapa yang baik. Seorang Bapa yang baik tidak menghitung, juga tidak mengingat-ingat kesalahan anak-anaknya.

Tuhan senantiasa memberi kita kesempatan kedua untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dia adalah model kita. Kita harus meniru dan belajar pada-Nya. Yesus bersabda: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Artinya, kita sadar dan tahu bahwa kesempurnaan itu adalah milik Allah, tapi paling tidak kita dapat mengambil sedikit dari kesempurnaan-Nya.

Perjuangan untuk menjadi orang yang ‘sempurna’ tentu saja tidak sekali jadi. Butuh usaha dan kerja keras terus-menerus. Kadang berhasil, kadang tidak. Maka, Masa Prapaskah seperti sekarang ini adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk ‘ngaca’ dan introspeksi diri. Kita melihat kembali sisi demi sisi hidup kita, barangkali ada yang retak dan rapuh. Sekiranya ada, maka saatnya untuk memperbaikinya dan membawanya ke arah yang lebih baik.

Jangan sampai kita seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sok alim dan seperti tak berdosa. Begitu juga, jangan sampai kita seperti si sulung dalam cerita ‘anak yang hilang’, yang merasa bersih dan tak bernoda. Jangan sampai juga kita menghabiskan energi untuk memperhatikan kesalahan dan dosa orang lain, sampai lupa bahwa diri sendiri juga sebenarnya mempunyai salah dan dosa. Tuhan bersabda: “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5).

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.