Tuhan Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang

0
192

Tuhan Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang: Renungan Hari Minggu, 13 September 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 27:30 – 28:9; Bacaan II: Rm. 14:7-9; Injil: Mat. 18:21-35

Kita hidup bersama dengan orang lain. Dan, yang namanya hidup bersama dengan orang lain, hampir pasti selalu saja ada gesekan, ada benturan, dan ada salah paham. Pemicunya bisa bermacam-macam: antara lain karena orang salah kata, kita merasa dilangkahi, kita merasa harga diri kita diinjak-injak, dan sebagainya; yang ujung-ujungnya membuat kita sakit hati, membuat amarah kita keluar, dan rasa-rasanya kita ingin balas dendam.  Hal seperti itu bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja.

Bagi mereka yang hatinya tersakiti, kemarahan dan balas dendam dirasa sebagai solusi jitu untuk mengobati sakit hati. Tapi, benarkah begitu? Jawabannya: ternyata tidak.

Tidak ada satu pun persoalan di dunia ini yang bisa diselesaikan dengan amarah dan balas dendam. Kemarahan dan balas dendam hanya akan membuat hidup kita tidak tenang: merasa ada musuh yang mengintai, tensi naik, tekanan darah meningkat, dan sebagainya. Sama sekali tidak ada untungnya.

Padahal, biasanya, kalau kita berada pada posisi yang salah, kita mau sekali dimaafkan dan diampuni. Tapi, giliran orang lain yang bersalah kepada kita, kita bukan hanya tidak mau memaafkan dan mengampuni, tapi juga mau marah-marah dan balas dendam.

Makanya, perumpamaan yang diceritakan di dalam bacaan Injil hari ini sebenarnya adalah cerita tentang kita. Hampir semua dari kita melakukan hal seperti yang terjadi dalam cerita itu. Kita seperti hamba yang selalu mencari-cari dan menghitung-hitung kesalahan orang lain. Sedikit dibuat sakit hati dendamnya sampai ke liang kubur. Kita mau diampuni dan dimaafkan tapi sendiri tidak mau mengampuni dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Maka, perkataan raja dalam cerita itu menjadi teguran keras bagi kita. Raja berkata: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau” (Mat. 18:32-33).

Kita semua berdosa; dan karena dosa itu seharusnya kita semua dihukum oleh Tuhan. Tapi, Tuhan justru memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, panjang sabar, dan penuh kasih setianya. Gambaran itu sangat jelas diungkapkan melalui perumpamaan raja yang tergerak hati oleh belas kasihan dan membebaskan dan menghapus hutang hamba-Nya.

Tuhan, melalui bacaan pertama hari ini, memberi satu persayaratan kepada kita. Tuhan bersabda: “Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa”. Jika kita mau diampuni, ampunilah terlebih dahulu orang lain yang bersalah kepada kita.

Maka, pertanyaan para murid dalam Injil menjadi pertanyaan kita juga. “Berapa kali kita harus mengampuni? Pertanyaan ini penting supaya kita tahu apakah pengampunan yang harus kita berikan itu ada batasannya atau tidak, supaya kemudian hari kita tidak membuat pembelaan diri, “Kan saya sudah mengampuni”.

Yesus menjawab: “Sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Coba dihitung, berapa jumlahnya? Jawabannya: tak terbatas. Tuhan mau supaya kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita tanpa batas. Artinya, sesering apa orang bersalah kepada kita, sebanyak itu juga kita memaafkan dan mengampuni mereka.

Tidak mudah memang untuk mewujudkannya. Kita juga selalu mempunyai sederet alasan dan pembenaran diri untuk tidak melakukannya. Tapi, itu syarat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita: jika mau diampuni, terlebih dulu harus mengampuni.

Injil hari ini mengajak kita untuk bersedia mengampuni siapapun tanpa batas. Semoga kita mau belajar untuk mewujudkannya dalam hidup keseharian kita. Amin.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.