0.2 C
New York
Saturday, March 6, 2021

Mengembangkan Bakat di Tengah Pandemi sebagai Wujud Syukur kepada Tuhan

“… Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat ….” (Matius 25:14-30)

Tuhan tentunya sudah memberikan karunia-Nya kepada kita sejak kita lahir, yaitu sebuah talenta. Ia memberikan talenta itu sama rata, tidak kurang, tidak lebih, dan tidak membeda-bedakan antar-umat yang diciptakan-Nya, sehingga tidak ada manusia yang terlahir tanpa sebuah talenta.

Tugas kita sebagai penerima talenta itu adalah berusaha mengembangkannya. Hal ini sama dengan biji pohon, yang ditanam dan dirawat dengan baik hingga berbuah lebat, buahnya itu bisa kita rasakan dan orang lain rasakan; atau dengan kata lain, buah itu berguna untuk diri kita dan sesama.  Itulah yang diinginkan Tuhan, talenta yang telah diberikan-Nya sebisa mungkin berguna, tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk sesama.

Jika dilihat-lihat masih banyak orang yang mengembangkan bakatnya hanya untuk kesenangan atau keuntungan pribadi. Nah, bagaimana cara mengembangkan Talenta untuk Pelayanan?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan niat yang kuat dan semangat Katolik untuk melakukan pelayanan, karena niat dan semangat ini penting. Jika kita tidak memiliki kedua hal tersebut, tentu saja pelayanan kita akan terasa seperti  terpaksa dan tidak sepenuh hati. Padahal, Tuhan mengajarkan kita untuk melayani secara penuh dan bersungguh-sungguh.

Kita perlu mengingat kembali bahwa bakat yang kita miliki berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, kita harus memberikan pelayanan untuk Tuhan sebagai bentuk syukur dan rasa terima kasih atas bakat yang telah diberikan-Nya.

Memang, mengembangkan bakat untuk keperluan diri kita juga tidaklah salah, tetapi kita juga perlu menyalurkan bakat kita kepada sesama dan Tuhan dalam bentuk pelayanan, baik pelayanan di gereja maupun pelayanan di lingkungan sekitar.

Di masa pandemi ini, banyak waktu yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan bakat kita. Misalnya, kita memiliki bakat menulis, kita kembangkan untuk menulis sebuah kesaksian mengenai karya Allah dalam hidup kita. Kita memiliki bakat berbicara atau bercerita di depan banyak orang, kita dapat melakukan kesaksian kepada umat Allah mengenai kasih dan anugrah Allah yang besar dalam kehidupan kita. Atau, kita memiliki bakat menyanyi atau bermain musik, kita dapat melakukan pelayanan dengan menjadi anggota koor atau pemazmur dalam perayaan Ekaristi baik pada saat ekaristi online ataupun offline.

Alangkah lebih baik jika bakat kita digunakan untuk melayani, memuji, dan menyembah Allah daripada bakat kita digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan hati Allah, seperti berkomentar jahat di media sosial ataupun membicarakan keburukan orang lain.

avatar
Natalia Tri Mulyani Haryanti
Lahir di Jakarta pada 4 Desember 2001, anak ketiga dari empat bersaudara. Saya salah satu mahasiswa aktif di Universitas Airlangga dengan program studi S1 Farmasi.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,513FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini