Sejarah Gereja Katolik Timur 1, Bag. I Katolik Ukraina (tradisi Byzantin)

0
1102

Setelah Kenaikan Yesus Kristus, Injil masuk ke tanah Slavik….

Pada abad ke-9, dua orang kakak-beradik yaitu St.Sirilus dan St.Metodius mengabarkan Injil di tanah Slavik (suku dari Bangsa Ukraina). Mereka diutus dari Byzantin (kemudian: Konstantinopel, sekarang: Istanbul). Kedua kakak-beradik ini adalah biarawan.

Satu hal sangat penting yang diwariskan oleh mereka adalah Inkulturasi. Kedua Santo ini membuang budaya asal mereka (yaitu Yunani) dan menginjili dengan Bahasa yang dipakai oleh kaum Slavik. Mereka menerjemahkan Injil dan merayakan Liturgi kedalam budaya Slavik. Inkulturasi ini sempat dituduh bidat oleh sekelompok orang, tetapi kemudian Paus Yohanes VIII memberikan restunya. Dikemudian hari, oleh sebab misi pekabaran Injil mereka, mereka diundang ke Roma oleh Paus Nikolas I. Disaat inilah St.Metodius menerima tahbisan Imamatnya dari Paus sendiri. Inilah asal-muasal Bangsa Slavik mengenal Injil. Di akhir abad ke-9, St.Metodius wafat setelah didahului oleh kematian saudaranya.

Kebangkitan Iman Kristen di Ukraina

Kekristenan Timur terus berakar kuat di Ukraina dan memuncak ketika Vladimir, Pangeran Kiev, memeluk Iman Kristen dan dibaptis. Segera setelah itu banyak misionaris dari Kekaisaran Byzantium tiba. Para Misionaris ini diutus oleh Patriarkh Konstantinopel untuk tujuan pekabaran Injil.

Orthodox dan Katolik??

Pada abad ke-11, terjadi skisma besar, sebuah tragedi yang memisahkan Gereja Timur dan Barat. Skisma ini dipicu oleh alasan politik dan religius.

Pada saat itu, kekaisaran Romawi terbagi menjadi dua kubu. Kubu Barat adalah orang-orang yang berbahasa Latin, sedangkan kubu Timur adalah orang-orang yang berbahasa Yunani.

Alasan politik gereja Timur dan gereja Barat berpisah adalah;
a. Ekspansi kekuasaan kekaisaran Byzantium yang mengusik wilayah Roma, sedangkan di lain sisi;
b. Kepausan telah mencoba turut campur tangan dalam pemerintahan duniawi.

Alasan religius gereja Timur dan gereja Barat berpisah adalah;
a. Tata cara Liturgi
b. Ikonografi
c. Filioque
d. Dsb.
Sebetulnya, alasan religius ini tidaklah begitu relevan dan hanyalah sekadar tambahan, sebab perbedaan-perbedaan ini dalam esensinya sudah sama-sama diterima oleh kedua belah pihak sebagai sekadar perwujudan yang berbeda dari satu sumber iman yang sama. Kemudian hari, alasan-alasan inilah yang menjadi perbedaan antara Katolik Roma dengan Katolik Timur. Akan tetapi, perbedaan ini tidak mencoreng sifat Gereja yaitu “satu”, sebab sumber Iman tetaplah sama.
(Cat: Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di postingan berikutnya)

Tragedi akan perpisahan gereja Timur dan Barat ini dinamakan “Skisma Besar”. Di saat ini, Gereja Roma Katolik meng-eks-komunikasi Gereja Timur, dan sebaliknya, Gereja Timur menjatuhkan ‘anathema’ (kutuk) kepada Gereja Katolik Roma. (Jauh di kemudian hari, secara bersamaan, Gereja Roma mencabut hukuman eks-komunikasi untuk Gereja Konstantinopel, dan Gereja Konstantinopel mengangkat anathema dari Gereja Roma). Gereja Barat dikenal dengan nama “Roma Katolik”, dan Gereja Timur, yaitu Konstantinopel disebut orang “Kristen Orthodox”.

Putus, lalu balikan….

Ketika Gereja Roma dan Gereja Konstantinopel memutuskan hubungan satu sama lain pada abad ke-11, Gereja di Ukraina secara bertahap sampai akhirnya melepaskan ikatan persatuan dengan Roma. Ketika para Uskup Orthodox Ukraina mengadakan konsili di Brest-Litovsk pada tahun 1595, tujuh Uskup memutuskan untuk membangun kembali persekutuan dengan Roma.
Dengan jaminan bahwa tradisi dan Liturgi Byzantin akan dihormati dan diakui oleh Roma, mereka dan banyak Imam lain, serta umat beriman, disatukan kembali dengan Tahta Roma, sementara yang lain tetap setia dalam Orthodox.
Pada abad ke-19 banyak umat Katolik Ukraina mulai beremigrasi ke Amerika Utara, membawa serta tradisi, dan liturgi mereka ke Kanada dan Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan Komunis, umat Katolik di Ukraina dianiaya, banyak yang dipenjara dan dibunuh; pada 1945 semua uskup Katolik Ukraina ditangkap atau dibunuh.

Mujizat di tengah guncangan iman….

Umat Katolik Ukraina tetap setia dan bertahan pada Imannya. Mereka disalibkan, dibakar, dan dianiaya sedemikian rupa. Walaupun begitu, hampir tidak ada yang menyangkal imannya. Ada suatu peristiwa, dimana para pemuda Ukraina dijatuhi hukuman tembak. Saat eksekusi, mereka dengan lantang mendaraskan Pengakuan Iman Niceanum (Kredo Panjang). Mereka semua kemudian ditembak, tetapi tidak ada yang mati. Para eksekutor dengan geramnya melancarkan tembakan lagi berkali-kali kepada mereka, tetapi tetap saja, semua pemuda tetap berdiri tegak mendaraskan Pengakuan Iman mereka. Setelah semua pemuda itu mengakhiri dengan kata Amin, dan membuat tanda salib, barulah mereka terkapar dan mati.

Di lain peristiwa, pihak Komunis telah membantai seluruh Imam, klerus dan rohaniwan. Kemudian, pada 6 Januari (24 Desember menurut Kalender Julian) 1946 –sehari menjelang Natal- , sebuah Gereja di Ukraina Barat disegel. Para polisi ditempatkan disekeliling Gereja yang disegel. Pada malam itu, Gereja yang telah disegel tiba-tiba bercahaya. Para polisi yang berjaga lari ketakutan. Warga sekitar memeriksa penyebabnya dan dengan ketakutan serta keheranan, tampak didalam Gereja semua Imam dan Umat beriman yang baru saja dibunuh oleh pihak Komunis tengah merayakan Liturgi Malam Natal, tegak dan dengan suara lantang yang kedengaran.

Pada masa Komunis ini juga, Bunda Maria menampakkan diri di Ukraina. Penampakan Bunda Maria ini disaksikan oleh SELURUH orang disana, baik yang beragama Katolik maupun Orthodox, bahkan para Komunis. Bukan hanya di satu tempat, Bunda Maria menampakkan diri di banyak tempat di Ukraina. TIDAK ADA pesan dari Bunda Maria secara khusus, tetapi Umat beriman yang menyaksikan penampakan seketika itu juga dikuatkan iman mereka sehingga semangat kemartiran mereka tumbuh. Umat Beriman Ukraina menganggap penampakan Bunda Maria di masa Komunisme ini menyiratkan bahwa Bunda Maria tetap memperhatikan Ukraina dan Tuhan tidak melupakan mereka. Salah satu tempat Bunda Maria menampakkan diri adalah di Hrusiv. Bunda Maria berdiri diatas bubungan Gereja, dan ditengah-tengah Gereja, keluar air ajaib yang menyembuhkan banyak penyakit. Umat beriman membuat sebuah sumur disana. Tidak terhitung mujizat yang terjadi disana. Pihak Komunis melarang keras Umat Beriman untuk mendekati Gereja dan mengambil air suci dari sana. Salah seorang tentara Komunis yang berani, nekat mengambil senapannya, dan menembak penampakan itu. Seketika itu juga, mata tentara itu buta. Ia bertobat dan menjadi saksi iman meskipun kebutaannya tetap tinggal sampai kematiannya.
Penampakan Bunda Maria ini mengambil tempat khusus dalam sejarah Gereja Ukraina dalam pembebasannya dari cengkeraman tangan komunisme.

Saat ini…

Hari ini Gereja Katolik Ukraina adalah Gereja Katolik Timur terbesar, dengan sekitar 5 juta umat beriman. Gereja Katolik Ukraina ini dipimpin oleh Yang Berbahagia Sviatoslav (Shevchuk), Uskup Agung Utama dari Kyiv-Galicia. Pemilihannya dikonfirmasi oleh Paus Benediktus XVI pada 25 Maret 2011.

Terima komuni di Katolik Roma atau Katolik Ukraina??….
Gereja Katolik Ukraina adalah salah satu dari Gereja Timur yang bersatu dalam Komuni Takhta Suci St.Petrus. Oleh sebab itu bagi Umat Katolik Roma diperkenankan untuk turut serta menerima Komuni di Gereja Katolik Ukraina, dan terhitung sama dengan menerima Komuni di gereja asalnya. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Umat dari Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Timur dapat saling mengunjungi sama seperti mengunjungi Paroki lainnya. Menghadiri Liturgi Ilahi di hari Minggu-pun oleh Gereja Katolik Roma terhitung sama seperti memenuhi kewajiban menghadiri Misa Mingguan (dalam 5 Perintah Gereja). Hal ini juga berlaku sebaliknya.

Catatan akhir: Artikel ini disusun dan dibuat se-sederhana mungkin oleh Persekutuan Katolik Timur di Indonesia, agar dapat dimengerti oleh Umat Awam. Sejarah yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan panjang.


Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289