Refleksi ini disesuaikan dengan bacaan pertama hari ini, Ef.6:1-9, sebagai penanda berakhirnya bulan Rosario tahun 2018 ini.
Saya masih ingat persis, ketika saya masih anak-anak, salah satu nasihat dari orang tua dan dari orang-orang di sekitar saya saat itu adalah supaya saya menaruh rasa hormat terhadap orang tua atau terhadap orang yang dianggap lebih tua atau terhadap orang yang dituakan.
Nasihat itu keras dan harga mati sebab seringkali ditambahkan dengan kalimat “Jika mau umur panjang, maka jangan pernah sekali-kali berlaku tidak hormat terhadap mereka yang disebutkan itu.” Begitulah para orang tua menasihati anak-anaknya. Saya kira dan saya harap agar nasihat yang sama juga ada di dalam keluarga kita masing-masing.
Orang tua pasti akan sangat marah ketika mendapati anaknya tidak menaruh sikap hormat terhadap orang tua, tidak menaruh sikap hormat orang yang dianggap lebih tua atau tidak menaruh sikap hormat orang yang dituakan. Jangan sampai anak-anak kita ngomong dengan orang tua seperti ngomong dengan temannya saja. Bicara seenak jidat.
Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus persis memberi nasihat yang sama. Ia berkata: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Ef. 6:1-3).
Sebagai anggota Gereja, kita mempunyai satu orang tua yang sama, satu ibu yang sama, bunda yang sama, yaitu Bunda Maria. Ia adalah ‘Bunda Tuhan’ sebagaimana yang dikatakan oleh Elisabet. Ketika Bunda Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya, Elisabet berkata: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:43).
Nah, kalau orang tua kita saja bisa kita hormati, apalagi Bunda Tuhan. Bunda Maria sudah memberitahu kita bagaimana cara menghormatinya. Ia memperkenalkan doa Rosario. Diceritakan bahwa ketika ingin memperkenalkan doa Rosario, Bunda Maria menampakkan dirinya kepada St. Dominikus. Dalam penampakkan itu, Bunda Maria memberikan Rosario kepada Dominikus dan meminta Dominikus untuk mewartakan Rosario itu.
Istilah Rosario berasal dari bahasa Latin rosarium [dari akar kata, rosa = bunga mawar], yang berarti karangan bunga. Dalam budaya masyarakat Eropa, bunga mawar mempunyai arti yang sangat penting, yaitu sebagai tanda cinta atau hormat.
Pada abad pertengahan, umat Kristen biasanya merangkaikan bunga mawar untuk dipersembahkan kepada Maria. Mereka meletakkannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria.
Rosario adalah tanda cinta dan hormat kita terhadap Bunda Maria; sehingga kalau kita melihat manik-manik Rosario, memang bentuknya mirip rangkaian bunga mawar. Dalam doa Rosario kita mengucapkan lima puluhan Salam Maria, yang isinya berupa kata-kata pujian dan hormat kepada Bunda Maria.
-
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu …” merupakan kutipan perkataan Malaikat Gabriel ketika mengunjungi Perawan Maria (lih. Luk 1:28).
-
“Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu (Yesus)”, diambil dari salam Elisabet kepada Perawan Maria ketika Maria datang mengunjunginya (lih. Luk 1:42).
-
“Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, dinyatakan oleh Katekismus Konsili Trente, sebagai doa yang disusun oleh Gereja.
Maka, jangan pernah bosan-bosan berdoa Rosario. Dengan cara itulah kita menghormati bunda kita, Maria. Jika dengan menghormati orang tua, kita bisa berbahagia dan panjang umur di bumi, maka dengan menghormati Bunda Maria, kita bisa berbahagia dan masuk ke dalam kehidupan yang kekal di surga; sebab Bunda Maria pasti akan mendoakan kita. Amin.



Sama-sama. Terima kasih sudah mengunjungi postingan ini. Tuhan Yesus memberkati.