2.5 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 66

Pesawat Paus Mendarat di Abu Dhabi

0

Pesawat kepausan mendarat di Abu Dhabi pada hari Minggu malam. Pangeran Mahkota Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan hadir menyambut Paus ketika turun dari Pesawat. Banyak anak-anak dengan memakai pakaian tradisional memberi hadiah dan karangan bunga kepada Paus Fransiskus. Kemudian Paus menyapa teman lamanya dalam dialog, Imam Besar Al-Azhar, Amed el Tayet.

Seperti diketahui, tema kunjungan Paus kali ini adalah “Jadikan aku saluran damai-Mu”. Tema tersebut hendak menyerukan kepada masyarakat dunia agar hidup berdampingan secara damai dan membuang prasangka serta ideologi yang memecah belah.

Logo perjalanan Paus bermotif burung merpati yang membawa ranting, seolah menggambarkan tujuan kunjungan Paus untuk mewartakan perdamaian dan harapan bagi umat manusia.

 

Kamu Juga Tidak Sempurna

0
Seaq68 / Pixabay

Satu hal yang pasti adalah bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan sesuatu atau seseorang. Segala sesuatu memiliki alasan dan tujuan.

Jika saat ini kamu tidak tahu alasan dan tujuan akan sesuatu yang sedang kamu kerjakan, tetaplah bersabar dan tekun berusaha. Akan ada saatnya dimana kamu menuai apa yang kamu tanam. Sukses sedang menunggumu di depan sana dan percayalah bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.

Jika saat ini kamu tidak memahami orang yang hadir dalam hidupmu, jangan putus asa. Bisa jadi dengan kehadirannya kamu sedang diajak untuk lebih rendah hati memahami, lebih terbuka berkomunikasi, lebih jujur bersikap atau lebih lembut bertutur kata. Setiap orang unik, tiada duanya. Dan keunikan itu adalah anugerah untuk saling melengkapi satu sama lain.

Bila kamu merasa sia-sia dengan apa yang kamu kerjakan atau merasa sakit hati dan kecewa dengan orang yang hadir dalam hidupmu, janganlah cepat-cepat menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. Lihatlah ke dalam diri sendiri dahulu. Bisa jadi semua ini karena kesalahan, kelalaian, keangkuhan, kemalasan atau ketidak-tahuan dirimu sendiri.

Kadang lebih mudah bagi orang untuk melihat selumbar di mata orang, sedangkan balok di mata sendiri tidak mau dilihat. Lebih mudah menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri. Padahal belum tentu orang lain yang menjadi sebab kegagalan atau kekecewaan yang sedang dialami.

Belajarlah dari kesalahan. Sadarilah kelalaian. Runtuhkan keangkuhan. Usirlah kemalasan dan bangunlah dari ketidak-tahuan. Siapa tahu di sana, kamu bisa menemukan alasan dan tujuan pencarian hidupmu.

Hidup tidak selamanya memberikan apa yang kamu harapkan karena selalu ada ruang misteri yang mengajak untuk lebih peka dan terus belajar memahami. Seperti orang lain, kamu juga tidak sempurna.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, MSF

Pisah-Sambut Pastor Paroki Matraman

0

Pada hari Minggu (3/2/2019) Gereja St. Yoseph, Paroki-Matraman-Jakarta Timur melaksanakan kegiatan perpisahan dengan Pastor Paroki; Pastor Dominikus Beda Udjan, SVD dan Pastor Lucius Y. Tumanggor, SVD. Adapun Pastor Domi telah melayani kurang lebih 8 tahun. Sementara Pastor Lucius telah melayani kurang lebih 4 tahun lamanya. Kegiatan ini diadakan setelah terlebih dahulu diadakan Misa pengangkatan Dewan Paroki yang baru. Misa dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Agung Jakarta, RD. Samuel Pangestu.

Pada kesempatan perpisahan tersebut kedua Pastor menyampaikan kesan-pesan selama melayani di Paroki Matraman. Sontak seluruh umat yang berkumpul menyambut dengan tepuk tangan. Adapun umat sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Kemudian Vikjen Keuskupan Agung Jakarta menyampaikan sepatah kata. Ia meminta awam agar bekerja sama dengan pastor paroki dan pada saat tertentu awam tidak perlu bergantung pada pastor terus menerut (pastor sentris). Awam harus diberdayakan dan melaksanakan pelayanan dengan sepenuh hati. “Awam perlu diberdayakan sehingga tidak bergantung pada pastor semata pada kondisi tertentu,” kata Vikjen Samuel Pangestu.

Selain itu, Pastor yang menggantikan Pastor Dominikus B. Udjan, SVD dan Pastor Lucius Y. Tumanggor, SVD juga menyampaikan sambutan dan sepatah kata. Pastor Servatius Dange, SVD dan P. Antonius Lelaona, SVD memohon doa dan kerja sama dengan umat dalam melanjutkan tugas-tugas pelayanan yang telah dimulai oleh Pastor Dominikus B. Udjan, SVD dan Pastor Lucius Y. Tumanggor, SVD. Kegiatan pisah-sambut tersebut diakhir dengan ramah tamah dan foto bersama mulai dari kategorial hingga seksi.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Foto: Michael Saputra

Paus akan berkunjung ke Uni Emirat Arab, Tiket Misa Habis

0

Paus Fransiskus akan tiba di Uni Emirat Arab malam ini dan berada di sana selama tiga hari, mulai tangagl 3 hingga 5 Februari 2019. Kunjungan Paus kali ini merupakan perjalanan apostolic yang ke-27 di luar Italia, sekaligus sebagai Paus pertama yang berkunjung ke Semenanjung Arab. Seperti diketahui, Rencananya, Selasa (5 Februari 2019), Paus Fransiskus akan mengadakan Misa terbuka bersama umat Katolik di Unit Emirat Arab. Adapun Misa tersebut dilangsungkan di Zayed Sports City, Abu Dhabi.

Panitia pelaksana misa telah menyediakan tiket sebanyak 135.000 bagi umat yang ingin menghadiri Misa. Dilaporkan sejak pekan lalu, antrian umat yang datang di loket tiket meningkat. Panitia melaporkan bahwa tiket habis karena begitu banyak permintaan dari umat. Oleh sebab itu, panitia membuat kebijakan baru yaitu dengan sistem perutusan. Maka setiap keluarga hanya boleh mengutus satu orang untuk mengikuti Misa. “Para pencari tiket menunjukkan banyak kesabaran dan tekad untuk mendapatkan akses ke Misa ini. Sudah ada antrian panjang sekitar pukul 4.30 sore, meskipun distribusi tiket baru dimulai pukul 6 sore.” kata salah satu volunteer Lucy Pascua di Gereja Katolik St Mary, Dubai seperti dilansir Vaticannews.va

Vikariat Apostolik Arab Selatan (AVOSA) memperkirakan ada 1 juta umat Katolik yang tinggal di Unit Emirat Arab. Vikariat Apostolik Arab Selatan merupakan yurisdiksi resmi Gereja Katolik yang bertanggung jawab atas UEA, Oman, dan Yaman.

Paduan Suara Dari Berbagai Negara

Para peserta koor berasal dari berbagai negara yakni Indonesia, Filipina, India, Lebanon, Suriah, Yordania, Armenia, Prancis, Italia, Nigeria, Amerika, Belanda, dan Argentina. Paduan suara multinasional tersebut beranggotakan 120 orang, terdiri dari penyanyi dari sembilan gereja di UAE untuk memeriahkan Misa pada kunjungan Paus kali ini. Sebelumnya ada sekitar 283 orang yang mengikuti audisi untuk koor pada Misa tersebut, namun yang terpilih hanya 120 orang. Paduan suarat tersebut akan dipimpin oleh Joy Santos dari Filipina.

12 Diakon Keuskupan Amboina Menerima Tahbisan Imamat

0

Keuskupan Amboina bersukacita atas di tahbiskannya 12 Imam baru di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Sabtu (2/2/2019). Adapun imam yang ditahbiskan terdiri dari 10 Imam Diosesan Amboina dan 2 imam Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Tahbisan tersebut dihadiri oleh umat dari berbagai paroki dan keuskupan.

Mari kita doakan mereka supaya menjalankan tugas perutusan dengan hati yang tulus dan penuh sukacita.

Proficiat untuk Keuskupan Amboina

Dominus Vobiscum

 

Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap Resmi Menjadi Uskup Medan

0

Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Agung Medan (Sabtu, 2/2/2019) oleh duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Piero Pioppo.

Sementara itu Uskup Emeritus Keuskupan Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap bertindak sebagai penahbis pertama yang didampingi oleh Uskup Keuskupan Padang, Mgr. Martinus D. Situmorang. Upacara penahbisan tersebut dihadiri oleh ribuan umat dari berbagai paroki dan keuskupan di seluruh Indonesia.

Mari kita doakan agar Roh Kudus senantiasa mengiringi langkah pelayanan dan penggembalaan beliau.

Proficiat untuk Keuskupan Agung Medan

Tim JalaPres.com

“DEUS MEUS ET OMNIA”

Kekuatan Kata-kata

0
walesjacqueline / Pixabay

Kata-kata dapat mencerahkan pikiran yang beku, dapat pula menguras air mata dari hati yang paling keras. Kata-kata bisa membawa damai dan terang, bisa juga memunculkan benci dan dendam.

Kata-kata bisa memberi keteduhan ketika sedang dalam kekalutan, bisa juga mempercepat kematian. Kata-kata dapat membangkitkan motivasi dan optimisme, dapat pula menghilangkan harapan dan semangat hidup. Kata-kata dapat menyembuhkan, dapat pula menyakitkan.

Kata-kata bisa mendamaikan, kata-kata bisa menghasut. Kata-kata dapat membuat orang terhina, kata-kata dapat membuat orang merasa berharga. Kata-kata membangkitkan kenangan, kata-kata membuat orang lupa diri.

Kadang kata-kata lebih tajam dari pedang, tapi lebih indah dari lukisan, lebih sejuk dari oase padang gurun. Luka fisik yang ditorehkan oleh pedang atau benda lainnya dapat disembuhkan, dan suatu hari sakitnya bisa hilang. Tapi luka batin yang disayatkan oleh kata-kata membekas lama.

Maka, gunakanlah dengan bijak dan sugestikanlah dirimu dengan kata-kata yang positip agar hidupmu seindah lukisan atau sesejuk oase di padang gurun.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Tidak Semua Yang Memakai Kalung Salib Itu Katolik (Strategi Pelaku Bom Bunuh Diri di Jolo-Sulu)

0

“Militer tidak bisa “merabah” (mencek) perempuan pelaku bom bunuh diri karena berpura-pura mengikuti misa dan juga karena menggunakan salib besar di dadanya”; kata Duterte. (Hindi naman aniya maaring kapkapan ng military ang babaeng suicide bomber dahil nagpanggap itong nagsisimba at may nakasuot pang malaking krus sa dibdib).

Salibku adalah kemenangan dari dosa. Salibku adalah kemenangan dari hawa nafsu. Salibku adalah jalan pembebasan dari angkara murka dan benci. Salibku adalah imanku.

Tapi mengapa engkau tega melecehkan salibku, engkau tega menodai salibku untuk memuaskan nafsu bejatmu, untuk memuluskan kebiadabanmu yang menewaskan 22 nyawa mereka yang tak berdosa yang sedang memuji kemuliaan Allah dalam Misa Kudus?

Tubuhmu berbalut jacket hitam, sebuah tas ransel menindih pundakmu. Sebuah salib besar terkalung di lehermu. Polisi dan tentara yang sedang berjaga tak sempat melakukan pengecekan padamu, lantaran mereka percaya bahwa engkau adalah seorang perempuan, seorang ibu Katolik yang hendak mengikuti misa bersama di Katedral Jolo-Sulu pagi itu.

Rencanamu mulus dan berhasil lantaran tipu dayamu menggunakan Tanda kemenangan Kristus yang kuimani. Tak peduli tubuhmu sebagai seorang ibu hancur berkeping-keping, lantaran siasat kebiadabanmu telah memporakporandakan misa kudusku, telah menewaskan dan melukai puluhan umat tulus mencintaimu tanpa menaruh prasangka buruk padamu.

Engkau jadikan salib imanku untuk sebuah kejahatan. Engkau legalkan kebiadabanmu dengan salib imanku, seakan salib adalah sebuah pengkhianatan. Semua televisi dan media cetak Pilipina mewartakanmu dengan pasanganmu, seakan kalian adalah pahlawan. Namun bagikut tidak. Kalian hanya seonggok sampah bau busuk yang telah membusuki imanku dan telah membusuki pertiwiku.

Setiap kali nama pertiwiku disebut oleh para pewarta Pilipina, setiap kali itu pula pesan masuk melalui sms, messenger kepadaku walau hanya menyampaikan; “Padre, yang membom Katedral Bunda Maria dari Gunung Karmel-Jolo-Sulu adalah pasangan suami-isteri Indonesia”.

Malu dan menyakitkan ketika naluri keagamaanmu yang kalian perjuangkan hanya untuk membunuh dan mengakhir hidup insan lain. Ketika organisasimu dibubarkan oleh pemerintah negeriku, protes dan ujaran kriminalisasi selalu menjadi tameng untuk membela kebiadabanmu.

Dan kini ketika kebiadabanmu melumpuri wajah pertiwiku, ketika kejahatanmu melukai salibku, adakah suara kaummu menuding dan menghakimimu? Tidak. Mereka sepertinya puas dan bangga, mendewakan kebiadabanmu yang tak lebih dari seorang serigala yang memangsa anaknya sendiri.

Yang lebih menyakitkan, bahkan melukaiku ketika salibku, imanku engkau jadikan jalan untuk memuluskan niat bejatmu membunuh dan melukai insan agamaku. Salibku adalah imanku dan bukan untuk membunuh.

Pesan moral dari strategi memuluskan pemboman di Katedral Bunda Maria dari Gunug Karmel-Jolo-Sulu: “Tidak semua yang memakai kalung salib atau membuat tanda salib, pasti Katolik”. Waspadalah!!

Manila, Pebrero-02-2019

Pater Tuan Kopong, MSF

Sumber: https://radyo.inquirer.net/160713/duterte-mag-asawang-indonesian-na-suicide-bomber-nasa-likod-ng-pagsabog-sa-jolo-sulu/jolo-bomb3?fbclid=IwAR1YTuqvgoCtWc9Q0M8Yxvb17ZVnGtGepGshFwgjJ7SkoRTq5FfcZgMk1wM#ixzz5eLWlbkxj

 

Mempertaruhkan Tenaga, Tubuh bahkan Nyawa

0
12019 / Pixabay

Saya mendapat kesempatan untuk melayani umat di stasi-stasi Perkebunan Kelapa Sawit selama masa Natal. Jika dihitung, ratusan bahkan ribuan umat di areal perkebunan sawit menghadiri perayaan malam natal dan hari raya natal.

Untuk mencapai stasi-stasi tersebut, saya harus melewati keadaan jalan yang menantang. Di musim hujan, jalanan licin sehingga kendaraan bisa amblas atau tertanam di tanah. Jika musim panas, jalanan berdebu dan bergelombang.

Saya tinggal bersama umat di stasi selama pelayanan. Banyak di antara mereka mendapatkan izin cuti sehingga bisa terlibat penuh selama persiapan hingga perayaan. Entah apa yang mereka rasakan, yang jelas saya menangkap antusiasme dan suka cita dari raut wajah mereka.

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu pengalaman yang sangat menyentuh hati. Saya memperhatikan dan merasakan beberapa di antara mereka memiliki telapak tangan yang (maaf) keras dan kasar. Saya terenyuh dan tersentuh menyadari bahwa hidup ini adalah perjuangan yang keras dan kasar. Bahkan saya harus menahan air mata agar tidak mengalir.

Sesuap nasi diperoleh dengan pengorbanan tanpa kenal lelah. Mereka rela membiarkan kulit tubuh terbakar matahari, tak peduli telapak tangan menjadi keras dan kasar, tak mengapa badan kurus atau keriput, tak jarang harus dimarahi atau dibentak atasan atau rekan kerja.

Yang mereka pikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan hidup. Begitu pula dengan perjuangan setiap orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Apa pun kesulitan dan penderitaan yang dialami, orang tua hanya ingin anak-anak sukses dan bahagia.

Saya bermenung. Kadang ketika ada satu hal sepele saja yang membuat saya mengeluh, begitu mudahnya saya lakukan hal itu. Padahal ternyata ada orang yang sebenarnya memiliki lebih banyak alasan untuk mengeluh atau marah, tetapi mereka memilih diam dan terus berjuang. Mereka membiarkan telapak tangannya menjadi keras dan kasar tanpa keluhan terkatakan dari bibir.

Memang secara manusiawi, mereka pasti capek, sakit, menangis. Tetapi kenyataan bahwa mereka tetap bertahan dalam pekerjaannya menunjukkan bahwa mereka setia dan pantang menyerah. Mereka berjuang dalam peluh, mempertaruhkan tenaga, tubuh bahkan nyawa demi hidup dan masa depan.

Selamat berjuang saudara-saudariku. Terima kasih telah mengajari saya tentang arti kesetiaan dan syukur. Hidup ini memang sebuah perjuangan yang keras dan kasar. Siapa yang menyerah, dialah pecundang. Siapa yang terus bertarung, dialah pemenang. Dan ada banyak alasan untuk selalu bersyukur. Doaku selalu menyertaimu!

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, MSF

Posisi Pastor dalam Politik

0
3dman_eu / Pixabay

“Apakah politik itu kotor sehingga para Pastor tidak terlibat dalamnya?” Tanya seorang teman.

Tidak terdengar tentang geliat para pastor dalam bidang politik, tentunya membuat banyak orang penasaran. Bisa jadi mereka pikir, para pastor ‘alergi’ dengan segala yang berbau politik.

“Politik itu seni.” Saya menjawab sambil mengingat-ingat mata kuliah “Gereja dan Politik” yang pernah saya dapatkan di bangku kuliah. “Menurut Aristoteles, seorang filsuf Yunani, politik (polis = kota) dipahami sebagai tata cara mengelola kota (negara) untuk kesejahteraan bersama seluruh warga. Politik merupakan seni mengelola kekuasaan dengan konstitusi (politeia) demi kesejahteraan bersama (bonum commune). Sayang dalam prakteknya, politik lebih cenderung dialami sebagai perebutan kekuasaan dengan menghalalkan segala macam cara. Itulah yang membuat politik dipandang kotor. Tetapi saya tetap berpandangan bahwa politik adalah seni.”

“Kalau politik itu seni, kenapa para pastor tidak terlibat di dalamnya? Ia masih mendesak.

“Gereja Katolik bersifat hirarkis. Setiap struktur memiliki peran dan wewenang masing-masing. Dalam bidang politik, ada pembedaan antara politik etis dan politik praktis. Kaum hirarkis (Paus, Uskup, Imam, Diakon) dan biarawan-wati bergerak dalam level politik etis dan tidak dalam politik praktis. Sedangkan kaum awam, yang merupakan mayoritas dalam Gereja, bergerak dalam politik praktis. Gereja mendukung awam yang berkecimpung dalam politik praktis”

“Wow, menarik! Anyway, kenapa para uskup, imam, serta biarawan-biarawati tidak terlibat dalam politik praktis?”

“Politik praktis dipahami sebagai keterlibatan langsung dalam menduduki posisi legislatif, yudikatif, eksekutif, atau dalam sebuah partai politik atau gerakan politik tertentu. Kalaupun terpaksa menduduki jabatan politis tertentu maka harus terlebih dahulu mendapatkan izin resmi dari Roma. Undang-undang Dasar Gereja (Kitab Hukum Kanonik) sudah mengaturnya. Dalam Kanon 287, dikatakan bahwa para klerus tidak diperbolehkan ‘ambil bagian aktif dalam partai politik.’ Hal ini demi menjaga objektivitas dan netralitas pelayanan gerejawi. Para uskup, imam dan bahkan kaum biarawan-biarawati merupakan simbol dan kekuatan yang mempersatukan umat katolik. Maka, kalau terlibat dalam politik praktis atau gerakan politik tertentu bisa memecah-belah umat sendiri. Misalnya pada suatu ketika karena demi menjaga tuntutan partai atau pendukungnya dan harus berseberangan dengan umat beriman katolik lainnya, kredibilitas sebagai simbol dan kekuatan sebagai pemersatu dan pemimpin umat akan jatuh atau semakin lemah. Maka, pimpinan Gereja tidak terlibat dalam politik praktis.”

“Terus, apa maksud politik etis bagi para hirarkis?”

“Sebagai seni mengatur kekuasaan untuk mencapai kesejahteraan bersama, kaum hirarkis memainkan peran politik etis. Hal ini dipahami sebagai upaya menyuarakan suara kenabian dan membangun dialog bersama kaum awam dan masyarakat tentang realitas politik dalam kaitan dengan ajaran iman dan moral Gereja. Hal itu dilakukan lewat usaha menghimpun dan memberi pendampingan iman, ilmu dan pembentukan karakter kristiani kepada awam supaya menjadi ‘terang dan garam dunia’ melalui bidang politik praktis yang dijalani.”

Demikianlah… … …..

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, MSF