12.1 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 70

Keluarga Gembira di Kampung Global

0
Gambar ilustrasi oleh susan-lu4esm / Pixabay

Keluarga adalah satuan terkecil dalam sistem pranata sosial. Peran keluarga tidak sedikit pengaruhnya bagi mutu dan kemajuan suatu masyarakat. Sebab keluarga merupakan sekolah nilai, moral dan keutamaan hidup manusia. Maka untuk membangun dan memperbaiki kualitas masyarakat, yang paling pertama direformasi atau dibentuk ialah keluarga-keluarga.

Namun di tengah perubahan jaman, keluarga juga tidak luput dari dorongan perkembangan dan pengaruhnya, baik positif maupun negatif. Bagaimana keluarga katolik tetap mengakarkan nilai kristiani di tengah arus jaman?

Kampung global

Marshall mengatakan bahwa dunia kita ini ibarat kampung global. Mengapa demikian? Dalam kehidupan kampung, setiap individu terkoneksi satu sama lain, ada kedekatan jarak, ada komunikasi yang intens dan interaksi antara warga kampung.

Begitu juga dengan perkembangan teknologi informasi, menghubungkan satu daerah dengan daerah lain, satu negara dengan negara lain melalui jaringan (web) internet, membuat dunia ini seperti kampung kecil (global village). Sehingga apa yang terjadi di daerah lain dalam hitungan detik saja juga diketahui oleh orang di tempat lain.

Di kampung global ini antara yang baik dan yang buruk tidak ada bilik pemisah. Semua bisa mengakses apa yang tabu (terlarang) dan apa yang wajar dan sepatutnya. Berbagai berita, video, iklan menyerbu dan siap diakses oleh siapa saja.

Melubernya informasi selain meningkatkan pengetahuan juga mampu mengikis batasan-batasan wajar dan normal dalam kehidupan, karena apa yang tabu di satu daerah belum tentu tabu di daerah lain.

Misalnya kebiasaan berpakaian di daerah barat ikut mempengaruhi mode busana di daerah lain. Poligami dan perceraian yang biasa dan lumrah di daerah lain mempengaruhi monogami, dan kesetiaan bagi keluarga di tempat lain.

Pengaruhnya membuat apa yang disebut relative nilai. Relative nilai itu ialah menentukan baik dan benar menurut dirinya sendiri atau semau gue. Sikap semau gue, individualis ini bila terlalu dominan dalam kehidupan bersama, khususnya keluarga bisa menyebabkan keretakan dan perceraian.

Berbagai fitur aplikasi, game, dan produk dari kampung global ini membentuk anak-anak (generasi milenial) dalam banyak hal, persepsi akan diri, pola relasi, interaksi dalam keluarga, dan sebagainya.

Anak-anak kita bila kita cermati, mudah menyesuaikan diri dengan teknologi (tanpa diajar), mudah memahami informasi dan pengetahuan baru, tetapi di sisi lain mereka juga mudah menyerah pada kesulitan, cari gampang dan bahagia sesaat. Untuk menghargai proses, perjuangan, menjadi kelemahan mereka.

Disisi lain mestinya teknologi mampu menciptakan relasi yang intens, penuh kasih, karena mampu memangkas jarak. Terutama bagi keluarga yang karena pekerjaan, tinggal berjauhan, tetapi pada kenyataanya juga teknologi smart phone menjadi pisau penikam relasi dan keharmonisan keluarga.

Smart phone menjadi primadona dari pada perjumpaan nyata dalam keluarga. Obrolan chating mampu berjam-jam dalam kesendirian dari pada duduk sejam dalam gereja untuk berdoa. Inilah persisnya realitas dalam kampung global.

Berpegang pada Nilai Kristiani

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal sengatan dari efek negatif perkembangan teknologi bagi keluarga kita?

Pertama, carilah kebahagian yang original. Kebahagian original itu dicapai melalui perjumpaan fisik, karena dalam perjumpaan ini seluruh mimik, ekspresi, rasa dan resonansi kebahagian itu nampak nyata.

Misalnya tentu berbeda sekali tertawa dalam perjumpaan nyata dengan perjumpaan maya. Di media sosial, kita tidak tertawa tetapi lawan chating kita merasakan kita tertawa ketika kita membalas “wkwkwk” atau “hhhhh”.

Kedua, jagalah kesetiaan. Setia itu mahal. Setia menjadi rantai pengikat keluarga. Tanpa kesetiaan, bila terjadi pencobaan dan permasalahan dalam keluarga, pasti keluarga itu bubar.

Kesetian dalam keluarga kristiani mempunyai makna yang sangat dalam yaitu pencerminan kesetiaan Allah pada manusia. Relasi keluarga mewakili relasi Allah dan manusia yang nyata. Untuk itu keluarga selalu dikatakan rekan kerja Allah. Sebagai rekan, maka harus setia dan monogami.

Ketiga pengampunan. Cinta dan pengampunan merupakan satu kesatuan. Tanpa pengampunan cinta tak berarti. Kualitas cinta itu ketika tetap mencintai walau babak belur oleh pencobaan dan kesalahan.

Keempat, pembelajar keutamaan. Hidup adalah pembelajaran itu sendiri. Maka keluarga pun terus belajar dan membina diri. Pembelajaran apa? Ya belajar untuk mencapai keutamaan-keutamaan hidup seperti kesetiaan, saling hormat, saling berbagi dan sebagainya.

Masih banyak perjuangan lainnya agar keluarga katolik tetap menjadi panutan bagi banyak orang. Tetapi inti pembelajaran keutamaan itu ialah sukacita.

Keluarga kristiani harus bersuka cita. Keluarga kristiani harus mengedepankan pengampunan, keluarga kristiani harus juga menjadi tanda nyata rahmat Allah bagi dunia ini.

Semoga keluarga katolik bersukacita dalam iman, berbagi bila banyak rejeki, memberi diri untuk sesama, gereja dan masyarakat.

Presiden: Aset Terbesar Bangsa adalah Persatuan

0

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya pada perayaan Natal Nasional Tahun 2018 mengatakan bahwa asset terbesar bangsa adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan. Menurutnya persatuan itu bersumber dari keragaman bangsa Indonesia. keragaman itu merujpakan kekuatan yang tidak mampu dikalahkan oleh siapapun.  “Aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaran. Dan persatuan yang bersumber dari keragaman bangsa kita, Indonesia, adalah kekuataan kita, yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun, karena persatuan kita sangat kuat,” kata Jokowi di Gedung Serbaguna T. Rizal Noordin, Sumut, pada Sabtu, (29/12/2018).

Jokowi mengajak semua pihak untuk menjaga, merawat, dan mensyukuri keragaman dan persatuan sebagai anugrah Tuhan melalui saling menghormati, menghargai, membantu dan mengasihi. “Karena di mana ada si Rungguk, di situ ada si Tata. Di mana pun kita duduk, di situ selalu ada Tuhan Yang Maha  Esa,” kata Jokowi sambil berpantun. Pada kesempatan itu, ia melontarkan sebuah pantun untuk mengucapkan selamat Natal dan tahun baru. “Terletak di tanah batang ubi jadi tunas, terletak di tanah besi jadi karat. Selamat Natal tahun 2018 dan sekaligus saya mengucapkan selamat tahun baru 2019. Kiranya damai, sejahtera, selalu hadir di negara kita Indonesia,” lanjut dia.

Adapun Menteri yang turut mendampingi Presiden antara lain, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Hukum dan HAM sekaligus Ketua Umum Perayaan Natal Nasional Tahun 2018 Yasonna Laoly, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, dan Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi.

Surat Gembala Tahun Berhikmat 2019 Keuskupan Agung Jakarta

0

 

Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo telah mengeluarkan Surat Gembala Tahun Berhikmat 2019 “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”. Surat ini disampaikan sebagai pengganti khotbah pada Perayaan Ekaristi Hari Raya Penampakan Tuhan, Sabtu-Minggu, 5-6 Januari 2019.

Surat Terbuka Pater Tuan Kopong MSF.

0
OpenClipart-Vectors / Pixabay

Untuk Abdul Somad: Saya Tak Butuh Ucapan Selamatmu,
Dan Jangan Urusi Iman Agamaku

Saya tak pernah mengurusi keyakinan agamamu. Tak pernah mengurusi ajaran-ajaran kitabmu. Pun pula tidak pernah menjadikan kitabku untuk menyerang atau membantah ajaranmu.

Tepat yang dikatakan Gus Dur; “Agamaku, agamaku; agamamu, agamamu”. Persaudaraan dan toleransi itu hancur bukan karena dilakukan oleh orang tak beragama tapi justru dilakukan oleh oknum beragama apalagi yang selevel habib, ustadz yang selalu mengutak atik ajaran agama lain berdasarkan ajaran atau pemahamannya sendiri.

Anda mau mengucapkan selamat natal atau tidak itu urusanmu. Sama ketika Anda mau makan bakso atau tidak itu urusanmu. Tapi tidak perlu mengurusi keyakinan iman agama lain, termasuk keyakinan agama saya.

Saya sama sekali tidak menangis sampai air mata berdarah hanya mengharapkan ucapan selamatmu atau bahkan menyembahmu untuk memintamu menucapkan ucapan selamat Natal pada saya. Tidak sama sekali!! Karena TIDAK AKAN PERNAH MENAMBAH ATAU MENGURANGI IMAN SAYA akan perayaan Iman Natal hanya karena mengucapkan selamat Natal atau tidak.

Saya bahkan tidak pernah memaksa anda untuk mengimani Yesus sebagai Allah. Karena kita memang berbeda. Tapi jangan pernah memperotes ke-Allahan Yesus yang saya imani hanya karena pernyataan kitabmu. Saya juga tidak memaksa anda untuk mengakui Yesus yang disalib karena kita memang tak sejalan tapi jangan mengumbar sesuatu yang tidak anda pahami tentang iman agama saya. Termasuk juga tidak usah repot mengurusi perayaan Natal kami pada 25 Desember.

Gereja saya, Gereja Katolik memiliki cara sendiri dalam menghitung peristiwa kelahiran Kristus. Penetapan tanggal 25 Desember dihitung berdasarkan arkeologi Alkitab yang bersumber pada Kitab Suci. Jadi tidak hanya berdasarkan kebiasaan Romawi. Termasuk juga penyaliban Kristus.

Kalau tidak ada penyaliban dan kematian Yesus bagaimana mungkin ada kebangkitan yang kami imani dan menjadi cikal bakal lahirnya Gereja Katolik. Kami mengimani Yesus bukan sekedar kelahiranNya juga bukan secara terpisah antara sengsara, wafat dan kebangkitan, tapi kami mengimani seluruh hidup Yesus sebagai satu kesatuan yang datang sebagai Allah dan menjadi Manusia (kecuali dalam hal dosa) untuk menegakkan Kerajaan Allah dan menghadirkan penyelamatan Allah Bapa.

Anda tidak mengimani ke-Allahan Yesus itu urusan anda. Karena ajaran kita memang berbeda. Tapi jangan mempersoalkan iman kami akan ke-Allahan Yesus. Anda disebut Ustadz itu karena pengakuan orang, umat dan kaummu tentu dengan melihat ajaran dan karyamu. Tidak mungkin tiba-tiba anda datang dan mengatakan saya adalah ustadz. Ntar nanti sama aja dengan Lia Eden yang mengakui dirinya sendiri sebagai utusan Tuhan.

Demikian juga dengan Yesus. Pengakuan iman saya kepada Yesus sebagai Allah disamping Ia memang memiliki ke-Allahan dalam diri-Nya sebagai Anak yang berasal dari Allah Bapa, pengakuan itu juga karena seluruh hidup dan karya Yesus seperti diajarkan oleh Kitab Suci saya Dia memang Allah meski berbeda peran. Ada unsur keilahian dalam diri Yesus.

Jadi apapun iman saya, stoplah untuk memperdebatkan. Atau jangan-jangan anda sendiri lagi tertarik untuk masuk agama saya hanya malu-malu kucing sambil menjelekan tapi merindukan.

Pesan saya satu: Ucapanmu tida menambah iman saya. Tidak mengucapkan selamat natal kepada saya juga tidak mengurangi iman saya. Jadi jangan sibuk apalagi sok tahu tentang ajaran agama saya. Karena dengan menyibukan dirimu pada agama dan imanku anda sedang menunjukan bahwa balok di matamu tidak engkau lihat tapi selumbar dimata orang lain engkau lihat (bdk. Mat 7:3).

Artinya ketika engkau sibuk mengurus keyakinan agama lain, pertanda engkau belum tuntas dan belum selesai mempelajari keyakinan agamamu sendiri. Kalau demikian; saya menyayangkan gelar terhormat yang diberikan kepadamu namun engkau nodai dengan kekerdilan nalar pikirmu. Salam.

Manila: Desember-26-2018
Pater Tuan Kopong MSF

Herodes Diabaikan, Kabar Penting mengenai Kelahiran Yesus Disampaikan kepada Para Gembala dan Orang Majus

0
Gambar ilustrasi oleh morhamedufmg / Pixabay

Kabar tentang kelahiran Yesus pertama kali diketahui oleh para gembala, yang notabene adalah orang-orang kecil. Penginjil Lukas menuliskan bahwa ketika Yesus lahir, seorang Malaikat mendatangi para gembala itu dan berkata kepada mereka: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11).

Kita mestinya bertanya: Mengapa berita yang begitu penting itu justru diberitahukan kepada para gembala dan bukan kepada para pemuka agama dan tokoh-tokoh elite? Apakah ini suatu kebetulan, karena pada saat itu para gembala itu berada tidak jauh dari Betlehem?

Kita semua mengetahui bahwa para gembala itu merupakan kumpulan orang sederhana. Kesederhanaan itu mencakup segala hal, termasuk dalam cara berpikir dan bertindak. Makanya, ketika mereka mendengar perkataan dari Malaikat tentang kelahiran Yesus, tanpa ada diskusi panjang lebar, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Alhasil, di sana mereka mendapati Maria dan Yusuf serta Bayi yang terbaring dalam palungan. Mereka melihat Tuhan.

Bayangkan jika berita mengenai kelahiran Yesus itu terlebih dahulu disampaikan kepada kelompok elite, seperti raja Herodes. Bisa jadi ribet. Dia mungkin akan rapat terlebih dahulu dengan petinggi-petingginya, serta diskusi dan timbang-timbang dulu dengan mereka; jika ada pro-kontra, debat dulu untuk mencari kata sepakat, dan sebagainya (bdk. Mat. 2:3-4). Akibatnya, mungkin mereka baru selesai pertemuan, bayi Yesus sudah tidak ada lagi di kandang hewan; karena sudah keburu dibawa pergi oleh kedua orang tuanya.

Para gembala tidak serumit itu. Setelah mereka mendengar kabar mengenai kelahiran Yesus, mereka mengajak satu dengan yang lain, lalu bergegas pergi melihat bayi itu. Begitu sederhana cara berpikirnya, bisa di-bilang polos juga, dan tidak ribet tentunya. Nah, cerita mengenai para gembala itu mengajarkan kepada kita bahwa jika ingin menemui Tuhan, temuilah Dia segera. Jangan tunda. Jangan bilang besok, sebentar, atau lusa.

Tidak berhenti di situ, kabar penting mengenai kelahiran Yesus juga justru disampaikan kepada orang jauh, yaitu tiga raja dari Timur, dan bukan kepada Herodes. Lagi-lagi, Herodes selaku penguasa wilayah diabaikan. Pertanyaannya: mengapa Herodes dilangkahi?

Kita harus sepakat bahwa kabar penting mengenai kelahiran Yesus hanya boleh disampaikan kepada orang yang layak menerimanya. Layak tidaknya seseorang menerima kabar baik itu tidak dilihat atau diukur dari status sosialnya, melainkan dari kesiapan hatinya untuk menerima kabar itu.

Herodes jelas bukanlah seseorang yang layak; sebab hatinya tidak siap untuk menerima kabar itu. Kita bisa melihat itu dari reaksinya. Ia terkejut (Mat. 2:3), panik dan marah (Mat. 2:16a), serta mulai merancang rencana busuk (Mat. 2:16b). Penginjil Matius mencatat bahwa Herodes menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu (Mat. 2:16).

Bisa dibayangkan jika kabar sukacita kelahiran Yesus disampaikan pertama kali ke telinga Herodes. Bisa jadi, cerita Natal kita tidak akan pernah ada; sebab boleh jadi Herodes membunuh Yesus sejak bayi. Maka, menjadi masuk akal-lah bagi kita sekarang mengapa dalam berita penting ini Herodes dilangkahi. Ia tidak diberitahu sedikit pun soal kelahiran Yesus, kecuali dari mulut orang Majus itu.

Herodes marah. Ia merasa diperdayakan oleh orang Majus. Tapi, sungguhkah ia diperdayakan? Tentu saja tidak. Ia bukannya diperdayakan, tapi memang tidak pantas mendapat kabar baik itu.

Kadang kita seperti Herodes. Kita merasa diabaikan, dilangkahi, dan disepelekan. Ada sekian berita atau informasi penting lolos dari telinga kita. Padahal, mungkin kita merasa bahwa seharusnya kita diberitahukan mengenai informasi-informasi itu. Tapi, sebelum kita menyalahkan orang lain, baiklah terlebih dahulu kita melihat ke dalam diri kita masing-masing, barangkali ada yang keliru dengan sikap kita.

Orang lain menyepelekan kita boleh jadi itu bukan salah mereka; tetapi karena memang dalam kenyataannya kita cenderung memberikan energi negatif daripada energi positif; yang membuat orang lain merasa enggan untuk menyampaikan informasi penting lainnya kepada kita. Jika mau dihargai dan dihormati, bangunlah energi positif kepada lingkungan sekitar; dan jangan suka nyinyir. ***

Paus: Kelahiran Yesus Berbalut Kemiskinan, Menjadi Bahan Permenungan

0

Pemimpin Gereja Katolik dunia, Paus Fransiskus dalam homilinya pada misa malam Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan, menyerukan untuk hidup sederhana dan tidak materialistik. Selain itu, ia ‘mengutuk’ kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Hal itu ia sampaikan untuk menunjukkan bahwa kesenjangan terjadi karena keserakahan kelompok atau orang tertentu.

Paus Fransiskus menuturkan bahwa kelahiran Yesus berbalut dengan kemiskinan di sebuah kandang. Menurutnya, hal ini dapat menjadi bahan permenungan bagi orang-orang tamak dan rakus. “Mari bertanya pada diri kita: Apakah saya membutuhkan semua objek material dan segala yang rumit ini untuk hidup? Dapatkah saya menjalani kehidupan yang lebih sederhana tanpa sesuatu tambahan yang tidak perlu?” kata Paus seperti dilansir Reuters, Selasa (25/12/2018).

Paus mengatakan, pada masa kini banyak orang memaknai hidup hanya dari segi materi, sehingga terjadi keserakahan dan ketamakan. Akibatnya banyak orang yang menderita kelaparan. ”Saat ini, bagi banyak orang, makna kehidupan diartikan dengan memiliki kelebihan materi. Keserakahan yang tak terpuaskan itu menandai semua sejarah manusia, bahkan hari ini ketika secara paradoksal, beberapa diantara mereka makan dengan mewah, sementara banyak orang sulit untuk makan roti untuk bertahan hidup,” tambahnya.

Seperti diketahui, Paus Fransiskus telah menyorot masalah kemiskinan sebagai hal utama sejak Misa Natal tahun 2016. Selain itu, ia mengingatkan agar makna natal dikembalikan kepada makna sebenarnya yakni kesederhanaan.

Paus: Orang Katolik Diharapkan Rajin Berdoa ‘Bapa Kami’

0
gunthersimmermacher / Pixabay

Tidak ada yang harus ditakuti untuk berpaling kepada Tuhan dengan doa, terutama di saat-saat penuh keraguan, penderitaan dan pada saat membutuhkan Tuhan, kata Paus Fransiskus.

Yesus tidak ingin orang menjadi mati rasa terhadap persoalan kehidupan dan memadamkan hal-hal yang menjadikan mereka manusia ketika mereka berdoa, kata Paus pada 12 Desember kepada umat yang hadir di ruang audiensi Paulus VI.

“Tuhan tidak ingin kita menyembunyikan pertanyaan dan permintaan kita, belajar untuk bertahan dengan segalanya. Sebaliknya, dia ingin setiap rasa sakit, setiap kekhawatiran kita naik ke surga dan menjadi dialog dengan Tuhan, sang ayah,” katanya.

Melanjutkan rangkaian pembicaraannya tentang doa Bapa Kami, paus merefleksikan kesederhanaan doa itu dan bagaimana doa itu menciptakan keakraban yang intim dengan Allah.

[postingan number=3 tag= ‘gereja-katolik’]

Dengan doa Bapa Kami ini, Yesus menunjukkan suatu cara yang luar biasa untuk menyebut Tuhan sebagai “Bapa kita” tanpa kemegahan apa pun dan tanpa kata pengantar,” kata paus.

“Yesus tidak mengajak kita untuk datang kepada Tuhan dan memanggilNya ‘Ya, Allah yang maka kuasa’ atau ‘Ya, Allah yang maha tinggi,’ atau ‘Ya, Allah nun jauh di sana, dan aku yang tercela.”

“Tidak. Dia tidak mengatakan itu, tetapi hanya menggunakan kata ‘Bapa’  sama seperti anak-anak yang datang kepada ayah mereka. Kata ‘Bapa,’ mengungkapkan keintiman, saling percaya antara anak dan ayah,” kata paus.

Doa itu mengajak orang-orang untuk berdoa dengan cara yang memungkinkan semua penghalang menjadi tidak berdaya dan hancur.

Sementara Bapa Kami berakar pada “realitas konkrit” dari setiap manusia, doa haruslah dimulai dengan kehidupan itu sendiri.

“Doa pertama kita, adalah ratapan pertama yang datang bersama dengan napas pertama kita, dan itu menandakan takdir setiap manusia seperti rasa lapar, haus dan mencari kebahagiaan yang terus menerus.”

Doa dapat ditemukan di mana pun bila ada keinginan mendalam, kerinduaan, perjuangan, dan pertanyaan, kata Paus Fransiskus.

“Yesus tidak ingin menghilangkan apa yang menjadikan kita manusia, dia tidak ingin membius orang dalam doa. Yesus mengerti bahwa memiliki iman berarti mampu untuk berseru kepada Tuhan.”

“Kita semua harus seperti Bartimeus dalam Injil,” katanya. Orang buta di Yerikho ini terus berteriak meminta pertolongan Tuhan meskipun semua orang di sekitarnya menyuruhnya diam dan tidak mengganggu Yesus, yang – mereka merasa – tidak boleh diganggu karena dia begitu sibuk.

“Bartimeus tidak peduli dan malah berteriak lebih keras dengan penuh keyakinan. Yesus mendengarkan permohonannya dan mengatakan kepadanya bahwa imannya  menyelamatkan dia,” kata paus.

Paus mengatakan ini menunjukkan bagaimana tangisan memohon penyembuhan sebagai bagian penting dari keselamatan, karena menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki keyakinan dan harapan, dan terlepas dari keputusasaan mereka yang tidak percaya ada jalan keluar dari begitu banyak masalah hidup.

“Kita bisa ceritakan apa saja padaNya, bahkan hal-hal yang dalam hidup kita terdistorsi dan melampaui pemahaman. Dia berjanji kepada kita bahwa dia akan selalu bersama kita,” katanya.

Ketika menyapa pengunjung di akhir audiensi, paus mengucapkan selamat kepada semua orang dari Meksiko dan Amerika Latin, karena pada hari itu, 12 Desember adalah pesta pelindung Meksiko, Santa Maria Guadalupe. Dia memohon kepada Bunda Maria agar membantu orang-orang untuk menyerahkan diri mereka kepada kasih Tuhan dan menaruh semua harapan mereka kepadaNya.

Seperti diketahui, sebelum menyapa hadirin, paus meniup beberapa lilin di atas kue ulang tahun yang disiapkan seorang pengunjung untuknya. Paus akan merayakan ulang tahunnya yang ke-82 pada tanggal 17 Desember lalu.

Ketika menyambut pengunjung di akhir audiensi, paus bertemu dengan delegasi dari Panama, yang akan menjadi tuan rumah acara Hari Pemuda Sedunia yang akan datang pada bulan Januari, dan dia juga menyambut delegasi anggota parlemen Austria yang akan merayakan peringatan ulang tahun ke-200 lagu “Silent Night”  yang disusun oleh seorang guru sekolah Austria.

Paus mengatakan bahwa “dengan kesederhanaannya yang mendalam, lagu ini membantu kita memahami peristiwa malam suci . Yesus, sang juru selamat, yang lahir di Betlehem, mengungkapkan kepada kita kasih Allah Bapa.”

Sumber: https://indonesia.ucanews.com/2018/12/14/paus-ingin-agar-orang-katolik-sering-berdoa-bapa-kami/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook&fbclid=IwAR2pZjENDTgIjpkIPUan10miJSUk0flDsHbqFRkKOznwpRsKeEGtilNljcs

Sukacita Natal 2018 di Paroki St. Theresia Pelaihari

0

Selamat hari Natal untuk kita semua! Kiranya Natal kali ini membawa sukacita berlimpah bagi Anda dan keluarga! Bagaimana perayaan Natalmu hari ini? Semoga berjalan lancar dan aman.

Dua hari menjelang Natal, hujan mengguyur kota Pelaihari dan sekitarnya, mulai subuh hingga malam. Cuaca yang tidak kondusif ini berlangsung tidak hanya satu hari, tetapi dua hari, bahkan hingga saat-saat terakhir menjelang Natal.

Awalnya, karena melihat kabut tebal membentang di angkasa, saya mulai menduga bahwa selama perayaan Natal, hujan akan mengguyur deras. Memang, satu dua jam menjelang Misa Malam Natal, hujan masih turun. Tapi perlahan-lahan berhenti, sampai berhenti total, seolah memberi kesempatan bagi umat untuk datang mengikuti Misa Malam Natal di Gereja.

Persis beberapa saat sebelum Misa Malam Natal dimulai, umat sudah memadati Gereja dan mengisi kursi-kursi di tenda samping Gereja, serta menyebar di halaman sekitar Gereja. Tentu ini merupakan pemandangan yang tidak biasanya. Hari-hari Minggu biasa, umat biasanya hanya mengisi kursi-kursi dalam Gereja. Itu pun kadang-kadang tidak semuanya terisi.

***

Malam Natal berlangsung khidmat, meski sempat turun rintik hujan. Tapi, itu hanya sebentar. Tidak seperti yang terjadi pada hari-hari sebelumnya. Dalam hati saya bergumam, “Tuhan sudah mengatur dan merancang segala sesuatunya dengan baik. Tidak ada yang perlu dikuatirkan.” Dari situ, saya begitu yakin bahwa pada perayaan Hari Raya Natal, besoknya, tidak ada lagi hujan.

Subuh menjelang Hari Raya Natal, hujan mengguyur lagi, tapi tak sederas pada hari-hari sebelumnya. Saya masih tetap pada keyakinan saya bahwa Natal hari ini tanpa hujan; dan ternyata terjadilah seperti yang saya harapkan. Tidak ada lagi hujan selama perayaan Natal. Makanya, dalam khotbah, saya mengatakan bahwa bagi Tuhan tidak ada yang kebetulan. Cerahnya hari ini bukan kebetulan. Semuanya pasti sudah dirancang dan direncanakan oleh Tuhan. Hal itu saya katakan juga untuk menjelaskan mengapa berita penting mengenai kelahiran Yesus tidak disampaikan kepada kelompok elit, seperti raja Herodes, tetapi justru kepada para gembala yang notabene kalangan rakyat kecil. Itu pasti bukan suatu kebetulan. Tuhan pasti punya rencana di dalamnya.

***

Selepas Misa Hari Raya Natal, saya bersama rombongan OMK mengunjungi rumah-rumah umat Katolik dan beberapa umat dari Gereja Kristen Evangelist (GKE) yang kami kenal untuk mengucapkan selamat Natal. Tidak tanggung-tanggung, kami berhasil mengunjungi lima belas kepala keluarga dalam sehari. Tentu ini bukan hal yang gampang mengingat jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya berjauhan, dan setiap rumah ‘wajib makan’. Itu berarti bahwa kami harus menghabiskan beberapa menit untuk tiap-tiap rumah.

Semua pintu rumah yang kami datangi dalam keadaan terbuka, meski kami tidak memberitahu sebelumnya. Itu berarti bahwa bukan hanya kami yang datang bersilahturahmi ke rumah-rumah itu; dan memang kami menjumpai banyak orang lain, baik dari Katolik maupun non-Kristen, datang bersilahturahmi ke rumah-rumah itu. Saya cukup terkesan karena dalam situasi negara kita seperti sekarang ini, ternyata masih banyak orang yang menjaga silahturahmi dengan baik, tanpa memandang perbedaan suku, ras, dan agama.

Dari tengah hingga malam hari, kami berkeliling dari rumah ke rumah. Tentu tidak hanya untuk menghabiskan kue dan makanan lainnya, tetapi juga untuk berbagi cerita. Kiranya, dengan kunjungan seperti ini menjadi sempurnalah sukacita Natal kita pada tahun ini. Amin.

Pesan Natal Uskup Peter Stasiuk C.Ss.R.AM.

0

Kristus Lahir! Natal, kelahiran Juruselamat kita, Yesus Kristus, sungguh merupakan pusat kehidupan gereja kita dan juga bagi Ukraina dan kebudayaannya.

Di satu sisi memberi arti bagi iman Kristen kita, tetapi disisi lain juga mendefinisikan kita sebagai manusia.

Natal adalah pemenuhan janji yang diberikan kepada umat manusia, setelah kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden, bahwa kita akan diselamatkan dari dosa-dosa ketidaktaatan dan penolakan terhadap Allah yang dilakukan oleh leluhur kita. Tuhan berjanji untuk mengirimkan kita penyelamat. Ia mengutus kepada kita Anak-Nya yang lahir dalam kesederhanaan, untuk menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan, melalui Yesus Kristus adalah Ilahi dan manusia.

Ukraina selalu memahami hal ini, dan telah menggunakan kisah Natal untuk menciptakan identitas budaya yang unik dan indah. Ukraina dan gerejanya memiliki budaya yang mengulangi kebenaran agama ini agar semua dapat mengalaminya dalam hidup.

Namun, banyak orang mungkin mempertanyakan apa arti kisah Natal bagi kita, iman kita dan kehidupan kita saat ini. Apakah relevan pada 2019? Bagaimana gereja dan orang-orang beriman, menjalani makna Natal di zaman modern kita?

Ini adalah pertanyaan menarik. Seperti yang terjadi, pada Sinode para Uskup Gereja Katolik Ukraina pada tahun 2018 memiliki tema utama, Sabda Allah (Kitab Suci) dan Katekese. November lalu, komite “Paroki Vibrant” kami yang terdiri dari delegasi dari seluruh dunia juga mengeksplorasi tema yang sama.

“Firman Tuhan adalah harapan kita, kekuatan kita dan iman kita dalam kehidupan kita di masa depan”.

Tampak bagi saya bahwa dalam dua pertemuan terakhir gereja kita ini, kisah Natal terus menjadi hidup di zaman kita. Natal, merupakan kegenapan dari Firman Tuhan. Ini tentang Tuhan yang berbicara bertahun-tahun yang lalu, di Betlehem, dan kepada kita hari ini. Firman Tuhan adalah harapan kita, kekuatan kita dan iman kita dalam kehidupan kita di masa depan.

Maria, Yusuf, para gembala, para malaikat, orang-orang bijak, dan bahkan Herodes ingin mengetahui firman Allah. Sebagian besar ingin merayakannya. Herodes ingin menggunakannya untuk keperluannya sendiri. Mereka yang percaya Firman Tuhan sebagai pesan pribadi ingin dan perlu membagikannya. Firman Tuhan tidak bisa diam. Itu terlalu kuat, terlalu kuat. Itu harus dibagikan. Saksi-saksi Natal pertama adalah katekis pertama.

Gereja kita hari ini menantang kita untuk mempelajari Firman Allah, dihidupkan kembali olehnya dan kemudian membagikannya di rumah, jalan-jalan dan gereja kita.

Natal Ukraina persis seperti itu. Lihatlah perjamuan malam Natal, pelayanan gereja, pahatan dll. Apakah kita semua tidak terlibat sepenuhnya dalam Natal? Apakah kita tidak terlalu senang karenanya? Kami mengambil cuti, kami mengunjungi, kami berbagi hadiah. Kami merayakan. Dan memang seharusnya begitu.

Kristus Lahir. Marilah kita memuji Dia.

+ Uskup Peter Stasiuk C.Ss.R. AM.

Eparch untuk umat Katolik Ukraina di Australia, Selandia Baru dan Oseania.

Sumber:https://catholicukes.org.au/bishop-peters-christmas-message/

Mengapa Perempuan Sebaiknya Memakai Mantila/Kerudung Misa? Kamu Harus Tahu?!

0
sfetfedyhghj / Pixabay

Beberapa waktu lalu seorang teman bertanya, mengapa ada perempuan yang memakai ‘Jilbab’ menyambut komuni saat Misa?. Salah seorang tim JalaPress.com mencoba mencari informasi dan sumber. Setelah ditelusuri seperlunya, ternyata yang dimaksud adalah seorang perempuan yang memakai kerudung Misa/Mantila (Veil). Mungkin hal ini di Indonesia agak tabu/aneh jika digunakan di gereja karena belum terbiasa. Umat (perempuan) luar negeri seperti Korea Selatan, telah terbiasa memakai Veil ketika mengikuti Misa.

Sejak Kapan Penggunaan Kerudung Misa dalam Gereja?

Pertama, Setidaknya ada satu perikop dalam Kitab Suci yang menyebut tentang ‘kerudung’ ketika ibadah. [Hiasan kepala wanita], Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian (1 Kor. 11:1-16).

Kiranya jelas, bahwa St. Paulus memberi tahu kita dalam 1 Kor 11:2-16 bahwa ketika seorang perempuan mengerudungi dirinya saat Misa, dia mengakui Kristus sebagai kepala dan otoritas dari suaminya/ayahnya, jikalau wanita itu belum menikah, di mana sang suami/ayahnya dipanggil untuk menampilkan kepemimpinan Kristus dalam hidup sang perempuan tersebut (bdk. Ef. 5:23). Selain itu, Rasul Paulus berkata bahwa rambut panjang perempuan adalah “kehormatannya” (1 Kor 11:15). Namun, dalam Misa, setiap orang dipanggil untuk hadir di hadapan Allah dengan sederhana.

Kedua, dalam tradisi Yudeo-Kristen, bejana kehidupan seringkali dikerudungi. Selain itu, dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian dipisahkan oleh sebuah tabir yang mengerudungnya. Selanjutnya, dalam Gereja Katolik, piala yang berisi Darah Kristus ditudungi sampai ke Offertorium. Demikian pula Sibori yang berisi Tubuh dan Darah Kristus ditudungi di dalam Tabernakel. Bagi Umat Katolik sendiri, tidak heran setiap melihat patung Bunda Maria hampir tidak pernah tidak ada kerudung. Dengan demikian, perempuan Katolik diajak untuk menjadikan Bunda Maria sebagai panutan dalam hal-hal rohani.

Ketiga, dengan demikian pemakaian kerudung misa merupakan kebiasaan lama di dalam Gereja. Meskipun sekarang kebiasaan ini semakin ditinggalkan, namun tidak ada peraturan Gereja yang melarang perempuan untuk melestarikan praktik baik ini. Seperti diketahui, akhir-akhir ini praktek pemakaian kerudung misa, dipopulerkan kembali.

Referensi:

  1. http://www.indonesianpapist.com/2011/07/mengapa-wanita-sebaiknya-menggunakan.html
  2. http://www.katolisitas.org/wanita-harus-memakai-tutup-kepala-saat-ibadah-1-kor-113-15/