24 C
New York
Monday, June 27, 2022

Bukan Sekadar Ritual, Ekaristi Berpusat pada Yesus Kristus

Banyak orang non-Katolik beranggapan bahwa Ekaristi atau Misa dalam Gereja Katolik merupakan suatu bentuk ibadat yang rumit. Padahal, sebenarnya, apa yang bagi mereka tampak sebagai liturgi yang rumit itu justru merupakan struktur ibadat yang berpusat dan berfokus pada Yesus Kristus.

Gereja Katolik meyakini bahwa Yesus Kristus datang untuk semua orang. Dia datang untuk menerima dan menyelamatkan siapa pun yang datang kepada-Nya dengan iman, bahkan orang-orang yang dihina oleh dunia sekalipun. Karenanya, sejak awal, Gereja Katolik melihat bahwa peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus merupakan peristiwa-peristiwa yang menyelamatkan. Keyakinan inilah yang mendorong Gereja Katolik untuk selalu memasukkan bacaan Injil dalam liturginya.

Gereja mengundang para pengikutnya untuk memfokuskan dan memusatkan perhatiannya pada Tuhan dan Tuannya, yakni Yesus Kristus. Gereja bahkan mengharuskan para imamnya agar di setiap Ekaristi atau Misa menyampaikan di hadapan domba-domba Kristus kisah-kisah penyelamatan yang dicatat di dalam salah satu dari empat Injil. Dengan cara ini, diharapkan agar pendengar (atau pembaca) yang penuh perhatian tidak dapat salah mengartikan tema sentral dari ibadah.

Salah satu contoh dalam Kitab Suci tentang bagaimana memusatkan perhatian pada Yesus adalah apa yang dilakukan oleh wanita Kanaan. Ketika wanita Kanaan itu datang kepada Yesus memohon agar putrinya dibebaskan dari pengaruh setan, Yesus menyatakan bahwa imannya besar (Mat. 15:21-28). Pernyataan ini didahului oleh suatu teguran yang keras dari Tuhan Yesus kepada wanita itu karena ia telah berusaha melintasi batas-batas sosial dan berkeinginan menerima keselamatan yang dijanjikan kepada orang-orang Yahudi. Nah, jika kita, seperti wanita Kanaan, menyadari ketergantungan kita sepenuhnya pada Yesus dan kita memohon belas kasihan-Nya yang tidak layak kita terima, kita dapat yakin bahwa Dia akan berkata kepada kita, “besar imanmu.” Tentu saja itulah yang dimaksud dengan Komuni dalam Ekaristi, yakni datang kepada Yesus.

Ketika imam mencium altar saat memasuki Gereja, kita sedang menyapa Kristus yang dilambangkan dengan altar dan mengundang kehadiran-Nya ke dalam hidup kita. Kemudian, ketika kita memohon belas kasihan Kristus dalam upacara pertobatan (“Tuhan kasihanilah”), kita persis berada di posisi wanita Kanaan yang melihat Yesus sebagai satu-satunya harapan putrinya. Kemudian dalam Ritus Komuni, kita berdoa melalui imam, “Jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu.”

Ketika kita diundang untuk menerima Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kita menanggapi dengan kata-kata: “Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya [jiwaku] akan sembuh.” Di sini kita memohon kepada Tuhan Yesus agar berbelas kasih kepada kita seperti dulu Ia berbelas kasih kepada wanita Kanaan yang adalah orang luar tetapi memiliki iman yang besar.

Referensi: https://www.catholic.com/magazine/print-edition/the-eucharist-as-center-of-the-church

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini