Santo Montfort, Peziarah Marial

0
66

Hidup adalah peziarahan. Bagi orang beriman, tujuan peziarahan adalah persatuan yang intim dengan Tuhan. Ada banyak tokoh dalam Gereja yang telah menjadi peziarah iman yang pantas diikuti. Salah seorang figur penting itu  adalah santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716) atau yang sering disebut Santo Montfort.

Ia lahir pada 31 Januari 1673 di kota Montfort-la-Cane di Btetagne (kini namanya Montfort-sur-Meu)-Prancis Barat. Nama baptisnya adalah Louis. Nama Grignion itu diambil dari nama ayahnya (Jean-Baptiste Grignion); lalu,  nama Marie itu ditambahkan setelah ia mengalami ‘perjumpaan’ yang mesra dengan Yesus melalui kedekatannya dengan Bunda Maria. Sedangkan, Montfort itu diambil dari nama kota kelahirannya. Dengan demikian, namanya yang panjang itu berarti Louis anak Grignion dari kota Montfort yang memiliki devosi mendalam kepada Bunda Maria.

Santo Montfort lahir di tengah keluarga beriman katolik yang taat. Situasi keluarga ini sangat mempengaruhi ziarah hidupnya. Pendidikan iman katolik sungguh diterimanya di dalam keluarga. Hal ini terpancar melalui ketekunannya dalam berdoa, secara khusus berdevosi kepada Bunda Maria. Ia rajin berdoa rosario. Bahkan, ia selalu mengajak adik-adiknya untuk berdoa bersamanya. Jika ada yang tidak mau berdoa, ia berkata, ‘kalau kamu berdoa rosario, kamu akan menjadi cantik sekali.” Kata-kata ini yang membuat  adik-adiknya mau berdoa.

Ketika menjadi siswa di sebuah  kolese Yesuit di Rennes, Louis tidak mudah terpengaruh dengan kenakalan teman-temannya. Ia lebih suka hening dan seringkali berdoa di depan patung Bunda Maria. Rupanya ia meminta petunjuk Bunda Maria untuk hidup selanjutnya. Selain belajar di sekolah, ia juga aktif mengikuti karya kerasulan kecil. Antara lain, ia tekun mengunjungi orang-orang sakit. Pengalaman devosi yang mesra kepada Bunda Maria dan karya kerasulan di antara orang-orang sakit membuat Louis merasa dipanggil menjadi imam. Atas bantuan seorang ibu yang baik (penderma) dari Paris (kenalan ayahnya), Louis pergi melanjutkan studinya di Seminari Tinggi Saint-Sulpice dan juga di universitas Sorbone di Paris.

Singkat cerita, setelah melewati perjuangan yang tidak ringan, akhirnya Louis ditahbiskan menjadi imam pada 5 Juni 1700. Sebagai ucapan syukur atas peristiwa berahmat ini sekaligus menyerahkan diri kepada Bunda Maria untuk hidupnya sebagai imam, ia menambahkan nama Maria di belakang namanya. Jadi, ia sekarang bernama Louis-Marie.

Setelah menjadi imam, kegigihannya dalam mewartakan kerajaan Allah semakin tampak. Secara khusus, ia mengajarkan tentang devosi yang mesra kepada Bunda Maria. Yang pasti, ia tidak hanya mengajarkan devosi ini kepada banyak orang, tetapi terlebih dahulu ia melakukannya. Kedekatannya  dengan umat yang miskin dan juga pewartaannya yang menyentuh banyak orang ternyata mendatangkan tekanan bahkan ancaman baginya. Ada orang yang tidak suka dengan dirinya, bahkan ketidaksukaan itu datang darirekan-rekan imamnya. Situasi penolakan ini tak pernah mematahkan semangatnya untuk mewartakan kebaikan Allah.

Pada tahun 1706, ia memutuskan untuk pergi ke Roma dan bertanya langsung kepada Bapa Suci apa yang harus dilakukannya. Sesungguhnya, ia mau menjadi misionaris di luar Prancis. Akan tetapi, Bapa Suci,  Paus Clement XI meminta Louis-Marie untuk kembali berkarya di Prancis. Sejak pulang dari Roma, ia tekun melaksanakan tugasnya sebagai pewarta Sabda Allah. Ia menyadarkan umat kristiani bahwa Tuhan sangat mengharapkan keterlibatan setiap orang yang dibaptis dalam karya pewartaan Sabda Allah. Pembaruan janji-janji baptis adalah hal penting yang harus dilakukan. Melalui pembaharuan itu, umat beriman diharapkan mampu menjalani hidupnya  sebagai murid-murid Kristus sesuai dengan janji-janji baptisnya.

Selain itu, Montfort juga selalu mengajak umat beriman untuk merenungkan peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan. Peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan hendaknya mendorong umat untuk menghormati Maria secara istimewa. Bahkan umat beriman hendaknya membaktikan diri kepada Yesus lewat bunda Maria. Untuk itu, ia mengajak umat untuk rajin berdoa rosario. Ia meninggal dunia pada 28 April 1716 di St-Laurent-sur-Sevre.

Pada saat itu, usianya masih muda (43 tahun), setelah 16 tahun menjadi imam. Walaupun masih muda, ia sudah menulis beberapa buku penting tentang ajarannya.Ia adalah bapa pendiri Serikat Maria Montfortan (SMM) dan suster Puteri-Puteri Kebijaksanaan (Daughter of Wisdom-DW). Setelah melakukan penyelidikan secara serius, pada tahun 1853 diakui secara resmi bahwa tulisan-tulisannya sesuai dengan ajaran Gereja. Tahun 1888, ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII. Kemudian, pada 20 Juli 1947, ia dikanonisasi oleh Paus Pius XII.

Bakti Sejati kepada Maria

Santo Montfort telah menunjukkan bagaimana sebaiknya orang beriman berziarah menuju Tuhan. Ia adalah peziarah Marial. Melalui cara hidup yang terungkap melalui tulisan-tulisannya tentang Maria, ia menunjukkan bahwa berziarah kepada Kristus melalui persatuan yang mesra dengan Bunda Maria adalah pilihan yang tepat.

Salah satu buku terkenal yang pernah ditulisnya adalah Bakti Sejati Kepada Maria (BS). Buku ini baru ditemukan pada tahun 1842  atau 127 tahun setelah kematian santo Montfort. Hingga saat ini, buku Bakti  Sejati kepada Maria ini telah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa di seluruh dunia. Banyak orang yang  sangat terpukau dengan buku ini. Antara lain, Frank Duff (Pendiri Legio Maria) dan Santo Yohanes Paulus II. Bahkan motto kepausan santo Yohanes Paulus II yakni Totus Tuus dipengaruhi oleh uraian Santo Montfort dalam buku Bakti Sejati. Uraian santo Montfort sangat membantunya dalam memahami devosi kepada Maria. Ia merasa berhutang budi kepada Santo Montfort. Hal ini disampaikannya ketika berkunjung ke makam Santo Montfort di Saint Laurent-sur-Sevre, Prancis, 19 September 1996.

Dalam buku Bakti Sejati kepada Maria (BS), santo Montfort menulis, “Yang Tak Terhampiri telah mendekati kita. Melalui Maria Dia telah mempersatukan kita dengan diri-Nya secara mesra, sempurna dan malahan  dengan kemanusiaan kita. Namun tidak sedikit pun dari keagungan-Nya hilang. Kita juga harus melalui Maria mendekati Allah dan mempersatukan diri kita secara sempurna dan mesra dengan Yang Mahamulia tanpa takut akan ditolak (BS 157).” Pada bagian lain dalam Bakti Sejati, ia juga menulis, “Saya tidak percaya bahwa seorang dapat memperoleh persatuan yang mesra dengan Tuhan dan kesetiaan yang sempurna kepada Roh Kudus, apabila ia tidak berhubungan secara sungguh-sungguh dengan Perawan tersuci dan bergantung sepenuhnya pada bantuan wanita ini (BS 43).”

Pernyataan Santo Montfort di atas menegaskan hal penting bahwa Bunda Maria sangat berjasa dalam kehidupan umat beriman. Ia meyakinkan umat beriman betapa Bunda Maria sangat berkenan kepada Allah. Bahkan Allah sendiri pun jatuh cinta padanya (bdk. Luk 1:26-38). Keistimewaan Maria ini hendaknya menyadarkan umat beriman bahwa ia pantas dihormati. Bukan hanya itu. Kesaksian iman santo Montfort ini juga sekaligus mengajak kita agar menyerahkan diri pada pelukan keibuan sang Bunda melalui aneka devosi Marial (misalnya Doa Rosario, Novena dan doa-doa Marial lainnya).

Mengapa kita mesti memilih Maria sebagai jalan untuk berjumpa secara lebih intim dan mesra dengan Yesus? Terhadap pertanyaan ini, Santo Montfort menjawab, “Melalui Santa Perawan Maria, Yesus Kristus telah datang ke dunia; melalui Maria pulalah Dia harus berkuasa di dunia (Bakti Sejati, nomor 1).” Jadi, kalau Yesus hadir ke dunia untuk menyelamatkan kita melalui rahim Maria, mengapa kita tidak menempuh jalan yang sama untuk mencapai persatuan dengan Yesus? Yesus pasti sangat mencintai dan menghormati ibunda-Nya. Dia  pasti bergembira jika kita juga  mencintai dan menghormati ibunda-Nya. Dia akan memberkati setiap perjuangan kita apabila kita akrab dengan bunda-Nya. Di pihak yang lain, jika kita  dekat dengan Bunda Maria, sang Bunda pasti membawa kita kepada Yesus Puteranya. Sebab, hidupnya terpusat pada Yesus Puteranya, bukan pada dirinya sendiri.

Lagi pula, tujuan akhir penghormatan kita kepada Maria adalah Tuhan Yesus, bukan Maria. Per Mariam ad Jesum. Kepada Yesus melalui Maria. Hal ini tampak jelas juga melalui doa pembaktian diri yang terinspirasi dari tulisan Santo Montfort  ini: “Aku milikmu semata-mata dan segala milikku kupersembahkan kepada-Mu, ya Yesus terkasih, melalui Maria, ibu-Mu yang tersuci.” Doa singkat tapi sangat bermakna ini didaraskan setiap hari oleh para montfortan (SMM) di seluruh dunia.

Agar kita bisa membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria  dengan baik, kita perlu bersikap rendah hati. Jika kita memiliki sikap rendah hati, kita dengan mudah merebahkan diri dalam pelukan sang Bunda yang nota bene selalu membuka hati bagi siapa saja yang datang kepada Kristus melalui dirinya. Kemudian, ia akan membuat kita pantas menghadap sang Putera. Bahkan dengan kelembutan, ia akan berjalan bersama kita menuju Kristus. Ketika sang Putera melihat kita datang kepada-Nya  melalui dan bersama sang Bunda yang sangat dikasihi dan dihormati-Nya, Ia pasti menyambut kita dengan tangan terbuka dalam pelukan kasih-Nya. Akhirnya, kita mengalami keselamatan yang dijanjikan-Nya.***

 

Labuan Bajo 28 April 2020

(Hari Raya Santo Montfort)

 

P. Laurensius Gafur, SMM

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.