7 C
New York
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 61

Ingat, Tuhan Tidak Akan Mengabulkan Semua Permintaan Kita!

0
ElasticComputeFarm / Pixabay

Saya yakin dan percaya bahwa kita semua rajin berdoa. Nah, coba sesekali perhatikan bagaimana sikap kita dalam berdoa.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sadar atau tidak, kadang-kadang ketika kita berdoa, kita mengatur Tuhan, kita memaksa Tuhan. Kita mau supaya Tuhan segera mengabulkan permohonan kita. Kita berharap supaya Tuhan memberikan apa yang kita inginkan sesegera mungkin sesuai dengan kehendak kita, bukan kehendak-Nya. Makanya, banyak di antara kita merasa kecewa ketika doanya tidak segera dikabulkan oleh Tuhan.

Kita seringkali lupa bahwa tidak jarang apa yang kita minta kepada Tuhan dalam doa-doa kita sebenarnya tidak kita butuhkan. Kita minta sesuatu dari Tuhan semata-mata karena kita mau atau suka saja untuk memilikinya. Tidak jarang kita mengira bahwa setiap doa kita harus dikabulkan oleh Tuhan. Pokoknya, saya minta ini, Tuhan beri. Saya minta itu, Tuhan kasih. Padahal, Tuhan hanya akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Seandainya Tuhan harus memberikan apa saja yang kita inginkan, saya yakin Tuhan juga pasti akan tersenyum mendengar permintaan kita; karena yang namanya manusia itu tidak akan pernah puas diri. Maunya ini, maunya itu. Ya mirip-mirip seperti kalau kita pergi ke mall lah, kita melihat topi, maunya beli topi, kita melihat kaca mata, maunya beli kaca mata. Padahal belum tentu kita perlu topi atau perlu kaca mata. Makanya, Tuhan tidak akan ikut apa yang kita mau – tetapi Ia hanya memberi apa yang kita perlukan.

Kadang-kadang karena keinginan kita tidak tercapai, kita merasa bahwa doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Padahal, boleh jadi apa yang kita minta kepada Tuhan dalam doa kita tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Ingat, Tuhan tidak akan mengabulkan semua permintaan kita, tapi yakinlah, Ia akan memberikan semua kebutuhan kita. Tuhan paling tahu apa yang kita butuhkan, bahkan lebih dari diri kita sendiri.

Ingat, Tuhan tidak akan mengabulkan semua permintaan kita, tapi yakinlah, Ia akan memberikan semua kebutuhan kita. Tuhan paling tahu apa yang kita butuhkan, bahkan lebih dari diri kita sendiri.

Atau bisa jadi juga apa yang kita minta kepada Tuhan itu memang kita butuhkan, tapi waktu-Nya belum tiba (bdk. Yoh. 2:4).  Tuhan masih menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan permohonan kita. Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Untuk itu, sikap yang harus kita bangun sebenarnya adalah sikap ‘sabar menanti’. Ya, kita harus sabar menanti sampai doa-doa kita terkabulkan. Bukan sesuai dengan kehendak kita, melainkan seturut kehendak Tuhan. Jangan hanya pada saat kita menjalin hubungan LDR [long distance relationship = hubungan jarak jauh] saja kita sabar menanti. Kalau orang lagi LDR itu kan biasanya sabar sekali menunggu. Biar tidak jelas kapan ketemunya, tetap saja sabar menunggu.

Mestinya dalam hal berdoa juga demikian. Kita sabar menanti sampai Tuhan memberi jawaban atas doa-doa kita. Lagipula, bukankah kita selalu mengatakan ‘orang sabar disayang Tuhan’? Jangan mengira bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa kita. Ia mendengar doa kita. Hanya saja, kita diminta untuk bersabar menunggu. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk membalas doa kita. Jangan putus asa kalau kita ingin mendapatkan pertolongan dari Tuhan.

Mencintai Tanpa Balas

0
adamkontor / Pixabay

Cinta antar insan memang ada timbal baliknya. Namun kata orang bijak ‘lebih baik mencintai daripada dicintai.’ Rasa-rasanya kata bijak tersebut sulit diterapkan. Tidak mungkin engkau mencintai seseorang yang hatinya entah untuk siapa. Siapapun dia tentu akan sakit hati, sakit itu tidak mungkin bisa diucapkan bahkan tidak bisa dirasakan sebelum anda sendiri merasakannya. Apalagi anda menyaksikan orang yang anda cintai itu sedang bermesraan dengan ‘teman’ anda sendiri. Sangat menyakitkan bukan? Ya, memang kata bijak ‘lebih baik mencintai daripada dicintai’ dapat diterapkan untuk mengobati luka.

Mencintai sekedar kata-kata mungkin hal yang mudah. Berbeda dengan mencintai dengan sepenuh hati. Tidak heran rasa sakit itu sungguh dalam bila melihat orang yang dicintai malah bersama orang lain. Benarkah ini kenangan yang pantas dikenang?. Cinta insani pada hakekatnya saling memberi dan menerima. Tidak luput dari rasa cemburu, karena merasa itu ‘miliknya”, seorang yang ia cintai. Tidak heran jika curiga melihat orang yang ia cintai, lebih akrab dengan orang lain. Karena itu adalah cinta yang sebenar, bukan sekedar cinta dimulut.

Ya, kata Pujanggga ‘Cinta tak harus memiliki.” Namun perkataan tersebut menyimpan kesedihan yang dalam. Mencintai tanpa harus memiliki adalah menjaga jodoh orang lain. Apalagi jika yang anda cintai itu ‘direbut’oleh orang lain yang juga ‘teman’ anda sendiri. Jika kisah yang anda alami harus jadi kenangan, maka jadikanlah kenangan. Hapuskanlah ‘seseorang’ yang kamu cintai itu dalam memorimu meskipun sulit untuk melepasnya. Mungkin orang yang dia pilih yang terbaik untuknya. Dan kamu adalah orang yang terbaik karena dapat melepasnya meskipun sakit. Tenang, di ujung sana telah menunggu pula ‘seseorang’ yang lebih mensyukuri kehadiranmu sebagai pacarnya.

Bila orang yang kamu cintai bermain dibelakanganmu, cobalah main di depannya. Mungkin dia akan sadar bahwa kamu selalu berharap menatap wajahnya setiap waktu. Jika pacarmu tidak mensyukuri dan mengakui keberadaanmu. Bisikkanlah padanya bahwa kehadirannya sungguh berarti, meskipun dia sendiri tidak menghargai itu. Ingatlah dia telah melukiskan pelangi dalam kalbumu, meskipun ketika ia melukis amat menyakitkan. Ya, bunga mawar itu indah namun berduri. Lihatlah indahnya bukan durinya, meskipun engkau tak dapat memilikinya lagi.

Bila rasa cintamu tanpa balas, balaslah dengan cinta yang tulus. Meskipun engkau tahu ketulusanmu itu akan dikhianati. Jangan takut, teruslah mencintai walau hanya bayangnya bersama ‘kekasih’ barunya. Seperti kata orang bijak “Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.” Mencintainya adalah bahagia, bahagia karena ia telah menjadi milik orang lain, bahagia melihatnya bersama yang lain. Meskipun sedih karena berpisah dengan alasan yang tidak jelas.

 

Sebelum Maut Memisahkan

0
scottwebb / Pixabay

Jangan pernah membuat orang yang kamu cintai merasa sendirian saat ia masih berada di sisimu. Ingatlah bahwa tak semua orang merelakan waktu dan hidupnya untuk berbagi denganmu, bahkan uang pun tak mampu membeli waktu.

Maka jaga dia yang selalu ada untukmu. Syukurilah kehadirannya, apapun keadaannya dan cintailah dia apa adanya, sebelum maut memisahkan.

Jangan sampai kamu baru menyadari arti kehadirannya saat ia telah pergi, atau kamu baru menyadari arti kebersamaan dengannya setelah perpisahan abadi. Itu sudah terlambat.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Perlunya Berpuasa dan Berpantang bagi Pengikut Kristus

0

Sudah diterangkan pada tulisan sebelumnya bahwa puasa kita orang Katolik bukan sekedar untuk turunkan berat badan. Yang begitu itu namanya diet. Puasa jangan disamakan dengan diet.  Karena itu, puasa kita harus lebih dari sekedar tidak makan dan tidak minum.

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Puasa harus bisa mengantar kita pada sikap tobat. Mengapa? Karena kita ini adalah orang-orang sakit, orang-orang yang berdosa. Kita perlu membangun sikap tobat supaya kita bisa sampai kepada Yesus. Hanya dengan cara ini, maka puasa kita menjadi berarti. Jika tidak, puasa kita hanya sebatas tidak makan dan tidak minum tok. Yesus sendiri pernah bersabda: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:31-32). Jadi, dengan berpuasa, kita membangun sikap tobat.

Puasa adalah kerelaan secara sadar, tahu, dan mau untuk melepaskan diri dari segala kedekatan dan kelekatan pada hal-hal yang berpotensi menjauhkan diri kita dari Tuhan: misalnya makanan, pakaian, hobi, kesenangan, dan sebagainya. Jadi, puasa kita bertujuan agar kita lebih terbuka dan total dalam memberikan diri bagi Tuhan dan sesama.

Dengan berpuasa (dan berpantang), kita juga diharapkan mampu membebaskan diri dari segala macam sifat dan perilaku negatif: misalnya cemburu, dengki, irihati, sombong, egois, suka menebar kabar bohong, senang mengutarakan ujaran kebencian, cenderung fitnah, dan sebagainya. Jadi, bagi kita, puasa merupakan cara untuk mencapai sikap tobat yang baik.

Namun, pertobatan bukan ucapan bibir semata; melainkan harus bisa ditunjukkan lewat perubahan cara hidup ke arah yang lebih baik. Artinya, jika selama ini kita hanya sibuk memikirkan diri sendiri dan mengutamakan kepentingan diri (egois), maka upaya pertobatan yang dimulai dengan berpuasa (dan berpantang) membantu kita untuk membuka belenggu itu dan mulai melihat kebutuhan orang lain yang ada di sekitar kita.

Karena itu, Tuhan bersabda: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes. 58:6-7).

Puasa yang dikehendaki Tuhan menurut Yesaya, dapat ditemukan dalam ekspresi: memberi makan orang yang lapar, melindungi para gelandangan, dan membebaskan orang yang tertindas. Artinya, dengan berpuasa kita berharap lebih bebas memberikan diri kita dalam pelayanan kepada orang lain.

Dengan berpuasa (dan berpantang), kita tahu bagaimana rasanya menjadi lapar, apa artinya hidup dalam kekurangan; sehingga kita dapat dengan mudah berempati terhadap mereka yang susah. Puasa kita hanya akan mempunyai arti jika kita mau menolong sesama yang membutuhkan. Kita mengurangi jatah makan kita dengan maksud supaya kita bisa menyisihkannya untuk memenuhi kebutuhan dari mereka yang membutuhkan bantuan kita. Tidak cukup hanya tidak makan dan tidak minum tapi tidak berbuat kebaikan terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Jadi, dengan berpuasa (dan berpantang), kita diharapkan terpanggil untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Puasa Menurut Kitab Suci

0
rovin / Pixabay

Pertama, masa Prapaskah adalah masa pertobatan sebagai persiapan untuk merayakan kebangkitan Yesus. Tiga hal utama yang dianjurkan Gereja pada masa ini ialah doa, puasa (pantang dan matiraga), dan amal-kasih (KHK Kan 1249). Memang, Gereja hanya menetapkan dua hari tersebut sebagai hari puasa. Tetapi, harus diingat bahwa peraturan ini hanyalah menetapkan tuntutan minimal yang berlaku untuk semua orang. Tentu saja, boleh melakukan ulah-tapa lebih daripada yang dituntut. Prakarsa pribadi dan sifat sukarela menjadi tanda yang sangat berarti dalam pertobatan kita. Keseriusan dan ketulusan kita bisa mendorong untuk berpuasa lebih sering. Puasa membebaskan kita dari keterikatan pada kebutuhan dasar untuk makan dan dengan demikian membuat manusia lebih peka dan terbuka kepada kehendak Allah.

Kedua, memang Yesus tidak secara eksplisit menggariskan ajaran tentang puasa bagi murid-murid-Nya, tetapi semangat puasa Yesus nampak sangat
jelas dalam desakannya untuk melepaskan diri dari kekayaan (Mat 19:21) dan nafsu seksual (Mat 19:12), dan terutama dalam ajaran-Nya tentang penyangkalan diri serta memanggul salib (Mat 10:38-39).

Sikap lepas-bebas dari aneka tawaran duniawi yang menggiurkan yang diungkapkan dalam penyangkalan diri hanya mungkin dilakukan secara serius melalui puasa. Maka puasa memainkan peran penting dalam hidup rohani kristiani. Masa Prapaskah pernah disebut masa puasa. Ini menunjukkan pentingnya puasa dalam hidup rohani kristiani. Puasa Yesus selama 40 hari menjadi model puasa kristiani.

Anjuran Yesus agar kita berpuasa nampak secara jelas dalam Khotbah di Bukit (Mat 6:17-18). Yesus menekankan sisi rohani puasa, yaitu dengan kesungguhan hati terarah kepada Tuhan, mewujudkan pengharapan kepada Allah dan untuk dekat dengan Allah.

Ketiga, memang Kitab Suci tidak banyak membahas tentang puasa. Namun demikian, kita bisa menemukan banyaknya pembahasan tentang motivasi
berpuasa.

Seperti ditekankan oleh Yesus, berpuasa bukanlah untuk pamer dan mendapatkan pujian dari sesama (bdk Mat 6:16) atau untuk menyombongkan
diri (Luk 18:12). Tujuan berpuasa bukanlah untuk kepentingan atau kepuasan diri sendiri, tetapi berpuasa itu sama dengan “merendahkan diri” di hadapan Allah (Im 16:29.31) agar lebih dekat dengan Allah, atau agar Allah campur tangan dalam suatu hal melalui tindakan atau rahmat-Nya.

Ketika seorang berpuasa untuk seluruh hari (2Sam 12:16; Yun 3:7), motivasi yang mendasarinya haruslah untuk pertobatan, yaitu berpaling kepada Allah, artinya menumbuhkan sikap bergantung dan menyerah penuh kepada Allah.

Dalam Kitab Suci bisa ditemukan aneka motivasi untuk berpuasa, misalnya memohon kekuatan Allah sebelum melakukan tugas berat (Hak 20:26; Est 4:16), memohon ampun atas kesalahan (1Raj 21:27), mohon kesembuhan (2Sam 12:16.22), tanda berkabung sebagai janda (Ydt 8:5; Luk 2:37), silih setelah bencana nasional (1Sam 7:6; 2Sam 1:12; Bar 1:5; Zef 8:19), mohon berakhirnya bencana (Yl 2:12-17; Ydt 4:9-13), untuk membuka pikiran seseorang pada pencerahan Tuhan (Ul 10:12), untuk memohon rahmat yang perlu untuk menyelesaikan suatu tujuan (Kis 13:2-3), untuk menyiapkan seseorang bertemu Allah (Kel 34:28). Yesus berpuasa untuk mengawali misi mesianis-Nya (Mat 4:1-4).

Paulus berpuasa untuk melayani (2 Kor 6:5; 11:27). Agar berkenan kepada Tuhan, puasa yang benar tidak boleh bersifat autis atau rohani saja, tetapi harus diungkapkan juga dalam cinta kepada sesama dan harus mengikutsertakan usaha mencari keadilan sejati (Yes 58:2-11). Aneka motivasi ini menunjukkan pentingnya peran puasa dalam hidup rohani kristiani.

Penulis: P. Dr. Petrus Maria Handoko CM [Tulisan ini pernah dimuat oleh Majalah Hidup]

Ketika Frater Berpuisi dari Pengalaman Nyata

0
Gambar ilustrasi oleh ThoughtCatalog / Pixabay

Puisi adalah inkarnasi dari pertemuan antara pribadi dengan rahmat (inspirasi). Seorang penyair yakin bahwa inspirasi merupakan roh yang selalu berinkarnasi untuk jadikan mata melihat lebih jauh dan hati untuk lebih yakin.

Pertemuan antara literasi dan pribadi merupakan awal perjalanan mengatualisasikan diri pada kehidupan antara pangalaman indah dan pergulatan, cita-cita dan harapan yang menemukan perlidungan dalam tulisan. Puisi hanya salah satu bentuk untuk pertemukan pribadi, pengalaman, ideologi, budaya, kepercayaan, gaya hidup, bahkan sebuah pertemuan dengan alam dan misteri yang transandans. Kualitas pertemuan sangat mungkin akan mempengaruhi puisi yang dihasilkan.

Peradaban menunjukkan bagaimana literasi mengubah dunia oleh kalimat-kalimat yang menyentuh seorang secara pribadi. Ia memberi wajah baru pada dunia dengan dandanan-dandanan kata yang performatif. Literasi begitu dekat dengan kaum religius, pertapa, sufi dan dari mereka lahir tulisan-tulisan yang menginspirasi. Alkitab menyajikan kisah-kisah dengan gaya bahasa yang indah juga kata-kata puitis akan sangat mempengaruhi seorang penyair yang dekat dengan Kitab Suci. Kitab Suci sendiri memuat kumpulan kitab yang bergaya bahasa puisi seperti kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotabah, Kidung Agung, Kebijaksanaan dan Sirakh. Dalam sejarah gereja kita mengenal beberapa figur opologetik yang mempertahankan iman dengan literasi. Gereja yang dibangun dari iman dan akal budi itu tak akan pernah asing dari literasi untuk mengajar dan menginspirasi.

Ada banyak sosok penyair Katolik khususnya dari kaum religius, di sini saya ingin menyebut empat figur pertama Santo Yohanes Paulus II (1920-2005), paus dan penyair. Ia menulis kumpulan puisi buah meditasinya tentang penciptaan dunia dan keindahannya. Sosok kedua, Santa Teresia dari kanak-kanak Yesus (1873-1897), seorang biarawati Karmel. Ia menulis banyak puisi. Pada tahun 2013 dirilis sebuah album lagu yang diambil dari puisi-puisi St. Teresia dari kanak-kanak Yesus oleh Natasha St Prier dan diberi judul Thérèse, vivre d’amour sebuah lagu cinta yang dinyanyikan bersama penyanyi Indonesia Anggun Cipta Sasmi. Dua penyair lain adalah Santo Yohanes dari salib dan Santo Epfrem, seorang teolog penyair. Dari kalangan awan Katolik pun ada penyair yang menjadikan puisi sebagai ekspresi perjalanan iman seperti Victor Hugo.

Puisi pada dasarnya sebuah petuangan spiritual baik dalam keberuntungan dan keterpurukan, dalam kekurangan maupun kelimpahan, dalam sepi dan sendiri maupun dalam keramaian dan hiruk-pikuk, puisi menampakkan hubungan dengan jiwa. Kita semua terlahir sebagai penyair dalam kepekaan dan rasa ingin tahu sebagai bocah yang mengkontemplasikan semua hal.

“Frater berpuisi?” merupakan sebuah pertanyaan kecil. Tulisan pun ini hanya suatu ulasan sederhana berdasarkan pengalaman pribadi sebagai frater yang mengekspresikan diri lewat puisi. Penyair pertama-tama adalah orang yang percaya pada kata-kata dan mengunakannya secara bijak karena ia sadar bahwa ia hanyalah media yang dipercayakan roh untuk berinkarnasi. Jika agama Kristen lahir dari inkarnasi “sabda menjadi manusia dan tinggal di antara kita” maka berinkarnasi adalah essensi menjadi kristen dalam kata dan perbuatan. Pengalaman hidup terutama kisah-kisah perjalanan, pertemuan, perpisahan, alam masih jadi tema ketika saya berpuisi.

“Jadi Puisi”// Imaginasi yang tersesat dalam kegelisahan jadi puisi//
Ujud pribadi yang tak sempat didaraskan dalam doa bersama jadi puisi//
Ketakutan-ketakutan yang tumbuh dari jarak jadi puisi//
Pertentangan-pertentangan yang diam jadi puisi//
Pertanyaan-pertanyaan yang kubungkan jadi puisi//
Sabda yang kurang kupahami jadi puisi//
Cinta, persahabatan, keluarga, dan agama jadi puisi//
KAU ikutan jadi puisi//
… aku harus membacamu dari tempat tersembunyi//
mengajakmu ke mimbar khotba//

Setiap orang dipanggil untuk memberikan telinganya pada kata, hatinya pada hening yang kadang lebih gaduh. Puisi meyentuh sebagian besar perasaan dan pikiran yang kadang membuka jalan menuju iman dan menemukan yang trasenden, Tuhan. Yeah, frater berpuisi! Frater berpuisi dengan berbagai tujuan. Dalam puisi, saya mencari sosok yang abadi, kisah yang lebih bermakna, pengalaman negatif, juga Tuhan yang kadang hilang dalam kata-kata. Berpuisi adalah jalan pulang pada tradisi dimana simbol, kata, dan gambar memberi pelajaran iman dan perjalanan rohani, sebuah pembebasan.

Laku Puasa Katolik

0

Pertama, pernyataan puasa Katolik itu bukan soal makan dan minum harus diartikan bahwa dalam berpuasa, yang terpenting bukan soal jasmaniah, karena hal ini hanyalah sarana mencapai suatu tujuan. Maka, soal tidak makan dan tidak minum, tidak boleh dijadikan lebih penting daripada tujuan dari puasa itu sendiri. Puasa haruslah merupakan ungkapan pertobatan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama.

Dengan mengorbankan kenikmatan makanan dan minuman, kita membuat diri kita “lapar” akan Tuhan dan kehendak-Nya. Puasa membuat kita lebih terbuka dan peka terhadap kuasa Allah yang membebaskan dari keterlekatan kepada dosa, memperkuat sikap tegas kita melawan nafsu dosa, dan menyembuhkan luka-luka dosa. Tujuan batiniah inilah yang harus lebih diperhatikan dan ditekankan dalam menjalankan puasa.

Kedua, tujuan batiniah untuk mendekatkan diri kepada Allah tetap perlu diungkapkan secara lahiriah- jasmaniah, karena kita adalah makhluk berjiwa badan. Tirakat dan keprihatinan dengan tidak makan dan tidak minum mewujudkan dan mengkonkretkan niatan batiniah dan keseriusan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, tetap dibutuhkan peraturan Gereja sebagai acuan berkaitan dengan makan dan minum, meskipun hal ini bukan tujuan akhir berpuasa. Tirakat dan keprihatinan ini mengingatkan kita agar selama masa Prapaskah ini, makanan yang disediakan juga cukup sederhana, tak berlebihan, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Peraturan puasa dalam Gereja Katolik adalah peraturan yang berlaku bagi semua tingkatan usia, mulai dari yang termuda sampai tertua. Maka, peraturan ini sifatnya minimal. Puasa dalam Gereja Katolik wajib dilakukan dua kali selama masa Prapaskah, yaitu Rabu Abu dan Jumat Suci.

Puasa berarti boleh makan kenyang satu kali dalam sehari, sedangkan pada kesempatan lain boleh makan sedikit, tidak sampai kenyang. Persyaratan yang minimalis ini tentu bisa ditingkatkan melalui prakarsa pribadi, misal makan dan minum hanya dilakukan satu kali saja, bukan dua kali, dan di luar itu sama sekali tidak makan. Puasa juga bisa dilakukan bukan hanya dua kali, tapi sepanjang masa Prapaskah, selama 40 hari. Praktik puasa yang hanya makan satu kali dan selebihnya tidak makan dan minum itu sangat mirip dengan puasa Islam, tetapi tanpa sahur.

Ketiga, menurut ajaran Gereja Katolik, pertobatan kita “hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perseorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial-kemasyarakatan.” (SC 110). Ungkapan lahiriah tak makan dan tak minum saja belum cukup, jika tidak diungkapkan secara sosial-kemasyarakatan, seperti yang diungkapkan Nabi Yesaya, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah- mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-9). Tindakan-tindakan konkret diungkapkan bersama dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP).

Keempat, puasa 40 hari masa Prapaskah kita ini didasarkan puasa Yesus selama 40 hari sesudah pembaptisan- Nya (KGK 538-540; 2043). “Oleh masa puasa selama 40 hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.” (KGK 540). Ada 40 hari biasa dari Rabu Abu sampai Sabtu Paskah. Hari Minggu tidak dihitung, karena itu Hari Tuhan

Penulis: P. Petrus Maria Handoko CM [Yang pernah dimuat dalam Majalah Hidup]

Beginilah Puasa yang Dikehendaki Tuhan

0

Kita seringkali mereduksi istilah ‘puasa’ (dan pantang) dengan hanya sebatas tidak makan dan tidak minum. Padahal, sesungguhnya, puasa kita bukan soal tidak makan dan tidak minum saja. Paulus sendiri pernah berkata: “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:14-17).

Puasa yang hanya sebatas tidak makan dan tidak minum, itu namanya diet. Rasa-rasanya Tuhan tidak mengurus soal diet. Bagi kita orang Katolik, puasa (dan pantang) tidak bisa dilepaspisahkan dari upaya kita untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tuhan berfirman: “Berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh” (Yl. 2:12). Jadi, hal terpenting dari berpuasa dan berpantang adalah bagaimana kita mencari Tuhan.

Kita berpuasa dan berpantang bukan untuk dilihat orang; bukan untuk dipamer. Yesus melarang cara yang begitu itu. Yesus bilang Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” (Mat. 6:1). Jika puasa dan pantang kita bertujuan untuk pamer, kita hanya akan mendapat pujian dari orang di sekitar kita, tapi tidak mendapat upah dari Tuhan.

Yesus sendiri berpesan: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, upaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:16-18).

Tuhan mau supaya dengan berpuasa dan berpantang, mestinya ada perubahan di dalam di hati; jadi bukan penampilan luarnya. Makanya dikatakan, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (Yl. 2:13). Jadi, tujuan berpuasa dan berpentang adalah mencari hadirat Tuhan, merendahkan diri dan memohon ampun dan pemulihan dari Tuhan.

Karena itu, Tuhan bersabda: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes. 58:6-7).

Umat Menangisi Kepindahan Seorang Imam

0

Peristiwa mengharukan ini terjadi di Keuskupan Amboina. RD. Inno Ngutra menyampaikan tanggapan terhadap peristiwa tersebut. Ia menyampaikan sebuah tulisan sebagai sebuah renungan bagi para iman agar melaksanakan tugas pelayanan dengan tulus dan penuh pengabdian.

Sekedar untuk direnungkan:

Engkau adalah Imam Kristus untuk selamanya.

Pertama-tama salut kepada ade Fery….maka tepatlah ade Fery menjadi misionaris pertama dari Keuskupan Amboina. Harumkanlah nama para Imam di mana pun ade ditugaskan nanti.

Pengalaman ade Fery ini menyadarkan kita semua, para imam bahwa ketika kita benar2 melayani sebagai seorang gembala yang baik maka Tuhan pasti memberi hiburan, kekuatan dan peneguhan lewat ekspresi umat seperti pengalaman ade Fery ini. Sebaliknya, ketika kita tidak melayani umat dengan sungguh2 maka selalu ada cerita tentang bosannya umat terhadap kita sehingga hampir setiap saat terutama setiap menjelang Retret dan Muspas, mereka selalu berharap agar kita segera pindah dari paroki atau lembaga di mana kita bertugas.

Tapi inilah kekuatan kita para imam; di antara 100 umat yang tidak senang terhadap kita pasti ada beberapa yang mencintai kita, bukan karena mereka kompromi dgn kekurangan dan kelemahan kita, tetapi karena mereka sangat mencintai imamat kita. Sebaliknya, di antara 100 yang suka dan senang terhadap kita, selalu saja ada yang tidak suka terhadap kita karena beragam alasan baik karena ulah kita sendiri, maupun karena reaksi mereka atas kebijakan-kebijakan kita di tengah pelayanan kita yang meresahkan.

Karena itu sejenak kita bertanya diri secara jujur di sore ini, “Apa reaksi umat atau bawahan di lembaga terhadapku sebagai gembala (pimpinan) mereka saat ini?”

Semoga saja senangnya umat terhadap kita semakin meningkatkan kualitas pelayanan kita. Sebaliknya dengan kritikan mereka semakin membuat kita sadar untuk berjuang menjadi pastor bonus di tengah umat yang kita layani saat ini.

Engkaulah imam Kristus sampai selamanya

Rinnong – Duc in Altum

Penulis: RD. Inno Ngutra

 

 

Asal Mula Perayaan dan Penggunaan Abu

0

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.

Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)*

Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.

Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.

Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.

Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.

Sementara kita mencamkan makna abu ini dan berjuang untuk menghayatinya terutama sepanjang Masa Prapaskah, patutlah kita mempersilakan Roh Kudus untuk menggerakkan kita dalam karya dan amal belas kasihan terhadap sesama. Bapa Suci dalam pesan Masa Prapaskah tahun 2003 mengatakan, “Merupakan harapan saya yang terdalam bahwa umat beriman akan mendapati Masa Prapaskah ini sebagai masa yang menyenangkan untuk menjadi saksi belas kasih Injil di segala tempat, karena panggilan untuk berbelas kasihan merupakan inti dari segala pewartaan Injil yang sejati.” Beliau juga menyesali bahwa “abad kita, sungguh sangat disayangkan, terutama rentan terhadap godaan akan kepentingan diri sendiri yang senantiasa berkeriapan dalam hati manusia … Suatu hasrat berlebihan untuk memiliki akan menghambat manusia dalam membuka diri terhadap Pencipta mereka dan terhadap saudara-saudari mereka.”

Dalam Masa Prapaskah ini, tindakan belas kasihan yang tulus, yang dinyatakan kepada mereka yang berkekurangan, haruslah menjadi bagian dari silih kita, tobat kita, dan pembaharuan hidup kita, karena tindakan-tindakan belas kasihan semacam itu mencerminkan kesetiakawanan dan keadilan yang teramat penting bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini.

Penulis: P. William P. Saunders *

Pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria. Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”