Yesus, Allah-Manusia, Dikenal melalui Pekerjaan-Nya

1
374

Allah memahami keadaan kita, itu pasti; sebab Ia pernah merasakan seperti apa rasanya menjadi manusia.

Penginjil Yohanes, pada permulaan Injilnya, memberitahu kita soal bagaimana Allah menjadi manusia.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1,3,14).

Firman (Allah) itu sungguh-sungguh menjadi manusia, dan bukannya setengah manusia. Allah mengambil rupa manusia dalam diri Yesus dari Nazaret.

Sisi kemanusiaan Yesus digambarkan dengan sangat baik di dalam Injil Markus 14:32-42. Dikatakan bahwa Yesus menderita, bergumul, sangat takut dan gentar. Ia juga sedih, seperti mau mati rasanya.

“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (lih. Ibr. 5:7).

Tapi, sekalipun Yesus tidak pernah berkata ‘Aku ini Tuhan’, Ia bukanlah manusia biasa – melainkan Allah yang mengambil rupa manusia. Mengenai identitas-Nya itu, Yesus berkata: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh. 8:23).

Meskipun Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, Ia tidak pernah berkata ‘Sembahlah Aku’. Justru sebaliknya, Ia berkata: “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia” (Yoh. 5:41).

Jadi, kita tidak akan pernah menemukan di dalam Kitab Suci kalimat Yesus yang berbunyi: “Aku ini Tuhan, sembahlah Aku”. Tidak, Yesus tidak mengatakan itu. Mengapa? Sebab Ia sangat konsisten dengan tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan menjadi salah satu di antara kita.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).

Nah, jika Yesus tidak memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan, juga tidak meminta para pengikut-Nya untuk menyembah-Nya, lantas bagaimana kita tahu bahwa Dia adalah Tuhan?

Pertanyaan serupa bukan baru pertama kali diajukan. Sudah dalam Kitab Suci, Yohanes Pembaptis menyuruh dua muridnya untuk mengajukan pertanyaan yang nadanya kurang lebih sama. Dua murid yang diutus oleh Yohanes Pembaptis itu berkata kepada Yesus:

“Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk. 7:20).

Yesus tidak bilang “Ya, Akulah Dia”. Tidak. Dia tidak mengatakan itu. Sebaliknya, Ia menjawab mereka:

“Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk. 7:22).

Begitu pula ketika orang-orang Yahudi (lih. Yoh. 10:24-25) mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya:

“Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku”.

Yesus ingin dikenal melalui pekerjaan-pekerjaan-Nya. Ia mengatakan keinginan-Nya itu dengan terus-terang kepada mereka yang bertanya tentang identitas-Nya.

Barangkali Petrus merupakan satu di antara pengikut-Nya yang menyadari hal itu. Ketika di pantai danau Genesaret, Petrus mula-mula menyapa Yesus sebagai ‘guru’ (lih. Luk. 5:1-11), sapaan biasa kala itu.

Yesus berkata kepadanya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata:

Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap.

Ketika Simon Petrus melihat apa yang dilakukan oleh Yesus, ia jadi tahu bahwa Yesus adalah Tuhan. Kesadaran Petrus ini dipertegas lagi oleh Yesus saat pembasuhan kaki. Yesus berkata:

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:13).

Meski dalam Kitab Suci Yesus tidak meminta siapapun untuk menyembah-Nya, tidak berarti bahwa orang-orang tidak menyembah Dia. Ada banyak teks dalam Injil yang memperlihatkan bagaimana orang menyembah Yesus.

Hal itu dilakukan orang-orang, bahkan jauh sebelum Ia tampil di muka umum. Sudah sejak dalam palungan, tiga raja dari Timur datang jauh-jauh untuk sujud menyembah Dia.

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat. 2:11).

Selama Ia tampil di muka umum, banyak juga orang menyembah-Nya. Ia tidak menyuruh mereka melakukan itu, Ia juga tidak melarangnya. Ia membiarkan mereka melakukan apa yang menurut mereka baik. Semua itu dibuat orang setelah melihat atau mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Yesus.

Dalam karya-Nya, ketika Yesus meredakan angin ribut, orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (Mat. 14:33).

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menjumpai para murid-Nya dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya (Mat. 28:9).

Adakah Yesus berkata ‘Jangan sembah Aku, sebab Aku bukan Tuhan?’ Tidak. Yesus tidak mengatakan itu. Jika Dia bukan Tuhan, pastilah Dia melarang orang untuk menyembah-Nya.

Lantas, mengapa ada orang yang tidak percaya terhadap ketuhanan Yesus? Kiranya perkataan Yesus di bawah ini merupakan jawaban atas pertanyaan ini. Yesus berkata:

Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:26-28).

Jadi, wajar saja jika selama ini ada orang yang meragukan ketuhanan Yesus sebab mereka bukan domba-Nya.

Yang pasti bagi kita sudah jelas: Yesus adalah sungguh Allah, sungguh manusia. Dia ingin agar orang, setelah melihat apa yang dilakukan-Nya, mengenal siapa Dia.

Yesus ingin agar para pengikut-Nya mengenal Dia secara pribadi, bukan berdasarkan ‘kata orang’ tentang Dia. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah” (Luk. 9:20).

Orang yang merasa disentuh secara pribadi, seperti Petrus, tidak mempunyai kesulitan untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan; sehingga tidak ragu-ragu juga untuk menyembah-Nya.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.