6.2 C
New York
Saturday, November 26, 2022

Dari Unclean Spirit ke Polemik Penyembahan Berhala: Sebuah Tanggapan

“Ternyata gue juga setuju sama UAS soal ini, bahwa, kalau gue mungkin sebutnya ada unclean spirit, ok, di patung, ketika patung yang dibuat manusia disembah. Baca Yesaya ayat 13-20, sekali lagi, ini buat orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Gua ingin kalian baca dulu Yesaya 44:13-20, baru lo bisa komentar. Sebelum lo baca, jangan komentar dulu,” ucap Daniel Mananta.

Pernyataan dari Saudara DM di atas masih ramai dibicarakan di jagat maya. Ada beragam tanggapan yang muncul atasnya. Secara pribadi, ini adalah tulisan kedua dari saya untuk menanggapi pernyataan yang viral tersebut. Pada tulisan pertama, saya lebih fokus pada Yesaya 44:13-20. Kali ini saya tidak lagi membahas Yesaya 44:13-20, tapi seputar unlean spirit pada patung dan polemik penyembahan berhala.

Saudara DM berpendapat bahwa ada unclean spirit di patung, ketika patung yang dibuat manusia disembah. Padahal, menurut ajaran Gereja, roh jahat, setan, atau unclean spirit, adalah realitas rohani (makhluk yang sepenuhnya spiritual), dan bukan semacam makhluk halus sebagaimana dipercaya di masyarakat. Nama ‘setan’ digunakan secara eksklusif untuk si jahat. Iblis (Yunani diabolos; Lat. diabolus) yang juga dikenal sebagai setan adalah nama yang biasa diberikan kepada malaikat yang jatuh.

Nama ‘setan’ digunakan secara eksklusif untuk si jahat.

Karena setan adalah makhluk yang sepenuhnya spiritual, maka dia bukanlah semacam makhluk halus yang melirik dari tempat gelap, yang menempel di dinding, tinggal di patung, rumah kosong, pohon besar, dan sebagainya. Realitas rohani itu tidak mempunyai tempat fisik. Jadi, jika ada orang mengatakan bahwa setan mendiami tempat tertentu, maka jelas itu bukan ajaran Katolik.

Berkaitan dengan polemik penyembahan berhala, Saudara DM mengutip cerita dalam Perjanjian Lama. Perlu disadari bahwa Perjanjian Lama ditulis dalam alam berpikir Yudaisme. Yudaisme adalah agama yang mengajarkan bahwa Allah itu bisa didengar suara-Nya namun tidak bisa dilihat wajah-Nya. Maka, saat itu, tabu bagi orang Yahudi untuk membuat gambar wajah Allah.

Tuhan sendiri dalam Perjanjian Lama pernah menyuruh Musa membuatkan patung.

Allah yang dipahami dalam Yudaisme adalah Allah yang berbicara (berfirman), bukan Allah yang memperlihatkan wajah-Nya. Tidak ada orang yang bisa melihat wajah Allah sebab siapapun yang melihat Dia, orang tersebut akan mati. Makanya Yakub (Kej. 32:27-30), yang kemudian namanya menjadi Israel, bersyukur sekali sebab ia bisa melihat Tuhan tapi ia tidak mati.

Namun jangan dikira bahwa Perjanjian Lama melarang pembuatan patung. Justru sebaliknya, bukan hanya tidak melarang, Tuhan sendiri dalam Perjanjian Lama pernah menyuruh Musa membuatkan patung; bukan hanya satu kali tapi malahan dua kali Ia menyuruh Musa membuatkan patung. Kisahnya bisa dibaca di dalam Kitab Keluaran 25:18-20 dan Bilangan 21:8–9.

Dalam Keluaran 25:18-20, Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat patung kerub bagi keperluan ibadah. Patung kerub itu tidak dianggap sebagai allah lain dan tidak memerlukan pemujaan. Karena tujuannya baik, maka patung kerub itu bukan hanya dibolehkan oleh Tuhan tetapi bahkan diperintahkan pembuatannya.

Patung dalam Gereja Katolik digunakan sebagai sarana rohani yang dapat membantu umat beriman mengarahkan hati kepada Allah.

Selain patung kerub dari emas tempaan, Tuhan juga menyuruh Musa membuatkan patung ular. Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. Di sini, patung ular tidak disembah sebagai allah lain, melainkan sebagai instrumen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya.

Memang, Kitab Keluaran 32:1-35 menceritakan bagaimana Tuhan marah terhadap orang Israel karena mereka membuat patung anak lembu. Mengapa Tuhan marah? Karena mereka menyembah patung anak lembu itu sebagai ‘allah lain’. Dengan ini menjadi jelas bahwa  Tuhan tidak melarang semua patung; yang dilarang oleh Tuhan adalah patung yang dibuat untuk disembah sebagai ‘allah lain’.

Dengan demikian, patung tidak identik dengan berhala. Patung bisa menjadi berhala kalau orang menyembahnya. Apakah orang Katolik menyembah patung? Jawabannya: sama sekali tidak. Gereja Katolik tak sebodoh itu untuk menyembah patung sebagai ganti Allah. Patung dalam Gereja Katolik digunakan sebagai sarana rohani yang dapat membantu umat beriman mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah. ***

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

2 COMMENTS

Subscribe
Notify of
avatar
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Elisa
Elisa
6 days ago

Sering orang berkomentar dari apa yang tidak dimengerti atau pemahaman yang sangat miskin dan merasa mengerti dan itu merupakan tindakan menunjukkan kebodohan diri. DM merasa telah beriman dang mengerti isi kitab Suci, namun sebenarnya tidak memahami karena dia mengerti dari ayat tertentu saja.merasa tahu menafsir Kitab Suci namun sebenarnya imannya sangat dangkal.karena itu orang yang mengikuti jejaknya bertobatlah dan belajarlah memahami kitab Suci dengan benar. Semoga DM bertobat.kasihan imannya masih sangat dngkal

avatar
Editor
2 days ago
Reply to  Elisa

Terima kasih sudah berkunjung ke portal JalaPress.com. Ya, itulah sebabnya disarankan agar kita membaca Kitab Suci tidak sepotong-sepotong supaya tidak jatuh ke dalam penafsiran yang keliru.

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini