7.3 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 75

Renungan Masa Adven: Yesus Datang untuk Menyelamatkan Semua Orang

0
Yohanes Pembaptis mengerti bahwa Yesus tidak datang menyelamatkan satu ras manusia. Yohanes menyatakan bahwa Yesus akan menjadi Juru Selamat bagi setiap orang yang akan bertobat dan mempercayai-Nya (bdk. (Yohanes 1:29).

Banyak orang mengungkapkan bahwa Yesus hanya datang bagi orang Israel; dan tidak datang untuk seluruh bangsa. Benarkah apa yang mereka katakan? Bagaimana tanggapan kita sebagai orang Kristiani?

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Perikop yang sering dijadikan landasan untuk mengatakan bahwa Yesus hanya datang untuk orang Israel adalah cerita mengenai pesan Yesus kepada para murid agar tidak menyimpang ke jalan bangsa lain atau kota orang Samaria. Yesus mengutus mereka memberitakan Injil kepada  umat Israel (bdk. Mat. 10:5-6). Demikian pula Yesus berkata kepada perempuan Samaria bahwa Dia diutus untuk umat Israel (bdk. Mat. 15:24).

Ada apa dengan kota Samaria? Kota Samaria merupakan kota yang dicap sebagai kafir oleh orang Yahudi pada zaman itu. Kota Samaria dicap demikian karena orang-orang yang berdiam dan tinggal di kota itu bukan keturuan Yahudi asli, melainkan campuran dengan bangsa-bangsa lain. Sementara itu, orang Yahudi sangat menjaga agar mereka tetap dalam golongan Yahudi dengan cara harus menikah dengan sesama Yahudi.

Apakah Yesus melakukan diskriminasi di dalam pesan-Nya? Tidak! Yesus berpesan demikian agar para murid-Nya tidak menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi yang lain, karena para murid juga masih tergolong orang Yahudi. Jadi, sangat jelas dalam perikop Injil yang dikutip, bahwa tidak ada larangan dari Yesus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain.

Demikian juga dengan perempuan Samaria yang meminta tolong kepada Yesus. Meskipun Yesus mengatakan bahwa Ia diutus kepada umat Israel, tetapi Ia tetap menolong. Yesus justru berkata bahwa iman perempuan itu sangat besar, sehingga terjadilah apa yang dia kehendaki menurut imannya (bdk. Mat. 15:28).

Yesus sempat mengutarakan kata-kata yang menunjukkan pemahaman orang Yahudi terhadap bangsa non-Yahudi. Namun, Yesus justru menunjukkan belas kasih yang besar kepada bangsa lain. Melalui tindakan Yesus terhadap perempuan Samaria, menunjukkan bahwa kedatangan-Nya bertujuan untuk menyelamatkan semua orang (bdk. Mat. 15:28).

Kedatangan Yesus yang merangkul semua orang dapat dibaca dalam kisah perjalanan yang dilakukan. Dalam perjalanan pewartaan-Nya itu, Yesus melintasi kota Samaria. Yesus sampai di sebuah kota yang bernama Sikhar, dekat tanah yang diberikan Yakub kepada Yusuf (bdk. Yoh. 4:4-5). Di daerah ini terdapat sebuah sumur, yang disebut sumur Yakub. Kira-kira jam dua belas, ada seorang perempuan Samaria menimba air. Ketika perempuan Samaria itu menimba air, Yesus meminta minum. Perempuan Samaria itu terkejut, karena tidak ada seorang Yahudi yang boleh meminta minum kepada seorang Samaria. Maka perempuan itu berkata: bagaimana mungkin engkau seorang Yahudi meminta minum kepadaku, seorang Samaria? (Yoh. 4:6-9).

Pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria menjadi awal pewartaan. Yesus mulai mewartakan siapakah diri-Nya. Yesus meminta kepada perempuan Samaria itu untuk meminta air kehidupan. Perempuan Samaria pertama kalinya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Yesus. Yesus menjelaskan bahwa, jika seorang minum air sumur Yakub akan haus lagi. Tetapi, air yang diberikan oleh Yesus adalah air kehidupan, yang terus abadi sampai hidup kekal (Yoh. 4:13).

Perempuan Samaria itu pun meminta air kehidupan kepada Yesus. Kehadiran Yesus mengubah seluruh kehidupan perempuan Samaria itu sehingga pikiran perempuan Samaria itu menjadi terbuka dan mengerti bahwa yang sedang berbicara dengan dia adalah Mesias.

Perempuan Samaria bertobat dan percaya kepada Yesus, bahkan banyak orang Samaria yang lainnya akhirnya percaya dan memohon agar Yesus tinggal di kota mereka. Yesus tinggal di Samaria dua hari lamanya dan makin bertambah orang yang percaya kepada Yesus (Yoh. 4:28-42).

Ketika genap waktu Yesus diangkat ke surga, Ia mengirim utusan untuk mempersiapkan segala sesuatu di kota Samaria, namun orang Samaria tidak menerima Yesus, karena Yesus akan menuju Yerusalem (Luk. 9:51-56). Yesus juga menggunakan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk.10:25-42)

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Yesus terhadap kaum Samaria memberikan pencerahan bagi kita bahwa kedatangan Yesus bukan hanya untuk kaum Israel, tetapi untuk semua bangsa.

Ya, Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan semua orang. Yesuslah yang disebut banyak orang sebagai Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai (Yes. 9:1-6). Kedatangan Yesus sebagai Raja Damai disaksikan dan berlaku untuk seluruh bangsa (Yes. 11:1-10). Yesus Kristus adalah Allah yang menyertai umat-Nya (Yes. 7:1-25, Mat. 28:20). Sebelum Yesus naik ke surga, Ia berpesan kepada murid-murid-Nya agar menjadi Saksi-Nya di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:6-11).

Yesus Kristus juga memberi perintah kepada para murid untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk dan segala bangsa (Mrk. 16:9-20, Mat. 28:16-20). Yesus Kristus adalah pembawa Damai sejati bagi seluruh bangsa (Zakh. 9:9-10, Mat. 21:1-10). Karena Kasih Allah akan dunialah maka Yesus Kristus datang (Yoh. 3:1-21). Dan kepada Yesus-lah segala bangsa berharap (Mat. 12:15b-21).

Masa Adven: Menanti Yesus Kristus, Menanti Kepedulian Kita

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Beberapa dekade terakhir, sebagian dari kita barangkali pernah mendengar, melihat, atau membaca sebuah fenomena yang tidak hanya menyedihkan tapi juga sangat menyakitkan banyak orang di berbagai belahan bumi, yaitu munculnya propaganda HOAX (hoaks).

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Boleh jadi, kita tidak hanya ”SEBATAS” mendengar, melihat dan membaca penyakit hoax ini, tapi juga merupakan bagian dari virus hoax ini, entah sebagai pelaku pembuat, pelaku penyebar atau penceramah hoax.

Di Filipina misalnya, gejala apa yang dinamakan di arena politik Amerika Serikat pada dua tahun terakhir sebagai POST-TRUTH ERA pelan-pelan bertumbuh subur. Pihak otoritas sipil negara di sini mulai bermain dengan isu propaganda hoaks ini. Bergeming alasan perang melawan narkoba dan pelaku kejahatan lainnya, akhirnya ribuan nyawa tak bersalah lenyap. Kebijakan ”keras dan serem” pemerinatah yang ingin menghabisi nyawa pelaku dan nyawa korban pemakai obat-obatan terlarang ini mengundang reaksi keras pemimpin Gereja setempat. Barisan para uskup, imam dan baiarawan-biarawati hadir bersama masyarakat menentang secara tegas kepada Presdien Duterte. Bagi saya, kehadiran pemimpin gereja ini merupakan bentuk solidaritas nyata bagi warga masyarakat yang menjadi korban kebijakan dari sang penguasa negara.

Mengintip nasib Indonesia

Ketika mendengar suara-suara protes dari sekelompok masyarakat Filipina ini terhadap pemerintah mereka, hati saya terkoyak ketika mendengar, melihat dan menyimak dari jauh nasib perjalanan bangsa kita tercinta, INDONESIA, yang akhir-akhir ini diguncang oleh GEMPA HOAX dan dilanda badai KEBENCIAN dan propaganda FITNAH yang dibuat sendiri oleh sesama anak bangsa. Gambaran dan wajah sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia lama-kelamaan semakin pudar dari peradaban bangsa, dan saya melihatnya sebagai penyebab utama dari carut-marutnya bangsa kita.

Di sini saya menyebut beberapa daftar krisis yang lahir dari KANDUNGAN HOAX seperti ada upaya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Hadirnya virus hoaks ini juga dapat menyebabkan konflik-konflik dan intoleransi antarumat beragama yang terus merebak akhir-akhir ini. Dan, masih banyak lagi peristiwa lain yang bisa kita tambahkan sendiri.

 Menanti Yesus Kristus

Menarik bahwa di tengah situasi bangsa seperti ini, kita umat Katolik memasuki Masa Adven, masa penantian kedatangan Tuhan Kita Yesus Kristus. Tentu, ini suatu kabar sukacita. Namun, sukacita ini dibarengi juga dengan kegelisahan karena peristiwa-peristiwa negatif masih saja menyungai.

Kita sebagai umat beriman seringkali memahami Masa Adven hanya sebagai kesempatan untuk mempersiapkan batin. Ini tentu penting karena menyangkut persiapan personal. Namun, akan lebih baik, bila kita juga mulai mengarahkan perhatian ke dunia luar, di tempat kita berada. Dalam konteks ini, mempersiapkan Masa Adven perlu juga dikonfrontasikan dengan pertanyaan, apa yang akan saya buat untuk masyarakat, sesama, sebagai wujud konkret persiapan saya dalam menyambut kedatangan Tuhan? Pertanyaan ini penting karena menyentuh hakikat panggilan kita sebagai orang beriman kristiani dan juga esensi Natal yang kita nantikan, di mana Tuhan yang kita imani itu datang dengan tujuan untuk solider, untuk menyelamatkan, untuk membawa kabar sukacita bagi semua orang.

Kalau demikian halnya, maka seyogyanya ada dua aspek penting yang perlu diupayakan dalam Masa Aden, yakni persiapan rohani-batiniah dan juga mengasah kepekaan sosial; sehingga, iman kita tidak lagi hanya berkaitan dengan relasi vertikal antara kita dengan Tuhan tetapi juga menyentuh relasi horisontal antara kita dengan sesama.

Iman kita meyakini bahwa dalam Masa Adven kita menantikan Allah yang hadir dalam diri Putera-Nya, Yesus Kristus, yang mau mencari dan menemukan kita. Inisiatif Allah ini tentu membutuhkan tanggapan kita. Keyakinan iman ini, bahwa Allah yang kita akui datang untuk solider dengan kita, membawa konsekuensi. Karena Dia hadir sebagai sosok yang peduli, sosok yang peka melihat situasi umat-Nya, maka kita pun dituntut untuk berlaku atau menjadi seperti Dia. Artinya, kita pun dituntut untuk peduli terhadap sesama kita. Inilah cara kita mewujudkan komitmen sekaligus bentuk syukur bahwa kita ini citra Allah, bahwa kita ini makhluk yang diberi meterai istimewa, diciptakan seturut gambar dan rupa Allah.

Menanti Kepedulian Kita

Memasuki Masa Adven berarti kita harus berkomitmen secara tulus untuk membuka hati dan diri kita dalam menyambut Yesus. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan komunitas, kita belajar berbuat baik serta belajar menanggalkan dan menguburkan sikap kedengkian, kebencian, karakusan, sikap tidak adil, dan keegoisan kita, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam.

Kita sebagai orang beriman Kristiani mestinya juga menjadi agen perdamaian yang menyebarkan benih-benih kasih, kepedulian dan pengorbanan tanpa pamrih terutama kepada mereka yang terpinggirkan dan terabaikan hak-haknya sebagaimana yang menjadi tujuan kedatangan Yesus dalam peristiwa Natal. Selain itu, kita hendaknya membuka diri untuk mendengar dan berdialog dengan saudara dan saudari dari keyakinan lain supaya luka-luka kebencian mata rantai dendam diputuskan sehingga memberi tempat pada nilai pengampunan.

Mari kita mengalahkan budaya kekerasan, kebencian, kedengkian, kerakusan dengan budaya ramah, jujur dan damai. Kita yakin, kasih dan damai akan mengalahkan segala-galanya, sebab setiap upaya perdamaian mempunyai dasar yang kuat dan akan menang karena dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Selamat memasuki dan menghayati Masa Adven.

Makna Masa Adven bagi Umat Katolik: Kita Wajib Tahu!

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Kita sudah sering mendengar atau bahkan menyebut kata ‘adven’, tapi apa sebenarnya arti dari kata itu? Kata ‘adven’ berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti kedatangan. Kedatangan siapa? Tidak lain adalah kedatangan Yesus. Maka  ‘masa adven’ berarti masa untuk menunggu kedatangan Tuhan Yesus.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Masa adven ini berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV. Pada Minggu I adven inilah dimulai tahun liturgi yang baru.  Bacaan-bacaan Kitab Suci untuk Minggu I dan II Adven berfokus pada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, sedangkan Minggu III dan IV Adven mengarahkan kita pada kelahiran Yesus.

Masa adven selalu dimulai pada akhir November atau awal Desember. Pada setiap tanggal 30 November atau hari Minggu yang paling dekat dengan tanggal tersebut, Gereja Katolik memulai masa Adven. Masa adven berakhir pada tanggal 24 Desember sebelum perayaan malam Natal.

Mengapa kita menantikan kedatangan Yesus? Perjanjian Baru menyatakan Yesus sebagai Mesias bangsa Yahudi, meskipun Yesus bukanlah Mesias yang diharapkan oleh kebanyakan orang Yahudi pada saat itu; sebab bangsa Yahudi saat itu menantikan Mesias yang dapat mengusir bangsa Romawi yang menjajah mereka. Injil dengan jelas menyatakan bahwa Kristus tidak datang untuk mendirikan Kerajaan di dunia atau untuk membebaskan orang-orang Yahudi dari penjajahan Romawi; tetapi Ia mewartakan Kerajaan Surga bagi bangsa Yahudi dan bangsa non- Yahudi.

Kitab Suci mengajarkan agar kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Persiapan diri yang dimaksud adalah ‘berjaga-jaga’, karena memang inilah yang diperintahkan oleh Kristus untuk menyambut kedatangan-Nya (lih. Mat 24:42. Mat 25:13; Mrk 13:33). ‘Berjaga- jaga’ di sini maksudnya adalah untuk mengarahkan pandangan kita kepada hal-hal surgawi, dan bukan kepada hal- hal duniawi, pesta pora, dan dosa, seperti yang dilakukan orang banyak pada jaman nabi Nuh (lih. Mat 24:37-39, Kej 6:5-13). Dengan demikian, masa Adven merupakan masa pertobatan, masa di mana kita dipanggil Allah untuk kembali ke jalan Tuhan.

Apakah masa Adven tertulis dalam Kitab Suci? Jawabannya: jelas tidak. Kitab Suci tidak secara eksplisit berbicara mengenai masa Adven. Sekalipun demikian, bukan berarti bahwa masa Adven ini tidak ada dasar dalam Kitab Suci. Masa Adven tetap mempunyai dasar yang kuat dalam Kitab Suci. Dasarnya adalah bahwa Allah selalu menginginkan agar umat-Nya mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Hal ini bukan merupakan suatu ‘ide baru’; tetapi memang sudah diajarkan dalam Kitab Suci.

Perayaan Adven merupakan peringatan akan masa persiapan menyambut kelahiran Kristus dalam kedatangan-Nya yang pertama, dan penegasan masa penantian akan kedatangan Kristus yang kedua. Tidak ada yang salah jika kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Kristus, malah itu adalah keharusan, seperti diserukan oleh Yohanes Pembaptis, ataupun oleh Yesus sendiri.

Selama masa adven, Gereja membuat simbol-simbol yang disebut dengan Korona Adven (lingkaran Adven). Korona Adven berbentuk sebuah lingkaran yang diuntai dengan daun-daun pinus atau cemara dan di atasnya dipasang empat lilin (tiga lilin berwarna ungu yang menyimbolkan pertobatan dan penantian; dan satu lilin berwarna merah muda yang menyimbolkan sukacita); selain itu masih diberi asesoris lain seperti pita berwarna ungu dan merah.

Selain Korona Adven, Gereja Katolik juga tidak mengumandangkan madah kemuliaan atau Gloria; madah yang berkaitan dengan nyanyian para malaikat saat kelahiran Yesus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2, 14). Madah ini akan dikidungkan pada saat Natal. Maka juga tidak tepat kalau umat Katolik merayakan Natal pada masa adven.

Referensi:
Katolisitas.org
Maria Handoko, Petrus. 2014. Dari Adven sampai Natal. Malang: Dioma.

Arti Masa Adven dalam Gereja Katolik: Menunggu Tuhan Datang

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Tuhan akan menepati janji-Nya. Itu pasti. Ia tidak PHP. Hanya kita yang sering PHP. Tuhan akan datang sebagai pembawa keadilan. Karenanya, kita hanya diminta supaya bersabar sedikit. Hanya kadang-kadang yang membuat kita tidak sabar adalah karena kita maunya serba cepat dan instan. Kita mau supaya sekali kita minta, Tuhan langsung kabulkan. Kita tidak menghargai proses yang sudah Tuhan siapkan.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Tuhan memastikan bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita. Kita hanya diminta supaya sedikit menunggu. Itulah adven (Latin: ‘Adventus’ yang artinya ‘Kedatangan’). Yang dibutuhkan dalam menyambut kedatangan seseorang adalah sikap sabar untuk menunggu.

Banyak relasi terputus karena tidak sanggup menunggu. Kita selalu merasa di-PHP ketika yang ditunggu tak kunjung datang. Termasuk dalam berelasi dengan Tuhan juga bisa demikian. Orang yang tidak sabar menunggu waktu Tuhan akan berpaling dari Tuhan.

Dalam masa penantian, ujian biasanya berat. Hanya untuk membuktikan apakah kita sanggup bertahan atau tidak. Dalam menanti, orang ketiga bisa masuk dan mengganggu. Jika kita tidak sabar menunggu, kita jatuh pada ‘pelukan’ orang ketiga. Kita bisa jatuh menjadi orang-orang yang ‘khilaf’. Kita ‘berselingkuh’ dengan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang Tuhan inginkan. Padahal, kita tahu bahwa  Tuhan kita adalah ‘Tuhan yang suka cemburu’. Karena itu, Paulus berharap agar kita kuat supaya tak bercacat dan kudus di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus.

Adven adalah masa penantian akan kedatangan Tuhan. Dua pekan pertama Masa Adven merupakan penantian kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Pekan ketiga ke atas merupakan penantian terhadap kelahiran Yesus. Dia yang adalah Tunas Keadilan akan hadir di tengah-tengah kita.

Masa adven merupakan masa persiapan yang diwarnai oleh semangat penantian, penuh pengharapan, dan sukacita; sebab Tuhan datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Kita perlu menanggapi kedatangan Tuhan itu dengan semangat tobat dan berjaga-jaga.

Berjaga-jaga artinya sadar dan tidak tidur. Ketika kita tidak tahu lagi apakah yang kita lakukan itu berdosa atau tidak, dalam arti itulah sebenarnya kita tidak sadar dan tertidur. Dalam masa adven ini, kita diajak untuk berjaga-jaga, artinya untuk sadar dan melihat kembali ke mana arah perjalanan kita selama ini; dan kalau memang sudah berada di luar jalur, mari kita kembalikan ke jalurnya. Jangan ‘tertidur’ dalam hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Adven merupakan masa di mana kita harus jeda dari kesibukan kita dan mengambil waktu untuk merawat kesehatan hidup rohani kita. Prinsip ‘kerja, kerja, kerja’ itu baik. Mengejar harta duniawi itu baik, tetapi mencari Tuhan itu nomor satu. Harta yang kita punyai itu tidak datang begitu saja kalau Tuhan tidak merestuinya. Harta kita adalah titipan Tuhan untuk kita.

Segala hal yang kita punyai saat ini semata-mata pemberian dari Tuhan. Maka, jangan hanya ingat apa yang diberikan tapi lupa pemberi-Nya. Tuhan mau supaya kita ingat pemberi-Nya, yaitu Tuhan sendiri. Tuhan bisa memberi lebih dari apa yang sudah pernah diberikan-Nya, asalkan kita tidak menjauh dari-Nya. Rezeki itu selalu tersedia bagi kita.

Kita ingat Tuhan dengan cara terus berkomunikasi dengan-Nya. Itulah doa, yang harus kita isi sepanjang hidup kita. Jangan lupakan Tuhan yang sudah memberi banyak dalam hidup kita. Jangan sampai kita sarat dengan pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan sesaat, sampai melupakan Tuhan yang sudah memberikan segala-galanya bagi kita. Bersyukurlah terhadap segala sesuatu yang kita peroleh.

Kehadiran Tuhan selalu disertai dengan tanda-tanda. Tujuannya supaya kita bisa membaca tanda-tanda itu dan menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Satu nasihat untuk kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk. 21:36).

Maka dari itu, marilah kita isi masa adven ini dengan sikap berjaga-jaga, artinya sikap tobat, sambil memperbaharui lagi hidup doa kita, supaya relasi kita dengan Tuhan tetap terjadi, sampai waktunya tiba Tuhan datang mengunji kita semua. Amin.

Apa yang Dimaksud dengan Masa Adven itu?

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Kata Adven berasal dari bahasa Latin ‘adventus, advenio’ atau dalam bahasa Yunani disebut Parousia yang berarti ‘Kedatangan.’ Oleh sebab itu Adven artinya kedatangan Sang Mesias. Dengan demikian, selama masa Adven umat diajak untuk mempersiapkan secara rohani untuk menyambut kedatangannya yang pertama dan kedua pada akhir zaman. Persiapan dapat dilakukan umat melalui doa-doa dan bacaan Kitab Suci.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Saat ini, umat Kristiani terutama Katolik memasuki masa Adven I.  Bacaan-bacaan Kitab Suci yang dibaca diambil dari Perjanjian Lama, di mana terdapat nubuat dan harapan akan kedatangan Mesias. Setelah itu, umat mendengarkan Perjanjian Baru yang mengisahkan tentang kedatangan Mesias untuk menghakimi semua bangsa pada akhir zaman.

Setelah Adven I, umat akan memasuki masa Adven II di mana bacaan-bacaan tetap diambil dari Perjanjian Lama dari Kitab Yeremia dan Nubuat Barukh (Deuterokanonika Nubuat Barukh) yang mengisahkan pengharapan akan kedatangan Mesias. Selanjutnya, umat mendengar tentang Yohanes Pembaptis yang merintis jalan bagi kedatangan Sang Mesias.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 524, Ketika Gereja merayakan liturgi Adven setiap tahunnya, ia menghadirkan kembali pengharapan di jaman dahulu akan kedatangan Mesias, sebab dengan mengambil bagian dalam masa penantian yang panjang terhadap kedatangan pertama Sang Penyelamat, umat beriman memperbaharui kerinduan yang sungguh akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran sang perintis (Yohanes Pembaptis) dan kematiannya, Gereja mempersatukan kehendaknya: ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (bdk. Yoh. 3:30).

Dengan demikian, pada masa Adven ini umat diajak untuk menanti, berjaga-jaga dan berdoa serta mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Sang Mesias, Yesus Kristus. Oleh sebab itu, Gereja memberi kesempatan kepada umat untuk mengikuti Sakramen Pengakuan Dosa. Seperti diketahui di awal Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias.

Sumber: Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus Ende.

Renungan Masa Adven: Fokus pada Yesus, Bukan yang Lain

0
Masa Adven berarti masa untuk menunggu kedatangan Tuhan Yesus. Masa adven berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV.

Fokus pada Yesus, Bukan yang Lain: Renungan Masa Adven, 2 Desember 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Yer. 33:14-16; Bacaan II: 1 Tes. 3:12-4:2; Injil: Luk. 21:25-28,34-36

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Kata ‘Adven’ berasal dari bahasa Latin, yakni ‘Adventus’ atau ‘Advenire’, yang artinya ‘kedatangan’. Sebagai momen penantian, Masa Adven berkaitan dengan penantian kita akan kedatangan Kristus di tengah dunia. Sesungguhnya, Kristus telah datang ke dunia dan akan datang kembali di akhir zaman; namun Dia tidak pernah meninggalkan kita dan selalu hadir di tengah-tengah umat-Nya.

Masa Adven sejatinya menggarisbawahi tiga aspek penting, yakni peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di setiap hati umat beriman, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Dengan demikian, Masa Adven menjadi sebuah momen pengharapan — harapan bahwa Putra tunggal Allah akan datang ke dunia dan tinggal di antara kita. Lantas, sebagai sebuah momen persiapan untuk menerima kedatangan Kristus, Masa Adven hendaknya juga merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk memurnikan diri dengan membina sikap tobat dan memperbaiki cara hidup.

Bacaan-bacaan suci pada hari Minggu Adven pertama tahun C menggarisbawahi sebuah peringatan bagaimana seharusnya kita bersiap-siap untuk menerima kedatangan Kristus; peringatan untuk waspada, penuh perhatian dan persiapan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia meyakinkan kita bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya dan nantinya Tuhan ‘akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran’ (Yer. 33:15). Dengannya, kita seharusnya tidak perlu takut meskipun ada begitu banyak cobaan dan kesulitan yang menakutkan di sekeliling kita.

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus memberikan beberapa petunjuk bagaimana kita harus menantikan ‘kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya’ (1 Tes 3:13). Di sini, Paulus menasehati agar ‘menguatkan hatimu’ (ay. 3) dan ‘berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang” (ay. 12). Bagi beberapa orang, menunggu sering dianggap sebagai hal yang paling membosankan, terutama ketika ketidaksabaran menghantui. Dalam menunggu, kita perlu bersabar dan tetap fokus. Dalam menunggu kedatangan Kristus, kita harus bersikap rendah hati; toh! Tuhan sendirilah yang berjanji untuk datang dan tinggal di antara kita.

Penginjil Lukas, kemudian, menyoroti salah satu aspek lain dari Adven yaitu berwaspada. Yesus mengingatkan kita untuk: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi” (Luk 21:34) dan “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:36). Yesus mendesak kita untuk menghadapi sesuatu dengan penuh iman dan meletakkan harapan kepada rencana Ilahi, karena kecemasan yang berlebihan dapat mengalihkan perhatian kita dari fokus untuk menantikan kedatangan-Nya dan untuk menerima Dia. Toh! Yesus memberi kita jaminan bahwa tidak peduli apa pun yang akan terjadi di masa depan, Dia akan hadir dan memperhatikan kita. Selama masa penantian akan kedatangan Kristus ini, hal yang paling konkret kita bisa lakukan ialah untuk membuka diri terhadap kedatangan Tuhan, khususnya melalui kehadiran orang-orang lain, dalam kehidupan sehari-hari.

Para sahabat terkasih, apa pesan penting yang perlu kita renungkan selama Masa Adven ini? Ingatlah! Fokus utama kita ialah penantian Yesus, karena itu persiapan batin lebih penting daripada persiapan yang lain. Boleh-boleh saja kita mempersiapkan hal-hal, seperti baju baru, pangkas rambut, atau mempersiapkan lagu-lagu terkeren namun yang terpenting ialah mempersiapkan hati. Hendaknya, selama Masa Adven ini, kita membuka hati dan membiarkan Dia yang akan datang dilahirkan kembali dalam hidup kita.

Marilah kita menjadikan Masa Adven ini sebagai suatu kesempatan untuk bertobat dengan memperbarui pola hidup, membina sikap doa dan membagikan rejeki kita kepada satu sama lain. Mari kita menjadikan Adven ini sebagai kesempatan untuk melihat ke dalam diri apa yang perlu dilakukan dan melihat hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain. Kita memohon rahmat Tuhan supaya Masa Adven ini menjadi ungkapan iman dari kerinduan kita yang terdalam, penantian yang penuh pengharapan dan keyakinan yang utuh kepada Tuhan Yesus yang telah datang dan berdiam di antara kita dan yang akan datang lagi untuk memberi kita kepenuhan hidup. Hendaklah kita tidak boleh hilang fokus, tetapi teruslah berjaga-jaga. “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Luk 21:28).

Tuhan,
sebentar lagi Engkau datang dan tinggal di antara kami;
Demi janji-Mu yang tak terbatalkan itu,
lapangkanlah niat kami;
semoga kami menyambut Engkau
bukan dengan pesta pora dan musik denting,
namun iman yang mantap dan tahan banting.

Sant’Egidio Menggelar Aksi Damai Tolak Hukuman Mati

0

Komunitas Sant’Egidio, Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadakan aksi damai menolak hukuman mati, pada Jumat (30/11/2018). “Aksi damai dan seruan penolakan hukuman mati ini memang hanyalah sebuah langkah kecil dalam upaya kita memperjuangkan penghapusan hukuman mati di Indonesia,” kata Penanggungjawab Sant’ Egidio Labuan Bajo, Yen Asmat, seperti dilansir Katoliknews. “Saya bersyukur dan bangga sekali, walaupun usia Sant’Egidio Labuan Bajo masih sangat muda, tetapi mampu menggelar acara ini yang tentunya sangat membangun. Dan, melalui acara ini, kami bisa menyerukan dan mengambil bagian dalam kampanye city for life“, tambahnya.

Sementara itu, Pembina Sant’Egidio Labuan Bajo, Pastor Lorensius Gafur menegaskan, Gereja Katolik hingga hari ini tentang konsisten menolak hukuman mati. Gereja Katolik mengajarkan setiap orang untuk mencintai kehidupan dan menegakkan keadilan untuk semua orang. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kegiatan ini menginspirasi dan memberikan kesadaran baru bagi warga Labuan Bajo. Mari kita memulai, saat ini, di sini untuk mencintai kehidupan dan keadilan,” kata dia.

Mengakhiri aksi damai itu, berbagai kegiatan digelar antara lain, sambutan dari berbagai komunitas yang juga mengambil bagian dalam aksi ini, Gerakan Pemuda Pelajar Manggarai Barat (GP2MB), Komunitas Pemuda Anti Radikalisme (Kope Arat), Pemuda Katolik Mabar serta Komunitas Rumah Kreasi Baku Peduli. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama serta pembakaran lilin pengukuhan penolakan terhadap hukuman mati dan ditutup dengan nyanyi-nyanyian.

Selama ini, berbagai kegiatan rutin juga telah djalankan Komunitas Sant’Egidio Labuan Bajo. Seperti pelayanan terhadap anak-anak penyandang disabilitas di Biara Bruderan Mob, Cowang Dereng setiap hari Sabtu dan pelayanan di Panti Lansia Susteran Iottongnae, Wae Sambi, Labuan Bajo. Seperti diketahui,  Aksi ini merupakan gerakan simbolis mengenang langkah progresif Region Tuscany, yang berada di bawah pemerintahan Kota Roma, Italia, di mana pertama kali dalam sejarah dunia menghapus hukuman mati pada 30 November 1786. Dengan semboyan, “Cities for Life, Cities Against Death Penalty, atau Kota untuk Kehidupan, Kota Menolak Hukuman Mati”, setiap tanggal 30 November tahun 1998 lalu, Komunitas Sant’Egidio di seluruh dunia mulai mengkampanyekan gerakan menolak hukuman mati.  Seperti diketahui, Komunitas Sant’Egidio merupakan komunitas awam Kristiani yang lahir di Roma, Italia pada tahun 1968. Pendiri komunitas ini seorang awam bernama Andrea Riccardi.

Editor: Silvester Detianus Gea

Melania Trump Seorang Katolik Sejati

0
Celebrities attend the 8th annual "Dressed to Kilt", benefiting Friends of Scotland, held at M2 Ultra Lounge in New York City. . .Pictured: Melania Trump. . Ref: SPL169998 050410 .Picture by: Splash News . . Splash News and Pictures .Los Angeles .New York .London . (Newscom TagID: spnphotostwo805999) [Photo via Newscom]

Melania Trump lahir pada 26 April 1970 di Novo Mesto, Slovenia. Ia dibaptis dengan nama Melania Knavs. Ayahnya bernama Viktor Knavs dan ibunya bernama Amalija. Ia lahir dalam keluarga penganut agama Katolik. Meskipun demikian, ayahnya melarang Melani dan adeknya, Ines menerima Sakramen Baptis dan Komuni Pertama. Hal itu dilakukan oleh ayahnya karena masih memegang prinsip ateisme Marxis-Leninis. Tindakan sang ayah tentu saja mendapat pertentangan dari keluarga besarnya.

Meskipun banyak tantangan, Wanita 47 tahun ini tetap dibaptis sebagai seorang Katolik. Sesaat sebelum menikah di Gereja Episcopal Church of Bethesda by the Sea, ia menerima komuni pertama, tepat pada perayaan malam Natal. Melania menikah dengan Donald Trump dan dikaruniai seorang putra bernama Barron, yang juga mengikuti ibunya sebagai seorang Katolik.

Seperti diketahui, kabar tentang agama Melania menjadi sorotan media, terutama saat masa kampanye pemilihan presiden tahun lalu. Pada bulan Februari 2017, Melania berpidato di depan banyak orang di Melbourne, Florida. Banyak orang terkejut karena ia memperkenalkan suaminya sambil mengucapkan doa Bapa Kami versi Katolik. Padahal, Donald Trump seorang penganut Protestan Presbiterian. Meskipun demikian dalam berbagai wawancara  Donald Trump mengaku sebagai seorang Kristen sejati. Hal ini mengonfirmasi tentang agama Melania Trump terutama menjawab pertanyaan warga Amerika. Selain itu, Melani memberi warna baru di Gedung Putih, Amerika. Ia menjadi wanita Katolik kedua yang menghuni Gedung Putih setelah setelah JacquelineKennedy Onassis, istri dari mantan Presiden John F. Kennedy. John F. Kennedy merupakan presiden pertama Amerika Serikat yang beragama Katolik. Presiden dengan inisial JFK tersebut meninggal secara tragis pada bulan November 1963.

Melania Trump, dikenal sebagai ibu negara yang selalu menghindar dari sorotan media. Seperti diketahui, belum lama ini, Melania melakukan perjalanan ke Afrika. Ia mengunjungi Afrika untuk kampanye “#BeBest”, untuk mempromosikan keamanan dan kemakmuran ekonomi di negara- negara Afrika. Selain itu, ia berbicara tentang pendidikan ketika mengunjungi Ghana, Malawi, Kenya, dan Mesir.

Editor: Silvester Detianus Gea

Referensi

  1. https://amorpost.com/melania-trump-saya-orang-katolik-sejati-2/
  2. http://www.hidupkatolik.com/2018/11/30/29576/melania-trump-setia-katolik/?fbclid=IwAR2VUPIuh3z5Y5IRBx4g2_PO4yg-EZJBg634TYG-gB4Pdn7adYAgTbMHSpg

Hoax, Berita Tak Bermutu

0
geralt / Pixabay

Akhir-akhir ini kita mendengar berita yang begitu heboh,  yakni tentang sekelompok orang penyebar berita-berita Hoax. Ada sebagian orang dari kelompok penyebar hoax telah ditangkap oleh polisi. Mereka memiliki kelompok yang terstruktur dan teratur dengan tujuan menyebarkan berita-berita palsu nan menyesatkan, yang dikenal dengan hoax.

Mereka menyebarkan berita-berita hoax melalui media FacebookTwitterWhatsAppWebsite, dan lain sebagainya.

Berita-berita hoax yang beredar akhir-akhir ini acapkali mengenai pemerintah, terutama pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi. Mereka menulis berita-berita hoax, disertai “sumber-sumber” yang mereka edit sedemikian rupa, sehingga seolah-olah benar.  Mereka sebarkan melalui media sosial dan umumnya tidak terlepas dari isu-isu SARA.

Tentu berita-berita hoax yang mereka sebarkan mempunyai dampak negatif bagi masyarakat.
Ada beberapa dampak yang ditimbulkan oleh berita hoax, antara lain cuci otak (brainwash). Cuci otak (brainwash) melalui berita hoax tersebut menimbulkan konflik, kegelisahan, curiga, dan kekacauan di tengah masyarakat. Masyarakat yang telah tercuci otaknya akan sulit untuk menerima berita yang benar.

Kita tentu sangat prihatin terhadap situasi yang sedang terjadi saat ini. Banyak masyarakat mudah percaya berita-berita hoax, sehingga ikut membagikannya di dalam media sosial yang mereka miliki. Semakin kesesatan beredar luas dan massif,  berita sejenis ini menjadi seolah-olah benar dan inilah yang berbahaya,  menjadi virus dalam kebenaran.

Ditelisik dari sisi psikologi, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya berita hoax.

Pertama, orang lebih cenderung percaya berita hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misalnya, seseorang tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya, maka ia mudah percaya. Sebaliknya, seseorang yang terlalu suka terhadap kelompok, produk, dan kebijakan tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, maka keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terlebih dahulu menjadi berkurang.

Kedua, terbatasnya pengetahuan (prior knowledge) tentang informasi yang diterima, sehingga bisa mempengaruhi seseorang untuk mudah percaya. Sebaliknya, orang yang mempunyai pengetahuan yang baik atas informasi akan bersikap kritis dan tidak mudah percaya, sebelum mendapat sumber terpercaya.

Adalah tugas kita bersama untuk memberikan pendidikan melalui berita-berita yang benar kepada masyarakat. Kita tidak bisa membiarkan masyarakat percaya pada berita-berita hoax. Berita-berita tersebut dapat mencuci otak (brainwash) secara perlahan-lahan.

Masyarakat perlu diberikan dorongan untuk bersikap kritis dalam memilah-milah berita, sehingga menjadi cerdas dan tidak mudah dihasut. Masyarakat perlu diberikan sumber-sumber untuk dijadikan acuan dalam memperoleh berita yang benar. Lebih dari itu, penyelia berita harus bekerja profesional, menyajikan berita yang berbasis data dan fakta dimana kebenaran (verum),  keindahan (pulchrum) dan kebaikan (bonum) menjadi mahkota jurnalistik.  Dengan demikian, masyarakat tidak mudah diombang-ambingkan oleh berita-berita hoax jika semua berita bermahkota.

Sumber: Mengutip penjelasan Laras Sekarasih, Ph.D, Dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia dalam http://nasional.kompas.com, mengenai mengapa orang mudah percaya hoax, diakses Senin, 04 September 2017.

Opini yang sama pernah dimuat di http://www.indonesiakoran.com/news/kolumnis/read/74406/hoax..berita.tanpa.mahkota

Katakan Amin dalam Paradigma Literasi vs Hoax

0
GDJ / Pixabay

Katakan “amin” supaya masuk surga, meskipun belum baca kebenaran tulisan yang dibagikan. Tindakan semacam ini salah satu indikasi bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki sikap kritis terhadap berita yang diperolehnya. Tentu juga indikasi minimnya minat baca, sehingga mudah mengaminkan berita hoax yang berisi provokasi.

Memang berkata ‘amin’ saja bisa masuk surga. Tetapi surga kebohongan karena isi berita adalah Hoax. Sampai kapan masyarakat terus menelan mentah-mentah berita” konyol semacam itu.

‘Amin’ berarti setuju, percaya akan sesuatu. Maka mengatakan amin terhadap berita hoax adalah membenarkan bahwa itu benar. Benar-benar sesat dan butuh pencerdasan nalar.

Namun,  bagaimana caranya?

Di sinilah pendidikan literasi menjadi penting dan bermakna. Siapa saja yang tercerahkan secara literasi akan memiliki kecerdasan bawaan untuk bertindak “duc in altum”,  masuk lebih jauh ke dalam dan menebarkan jala perspektif dalam menangkap sejuta makna di balik pesan yang terkadang tersaji liar di bawah permukaan. Pendidikan literasi seperti inilah yang diajarkan Yesus Kristus kepada para murid-Nya yang sebagian besar nelayan biasa dan tulus. Dengan memiliki daya dan metode literasi seperti ini,  pewartaan dan misi-Nya bertahan sepanjang segala abad.

Betapa tidak, pendidikan literasi harus mengakar sampai pada kesadaran pribadi akan paradigma yang dipakai untuk membaca dan menafsir kenyataan,  baik yang terungkap nyata maupun yang tersingkap dalam kata-kata yang tersirat.  Inilah langkah yang perlu untuk mencicipi sajian,  baik yang benar maupun yang hoax.

Penulis: Silvester Detianus Gea dan Yon Lesek