Persekutuan Kasih

0
125

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Perayaan ini adalah perayaan kasih. Allah yang Mahakasih itu sungguh-sungguh mengasihi dunia ini. Tentang hal ini,  Yesus menegaskan:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:16-18).

Teks ini menekankan hal penting bahwa perutusan Yesus ke dunia adalah ungkapan terbesar dan teragung dari kasih Allah. Tujuan perutusan Sang Putra  tak lain adalah menyelamatkan dunia, bukan membinasakannya. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan mengalami hidup yang kekal.

Kita tahu bahwa Yesus menerima dan menjalankan perutusan yang diterima-Nya dari Bapa dengan sangat baik. Ia bertanggung jawab dengan tujuan kedatangan-Nya ke dunia yakni menyelamatkan, bukan membinasakan. Karena itu, ia pergi menjumpai banyak orang dan mewartakan apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan harus dilakukan oleh manusia.

Dalam setiap pewartaan-Nya itu, sebagaimana tercatat dalam Injil, Yesus selalu mengungkapkan misteri Kerajaan Allah dan mewartakan kebenaran yang diterima-Nya dari Bapa dan mengajak pendengar-Nya untuk bertobat dan percaya kepada Injil (Mrk. 1:15). Ia juga mengajak pendengar-Nya hidup dalam kasih. Kalau hidup dalam kasih, mereka sudah mengambil bagian dalam Kerajaan Allah yang tak lain adalah Kerajaan Kasih itu. Dari Injil kita tahu juga bahwa tak sedikit orang yang menolak Yesus dan segala ajaran-Nya, bahkan menuduh-Nya sebagai penghujat Allah (Bdk. Mat. 9:1-8). Tapi Yesus tetap melanjutkan perutusan-Nya.

Puncak pemberian diri Yesus untuk menyelamatkan dunia adalah ketika Ia rela menderita, memanggul salib, tergantung di salib dan akhirnya wafat di salib. Ia seperti penjahat dan pendosa kelas berat. Tapi, ini semua demi kasih-Nya kepada dunia. Ini bukti kasih  Allah yang paling agung melalui Yesus. Tentang hal ini, Yesus sendiri telah menegaskan: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Ia telah memberikan nyawa-Nya sebagai ungkapan kasih-Nya yang tak terhingga demi keselamatan sahabat-sahabat-Nya; demi keselamatan dunia.

Setelah Yesus bangkit, ia berulang kali menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya. Penampakan itu membuat para murid  bersatu kembali, sebab  sebelumnya mereka tercerai-berai karena kematian tragis Sang Guru. Mereka yang sebelumnya berjalan tak tahu arah, ibarat anak-anak ayam yang ditinggalkan induknya, kini kembali membangun persekutuan. Yesus meneguhkan mereka, memberi mereka kekuatan dan mengutus mereka menjadi saksi-Nya di seluruh dunia (Bdk. Mat. 28:16-20).

Setelah Yesus naik ke surga, ia mengutus Roh Kudus, Penolong yang lain (Yoh. 14:16), sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya kepada para murid. Roh Kudus itu semakin memberanikan para murid dalam menjalankan perutusan sebagai saksi Kristus (Kis. 2:1-47). Tanpa takut, mereka mewartakan Yesus Kristus dan segala ajaran-Nya. Mereka menyebar ke setiap tempat untuk mewartakan Yesus. Alhasil, banyak orang yang percaya kepada Yesus dan memberi diri dibaptis.

Turunnya Roh Kudus atas para murid Yesus adalah bukti kasih Allah yang tak pernah meninggalkan anak-anak-Nya berjalan sendirian. Melalui Roh Kudus, Allah membimbing, menuntun, meneguhkan, memberanikan dan menghibur anak-anak-Nya. Karena kasih Allah yang besar ini, para pengikut Yesus bertumbuh dan berkembang di seluruh dunia hingga saat ini.

Walaupun dijelaskan demikian, tidaklah berarti bahwa kita menyembah tiga Allah. Kita menyembah Allah yang satu (Esa), tetapi berpribadi tiga (Bapa, Putra, Roh Kudus). Kita menyebutnya Tritunggal Mahakudus. Karena hakikat Allah adalah kasih, maka Tritunggal Mahakudus ini membangun persekutuan kasih yang abadi. Maksudnya, Bapa, Putra dan Roh Kudus itu membangun persekutuan yang abadi, tiada akhir.

Perlu juga dingat bahwa Allah  sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus itu bukan ciptaan umat Kristiani; tetapi itulah realitas Allah yang diperkenalkan oleh Yesus (Bdk. Yoh. 17; Yoh, 14.16; Yoh. 20:22). Yesus menegaskan bahwa diri-Nya dan Bapa tak terpisahkan: Bapa di dalam Aku; Aku di dalam Bapa (Bdk. Yoh. 17:21). Penjelasan ini memang terbatas dan tak mampu menyingkapkan misteri Tritunggal yang agung itu. Tapi ini juga cara kita untuk sedikit mengenal misteri agung dan mulia itu.

Bagiku, perayaan Tritunggal Mahakudus adalah  salah satu kesempatan istimewa untuk merenungkan kasih Allah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Ini kesempatan untuk bersyukur atas kasih Allah yang mengasihi manusia.

Kasih itu  telah dinyatakan secara agung dan mulia melalui perutusan Yesus, Putra Allah, ke dunia. Melalui Yesus, Kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir dan dialami oleh banyak orang. Melalui aneka pewartaan dan tindakan kasih-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh-sungguh merasakan kehadiran Allah yang nyata.

Perlu juga disadari bahwa perutusan Yesus ke dunia melalui rahim Bunda Maria adalah karya Roh Kudus. Ingatlah kata-kata malaikat Gabriel kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Selain itu, setelah menyelesaikan perutusan-Nya di dunia dan naik ke surga, Yesus mencurahkan Roh Kudus kepada para pengikut-Nya untuk menuntun-membimbing mereka dalam menjalankan perutusan sebagai saksi-Nya. Ini semua adalah ungkapan kasih Allah yang secara istimewa direnungkan pada hari ini.

Pesan perayaan hari ini adalah sebagai berikut. Komunitas Allah Tritunggal adalah komunitas kasih. Bapa, Putra dan Roh Kudus  hidup dalam persekutuan kasih yang abadi. Kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam persekutuan kasih itu. Kita dipanggil oleh Bapa untuk mengikuti Putra, agar menjadi serupa dengan-Nya dalam Roh Kudus. Panggilan luhur ini perlu ditanggapi dengan penuh iman, walaupun akal budi kita tak sanggup memahami secara tuntas misteri agung kasih Allah Tritunggal itu. Wujud konkretnya adalah kita semakin mengimani Allah Tritunggal dan terus mengandalkan-Nya setiap hari yang terungkap melalui ketekunan menyapa-Nya (berdoa) dan merenungkan Kitab Suci.

Tak hanya itu, iman akan Allah Tritunggal itu diwujudkan melalui tindakan kasih. Maksudnya, kita hidup dalam persekutuan kasih dengan sesama mulai di dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja, dll. Dengan ungkapan lain, iman kita akan Allah Tritunggal diwujudkan dengan mengasihi sesama, sebab Allah adalah kasih.

Lagi pula, intisari ajaran Yesus adalah kasih. Kasih kepada Allah (vertikal) dan sesama (horizontal) dengan sepenuh hati (Bdk. Mat. 22:37-39). Keduanya tak terpisahkan. Barangsiapa mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, ia tidak mungkin tidak mengasihi sesamanya. Sebab kasih yang tulus kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih yang tulus kepada sesama.

Dengan demikian, ukuran bahwa seseorang sungguh-sungguh mengasihi Allah adalah ia sungguh-sungguh mengasihi sesamanya. Lain tidak. Dengan demikian, orang yang berkoar-koar mengatakan diri mengasihi Allah atau  menganggap dirinya rajin berdoa, tetapi tidak mengasihi sesamanya atau menyimpan dendam-benci kepada sesamanya, sesungguhnya ia sedang berbohong. Ia sesungguhnya tidak mengasihi Allah dengan tulus. Ia hanya berpura-pura mengasihi Allah.

Tentang hal ini, Yohanes menegaskan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:7-8). Teks suci ini sesungguhnya menggarisbawahi bahwa mengasihi sesama adalah keharusan bagi kita umat beriman. Jika tak mengasihi, kita tak mengenal Allah! ***

 

Labuan Bajo, 7 Juni 2020

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.