Kristus Raja Semesta Alam Membuka Gerbang Firdaus bagi Mereka yang Bertobat

0
723
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Pada hari Minggu terakhir tahun liturgi, yaitu hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Adapun masuknya konsep ‘kerajaan’ ke dalam dunia kekristenan berakar pada Kitab Suci Perjanjian Lama; salah satunya seperti yang kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini.

Bacaan pertama bercerita tentang pengangkatan Daud sebagai raja Israel. Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja. Ia cukup berhasil menjadi seorang raja. Buktinya, ia memerintah sebagai raja Israel selama empat puluh tahun.

Nabi Mikha dan Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Sang Mesias akan lahir dari keturunan Daud. Nabi Mikha menuliskan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mi. 5:2).

Seperti kerajaan-kerajaan pada umumnya, takhta kerajaan biasanya diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam satu garis keturunan. Yesus lahir dari keturunan Daud. Maka, Yesus sebetulnya secara otomatis menjadi pewaris takhta kerajaan Israel.

Sayangnya, Yesus baru diakui sebagai raja ketika Ia disalibkan. Injil hari ini mewartakan hal itu. Sebagai raja yang disalibkan, di satu pihak Dia diejek, ditertawakan dan dihujat, tetapi di lain pihak Dia disembah. Itulah Kerajaan Yesus. Yesus Kristus adalah Raja yang disalibkan.

Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang sama sekali tidak kelihatan, kerajaan yang berada di balik dunia ini. Ketika Yesus ditanyakan oleh Pilatus, “Engkau inikah raja orang Yahudi?”, Ia menjawab: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh. 18:34,36).

Kerajaan Yesus bukan berasal dari dunia ini. Kerajaan-Nya berasal dari atas dan mengatasi semua kerajaan di dunia. Dia adalah raja semesta alam. Artinya, raja untuk seluruh alam semesta. Jika kerajaan-kerajaan di dunia ini serba terbatas, baik dari segi wilayah maupun kekuasaannya; tidak demikian dengan Kerajaan Yesus. Kerajaan-Nya mencakup seluruh wilayah alam semesta, dan kekuasaan-Nya kekal selamanya.

Sebagai raja semesta alam, Kristus menjamin seluruh roda kehidupan kita. Dialah puncak dan sumber hidup kita. Hal ini tergambar dengan sangat jelas dalam kalender liturgi kita. Sepanjang tahun kita melewati perayaan demi perayaan: mulai dari Adven, Natal, Prapaskah, Paskah, Pentakosta, dan berbagai perayaan lainnya sepanjang tahun; dan di akhir tahun liturgi, kita tutup dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

Apa yang terjadi dalam liturgi kita sebetulnya mengajarkan kepada kita agar kita pun menjadikan Kristus sebagai raja atas hidup pribadi kita masing-masing. Jika Yesus menjadi raja atas hidup kita, tidak ada lagi yang bisa menguasai kita selain Dia; sebab Dia adalah Raja di atas segala raja. Yang terpenting, kita dan semesta alam tunduk kepada-Nya.

Kerajaan Yesus mempunyai hubungan dengan pengampunan dosa. Karenanya, Yesus adalah Raja pengampunan dosa. Dia adalah raja semua orang yang mau mendapatkan keselamatan. Sebagai raja semesta alam, Ia akan datang untuk mengadili orang hidup dan orang mati, seperti terungkap di dalam syahadat iman kita.

Penjahat yang tergantung di salib sebelah Yesus tahu itu. Makanya Ia berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk. 23:42). Apa jawaban Yesus? Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).

Yesus membuka pintu kerajaan-Nya bagi orang berdosa yang bertobat. Hanya Yesus yang dapat mengampuni dosa; dan hanya Dialah yang dapat membawa kita ke dalam Firdaus. Karena itu, untuk menjadi warga kerajaan-Nya, kita harus bertobat dan percaya sungguh-sungguh kepada-Nya. Maka, sama seperti penjahat yang bertobat itu, kita juga berdoa: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. Amin.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.