2.8 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 58

Devosi Kerahiman Ilahi

0
davideucaristia / Pixabay

“Yesus, Engkau Andalanku”

“Siapa pun dapat datang kemari, melihat lukisan Yesus yang Maharahim ini, yang dari Hati-Nya memancarkan rahmat; dam mendengar dalam lubuk jiwanya sendiri apa yang didengar St Faustina: `Jangan takut. Aku senantiasa menyertaimu’. Jika ia menanggapi dengan hati yang tulus, `Yesus, Engkaulah andalanku!’, maka ia akan mendapati penghiburan dalam segala ketakutan dan kecemasannya. Dalam dialog penyerahan diri ini, terbentuklah antara manusia dan Kristus suatu ikatan istimewa kasih yang membebaskan. Dan `di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan’ (1Yoh 4:18).”

~ Paus Yohanes Paulus II, 7 Juni 1997

APA ITU DEVOSI KERAHIMAN ILAHI ?

Devosi Kerahiman Ilahi adalah pengabdian total kepada Allah yang Maharahim, yaitu keputusan untuk percaya penuh kepada-Nya, untuk menerima belas kasih-Nya dengan ucapan syukur dan untuk berbelas kasih kepada sesama, sebab Ia penuh belas kasih. Bentuk Devosi Kerahiman Ilahi ini didasarkan pada catatan-catatan St Faustina Kowalska, seorang biarawati Polandia tak terpelajar yang, dalam ketaatan kepada pembimbing rohaninya, menuliskan sebuah Buku Catatan Harian setebal kurang lebih 600 halaman dengan mana ia mencatat penampakan-penampakan yang dianugerahkan kepadanya mengenai kerahiman Allah. Bahkan sebelum wafatnya pada tahun 1938, Devosi kepada Kerahiman Ilahi telah mulai disebarluaskan.

APA PESAN UTAMA KERAHIMAN ILAHI ?

Pesan utama Kerahiman Ilahi adalah bahwa Allah mengasihi kita – semuanya, tak peduli betapa berat dosa kita. Tuhan ingin kita tahu bahwa belas kasih-Nya jauh lebih besar daripada segala dosa kita; Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan, menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Dengan demikian segenap umat manusia akan ikut ambil bagian dalam sukacita-Nya. Pesan ini dapat dengan mudah kita ingat melalui ABC Kerahiman:

Ask for His Mercy ~ Mohon Belas Kasih Allah
Tuhan menghendaki kita datang kepada-Nya dalam doa secara terus-menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk mencurahkan belas kasih-Nya atas kita dan atas dunia.

Be Merciful ~ Berbelas Kasih kepada Sesama
Tuhan menghendaki kita menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Tuhan menghendaki kita memperluas kasih serta pengampunan kepada sesama seperti yang Ia lakukan kepada kita.

Completely Trust ~ Percaya Penuh kepada-Nya
Tuhan ingin kita tahu bahwa rahmat-rahmat belas kasih-Nya tergantung pada besarnya kepercayaan kita. Semakin kita percaya kepada-Nya, semakin berlimpah rahmat yang kita terima.

APA PESAN KHUSUS LAINNYA DALAM DEVOSI KERAHIMAN ILAHI ?

Tak ada yang baru dalam pesannya, hanya mengingatkan apa yang telah senantiasa diajarkan Gereja, yaitu bahwa Allah penuh belas kasih dan pengampunan, sehingga kita pun harus menunjukkan belas kasih dan pengampunan kepada sesama.

Namun demikian, dalam Devosi Kerahiman Ilahi, pesan ini diserukan dengan lebih kuat dan tegas; kita dihantar untuk sampai pada pemahaman yang lebih mendalam bahwa kasih Allah tak terbatas dan tersedia bagi setiap orang – teristimewa mereka yang berdosa, “Semakin berat dosanya, semakin ia berhak mendapatkan belas kasih-Ku (723).”

MENGAPA DEVOSI KERAHIMAN ILAHI DILARANG GEREJA ?

Catatan-catatan St Faustina Kowalska, seorang biarawati Polandia dari Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria Berbelas Kasih, merupakan sumber pesan dan devosi kepada Kerahiman Ilahi. Selama masa perang tahun 1939-1945, Devosi Kerahiman Ilahi berkembang pesat, teristimewa karena umat beriman di Polandia dan Lithuania yang menderita berpaling kepada Juruselamat yang berbelas kasih sebagai sumber penghiburan dan pengharapan. Kemudian, pada tahun 1958 dan 1959, nubuat St Faustina mengenai adanya hambatan dalam karya Kerahiman Ilahi mulai digenapi.

Akibat banyaknya kekeliruan dalam terjemahan Buku Catatan Harian St Faustina yang disampaikan ke Tahta Suci, sementara situasi politik di Polandia selama dan sesudah masa perang menyulitkan Gereja melakukan verifikasi atas keotentikan catatan-catatan St Faustina, maka pada tanggal 6 Maret 1959 Vatican mengeluarkan keputusan untuk melarang disebarluaskannya Devosi Kerahiman Ilahi dalam bentuk seperti yang diajarkan dalam tulisan-tulisan St Faustina.

BAGAIMANA AKHIRNYA LARANGAN DICABUT ?

Duapuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1978, larangan tersebut sepenuhnya dicabut; terima kasih atas campur tangan Uskup Agung Krakow, Kardinal Karol Wojtyla. Melalui daya upaya beliau, suatu Proses Informatif sehubungan dengan kehidupan dan keutamaan Sr Faustina dimulai pada tahun 1965. Hasilnya yang gemilang menghantar pada dibukanya proses beatifikasi Sr Faustina pada tahun 1968.

Dalam surat “Notifikasi” tertanggal 15 April 1978, Kongregasi Kudus untuk Ajaran Iman, setelah meninjau kembali berbagai dokumen asli yang tak tersedia pada tahun 1959, merevisi keputusan sebelumnya dan memaklumkan bahwa larangan yang dibuat pada tahun 1959 “tidak berlaku lagi”.

Enam bulan berselang, Kardinal Karol Wojtyla dipilih menjadi Paus Yohanes Paulus II.

HATI-HATI DENGAN DEVOSI KERAHIMAN ILAHI !

Ada dua ayat Kitab Suci yang perlu kita ingat baik-baik sementara kita mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi, ataupun bentuk-bentuk praktek devosi lainnya:

1. “Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku. ” (Yes 29:13)

2. “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)

Apabila kita memandang lukisan Juruselamat yang Maharahim, atau berhenti sejenak dari rutinitas untuk berdoa pada jam tiga siang, atau mendaraskan Koronka – adakah hal-hal ini mendekatkan kita kepada hidup sakramental Gereja yang sejati dan membiarkan Yesus mengubah hati kita? Ataukah devosi tersebut menjadi sekedar kebiasaan religius belaka? Dalam kehidupan sehari-hari apakah kita semakin dan semakin bertumbuh menjadi orang-orang yang berbelas kasih? Ataukah kita hanya menawarkan “doa bibir” kepada Allah yang Maharahim?

PENTINGNYA MENGAMALKAN PESAN KERAHIMAN

Devosi Kerahiman Ilahi seperti yang dinyatakan Tuhan kita melalui St Faustina, dianugerahkan kepada kita sebagai “sarana belas kasih” dengan mana kasih Allah dapat dicurahkan atas dunia, tetapi devosi itu sendiri tidaklah cukup. Tidak cukup kita menggantungkan Lukisan Kerahiman di rumah kita, mendaraskan Koronka setiap hari setiap jam tiga siang, dan menerima Komuni Kudus pada hari Minggu pertama sesudah Paskah. Kita juga harus menunjukkan belas kasih kepada sesama. Mengamalkan belas kasih bukan suatu pilihan dari praktek Devosi Kerahiman Ilahi ini, melainkan suatu keharusan!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:16)

TIGA TINGKATAN BELAS KASIH DALAM DEVOSI KERAHIMAN ILAHI

Pertama-tama: perbuatan belas kasih, apa pun jenisnya. Kedua: ucapan belas kasih, yaitu belas kasih kata, bila kita tak dapat mewujudkannya dalam perbuatan. Ketiga: doa; kita selalu dapat menunjukkan belas kasih dengan doa. “Dalam tiga tingkatan belas kasih ini,” demikian Yesus mengatakan kepada St Faustina, “terkandung kepenuhan belas kasih (742).”

Kita semua dipanggil untuk mengamalkan ketiga tingkatan belas kasih ini, tetapi tidak semua kita dipanggil dengan cara yang sama. Kita perlu datang dan bertanya kepada Tuhan, yang memahami pribadi dan situasi kita masing-masing yang unik, untuk menolong kita mengenali berbagai macam cara dengan mana kita masing-masing dapat menyatakan belas kasih-Nya dalam hidup kita sehari-hari.

Baiklah kita melihat kembali apa yang telah diajarkan Gereja mengenai karya-karya belas kasih kepada sesama.

Karya-karya Belas Kasih Jasmani:
1. memberi makan kepada yang lapar
2. memberi minum kepada yang haus
3. memberi tumpangan kepada tunawisma
4. mengenakan pakaian kepada yang telanjang
5. mengunjungi orang miskin
6. mengunjungi orang tahanan
7. menguburkan orang mati

Karya-karya Belas Kasih Rohani:
1. mengajar
2. memberi nasehat
3. menghibur
4. membesarkan hati
5. mengampuni
6. menanggung dengan sabar hati
7. mendoakan mereka yang hidup dan mati

Sumber: http://yesaya.indocell.net/id840.htm

Retret Awal: Mimpi yang menjadi Kenyataan

0
Gambar ilustrasi oleh O12 / Pixabay

Ceritanya ini terjadi pada bulan Juli 2018. Saat itu, saya tidak meyangka bahwa saya akan mencapai apa yang pernah saya mimpikan sejak tahun 2012, yaitu mengikuti Retret Awal di Tumpang, Malang.

Sebetulnya, sejak lama saya ingin sekali megikuti Retret Awal ini karena saya mendengar cerita dari teman-teman satu Gereja bahwa banyak rahmat pertobatan terjadi di tempat ini. Apalagi, saat itu saya merasa bahwa iman saya belum banyak bertumbuh sehingga masih mengalami goncangan.

Bulan Juli 2018, saya mendaftar untuk ikut Retret Awal yang akan diselenggarakan pada tanggal 27-30 September 2018. Saya begitu antusias untuk mengikuti acara Retret Awal tersebut. Tetapi sempat muncul kekuatiran di dalam diri saya karena saya sama sekali belum pernah ke kota Malang dan masih buta daerah. Saya hanya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, bila ini memang merupakan waktu yang tepat untuk aku mengikuti Retret Awal, maka terjadilah padaku bukan menurut apa yang kukehendaki melainkan menurut apa yang Kau kehendaki.”

Saya berangkat bersama rombongan dari Semarang pada tanggal 26 September. Kami berangkat dari Gereja Santa Perawan Maria, Ratu Rosario Suci, Katedral Semarang pada pukul 7 malam dan sampai di Tumpang pada pukul 02.30 sore. Sebagai persiapan untuk mengikuti Retret Awal, kami mampir ke Gua Maria PuhSarang, Kediri untuk megikuti Jalan Salib sekaligus makan pagi di sana.

Pukul 5 sore kami sudah memulai sesi pertama retret. Dan selama mengikuti Retret Awal ini, Puji Tuhan saya betul-betul mengalami pertobatan yang dalam. Bahkan, dosa-dosa yang dahulu tidak pernah terpikirkan oleh saya semua terbuka oleh karena kasih-Nya yang nyata bagi saya. Dan saya juga boleh banyak melihat pertobatan terjadi di saat Retret Awal; sehingga saya benar-benar merasakan kasih-Nya yang sungguh nyata melalui pencurahan Roh Kudus.

Pada hari minggu siang, saya dan rombongan kembali pulang ke Semarang dengan melalui jalur kota Kudus. Sebenarnya saya masih ingin tinggal beberapa hari bersama Frater di sana, tetapi karena di sana adalah biara utama dari Suster Putri Karmel dan hanya ada rumah cabang bagi Frater CSE yang membantu para Suster untuk melayani di sana, berarti Frater yang ada di sana tidak bisa menemani secara full.

Di tengah perjalanan pulang ke kota Kudus, saya sempat dilanda kekuatiran yang teramat sangat; karena sebelum mengikuti Retret Awal ini sebenarnya saya sudah berencana untuk ikut Retret Awal, lalu menginap di rumah cabang CSE selama 10 hari, kemudian mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin. Tetapi karena saya tidak diizinkan, saya harus pulang dengan keadaan uang saku yang tidak cukup untuk membayar Retret Penyembuhan Luka Batin. Saya ceritakan semua kepada tour leader-nya dan diberi solusi untuk langsung berbicara ke yang melayani transportasi  untuk peserta yang ingin mengikuti retret di Tumpang, Malang; dan Puji Tuhan saya dapat mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin dengan gratis.

Sembilan hari kemudian, saya berangkat lagi ke Semarang dan bersama rombongan dari Semarang berangkat kembali ke Tumpang Malang untuk mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin. Saat itu, kami berangkat langsung dari Semarang menuju Malang dengan 2 bus dan membawa puluhan anak panti asuhan. Kami sampai di Malang sekitar jam 11 siang. Kami makan siang di sana, lalu beristirahat dan bersiap untuk mengikuti sesi demi sesi yang diberikan oleh Suster maupun Frater yang melayani.

Kami mulai sesi pertama pada pukul 5 sore. Saat saya mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin, saya merasakan luka-luka batin saya benar-benar terbuka dan lebih banyak lagi kesalahan-kesalahan saya yang membuat baik saya maupun orang lain terluka. Saya mengalami begitu banyak kasih Allah di sana.

Setelah mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin, saya baru diizinkan untuk tinggal bersama Frater selama 3 hari. Selama saya tinggal di sana, saya mencoba melihat lebih dekat bagaimana kehidupan para Suster dan Frater di sana. Di sana benar-benar menerapkan apa yang disebut dalam bahasa Latin “Ora et labora”, berdoa dan bekerja. Selama beberapa hari di sana, saya mendapat banyak sharing panggilan dari Frater; meski akhirnya saya memutuskan untuk tetap menjadi awam sampai sekarang. Demikian sharing saya melalui tulisan ini. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Jangan Mudah Pindah ke Lain Hati! Tuhan Mau Kita Setia

1
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Jangan Mudah Pindah ke Lain Hati! Tuhan Mau Kita Setia: Renungan Harian Katolik, Rabu 27 Maret 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Ul. 4:1, 5-9; Injil: Mat. 5:17-19

Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, sekali waktu pernah berkata: “JAS MERAH. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Kita bisa belajar banyak dari sejarah masa lalu, maka jangan pernah tinggalkan sejarah itu begitu saja. Sekalipun itu mungkin merupakan sejarah terburuk dalam hidup kita.

Semua bangsa di dunia ini mempunyai sejarah masa lalu, tidak terkecuali orang-orang Israel yang berada di bawah kepemimpinan Musa. Sejarah mereka tercatat dengan rapi dan lengkap di dalam Kitab Taurat, yaitu lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sejarah besar bangsa Israel di bawah kepemimpinan Musa bercerita tentang pembebasan mereka dari perbudakan di tanah Mesir. Tuhan menuntun mereka keluar dari negeri asing itu, dan menuntun mereka ke tanah terjanji melewati padang gurun. Selama 40 tahun mereka berada di padang gurun, sebelum akhirnya bisa masuk ke tanah terjanji. Meskipun Musa sendiri tidak sempat masuk ke ‘tanah yang berlimpah susu dan madu itu’.

Perjalanan orang-orang Israel di padang gurun jatuh bangun. Kadang mereka dipuji, tetapi lebih sering ditegur oleh Tuhan; karena mereka berkali-kali jatuh menjadi orang yang tidak setia. Tidak sekali saja Tuhan marah dan menurunkan hukuman atas mereka; karena mereka khilaf, membelot, memberontak, pindah ke lain hati, dan menyembah berhala.

Musa mengajak orang-orang Israel supaya sejarah itu jangan sampai ditinggalkan. Ia mau supaya mereka selalu ingat apa yang telah diperbuat Tuhan kepada mereka. Bahwasanya, Tuhan memberkati orang yang setia, dan menghukum orang yang pindah ke lain hati.

Tuhan mau kita setia. Orang yang setia pada ketetapan dan peraturan dari Tuhan akan masuk ke tanah terjanji. Itulah sebabnya Musa berkata kepada orang Israel itu: “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi” (Ul. 4:5-6).

Apa yang disampaikan oleh Musa di Kitab Ulangan ini merupakan pengingat bagi orang-orang Israel; bahwasanya segala ketetapan dan peraturan sudah disampaikan kepada mereka selama berada di padang gurun. Musa mewanti-wanti: “Waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul. 4:9).

Jangan mudah tergiur untuk mengikuti segala pengajaran yang baru, tanpa mau belajar dari sejarah masa lalu. Pengalaman positif kita wariskan; dan dari pengalaman negatif, kita mengambil hikmahnya. Orang bilang, ‘pengalaman adalah guru yang baik.’ Dari pengalaman itu kita belajar.   Jangan sampai pengajaran yang baik itu tidak diteruskan.

Dunia ini butuh banyak orang baik dan setia. Maka, ceritakanlah hal-hal baik itu secara turun-temurun dan kabarkanlah kepada orang-orang lain. Mengapa itu harus dilakukan? ‘Supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu’ (Bil. 4:5).

Ada jaminan bagi orang yang terbukti setia. Tanah terjanji adalah tempatnya orang yang taat dan setia. Siapa yang tidak setia, tidak bisa masuk ke tanah terjanji. Orang yang setia dan taat pada hukum Taurat akan mendapat ganjaran yang besar. ‘Ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga’ (Mat. 5:19).

Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat. Tetapi sebaliknya, Ia justru datang untuk menggenapinya. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17).

Bunda Maria dan Peranannya bagi Gereja

0

Maria Bunda Yesus, karena peranannya begitu besar dalam sejarah keselamatan, maka ia juga menjadi bunda pengantara kita. Melalui dan dalam Maria kita memperoleh keselamatan dari Allah dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang menjadi manusia dan dilahirkan dari Perawan Maria. Peranannya dalam sejarah keselamatan begitu penting, oleh karena keterpilihannya menjadi seorang Co-Redemtriks (Rekan Penebusan). Ia dirahmati secara khusus oleh Allah di dalam panggilannya menjadi Bunda Allah (bdk. Luk. 1:28).

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Allah memilih Bunda Maria untuk menjadi ibu Tuhan (Theotokos); karenanya, ia dipersiapkan secara khusus, sehingga sejak dari dalam kandungan ia tidak berbuat dosa. Ia tetap perawan (Dogma 1854). Oleh rahmat dan perlindungan Allah, ia terlindung dari segala noda dosa, ia hidup tanpa cela. Keterpilihannya menjadi Ibu Tuhan membuka kembali pintu surga yang telah ditutup karena dosa Hawa. Ia adalah Hawa baru, ibu dari semua yang hidup, sebagaimana Kristus adalah Adam baru. Kepasrahannya yang total kepada rencana dan kehendak Allah menjadikan dia sangat berkenan di hadapan Allah. Ia adalah makhluk yang paling sempurna dari semua ciptaan. Bunda Maria adalah model iman yang harus diteladani, iman penuh penyerahan, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (Luk. 1:38). Maria adalah contoh dan teladan Geraja yang ulung (LG. 53).

Magnificatnya (Luk. 1:46-55), mengungkapkan suatu pujian yang sangat indah kepada Allah, karena Allah menggenapi Firman-Nya, yang disampaikan-Nya melalui para nabi, tentang kedatangan Putera Allah yang menyelamatkan dunia. Keselamatan yang dinanti-nantikan itu, kini terlaksana dalam dan melalui Maria. Terlebih lagi Allah memilih orang yang kecil dan sederhana seperti dia (Maria) untuk menjadi ibu Tuhan. Jiwa Maria sungguh sederhana, tetapi justru dalam kesederhanaannya Allah memilih dia. Ia adalah ibu Tuhan yang berbahagia dan bersahaja (bdk. Luk. 1:48)

Mengapa Orang Katolik Menghormati Maria?

Ada pemahaman yang keliru mengenai ibadat atau devosi yang dilakukan orang katolik terhadap Bunda Maria. Ada pihak-pihak tertentu yang menuduh orang katolik menyembah Bunda Maria. Tentu saja tuduhan seperti itu tidak benar, karena Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan tentang penyembahan kepada Maria. Orang Katolik sama sekali tidak menyembah Maria tetapi menghormatinya!!! Bagaimanapun tingginya derajat Maria, ia tetaplah ciptaan sama seperti kita, dan suatu ciptaan tidak dapat disembah. Tuhan sajalah yang patut kita sembah (bdk. Mrk 4:10). Gereja Katolik hanya mengajarkan penghormatan kepada Maria yang merupakan contoh ciptaan Allah yang sempurna, yang patut diteladani kaum beriman, karena peranannya dalam sejarah keselamatan. Jika orang katolik melakukan penyembahan terhadap Maria, itu adalah suatu penyimpangan ajaran Gereja dan merupakan dosa.

Dasar penghormatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria sangat Alkitabiah. Hal itu dijumpai ketika Malaikat Gabriel yang diutus Allah, yang merupakan juru bicara Allah datang kepada Maria, dan menyampaikan kabar, bahwa ia (Maria) akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika Malaikat Gabriel bertemu dengan Maria, ia menyapa Maria dengan suatu sapaan yang begitu hormat: “Salam hai Engkau yang dikaruniai” (Luk. 1:28). Sapaan ini adalah suatu tanda penghormatan yang istimewa dari Allah terhadap Bunda Maria. Meskipun perkataan itu keluar dari mulut Malaikat Gabriel, tetapi sesungguhnya sapaan ini adalah sapaan Allah sendiri, yang diucapkan-Nya melalui utusan-Nya. Sapaan tersebut menunjukan bahwa Allah begitu menghormati ciptaan-Nya ini.

Kalau dibandingkan dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama atau tokoh-tokoh lain dalam Kitab Suci, tampak adanya perbedaan antara sapaan Allah kepada Maria dan kepada mereka. Misalnya, ketika Malaikat Tuhan berbicara kepada Musa dari dalam semak api yang menyala (Kel. 3:4-5), ketika Allah berbicara kepada Musa diatas Gunung Sinai (Kel. 24:12-18), Malaikat Allah menampakan diri kepada Manoah tentang kelahiran Simson (Hak. 13:1-25), dan sebagainya. Dalam perjanjian Baru, kita jumpai Malaikat Allah berbicara kepada Zakaria di Bait Allah tentang kelahiran Yohanes Pembaptis (Luk. 1:5-24), bahkan Zakaria ketakutan ketika mendengar sapaan malaikat kepadanya. Dari sini tampaklah perbedaan antara sapaan Allah kepada tokoh-tokoh dalam Kitab suci dan kepada Maria, yaitu Allah berbicara dengan penuh hormat kepada Maria, lebih daripada yang lain.

Demikian juga sapaan Elisabet terhadap Maria, ketika Maria mengunjungi Elisabet saudaranya di pegunungan Yudea (Luk. 1:39–45). Elisabet menyapa Maria: “Diberkati engkau di antara semua perempuan dan diberkati buah rahimmu.” Sebelum Elisabet mengucapkan perkataan itu, ia dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini berarti kata-kata itu keluar dari Allah sendiri, yang menggunakan mulut Elisabet untuk mengucapkannya. Jadi, bukan Elisabet yang menyapa Maria melainkan Roh Kudus, Allah sendiri.

Jelaslah bagi kita, bahwa Allah sangat menghormati Maria melalui sapaan-sapaan-Nya yang begitu istimewa. Ia disapa melebihi ciptaan lain bahkan nabi besar Perjanjian Lama sekalipun, yaitu Nabi Musa. Kalau Allah Sang Pencipta melalui sapaannya, begitu menghormati dan menjunjung tinggi Maria melebihi ciptaan lain, mengapa kita sebagai ciptaan-Nya yang berdosa tidak menghormati Maria? Apa yang terjadi jika kita menolak atau tidak menghormati Maria? Kalau kita menghina Maria, berarti kita menghina Allah, yang begitu menghormati dia. Karenanya, penghormatan kepada Maria bukanlah suatu penyimpangan ajaran Kristiani, asalkan penghormatan itu tidak melampaui batas-batas yang harus kita berikan kepada Allah Tritunggal sebagai Pencipta. Karena bagaimana pun tingginya derajat Maria, ia tetaplah ciptaan yang berada jauh di bawah Allah.

Maria Ciptaan Sempurna

Di antara semua ciptaan Allah, Maria adalah ciptaan yang paling sempuna. Ia dilindungi secara khusus oleh Allah, sehingga ia tanpa noda sedikit pun sejak dari dalam kandungan. Ia tetap Perawan (Dogma 1854). Kesucian Maria jauh melebihi para rasul dan para kudus dalam Gereja dan ciptaan lain. Tentang kesucian dan kesempunaan Maria konsili Vatikan II mengatakan: “Berkat rahmat Allah, Maria sesudah Putera lebih dimuliakan dari semua malaikat dan manusia sebagai Bunda Allah yang mahasuci” (LG. 66). Walaupun Kitab Suci tidak menemukan teks bahwa Maria pergi mewartakan Injil, namun ia lebih suci dari Rasul Petrus atau Rasul Agung Santo Paulus. Namun, perlu diingat bagaimana pun sucinya Maria, ia tidak dapat dibandingkan dengan Yesus sebagai Tuhan. Justru kesucian dan kesempunaan Maria diperolehnya melalui Yesus. Akan tetapi, tanpa kesucian atau lebih tepat, tanpa Allah mempersiapkan Maria secara khusus, bagaimana mungkin Yesus Putera Allah dapat lahir dari seorang pendosa? Maria dirahmati secara khusus oleh Allah, sehingga ia layak menjadi Ibu Tuhah.

Maria adalah orang yang sederhana, seorang gadis desa dari Nazareth.Ia seorang yang bersahaja sebagaimana gadis Nazareth pada umumnya. Orang tidak pernah mengetahui, bahwa ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Orang hanya mengetahui, bahwa ia adalah seorang yang saleh. Hidupnya sangat tersembunyi. Namun dalam kesederhanaannya, ia hidup tanpa noda dosa, sejak dari dalam kandungan ibunya. Ia sungguh hidup sempurna, karena Allah sendiri yang menjaga dia. Kesempurnaan Maria juga terletak dalam penyerahannya yang total terhadap kehendak Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” merupakan suatu jawaban yang menunjukan kesempurnaan Maria dalam menerima dan mau melakukan kehendak Allah. Ketaatannya yang sempurna terhadap kehendak Allah membuat dia sebagai Master piece dari semua ciptaan Allah. Ketaatannya dalam iman membuat ia sempurna dalam menanggapi panggilannya sebagai ibu Tuhan.

Maria senantiasa memjawab “Ya” terhadap kehendak Allah dan berani mengambil risiko, walaupun ia sendiri tidak mengerti apa yang dikehendaki Allah. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan Maria ketika Malaikat Gabriel datang dan memberi kabar bahwa ia mengandung dari Roh Kudus, sementara ia tidak bersuami. Bukankah oleh masyarakat Yahudi, ia dianggap pendosa besar dan harus dirajam dengan batu? Akan tetapi, dengan penuh iman ia hanya menyerah kepada kehendak Allah. Banyak peristiwa dalam Kitab Suci yang melukiskan penderitaan yang ditanggung Maria akibat keterpilihannya sebagai ibu Tuhan. Misalnya: peristiwa kelahiran Yesus dan pengejaran Raja Herodes hingga mengungsi ke Mesir, kesedihan Maria ketika Yesus pada umur 12 tahun tidak ada bersama mereka dalam perjalanan pulang ke Nazareth dari Yerusalem, karena ternyata Yesus masih berada di Bait Allah Yerusalem. Ketika bertemu Puteranya dalam penderitaan memanggul salib menuju Kalvari, hati Maria tertusuk ketika melihat anak satu-satunya yang sangat dikasihinya bergantung tak berdaya di Kayu Salib; inilah perderitaan Maria yang terbesar. Maka genaplah apa yang dikatakan Simeon kepadanya tetang anak yang dilahirkannya, bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri (bdk. Luk. 2:35). Di sinilah keagungan dan kesempurnaan Maria yaitu mengutamakan kehendak Allah, walupun harus menempuh jalan penderitaan.

Bunda Allah dan Bunda Gereja

Maria DiangkatkesurgaKeterpilihan Maria oleh Allah, untuk melahirkan Yesus sebagai Anak Allah menjadikan Maria sebagai Bunda Allah, Theotokos atau Maria Mater Dei, (Konsili Efesus 431). Gelar Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos didasarkan pada pribadi Yesus sebagai Anak Allah. Yesus lahir dari Maria bukan hanya sebagai manusia saja, tetapi sekaligus Allah. Yesus lahir seratus persen manusia dan seratus persen Allah. Pribadi Yesus sebagai Allah dan Manusia, yang lahir dari Maria tidak dapat dipisahkan. Sebagai manusia Yesus berumur 33 Tahun, sejak kelahirannya dari Maria sampai wafat-Nya di kayu salib. Namun, sebagai Allah, Yesus adalah Sang Sabda yang berasal dari Allah yang sudah ada sebelum ciptaan jagat raya, sampai kekal. Pristiwa inkarnasi merupakan peristiwa penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia dalam pribadi yang bernama Yesus yang dilahirkan oleh Maria. Yesus sendiri mengakui, dalam Luk. 8:19-21, ketika Ia sedang mengajar dan orang mengatakan kepada-Nya, bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya ingin bertemu dengan Dia. Ia menjawab, Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengar firman Allah dan melakukannya. Orang menafsirkan ayat ini, bahwa Yesus meremehkan Maria. Namun, justru sebaliknya, secara tidak langsung Yesus mau mengatakan bahwa Maria adalah ibu-Nya, karena Maria telah mendengarkan firman Allah dan melakukannya secara sempurna. Jadi, tidaklah salah Gereja memberi gelar kepada Maria sebagai Bunda Allah, karena ia telah melahirkan Yesus yang adalah Allah dan manusia.

Sejak Maria diakui sebagai Bunda Allah, maka penghormatan dan devosi kepadanya sangat berkembang.Ia sangat dihormati sebagai teladan dan ibu umat beriman. Maria adalah Bunda Gereja (Mater Ecclesia). Peristiwa di bawah kaki salib Putera-Nya (Yoh. 19:25-27), melambangkan persatuan Maria dengan Kristus, sebagai kepala Gereja. Pada saat itulah Kristus menyerahkan Maria kepada Gereja. ”… Ibu inilah anakmu, lalu Ia berkata kepada murid-muridnya, inilah ibumu.” Maka sejak saat itulah Maria menjadi milik Gereja sebagai ibu, dan Kristus mempercayakan umatnya kedalam tangan Bunda-Nya. Karena itu kita sebagai orang kristen dan murid Kristus harus menerima Maria sebagai ibu, karena ia telah diserahkan Kristus kepada kita.

Sejak penyerahan Maria kepada Gereja oleh Kristus di bawah salib-Nya, Maria mempersatukan dirinya dengan Kristus sebagai Kepala Gereja. Ia menjadi orang yang paling dekat dengan Kristus. Ia menjadi Pengantin Kristus (Sponsa Kristi), mempelai Gereja. Karena peranannya sebagai mempelai Ilahi, ia berada di antara Kristus dan Gereja. Ia bersatu dengan Kristus sekaligus bersatu dengan Gereja. Karena kedekatannya dengan Kristus dan Gereja, maka banyak devosi dan doa yang dipanjatkan kepada Allah melalui Bunda Maria terkabul, karena ia sangat berkenan di hadapan Allah.

Karena peranannya sebagai ibu Gereja (Mater Ecclesia) dan karena kedekatannya dengan Allah, Maria sering dijadikan Allah sebagai juru bicara-Nya, untuk tugas-tugas tertentu dalam Gereja, melalui penampakannya kepada Gereja. Kalau Bunda Maria menampakan diri, berarti Allah sendiri yang berbicara kepada manusia melalui Bunda Maria, karena ia begitu dekat dengan Gereja. Tentu saja kalau penampakan itu otentik, seperti Lourdes, Fatima, Medugorje, dan lain-lain, yang telah diakui oleh Gereja. Penampakan yang otentik selalu membawa buah-buah yang positif bagi Gereja dan tidak dapat dihalangi oleh manusia. Buah-buah itu antara lain berupa pertobatan, kesembuhan, sukacita, dan kegembiraan bagi umat Allah.

Devosi Kepada Bunda Maria

Sejak Maria diangkat dan diberi gelar oleh Gereja sebagai Bunda Allah, maka devosi kepadanya sangat berkembang. Banyak umat Allah yang memohon doa kepada Bunda Maria. Seperti doa Rosario, Novena tiga kali Salam Maria dan Ibadat hari Sabtu dalam Gereja dipersembahkan secara khusus untuk menghormati Bunda Maria serta ibadat-ibadat lain untuk mengenang jasa Maria bagi Gereja. Karena Bunda Maria telah diberikan Allah kepada Gereja dan diberi tempat yang istimewa, maka tugas Maria dalam Gereja adalah mendoakan dan melindungi Gereja yang masih dalam perziarahan menuju Bapa.

Paus Paulus VI, menulis suatu edaran, “Marialis cultus” (Kebaktian kepada Maria), ia menulis: “Berdasarkan pengalaman Gereja Katolik dapat mengatakan, bahwa kebaktian yang kuat kepada Maria membantu manusia untuk menempuh jalan menuju kepada kesempurnaan hidup. Manusia dewasa ini sering diombang-ambing rasa cemas dan harapan; ia dapat menjadi putus asa jika ingat akan keterbatasannya, tetapi ia juga didorong oleh hasrat tak terhingga; jiwanya gelisah, hatinya tidak tenteram, rohnya dihantui oleh rahasia maut; ia menderita, karena merasa sepi dan sendirian, padahal ia begitu rindu untuk berkawan dan bersekutu; ia merasa lesu dan jemu akan hidup.”

Apabila ia memandang Maria sebagaimana Maria hidup didunia ini dan sebagaimana ia sekarang menikmati kesempurnaan di kota Allah, matanya akan menjadi jernih dan ia akan mendengar kata-kata yang memberi semangat kepadanya: Harapan lebih kuat dari kecemasan, persekutuan mengatasi rasa kesepian, damai menang atas kegelisahan, keindahan dan kegembiraan mengalahkan rasa lesu dan jemu akan hidup, keabadian lebih kuat daripada waktu, hidup lebih kuat daripada maut.” Maria adalah penerangan dalam kegelapan hati kita. Kelembutan dan keibuannya selalu terpancar untuk anak-anaknya yang dalam kesusahan hidup di dunia dewasa ini. Pandangannya yang penuh kasih dan mesra memberikan semangat baru dalam hati anak-anaknya.

Jika Gereja Katolik berdevosi kepada Maria, tidak berarti Maria menjadi perantara kepada Bapa atau mengambil alih peran Yesus. Yesus tetap menjadi perantara satu-satunya kepada Bapa. Gereja Katolik berdevosi kepada Maria, karena ia adalah ciptaan Allah yang sempurna dan sangat dekat dengan Allah dan kepada kita anak-anaknya. Ia adalah rekan perantara (Co-Mediatriks) Allah kepada manusia, dalam Yesus Kristus. Kita memperoleh berkat dari Allah melalui Maria dalam Yesus Kristus. Ia hidup dan menjadi Bunda Gereja.Ia adalah penolong kita (Avokata Nostra) dalam bahaya. Tidaklah salah Gereja Katolik bedevosi kepada Bunda Maria. Banyak kita mendengar kesaksian, bagaimana doa yang dipanjatkan dengan perantaraan Bunda Maria terkabul. Ini berarti doa Bunda Maria sangat berkenan kepada Allah.

Kalau orang katolik membuat patung Bunda Maria dan menyimpannya serta berdoa di depan patung tersebut, tidak berarti mereka menyembah berhala. Tujuan doa itu bukanlah kepada patung tersebut. Patung dibuat, supaya lebih mudah mengingat akan tokoh atau pribadi yang dilukiskan itu. Patung yang dibuat itu dapat dibandingkan dengan selembar foto sorang anak, yang sangat dikasihi ibunya, dan foto itu sering di bawa ke mana saja ia pergi, sebagai ungkapan cinta dan kedekatan serta ikatan batin dari dua pribadi yang bersangkutan. Demikian juga patung Maria yang dibuat, mau menunjukan kedekatan kita dengan dia, dan mempermudah mengingat pribadinya sebagai ibu yang mengasihi dan siap menolong kita.

Di lain pihak, bagaimana pun pentingnya suatu devosi kepada Bunda Maria, tidaklah dapat menggantikan doa-doa resmi Gereja. Doa resmi Gereja harus diutamakan. Doa rosario tidak dapat menggantikan perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi adalah pusat kehidupan Katolik, karena Kristus sendirilah yang dikurbankan dalam Ekaristi. Kadang-kadang kita melihat kenyataan yang terjadi, orang menempatkan Bunda Maria di atas segala-galanya. Orang berdevosi terlalu berlebih-lebihan, seolah-olah mengambil alih peran Allah. Di lain pihak, karena kurangnya pengetahuan orang sampai mengesampingkan peran Maria sebagai ibu Gereja. Ibadat atau devosi yang benar adalah menempatkan kembali Maria pada tempat yang sebenarnya, sebagai Bunda pengantara kita kepada Yesus. Devosi yang benar membawa kita kepada Allah melalui Maria dalam Yesus (Per Mariam at Jesum). Devosi yang benar harus mengandung nilai Teologal.

Kesimpulan

Bunda Maria dipilih dan dirahmati secara khusus oleh Allah, untuk melahirkan Petera-Nya. Rahmat yang diperoleh Maria semata-mata karena jasa Yesus Kristus. Maria mengambil bagian secara penuh dalam karya keselamatan Allah bagi manusia, karena melalui dialah, Juruselamat dilahirkan. Karenanya ia menjadi Bunda Allah sekaligus sebagai Bunda Gereja, sebagai ibu yang mempunyai rasa cinta yang besar terhadap Gereja. Kelembutan hati dan kedekatannya kepada Allah, membuat dia menjadi tempat bagi kita anak-anaknya untuk datang memohon bantuan melalui doa-doanya.

Ketaatannya yang sempurna kepada kehendak Allah menjadikan dia (Maria) sangat berkenan di hadapan Allah, sebagai ciptaan yang paling luhur dan sempurna. Imannya yang penuh penyerahan membuat dia sebagai tokoh terbesar dalam Gereja yang patut diteladani. Namun bagaimana pun tingginya derajat Maria, ia tidak dapat disamakan dengan Allah Tritunggal sebagai Pencipta. Ia berada jauh di bawah Allah, sebab dia hanyalah ciptaan Allah sama seperti kita, tetapi ia dilindungi secara khusus, sehingga ia hidup tanpa dosa. Ia tetap perawan. Oleh karena itu, Maria tidak dapat disembah, hanya dihormati sebagai insan Allah, yang mempunyai peranan penting dalam sejarah keselamatan umat manusia. Hanya Allah sajalah yang patut disembah. Karenanya, ibadat kepada Maria harus ditempatkan sebagaiman mestinya sesuai dengan ajaran Gereja. Ibadat atau cinta kepada Maria harus bersifat sekunder, sedangkan ibadat atau cinta kepada Allah harus bersifat primer.

Pastor Elisa Maria, CSE
Penulis tetap di situs carmelia.net

Tiga Puluh Keping Perak 2

0

Yoseph sudah sangat tua ketika tawaran itu datang. Beberapa orang utusan dewan imam dari Yerusalem datang ke Nasareth menanyakan persediaan kayu di bengkel miliknya. Padahal hari-hari ini, Yoseph sudah tidak lagi melayani pesan meubel dari para pelanggannya. Tangannya sudah tidak kuat lagi mengayun gergaji sehingga beberapa kali tangannya terluka. Matanya tidak setajam dulu lagi untuk melihat garis yang digoresnya sendiri sehingga beberapa kali ia memotong kaki mejanya tidak sama panjang. Bengkel Yoseph makin jarang buka, bahkan kalau terbuka tak seberapa lama.

Peralatan kerjanya terlihat mulai berkarat, di beberapa sudut masih ada setumpuk gelondongan kayu aras yang dipesan dari Libanon. Tangannya gemetar menyentuh ujung kayu itu, perasaannya melambung jauh ke Bait Allah. Gelondongan aras Lebanon itu adalah sisa dari persembahan keluarga untuk membangun Bait Allah. Gelondongan aras Lebanon kini menjadi warisan kekayaan keluarganya yang berarti dan penting bagi keluarga Yoseph. Lewat potongan-potongan kayu itu mereka mengisahkan tentang perjuangan mereka untuk membangun Bait Allah. Gelondongan kayu aras itu, telah menjadi gulungan kitab perjuangan, kitab iman, kitab sejarah keluarga mereka.

Kemarin putranya datang ke rumah dan mengatakan bahwa ia tidak mungkin meneruskan bengkel itu. Ia telah memilih jalan hidup lain, menjadi nabi jalanan menemani mereka yang tak punya rumah, menemani mereka yang tidak mempunyai apa-apa.

Tidak ada alasan lagi bagi Yoseph untuk mempertahankan gelondongan kayu aras Lebanon itu. Apalagi yang datang membeli adalah anak buah para imam dari Yerusalem. Hatinya bangga dan diliputi rasa syukur karena bahkan pada masa tuapun ia masih bisa menyumbangkan sesuatu untuk Bait Allah.

Meski menolak untuk dibayar namun tidak apa-apa mendapat imbalan sewajarnya saja, kata Yoseph dalam hatinya. Tiga gelondong kayu aras Lebanon itu dibawa ke Yerusalem entah untuk apa, tak dipahami Yoseph. Baginya asalkan untuk sesuatu yang berguna di Bait Allah. Semua kenangan, cerita perjuangan, kebanggaan, kisah iman, seolah pergi bersama tiga gelondongan kayu aras Lebanon itu. Kini Yoseph hanya menggenggam tiga puluh keping perak, yang tidak tahu entah mau diapakan dengan uang itu. Hatinya kosong.

Pada hari itu, di atas bukit itu Maria terkejut, tiga gelondongan kayu aras Lebanon dari bengkel Yoseph itu berdiri kokoh dan di sana pula putranya tergantung disalibkan. Lututnya gemetar, bibirnya gemetar, terasa dunia seolah-olah berputar. Hatinya ingin teriak, seolah-olah dunia merampasnya habis-habisan.
Dengan tenaga yang tersisah dari mulut Maria hanya terujar doa ini “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”

Setelah mendengar bahwa kayu aras Lebanon itu ada di bukit itu pada hari itu, tidur malam Yoseph menjadi abadi dan dalam mimpi ia selalu dikunjungi putranya sambil memikul pulang gelondongan kayu aras itu ke bengkelnya. Hatinya penuh sukacita, dan sukacitanya abadi.

Penulis: P. Herman Barung, SVD

Bergantung Pada Orang Lain

0
cherylholt / Pixabay

Seperti seorang bayi yang digendong ibunya atau seorang pasien yang membutuhkan dokter, demikian juga dengan hidup setiap orang.

Pada saat tertentu, kita harus mempercayakan diri kepada orang lain karena kita lemah. Tak ada manusia super di dunia. Sehebat-hebatnya seseorang, dia tetap membutuhkan orang lain. Begitulah! Hidup mengajari kita untuk bergantung dan percaya pada orang lain.

Maka jangan melupakan sahabat atau keluarga di saat kita senang, karena suatu saat kita akan kembali menyandarkan kepala atau sekadar bercerita ketika dilanda kesedihan atau permasalahan.

Jangan meremehkan orang yang telah mengantar kita pada kesuksesan, karena tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa. Seberapa pun besar perannya, mereka telah menjadi bagian dari pencapaian sekarang. Dan jangan mengkhianati mereka yang tulus mencintai kita, karena kalau mereka sudah pergi bisa jadi kita terluka atau sangat merindukan kehadiran mereka.

Ketulusan dan pengorbanan yang orang lain berikan adalah kekuatan cinta yang menyembuhkan, meneguhkan dan membuat kita tegar di tengah badai, sejuk di tengah panas dan manis di tempat pahit.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Belajar dari Kegagalan Orang Lain — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh rawpixel / Pixabay

Belajar dari Kegagalan Orang Lain: Renungan Harian Katolik, Minggu 24 Maret 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kel. 3:1-8a, 13-15; Bacaan II: 1 Kor. 10:1-6, 10-12; Injil: Luk. 13:1-9

Tidak ada yang kebetulan bagi Tuhan. Dalam Kitab Keluaran diceritakan seolah Musa secara kebetulan saja tiba di gunung Tuhan, yaitu Gunung Horeb. Tidak demikian bagi Tuhan. Tuhanlah yang memanggil dia ke sana. Musa dipanggil oleh Tuhan dengan cara itu.

Tuhan juga memanggil kita dengan caranya sendiri. Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai ‘Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakob’ (Kel. 3:6). Ketiganya adalah nenek moyang orang Israel. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

Dalam Perjanjian Lama, mereka tidak mampu memandang wajah Allah. Allah digambarkan sebagai terang yang besar. Tidak ada orang yang mampu melihat terang yang besar. Mirip kalau kita menatap matahari, kita pasti bersin-bersin. Tidak tahan. Makanya, Musa menutup mukanya. Ia tidak tahan.

Tuhan mengungkapkan kepada Musa betapa Ia peduli dengan kesengsaraan umat-Nya di tanah Mesir. Ia mau mengutus Musa ke sana. Musa bertanya tentang nama dari Tuhan yang mengutusnya. Tapi, Tuhan hanya bilang: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (Kel. 3:14).

Bagi orang Israel, tahu nama seseorang sama artinya dengan menguasai orang itu. Maka, sangatlah tidak etis jika seorang bawahan menanyakan nama atasannya; atau seorang manusia menanyakan nama Tuhannya. Itulah sebabnya Tuhan hanya memperkenalkan nama-Nya sebagai ‘Sang Aku’.

Musa menuntun orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Mereka mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun. Kok, lama sekali? Ya, karena hidup mereka jatuh bangun. Tuhan mau memulihkan keadaan mereka terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka diperbolehkan masuk ke tanah terjanji.

Orang Israel cenderung menggerutu, gusar, dan bersungut-sungut. Mereka tidak puas dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Padahal, Tuhan selalu memberi apa yang mereka butuhkan. Mereka tidak tahu diri: dikasih hati minta jantung.

Rasul Paulus menyebutkan bahwa – karena sikap mereka itu – Allah tidak berkenan kepada sebagian terbesar dari mereka. Maka, mereka ditewaskan di padang gurun (1 Kor. 10:5). Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat. Apa yang terjadi pada orang-orang Israel di padang gurun itu merupakan contoh yang baik untuk tidak kita tiru.

Dalam banyak hal, kita sama saja dengan mereka. Kita mengeluh dan protes terhadap Tuhan. Padahal, Tuhan sudah memberi banyak kepada kita. Kita mungkin mau supaya Tuhan memberi uang cash kepada kita. Kita lupa bahwa Tuhan sudah memberi lebih dari apa yang kita pikirkan. Ia memberi kita kesehatan, nafas kehidupan, lingkungan yang aman, dan sebagainya. Itu semua tidak dengan sendirinya kita peroleh jika bukan karena kehendak Tuhan.

Juga, tidak jarang kita menertawakan pengalaman pahit yang dialami oleh orang lain. Tapi, jangan lupa bahwa pengalaman mereka bukan tidak mungkin akan kita alami juga kalau kita tidak bertobat. Tuhan mau supaya kita mengambil hikmah dari pengalaman pahit yang dialami oleh orang lain.

Kita mendengar cerita tentang orang Israel yang menggerutu, bersungut-sungut, dan protes, sehingga Tuhan menghukum mereka; semua itu bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan atau bahan tertawaan, tetapi haruslah menjadi bahan pembelajaran bagi kita supaya kita tidak mengalami hal yang sama. Makanya, Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya:

“Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:2-5).

Tuhan Yesus mau supaya pengalaman pahit yang dialami oleh orang lain jangan hanya dijadikan sebagai bahan gosip. Kita harus belajar dan mengambil hikmah dari situ. Jika tidak, kita juga akan mengalami hal yang sama.

Dulu, Saya diharapkan menjadi imam

0

“Dulu, waktu saya masih kecil, saya selalu melihat ayah saya hampir tiap hari ikut misa pagi. Waktu itu, saya bertanya kepada ayah saya, apa yang bapa minta setiap kali pergi misa? Dan ia menjawab, saya selalu berdoa untuk kamu, supaya nanti bisa menjadi imam. Ayah saya mengharapkan saya menjadi imam”. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan saat membawakan kuliah umum di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Maumere dengan tema Energi Berkeadilan untuk Rakyat (Sabtu, 23/3/2019). Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Panitia pesta emas STFK Ledalero dalam rangka menyongsong pesta emas STFK Ledalero.

Pada kesempatan yang sama, mantan menteri perhubungan ini mengungkapkan rasa kagumnya kepada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero yang telah melahirkan ribuan cendekiawan yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan, baik sebagai imam maupun sebagai awam yang berkarya di dalam dan luar Negeri. Saya baru pertama kali datang ke Ledalero ini, namun saya sudah lama mengenal STFK Ledalero, sudah 40-an tahun yang lalu. Dan STFK Ledalero sudah sangat terkenal. Waktu saya umur 20-an tahun, ketika Mgr. Donatus Djagom, SVD datang ke Surabaya, saya yang melayani dia, saya menyetir sendiri mobil. Saya mengenal banyak STFK Ledalero melalui beliau. Sehingga saya sudah tahu lama STFK Ledalero, ungkapnya.

Saya mengharapkan agar adik-adik Mahasiswa STFK Ledalero suatu saat bisa menjadi imam dan menjadi pelayan untuk semua orang. Ya, kalaupun tidak menjadi imam seperti saya, paling tidak bisa menjadi pelayan untuk masyarakat. Saya diharapkan menjadi imam oleh ayah saya, tetapi saat ini saya bisa menjadi pelayan dengan cara dan status yang lain, ungkapnya dengan nada harapan.

Ketua STFK Ledalero, Dr. Otto Gusti Madung dalam sambutannya di awal kuliah umum ini menyampaikan terimakasih kepada bapak Ignasius Jonan yang dalam kesibukannya sebagai menteri ESDM masih meluangkan waktu untuk membawakan kuliah umum di STFK Ledalero. Pada kesempatan yang sama juga, Dr. Otto Gusti Madung menyampaikan sejarah singkat berdirinya STFK Ledalero hingga mencapai usia emasnya, sekaligus menyampaikan kondisi terkini Ledalero kepada bapak Ignasius Jonan dan juga tamu undangan yang turut hadir.

Turut hadir dalam kuliah umum ini adalah Uskup Emeritus keuskupan Maumere, Mgr. Kerubim Pareira, Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, Bupati Sikka, bapak Kapolres Sikka, Pater Ketua Yayasan Persekolahan St. Paulus Ende, Ketua STFK Ledalero, para pimpinan biara, para alumni STFK Ledalero, para dosen dan segenap Civitas akademika STFK Ledalero. (Gusti Hadun, Ritapiret)

Mengapa Harus Mengampuni?

0
panajiotis / Pixabay

Tidak mudah mengampuni orang yang sudah melukai hati kita. Tetapi sesulit apapun, mengampuni adalah cara dan obat untuk menyembuhkan diri yang terluka. Ada beberapa alasan.

Pertama, pengampunan adalah hadiah terbaik untuk diri kita. “Hal termulia yang bisa kita berikan kepada diri kita sendiri adalah pengampunan” (Maya Angelou). Mengampuni itu seperti ‘melepaskan ikan yang nyangkut di kail atau jala’. Mengampuni berarti melepaskan diri dari kail kecewa, marah, sakit hati.

Kedua, pengampunan adalah sebuah kekuatan. “Orang lemah tidak mau mengampuni. Mengampuni adalah kharater orang kuat” (Mahatma Gandhi). Mengampuni orang lain bukan berarti kita lemah. Mengampuni adalah tanda bahwa kita kuat, karena hanya orang kuat yang memilih untuk menjadi bahagia lewat pengampunan.

Ketiga, pengampunan adalah tanda cinta. “Orang yang tidak mampu untuk memaafkan adalah orang yang tidak mampu untuk mencintai” (Martin Luther King). Ada hal yang baik di dalam keburukan dan ada hal jahat di dalam kebaikan. Cintailah hidup kita dengan cara membuang racun yang memenjarakan jiwa kita.

Keempat, dengan mengampuni, kita merasa damai. “Jika kamu sedikit memaafkan, kamu akan memiliki sedikit kedamaian. Jika kamu banyak memaafkan, kamu akan memiliki banyak kedamaian. Jika kamu memaafkan dengan sempurna, kamu akan memiliki damai yang sempurna” (Ajahn Chah). Melepaskan diri dari rasa benci dan dendam akan membuat pikiran dan hati damai. Saat kita memutuskan untuk mengampuni, saat itu juga momen kebahagiaan sedang memasuki ruang hati dan hidup kita.

Kelima, ketika kita mengampuni, kita akan diamuni. Ini hukum alam. Kita mendapatkan apa yang kita berikan. Kita menuai apa yang kita tanam. Dan karena kita semua adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan, maka semakin kita mengampuni kesalahan orang, orang juga akan mengampuni kita, saat kita melakukan kesalahan. Ampunilah, maka kamu akan diampuni.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Para Bapa Uskup Bertatap Muka dengan Para Frater Ritapiret

0

Para bapa Uskup Se-Provinsi Gerejawi Ende bertatap muka dengan para frater Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret Maumere, bertempat di aula Seminari Ritapiret (Rabu, 20/3/2019). Tatap muka ini bukanlah sebuah perbincangan ilmiah, tetapi lebih pada sapaan hangat dari hati ke hati dari seorang bapak kepada anaknya. Perbincangan yang menyentuh hati dan menggugah rasa ini bukanlah sebuah kebetulan, tetapi sudah menjadi program tahunan para bapak Uskup se-Provinsi Gerejawi Ende untuk mengadakan rapat tahunan dengan para formatores Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, para romo Praeses Seminari menengah, para pimpinan biara dan juga dengan para dosen STFK Ledalero.

Mgr. Frans Kopong Kung (uskup Larantuka) yang dipercayakan menjadi moderator dalam sapaan awalnya mengharapkan agar perjumpaan yang penuh hangat ini bisa membangkitkan semangat baru dalam diri para frater untuk tetap setia menjaga dan merawat panggilan Tuhan yang sudah, sedang dan akan terus dijalani. Mgr. Frans dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya membina hidup rohani selama proses formasi. Aspek kerohanian merupakan fundasi dalam proses formasi seorang calon imam. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa kita mengabaikan aspek lain dalam proses formasi seperti intelektual, kepribadian, kesehatan dan relasi sosial, tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Mgr. Vinsensius Sensi Potokota (uskup Agung Ende). Dalam pertemuan dengan para formatores, kami mendengar kesan bahwa para frater kurang terlalu serius menghayati kehidupan rohani dalam proses formasi di tempat ini. Kami para uskup mengharapkan agar perlu menjaga dan menghayati secara serius aspek kerohanian. Formasi spiritualitas ini sangat penting bagi kita yang dipanggil secara khusus. Selain itu, perlu membiasakan diri untuk menghayati keheningan dalam hidup sebagai bagian dari cara membina hidup rohani, tegas Mgr. Sensi. Lebih lanjut, Mgr. Sensi mengatakan bahwa keheningan itu tidak hanya soal keheningan badaniah/lahiriah, tetapi juga menyangkut keheningan batiniah. Keheningan ini semestinya sudah dibangun dan dibentuk sejak seminari kecil (menengah).

Mgr. Ewaldus Martinus Sedu (Uskup Maumere) dalam tatap muka dengan para frater ini lebih mengsharingkan pengalamannya ketika berjumpa dengan emak-emak kelompok legio Maria. Dalam perjumpaan dengan kelompok legio Maria ini, Mgr. Ewald mendapat kesan bahwa emak-emak sangat mencintai para imam karena para imam menurut mereka adalah wakil Kristus. Namun emak-emak kelompok legio ini juga sangat perihatin dengan perilaku imam-imam tertentu yang tidak menunjukan dirinya sebagai wakil Kristus. Karena itu, Mgr. Ewald mengharapkan agar para frater perlu membiasakan diri menunjukan perilaku yang baik. Perilaku yang baik tidak baru terjadi setelah ditahbiskan menjadi imam, tetapi terbentuk melalui proses formasi baik sejak seminari menengah hingga seminari tinggi, tegas Mgr. Ewald.

Sedangkan Mgr. Silvester San (Uskup Denpasar dan sekaligus Administrator apostolik keuskupan Ruteng) mengajak para frater untuk belajar dari pribadi Yesus dalam Kitab Suci. Yesus yang kita imani, sesibuk apapun Dia, Dia selalu punya waktu untuk berdoa kepada Bapa-Nya di Surga dan menyepi dalam keheningan, ungkap Mgr. San. Mgr. San mendapat kesan bahwa kebiasaan doa dan keheningan yang sudah lama dibentuk sejak seminari menengah belum terlalu serius dihayati ketika masuk di seminari tinggi. Karena itu, menurut Mgr. San doa pribadi dan keheningan adalah cara terbaik untuk bisa mengenal kedalaman diri dan juga identitas diri.

Di akhir tatap muka ini, para bapa Uskup memberikan kesempatan kepada para frater untuk sedikit berbagi cerita berkaitan dengan suka-duka selama berada di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret dan sekaligus ditutup dengan kata-kata peneguhan dari Mgr. Vinsensius Sensi Potokota. (Fr. Gusti Hadun, Ketua Sie Publikasi Seminari Ritapiret).