1.9 C
New York
Monday, January 12, 2026

Sejarah Gereja Katolik Timur Bag. III, Katolik Koptik (Tradisi Alexandria)

TANAH MESIR

Tradisi mempercayai bahwa Gereja Mesir didirikan oleh Santo Markus, penginjil, sekitar tahun 42 Masehi. Gereja Mesir sendiri mempercayai bahwa kehadirannya adalah penggenapan banyak nubuatan dari dalam Perjanjian Lama. “Pada hari itu akan ada altar untuk TUHAN ditengah-tengah tanah Mesir, dan sebuah pilar untuk TUHAN sebagai perbatasannya” Yesaya XXIX:19.

Orang Kristen pertama di Mesir adalah orang-orang biasa yang menuturkan bahasa Mesir Koptik. Ada juga orang Yahudi Alexandria seperti Teofilus, iaitulah yang dialamatkan oleh Santo Lukas ketika menulis Injilnya.

Ketika Santo Markus mengabarkan Injil, saat itu adalah saat dimana Kaisar Nero berkuasa, dan banyak dari pribumi Mesir memeluk Iman Kristen. Bukti-bukti pekabaran Injil ditanah Mesir dapat ditemukan melalui tulisan-tulisan Perjanjian Baru dan bahkan Injil menurut Santo Yohanes yang tertulis dalam bahasa setempat dan dapat dilacak kembali kepada permulaan abad ke-dua.

KONSILI-KONSILI EKUMENIS

Pada abad ke-empat seorang Pastor Alexandria bernama Arius memulai pengajaran yang menaruh syak mengenai tabiat Kristus yang menyebar ke dunia Kristiani, sehingga pengajarannya disebut “Arianisme”.

Patriarkh Koptik Alexander I dari Alexandria meminta untuk diadakannya konsili sebagai tanggapan akan ajaran sesat ini.

Konsili adalah Sidang Para Uskup dari seluruh dunia untuk memutuskan ajaran yang benar, dan mengutuk ajaran yang salah.

Patriarkh Alexander ini dipanggil dengan sebutan ‘Paus’ oleh Gereja Koptik, dan oleh Gereja Katolik Roma dia disebutkan sebagai: “seorang yang disanjung tinggi oleh umat dan klerus, hebat, liberal, fasih, adil, serta mengasihi Allah dan manusia, berbakti kepada orang-orang miskin, baik dan manis kepada semua orang, dan tidak pernah putus puasanya selama mentari masih di cakrawala”.

Oleh sebab itu, diadakannya Konsili Nicea dibawah kepemimpinan Kaisar Konstantin sebagai pemandu Konsili untuk meluruskan ajaran dari Arius yang sesat. Di Konsili ini, Santo Nikolaus turun dari kursinya dan menampar wajah Arius oleh sebab pengajarannya itu. Seluruh konsili setuju dengan sikap Santo Nikolaus itu pada akhirnya. Konsili Nicea ini menghasilkan Rumusan “Pengakuan Iman Niceanum” yang umumnya dikenal oleh orang Katolik Latin di Indonesia sebagai “Kredo Panjang”.

Kemudian lagi, di Konstantinopel diadakan sebuah Konsili Ekumenis atas desakan Patriarkh Koptik Timotius I dari Alexandria. Pokok permasalahannya adalah untuk meluruskan ajaran sesat baru yang disebabkan oleh Makedonius yang menyangsikan Keilahian Roh Kudus. Konsili Konstantinopel ini melengkapi Kredo Niceanum dengan mengonfirmasi Keilahian Roh Kudus dengan paragraf:

“Kami percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Sang Bapa, yang serta Bapa melalui Sang Putra disembah dan dimuliakan yang bersabda melalui Para Nabi dan didalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Kami mengakui satu baptisan untuk pengampunan dosa-dosa dan menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di zaman yang akan datang. Amin”

Kemudian lagi, datang ajaran sesat yang lain pada abad ke-lima oleh Nestorius, Patriarkh Konstantinopel yang mengira bahwa Allah Sang Sabda tidak bersatu dengan tabiat ke-insanian secara hipostasis melainkan hanya tinggal didalam manusia Yesus. Oleh Sirilus I dari Alexandria, yang juga adalah Patriarkh dari Takhta Rasuli Santo Markus, melahirkan Konsili Efesus.

AJARAN SESAT YANG MELAHIRKAN KESESATAN-KESESATAN LEBIH LANJUT.

Oleh sebab pengaruh ajaran Nestorian yang begitu kuat di dunia Kekristenan, Patriarkh Koptik Sirilus I dari Alexandria menentang keras ajaran itu dengan mengajarkan bahwa “hanya ada satu fusis, sebab itulah inkarnasi dari Allah Sang Firman” Ajaran ini dikenal sebagai “Miafisis” yang di-imani oleh Umat Koptik.

Kemudian, seorang biarawan Konstantinopel, Eutikus namanya, mengajarkan suatu ajaran yang lebih halus untuk menghentikan sisa-sisa pengaruh Nestorianisme dan mengaku diri setia kepada ajaran Patriarkh Sirilus yang ortodoks. Akan tetapi, ajarannya ini malah menimbulkan ajaran sesat baru yang dikenal sebagai “Monofisit”.

Kaisar Konstantinopel, Theodosius II menyelenggarakan Konsili II di Efesus dengan Patriarkh Koptik Dioskorus dari Alexandria sebagai pemandu Konsili. Konsili ini memenangkan Eutikus sebab Kaisar menutup pintu bagi mereka yang tidak setuju dengan ajaran Eutikus. Para utusan Paus Roma pun tidak diperbolehkan membaca pernyataan yang ditulis oleh Sri Paus.

Oleh sebab merasa telah dicurangi, Kepausan memberikan tuntutan penyelenggaraan konsili baru. Namun Kaisar Theodosius II menolak untuk takluk kepada kuasa Kepausan. Tetapi kemudian Kaisar Theodosius II wafat dan digantikan oleh Kaisar Markianus yang justru berpihak kepada Paus Roma. Konsili diadakan dan segenap Uskup dari seluruh dunia diundang ke Nicea, tetapi kemudian dipindahkan ke Kalsedon, dengan Paus Leo I, Uskup Roma sebagai pemimpin yang memandu Konsili.

Konsili akhirnya menghasilkan suatu paham “Diofisitisme” sebagaimana tertulis dalam surat pernyataan yang ditulis oleh Sri Paus sebelumnya. Konsili memandang bahwa Santo Petrus sendiri yang berbicara melalui Sri Paus Leo I, sepakat bahwa inilah Iman para Rasul, dan menyatakan bahwa yang diajarkan oleh Paus Leo I, Uskup Roma, dan Patriarkh Koptik Sirilus I adalah sama dan benar.

Akan tetapi, dari pihak Gereja Koptik sendiri, yaitu Patriarkh Dioskoros dari Alexandria bersama dengan ke-tigabelas Uskup Mesir lainnya menolak hasil Konsili Kalsedon dan lambat laun memisahkan diri dari mereka yang menerima hasil Konsili Kalsedon, yaitu Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur.

Baik mereka yang menerima Konsili Kalsedon maupun yang menolak, sama-sama merupakan tanggapan atas ajaran sesat Nestorius. Namun, reaksi negatif yang sama terhadap Nestorianisme justru menimbulkan perpecahan diantara kedua kubu. (Meskipun Orthodox Oriental menuduh Gereja Kalsedonian membangkitkan paham Nestorianisme, dan sebaliknya Gereja Kalsedonian menuduh Gereja Orthodox Oriental menganut paham Monofisit)

PERSATUAN DENGAN PAUS ROMA

Akan tetapi, kemudian hari beberapa Uskup dari Orthodox Oriental menyatakan bahwa perbedaan paham “Miafisit” yang dipegang oleh mereka dan “Diofisit” yang dipegang oleh Gereja Kalsedonian (Katolik Roma dan Orthodox Timur) hanyalah suatu kesalah-pahaman.

Hal ini membuka kedua belah pihak untuk dialog. Ada yang kembali kepada Gereja Katolik, ada juga yang kembali kepada Gereja Orthodox Timur.

Persatuan resmi antara Gereja Katolik dan Gereja Orthodox Koptik adalah sewaktu penanda-tanganan dokumen “Cantate Domino” oleh delegasi Koptik di Konsili Florens pada 4 Februari 1442.

Misi Katolik diantara umat Koptik dimulai pada abad ke-17. Berbagai misi dari Kapusin dan Yesuit di Mesir akan tetapi karena pembaruan Teologi yang tidak membuahkan hasil ditambah lagi aksi ini tidak didukung di Mesir, maka tidak ada hasil yang konkret.

Pada 1741, seorang Uskup Koptik di Yerusalem; Anba Athanasius, menjadi Katolik. Paus Benediktus XIV mengangkat dia sebagai Vikaris Apostolik dari komunitas kecil Gereja Katolik Mesir yang berjumlah kurang dari 2,000 jiwa. Meskipun pada akhirnya, Anba Athanasius kembali kepada Gereja Orthodox, garis Vikaris Apostolik Katolik masih berlanjut.

Pada 1824, Takhta Suci mengangkat Patriarkh dari Gereja Katolik Koptik, tetapi sejauh ini hanya diakui sebagai ‘hitam diatas putih’. Pemerintahan Ottoman baru mengizinkan Katolik Koptik untuk memulai pembangunan Gereja mereka sendiri pada 1829.

Pada 1895, Paus Leo XIII menyeimbangkan kembali ke-Patriarkhan, kemudian menunjuk Uskup Sirilus Makarios sebagai Patriarkh Sirilus II dari “Alexandria dari Koptik”. Patriarkh Sirilus II mengepalai sinode Katolik Koptik pada tahun 1898 yang memperkenalkan sejumlah praktik Latin. Kemudian dipaksa untuk mengundurkan diri oleh Takhta Suci pada tahun 1908 karena telah membawa kontroversi. Kursi tetap kosong sampai tahun 1947 ketika Patriarkh baru terpilih.
Takhta Kepatriarkhan Alexandria dari Koptik berpusat di Kairo.

TRADISI LITURGI

Katolik Koptik menggunakan tiga rumusan Liturgi. Pertama, Liturgi Santo Basil iaitu Liturgi yang digunakan sepanjang tahun, Liturgi Santo Gregori yang digunakan pada Hari Natal, Theofani, dan Paska, dan Liturgi Santo Sirilus (atau Santo Markus). Katolik Koptik mengakui 7 sakramen sama seperti Gereja Katolik Timur lainnya, dan menekankan puasa dalam spiritualisme mereka.

Sejak Santo Lukas yang adalah Pelukis Ikon (Ikonograf) pertama yang melukiskan Ikon Theotokos dan Yesus Kristus, Ikon Koptik berkembang bertolak dari seni Helenistik Mesir kuno dalam seni melukis Potret Mumi Fayum. Kemudian hari, seni Ikonografi Koptik mengalami rupa-rupa penyederhanaan sehingga membuat Ikonografi Koptik menjadi agak beda dengan Ikonografi Byzantin.

Katolik Koptik menggunakan Ritus Alexandria.

Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

avatar
Silvester Detianus Gea
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu-Esiwa, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan Strata 1 (S1) Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Menyelesaikan Strata 2 (2023). Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Ikut serta menulis dalam Seri Aksi Swadaya Menulis Dari Rumah (Antologi); “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), Ayahku Jagoanku, Anakku Permataku, Guruku Inspirasiku, Hidup Berdamai Dengan Corona Vol. IV, dan Jalan Kenangan Ibuku Vol. IV (2021), Autobiografi Mini Kisah-Kisah Hidupku (2022), Kuntum-Kuntum Kasih Sayang Vol. 3, Keluargaku Bahagiaku Vol. 2, Ibu Matahari Hidupku Vol. 1 (2023), Ibu Matahari Hidupku (2024), Menulis Itu Sehat & Hidup Itu Anugrah (2025), Ikut menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama penerbit Ethos Logos Pathos (2024-sekarang), Menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama PT. Mitra Laksana Pelita (2025-sekarang). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com dan floresnews.net(2018-sekarang), Author jalapress.com/, dan mengajar di Sekolah Tarsisius Vireta (Website:https://www.tarsisiusvireta.sch.id/) (2019-2024), menjadi Wakil Kepala Sekolah SD Tarsisius 1 (Juli 2024-sekarang), Wakabid. Marketing, Humas & Pengembangan Usaha, Yayasan Bunda Hati Kudus (2025) Penulis dapat dihubungi melalui: Email: detianus.634@gmail.com Facebook: Silvester Detianus Gea. Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465. Akun tiktok https://www.tiktok.com/@orang_muda.katolik1. Akun Youtube: https://www.youtube.com/@Degeasofficial. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/de-gea-000825389/.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini