Kaum Farisi dan Saduki menuduh Yesus sebagai penista agama dan penghujat Allah. Mereka menghasut rakyat agar mendukung rencana licik mereka untuk membelenggu Yesus. Rakyat yang tergolong minim pengetahuan dan mudah terprovokasi pun menghendaki Yesus dihukum mati.
[postingan number=3 tag= ‘salib’]
Seketika teriakkan ‘Hosana’ berubah menjadi ‘Salibkan dia.’ Pengadilan Pilatus tidak dapat menjamin hak asasi manusia. Meskipun ia tidak menemukan kesalahan dari tindakan Yesus, namun ia terprovokasi pula karena pengaruh kaum Farisi dan Saduki serta rakyat.
Pilatus terpaksa memberikan pilihan kepada mereka. Dalam tahanan ada seorang bernama Barabas yang dipenjara karena pemberontakan. Ia berharap Yesus, seorang rabbi bijaksana akan terbebas.
Namun pilihan tersebut menjadi bumerang bagi Pilatus. Rakyat menghendaki Barabas, seorang penjahat sebagai jawara yang harus dibebaskan. Yesus, sang bijaksana dibelenggu karena rasa dengki. Barabas dipilih karena rakyat lebih menghendaki kebusukan dan kejahatan.
Rakyat pada kisah itu adalah kita. Kita yang sering menghakimi sesama, kita yang sering berlaku tidak adil, kita yang sering menyebarkan kebencian, dan kita yang merendahkan harkat dan martabat sesama.
Mari sejenak kita memeriksa diri kita, benarkah kita telah bertindak sesuai tuntutan Yesus, sang guru? Atau selama ini, kita justru sering mengikuti tindakan kaum Farisi dan Saduki?.


