Pastor Cosmas Ombato Ondari terbunuh pekan lalu, (21/11/2018). Ia ditembak oleh pasukan militer di Kamerun, Afrika. Pastor yang bertugas selama setahun itu, ditembak oleh pasukan pemerintah di Mamfe, sebuah kota yang terletak di barat daya Kamerun. Pastor Cosmas memulai tugas perutusannya di Kamerun menjelang pertengahan tahun 2017 lalu. Namun, ia terlebih dahulu berpulang karena terkena tembakan militer Kamerun. Peristiwa tersebut menambah daftar panjang imam dan birawan/biarawati yang dibunuh oleh oknum tertentu. Meningkatnya korban dari kalangan para pastor dan biarawan-biarawati tersebut disebabkan oleh pertikaian politik yang masih memanas di negara itu beberapa tahun terakhir. Banyak warga sipil yang menjadi korban karena konflik politik tersebut. Sejak 2017, gerilyawan Kamerun berjuang mati-matian untuk memisahkan wilayah berbahasa Inggris, dari wilayahnya yang berbahasa Prancis. Para pejuang menyatakan pada bulan Oktober 2017, telah terjadi kemerdekaan sebuah negara baru yang mereka beri nama ‘Ambazonia.’
Konflik yang sudah berlangsung sekitar tiga tahun ini telah memakan korban jiwa hingga ratusan orang di antara kedua belah pihak. Sementara itu, 300.000 pengungsi menuju Nigeria. Ada lebih dari 80.000 pengungsi internal di Kamerun. Ketegangan politik antara pasukan pemerintah Kamerun dengan pemberontak terus memanas akhir-akhir ini. Pasukan pemerintah berusaha menekan kelompok yang selama ini menuntut untuk merdeka dari Kamerun. Sebelumnya, Pastor Alexander Sob Nougi juga tewas pada tanggal 20 Juli 2018 di provinsi yang sama, tepat ditempat Pastor Ondari ditembak. Pastor Nougi ditembak dari jarak dekat, dalam serangan yang menurut para pejabat Gereja adalah pembunuhan yang direncanakan. Selain itu, pada bulan Oktober, seorang seminaris berusia 19 tahun tewas di provinsi tetangga. Sementara itu, pada awal bulan November, sekelompok suster diculik oleh gerilyawan di barat laut negara itu, dan dibebaskan keesokan harinya.
Gereja Katolik Kamerun menilai bahwa Pemerintah Kamerun masih gagal memberikan perlindungan bagi para pastor, bruder, suster, dan calon pastor di Kamerun. Kritik Gereja Katolik ini terkait kasus kematian Mgr Jean Marie Benoît Bala dari Bafia, Kamerun, pada tanggal 30 Mei 2917. Hingga kini, tidak jelas siapa pembunuhnya. Konferensi para Uskup di Kamerun menyatakan uskup itu dibunuh, bukan bunuh diri. oleh sebab itu, pemerintah gagal menyelidiki kejahatan tersebut hingga menemukan motif di balik pembunuhan tersebut.
Editor: Silvester Detianus Gea
Sumber: CNA


