Sejarah Para Raja: dari Keturunan Raja Israel Lahirlah Raja Semesta Alam

0
565
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Makanya, dari bacaan pertama sampai dengan bacaan Injil kita mendengar dua kata kunci: yaitu raja dan kerajaan.

Masuknya konsep ‘kerajaan’ ke dalam dunia kekristenan tentu ada latar belakangnya; dan latar belakang itu ada di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Salah satunya seperti yang kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini.

Bacaan pertama bercerita tentang pengangkatan Daud sebagai raja Israel. Tapi, Daud bukanlah raja pertama di Israel, melainkan raja yang kedua. Raja pertama namanya Saul.

Sebelum Saul diangkat menjadi raja, bangsa Israel dipimpin oleh seorang hakim pilihan Tuhan, namanya Samuel. Lambat laun, Samuel menjadi tua, ia pun mengangkat anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel, tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti dirinya. Mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

Maka, tua-tua Israel datang kepada Samuel dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (1 Sam. :5).

Tampaknya, saat itu, sudah banyak bangsa lain berbentuk kerajaan. Orang-orang Israel mau juga seperti itu. Tapi, ternyata permintaan mereka itu membuat Samuel tersinggung. Samuel merasa dirinya ditolak. Ia pun berdoa Tuhan; dan TUHAN berfirman kepadanya: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Sam. 8:7).

Samuel melakukan apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Ia berkeliling mencari seseorang yang bisa menjadi raja atas bangsa Israel. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Saul. Kitab Suci menyebutkan bahwa Saul anak seorang berada, ia seorang pemuda yang elok rupanya, dan tidak ada seorang pun dari antara orang Israel yang lebih elok daripadanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi daripada orang sebangsanya (1 Sam. 9:1-2; 10:22).

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku” (1 Sam. 9:17). Demikianlah Saul dipilih menjadi raja pertama di Israel.

Tapi, sayangnya, Saul tidak dapat memenuhi harapan Tuhan. Ia tidak menuruti firman Tuhan. Ia diperintahkan oleh Tuhan untuk mengalahkan musuh Israel, tapi yang dibuatnya malah menjarah dan merampas hak milik lawan-lawannya itu. Akibatnya, Tuhan menolak Saul sebagai raja. Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku” (1 Sam. 15:10-11).

Tuhan menyuruh Samuel mencarikan pengganti bagi Saul. Ia disuruh pergi ke seseorang yang bernama Isai, orang Betlehem. Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku” (1 Sam. 16:1).

Masalahnya, Isai mempunyai delapan orang anak laki-laki. Samuel tidak tahu anak mana yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tapi, Samuel ingat bahwa Saul itu parasnya elok, dan badannya tinggi. Ia mengira bahwa Tuhan memilih seseorang menjadi raja karena elok parasnya dan tinggi badannya. Makanya, ketika Samuel melihat Eliab, satu dari delapan anak Isai itu, ia berpikir: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya” (1 Sam. 16:6-7). Mengapa Samuel bilang begitu? Karena Eliab itu parasnya elok dan badannya tinggi.

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Sam. 16:6-7).

Ternyata Tuhan memilih Daud menjadi raja atas bangsa Israel, menggantikan Saul. Tapi, saat itu, Daud tidak ada di tempat. Dia sedang berada di ladang menggembalakan kambing domba ayahnya; sebab ia anak bungsu dari delapan bersaudara. Biasanya, anak bungsu kerjanya tukang disuruh-suruh. Kitab Suci menggambarkan bahwa ia kemerah-merahan, matanya indah, dan parasnya elok (1 Sam. 16:12).

Daud berumur tiga puluh tahun pada waktu ia menjadi raja. Ia cukup berhasil menjadi seorang raja. Buktinya, ia memerintah sebagai raja Israel selama empat puluh tahun.

Kemudian hari, Nabi Mikha dan Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Sang Mesias akan lahir dari keturunan Daud. Nabi Mikha menuliskan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mi. 5:2). Siapa Dia? Tidak lain adalah Yesus Kristus, Sang Raja Damai.

Yesus adalah Rajanya para raja. Kerajaan-Nya bukan berasal dari dunia ini, melainkan dari atas dan mengatasi semua kerajaan di dunia. Karenanya, Dia adalah Raja Semesta Alam.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.