13 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 72

Seorang Terduga Teroris ISIS Ditangkap

0
caldeclara / Pixabay

Polisi Italia telah menangkap seorang pria Somalia berusia 20 tahun yang diduga sebagai anggota ISIS yang berencana melakukan tindakan pengeboman di berbagai gereja di Italia, khususnya menargetkan Basilika Santo Petrus di Vatikan pada hari Natal.

Senin lalu, polisi Italia mengatakan kepada wartawan di kota Bari bahwa seorang pria yang diidentifikasi bernama Omar Mohsin Ibrahim ditahan pekan lalu, karena didakwa menghasut dan mendukung terorisme. Pasukan khusus polisi Italia, DIGOS, mengatakan pria itu diduga terkait dengan ISIS yang beroperasi di luar Somalia. Dia ditangkap setelah operasi pengintaian selama sebulan, ketika dia mencoba meninggalkan kota Italia.

Cuplikan percakapan yang diperoleh melalui penyadapan mengungkapkan rencana untuk melakukan tindakan pengeboman di gereja-gereja di seluruh Italia, khususnya menargetkan Basilika Santo Petrus pada hari Natal.

“25 Desember akan tiba. Tanggal 25 Hari Natal. Gereja-gereja penuh. Mari letakkan bom di semua gereja di Italia. Di mana gereja terbesar? Itu di Roma. ”

Dia dicurigai sebagai militan ISIS sebelum pindah ke Italia. Percakapan lain yang didapat yakni yang bersangkutan mendukung penembakan di pasar Natal Strasbourg di Prancis yang merenggut nyawa lima orang. Setelah insiden itu, polisi Italia meningkatkan keamanan di seluruh gereja di Italia menjelang Natal, di mana banyak orang berkumpul, terutama Basilika Santo Petrus.

Sumber: https://www.ucatholic.com/news/suspected-isis-terrorist-arrested-over-plans-to-bomb-st-peters-basilica-on-christmas/?fbclid=IwAR3gwP8LPAtjDuTPDc3SMVrHqJOXKvrMyQ73WNfg_EOnZK3EAZkX0mLSE2o

Perkembangan Terakhir Terkait Pemotongan Salib Pada Nisan

0
Salam Indonesia !
Sehubungan dengan kasus pemotongan salib dan pemindahan ibadat arwah salah seorang umat di Paroki Pringgolayan Daerah Istimewa Yogyakarta, kemarin, 19 Desember 2018, tim _Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan DIY_ selama hampir sehari penuh melakukan penyapaan kepada keluarga korban, pengumpulan data _(fact finding)_, koordinasi dengan tokoh-tokoh umat Gereja Paroki Pringgolayan, pertemuan dengan berbagai pihak (tokoh lintas iman di FPUB, Kapolsek, Danramil), serta pertemuan dengan tim pencari fakta FKUB DIY/tim Kanwil Depag. Sebagai kepanjangan tangan dari Gereja tim KKPKC Kevikepan DIY berusaha merespon krisis seoptimal mungkin dengan pengutamaan keselamatan korban. Secara umum berikut adalah hasil yang bisa kami sampaikan kepada publik :
 
1. Benar bahwa terjadi pemotongan salib makam.
2. Status makam pada saat terjadi pemakaman (sejauh pelacakan tim di lapangan) adalah makam umum.
3. Bahwa peristiwa intoleransi yang dialami almarhum dan keluarga bukan peristiwa tunggal, tim mencatat ada dua peristiwa kekerasan lain yang terjadi sebelum peristiwa ini terjadi. Peristiwa sebelumnya ini sudah sampai pada ancaman kekerasan fisik.
4. Almarhum dan istri sangat baik dan diterima di masyarakat, almarhum adalah aktivis kampung (pelatih koor di kampung), istri adalah ketua organisasi perempuan di kampung. Ini membuat spontanitas dukungan warga kampung pada saat persiapan dan penyemayaman jenazah berjalan dengan baik.
5. Interaksi warga dengan keluarga sangat baik, tetapi ada sekelompok orang pendatang dengan dukungan luar yang memberi tekanan fisik dan psikis secara langsung maupun tidak langsung melalui sebagian warga.
6. Surat pernyataan yang beredar awalnya diterima istri almarhum dalam bentuk print jadi, dibawa oleh 7 (tujuh) orang dari pihak kelurahan, polsek, koramil, dan pengurus kampung. Surat ditandatangani istri almarhum. Penjelasan yang diberikan kepada istri almarhum adalah untuk mengatasi isu yang berkembang luas di media sosial.
 
Beberapa point penegasan KKPKC Kevikepan DIY kepada pihak aparat keamanan dan pemerintah adalah :
1. Adanya pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945
2. Lindungi dan bela Hak-hak Asasi Manusia dan hak-hak dasar warganegara Republik Indonesia.
3. Tugas aparat adalah melindungi yang kecil dan lemah, bukan hanya menekan yang kecil agar selalu mengalah dan menciptakan _”harmoni sosial semu”_.
4. Ada ancaman serius pada hidup bersama kita sebagai masyarakat dan hidup bersama kita sebagai satu Indonesia.
5. Apa yang sedang kita perjuangkan bersama adalah tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan soal minoritas mayoritas.
Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan DIY berkomitmen penuh untuk mengawal kasus ini sampai tuntas.
Demikian penjelasan ini dibuat untuk melaporkan secara publik langkah apa yang sudah dilakukan tim KKPKC Kevikepan DIY, sekaligus meluruskan beberapa hal yang kurang benar yang beredar di lapangan.
 
Hormat kami,
 
_Tim KKPKC Kevikepan DIY_
 
·…………………………………………………..
Wahai Menteri Hukum dan HAM mana suaramu? Wahai pemerintah setempat apakah masih berpegang pada UUD 1945 pasal 29 atau sekarang setiap Kampung dibuat UUD sesuai agama yang dianut? [tambahan pemosting].

Natal Sudah Dekat! Jangan sampai Kita Gagal Fokus

0
Gambar ilustrasi oleh jill111 / Pixabay

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta kelahiran Sang Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus. Kita tinggal menghitung hari untuk bisa sampai pada perayaan Natal yang sudah ditunggu-tunggu itu. Bagaimana dengan persiapan kita menjelang perayaan sukacita itu?

Selama ini, Natal selalu identik dengan kue, ornamen, kandang Natal, Santa Klaus, dan sebagainya. Rasa-rasanya ada yang kurang jika salah satu dari sekian unsur ini tidak disiapkan sebelum Natal. Tapi, kita harus tahu bahwa jangan sampai kita gagal fokus dan mengalihkan perhatian kita dari makna Natal yang sesungguhnya ke hal-hal yang seharusnya menjadi tambahan saja.

Ingat, Natal bukan cerita tentang kue, ornamen, ataupun tentang pohon dan kandang Natal. Natal merupakan peristiwa kelahiran Sang Juruselamat kita. Ia yang Mahatinggi turun ke dunia dan menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Inilah makna Natal yang sesungguhnya, yang tidak pernah boleh kita abaikan begitu saja.

Yesus, yang kita rayakan kelahiran-Nya saat Natal, tidak datang untuk mencicipi kue atau melihat keindahan pernak-pernik Natal yang kita siapkan. Ia datang untuk melihat hati kita; dan Ia mau bersemayam di hati kita. Percuma kita siapkan kue banyak-banyak dan ornamen yang indah-indah, sementara hati kita masih penuh dengan rasa dengki, fitnah, iri, dan berbagai perasaan buruk lainya.

Kita memang harus menyiapkan palungan untuk Tuhan; tapi palungan yang sejatinya tidak lagi berada di kandang Natal, melainkan di hati kita. Artinya, bagaimana kita sungguh-sungguh mempersiapkan hati kita untuk Tuhan bersemayam.

Berbahagialah dan bersukacitalah sebab Dia yang kita nantikan sudah semakin dekat. Ia yang datang itu adalah pembawa damai dan sukacita. Maka, tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk tidak bahagia pada saat Natal. Boleh jadi, kue Natal belum disiapkan; ornamen dan pohon Natal belum ada; jangan kuatir. Itu hanya tambahan saja dari serangkaian peristiwa Natal.

Paulus berpesan “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp. 4:6). Jadi, jangan kuatir tentang kue, tentang baju baru, tentang THR, pohon dan ornamen Natal, dan tentang macam-macam. Kita hanya cukup berdoa, memohon, dan mengucap syukur. Itu saja.

Ingat, sumber kebahagiaan dan sukacita kita saat Natal adalah kelahiran Yesus, Sang Juruselamat kita, bukan yang lain. Karena itu, Natal merupakan perayaan syukur atas kepedulian Tuhan terhadap hidup kita. Ya, Allah peduli terhadap hidup kita. Ia tidak tidur. Makanya Ia mau menjadi manusia sama seperti kita. Bukankah ini merupakan kabar baik yang harus disambut dengan penuh sukacita?  Mari, kita nantikan kelahiran Sang Juruselamat kita dengan penuh sukacita. ***

DIA (Hanya) Butuh Hatimu

0
Gambar: Google.com

Saudara/i terkasih di dalam Kristus.

Natal sudah dekat. Ya.  Seminggu lagi. Bagaimana persiapan kita? Atau, mungkin lebih tepat, apa yang sudah dan sedang kita siapkan?

Sebut saja, di tingkat paroki atau stasi, kita sudah membentuk panitia perayaan dan sudah mulai bekerja, misalnya mempersiapkan teks liturgi dan aneka petugas liturgi, petugas keamanan, koor, bersih lingkungan di sekitar tempat perayaan, gua atau kandang Natal yang indah, lampu berwarna, kembang api, bunga-bunga yang indah dan bahkan mungkin menyiapkan hewan ‘korban’ untuk perayaan Natal bersama. Di level pribadi atau keluarga, mungkin kita sudah membeli busana Natal model terbaru, sudah pesan kue atau roti yang paling enak, mengubah model potongan rambut dan menyiapkan kado tertentu untuk orang yang kita kasihi. Dan masih banyak persiapan lainnya.

Bagaimana dengan hati kita? Sudahkah kita mempersiapkan hati? Bagi saya, pertanyaan ini penting diajukan. Tentu saja karena yang kita nantikan itu adalah Raja segala raja yang hanya butuh keterbukaan hati kita. DIA Raja yang hanya membutuhkan  hati. DIA Raja hati kita; Raja yang mengubah hati kita. Palungan-Nya adalah hati kita. Kandang atau gua-Nya adalah hati kita. Karena itu, yang pantas disiapkan secara serius lebih dari segalanya adalah palungan, kandang atau gua hati kita.

Bagaimana mempersiapkannya? Dengan membersihkan hati kita dari segala kotoran dosa. Ya, siapa pun kita, apapun ‘jubah’ yang kita pakai, apapun status sosial kita, kita tak kebal dari kotoran dosa. Kita pendosa. Kesadaran ini seharusnya mendorong kita datang di hadapan Tuhan untuk mengakui kerapuhan kita dan memohon rahmat pengampunan-Nya.

Tentang ini, Gereja Katolik membuka ruang bagi kita agar menerima Sakramen Tobat (Pengakuan Dosa) sebelum perayaan Natal. Umat diberi kesempatan mengakui segala dosanya di hadapan Tuhan dan memohon rahmat pengampunan. Umat ditantang datang di hadapan imam atau uskup untuk mengakui segala kerapuhannya. Tindakan ini pun sesungguhnya adalah ungkapan kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama. Dan, hanya orang yang rendah hati yang mau mengakui dosanya. Lain tidak!

Pengakuan dosa yang dilandasi kerendahan hati ini mendatangkan sukacita-kelegaan di hati. Sukacita-kelegaan ini tak terkatakan. Mengapa? Karena Tuhan yang Maharahim itu menganugerahkan pengampunan atas segala dosa yang telah diakui. Kita sudah dibebaskan dari segala lumpur dosa. Kita telah menjadi manusia baru. Kita dilahirkan kembali menjadi anak yang semakin berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tidakkah kita layak bersuka cita? Tentu harapan selanjutnya, kita berjuang membarui diri agar jauh lebih baik dari sebelumnya. Dalam hal ini, sukacita pengampunan yang kita terima dari Tuhan memberikan semangat baru bagi kita dalam membarui diri.

Menurut saya, setelah kita membersihkan hati kita lewat penerimaan sakramen Tobat, kita lebih ‘percaya diri’ merayakan Natal. Kita merasa layak menyambut Kristus. Dan, DIA pasti lahir di hati kita; lahir mengubah kita menjadi manusia baru; lahir menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Apa yang saya renungkan ini tak hendak memaksa saudara/i untuk mengakui dosa. Itu sepenuhnya tergantung pada diri kita masing-masing. Apalagi dalam penerimaan Sakramen Tobat, unsur penyesalan dan kesadaran pribadi (tanpa paksaan) sangat dihargai. Sebab, pengampunan itu memang hak Tuhan, tetapi keterbukaan hati (kesadaran pribadi) juga tak kalah penting.

Apa yang saya bagikan ini juga tak bermaksud mengajak saudara/i menghentikan segala persiapan lain (persiapan ‘fisik’), termasuk aneka pesta seputar Natal. Saya hanya mengajak kita agar tak lupa dengan hal yang paling penting dalam hidup kita sebagai orang beriman yakni MEMPERSIAPKAN HATI. Persiapan lain itu tak boleh mengaburkan apalagi mengabaikan persiapan hati. Toh Sang Raja itu hanya butuh HATI kita sebagai palungan, gua atau kandang-Nya.

Sudah Anda mempersiapkan hatimu? Sudahkah Anda menerima Sakramen Tobat? ***

Nisan Umat Dilarang Pakai Salib

0

Beberapa jam yang lalu sempat viral suatu berita yang berisi isu intoleransi. Sebuah keluarga yang memperingati arwah dari anggota keluarga yang telah meninggal dilarang oleh sekelompok orang. Bukan hanya itu, salib yang terpasang di nisan pun dilarang dan terpaksa dipotong sehingga membentuk huruf ‘T’. Seperti diketahui, Salib pada makam Albertus Slamet Sugiardi di Pemakaman Jambon, RT 53 RW 13, Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarata dipotong karena desakan warga kampung tersebut.

Pengurus Gereja Santo Paulus Pringgolayan Kotagede, Agustinus Sunarto mengatakan, saat mendengar kabar umatnya meninggal pada Senin 17 Desember 2018, pihak keluarga menginginkan agar jenazah dimakamkan di komplek pemakaman di depan gereja. Namun permintaan keluarga itu tidak bisa dikabulkan karena almarhum bukan warga setempat. Oleh sebab itu, Sunarto berdialog dengan Bedjo Mulyono, seorang tokoh masyarakat Purbayan. Alhasil disepakati bahwa jasad  Slamet dikubur di komplek makam Jambon RT 53 RW 13, Purbayan, Kotagede, tidak jauh dari kediaman almarhum.

“Sekitar pukul 13.00 ada kabar kalau lokasi makamnya almarhum tak boleh di tengah komplek makam, warga minta makam Slamet dipinggirkan. Saya jawab ‘oke, enggak masalah’,” ujar Sunarto seperti dilansir oleh Tempo.co

Namun setelah itu Sunarto mengaku mendapat pesan pendek yang meminta agar saat pemakaman Slamet berlangsung tidak boleh ada doa dan upacara jenazah sesuai permintaan kampung. “Saya jawab juga, ‘enggak masalah tak ada doa dan upacara jenazah’,” ujarnya.

Saat pemakaman Slamet usai dan keluarga menancapkan tanda salib di atas pusara, ada keberatan dari warga. Akhirnya nisan salib itu digergaji dan tinggal membentuk huruf T. Pihak gereja dan keluarga tak mempermasalahkan salib itu dipotong.

“Lalu saat malam hari keluarga akan menggelar doa arwah di rumah almarhum Slamet, ternyata dilarang juga oleh kampung. Akhirnya doanya dipindah ke Gereja Santo Paulus ini,” ujarnya.

Sunarto menuturkan, saat keluarga akan menggelar tirakatan untuk doa bersama di depan rumah itu, pihak kampung juga tidak bisa menyediakan perangkat seperti tenda, meja kursi dan lainnya. Alasannya karena saat itu sedang tidak ada yang bisa menyewakan perangkat untuk tirakatan doa. “Jadi akhirnya tidak ada tenda, meja, kursi untuk keluarga almarhum,” ujarnya.

Ketua RT 53 RW 13 Soleh Rahmad Hidayat menuturkan  warga memang tak membolehkan ada ibadat dan doa untuk jenazah Slamet di rumahnya. Soleh berdalih hal itu sudah menjadi permintaan warga.

Termasuk tak bolehnya ada simbol kristen di komplek pemakaman itu karena sudah menjadi permintaan warga yang ingin menjadikan komplek makam itu khusus muslim. “Kesepakatan (setuju kalau salib dipotong) itu awalnya tidak tertulis, lalu dibuat tertulis,” ujar Soleh.

Soleh mengatakan tak adanya simbol kristianisani di makam itu sudah menjadi aturan tak tertulis dari warga. “Namanya sudah aturan kalau dilanggar nanti malah jadi konflik,” ujarnya.

Benarkah Kidung Agung 5:16 Menubuatkan Seorang Nabi? Kamu Harus Tahu!

6
cocoparisienne / Pixabay

Seorang pemuda bertemu dengan saya dan berkata, apakah benar ada nubuat seorang nabi dalam Kidung Agung 5:16 seperti yang saya tonton di youtube?. Saya tidak langsung menjawab. Saya mencoba mencari sumber dari pandangan itu. Setelah saya temukan ada sebuah juplikan doa yang didaraskan oleh orang Yahudi ketika berdoa di depan tembok ratapan. Doa itu merupakan kutipan dari Kidung Agung 5:16 yang berbunyi, חכו ממתקים וכלו מחמדים זה דודי וזה רעי בנות ירושלם Dibaca, “Khikko mamtaqqim wekhullo Mukhammadim ze dodee weze r’ee baynot Yerushalam”

Bagaimana bunyi Bahasa Indonesianya?

“Kidung Agung 5:16 Kata-katanya manis semata-mata, dia semuanya bagus. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.” [terjemahan KJV)

“Kid. 5:16 “Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku.”[LAI]

Benarkah ayat itu mengandung Nubuat ?

Tidak! Kitab Kidung Agung bagian dari kitab-kitab hikmat, sehingga tidak berisi nubuat. Oleh sebab itu, satu ayat yang dikutip di atas perlu dibaca secara utuh dalam kesatuan dengan ayat lain sebelum dan sesudahnya. Mari kita lihat perikop di mana ayat 5:16 berada:

[5:1 –Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku, kukumpulkan mur dan rempah-rempahku, kumakan sambangku dan maduku, kuminum anggurku dan susuku. Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta!

5:2 Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!”

5:3 “Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?”

5:4 Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku.

5:5 Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku, tanganku bertetesan mur; bertetesan cairan mur jari-jariku pada pegangan kancing pintu.

5:6 Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.

5:7 Aku ditemui peronda-peronda kota, dipukulinya aku, dilukainya, selendangku dirampas oleh penjaga-penjaga tembok.

5:8 Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem: bila kamu menemukan kekasihku, apakah yang akan kamu katakan kepadanya? Katakanlah, bahwa sakit asmara aku!

5:9 –Apakah kelebihan kekasihmu dari pada kekasih yang lain, hai jelita di antara wanita? Apakah kelebihan kekasihmu dari pada kekasih yang lain, sehingga kausumpahi kami begini?

5:10 –Putih bersih dan merah cerah kekasihku, menyolok mata di antara selaksa orang.

5:11 Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak.

5:12 Matanya bagaikan merpati pada batang air, bermandi dalam susu, duduk pada kolam yang penuh.

5:13 Pipinya bagaikan bedeng rempah-rempah, petak-petak rempah-rempah akar. Bunga-bunga bakung bibirnya, bertetesan cairan mur.

5:14 Tangannya bundaran emas, berhiaskan permata Tarsis, tubuhnya ukiran dari gading, bertabur batu nilam.

5:15 Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih, bertumpu pada alas emas murni. Perawakannya seperti gunung Libanon, terpilih seperti pohon-pohon aras.

5:16 Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.]

Kiranya jelas bahwa yang dimaksud adalah dia (perempuan). Seperti diketahui, penulis Kitab Kidung Agung adalah Salomo/Sulaiman. Jika demikian maka tulisan yang ia tulis ditujukan kepada kekasihnya (perempuan). Salomo dalam perikop itu memuji keelokan, keindahan, keanggunan kekasihnya. Hal itu ia sampaikan kepada puteri-puteri Yerusalem. Jika hal ini dipaksakan sebagai nubuat dari ‘seorang nabi’ maka akan fatal karena Salomo mengagumi seorang laki-laki, padahal pada ayat sebelumnya ia kekasihnya (perempuan).

Selama ini umat beriman tidak pernah mendengar pengajaran bahwa Salomo seorang HOMO, bukan?. Jadi klaim yang beredar di youtube dan berbagai media itu tidak benar alias HOAX.

“Khikko mamtaqqim wekhullo Mukhammadim ze dodee weze r’ee baynot Yerushalam”

Kata ‘Mukhammadim’ artinya dia semuanya bagus [KJV] atau segala sesuatu padanya menarik [LAI]. Siapa dia yang dimaksud atau siapa yang segala sesuatu yang ada padanya menarik? Tidak lain adalah kekasih Salomo. Karena Songs Of Salomon sebagian besar berisi kekaguman akan keelokan, keindahan perempuan/kekasih Salomo. So, bagi tukang klaim berhenti membuat lelucon yang membuat banyak orang tertawa.

Tambahan untuk disimak, jawaban dari apologet Nabeel Qureshi: https://www.youtube.com/watch?v=J2CV5Z2NWp8

Penulis: Silvester Detianus Gea

Selasa 17 Desember 2019, Paus Fransiskus Merayakan Ulang Tahun ke-83

0
Pope Francis delivers a speech from the porch in St.Peter's Square at the Vatican during an audience with Catholic volunteers of the Confederazione nazionale delle Misericordie D'Italia (National Confederation of Mercy of Italy) on June 14, 2014. AFP PHOTO / Filippo MONTEFORTE

Paus Fransiskus adalah Paus Gereja Katolik Roma ke 266. Paus Fransiskus berasal dari Argentina, Amerika Latin yang pertama dalam sejarah Gereja Katolik. ia menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI pada tanggal 13 Maret 2013.

Berikut Biodata Paus Fransiskus:

Data diri

Nama lengkap : Jorge Mario Bergoglio
Tanggal lahir : 17 Desember 1936
Tempat lahir : Buenos Aires, Argentina
Warganegara : Argentina (dan Vatikan)
Agama : Katolik Roma

Karir dan jabatan

Uskup Agung Buenos Aires (1998-2013)
Kardinal Imam Gereja San Roberto Bellarmino (2001–2013)
Ordinaris untuk umat Gereja Katolik Ritus Timur di Argentina (1998-2013)
Uskup Auksilier Buenos Aires (1992-1997)
Uskup Tituler Auca (1992-1997)

Tanggal penugasan

Penahbisan : 13 Desember 1969
Konsekrasi : 27 Juni 1992
Menjadi Kardinal : 21 Februari 2001

Tim JalaPress.com mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-83 kepada Paus Fransiskus.

 

Benarkah Rasul Paulus Memalsukan Injil? Kamu Harus Tahu!

0

Banyak orang non-Kristen menuduh bahwa Injil telah dipalsukan. Meskipun ketika Anda meminta mereka menunjukkan Injil asli, mereka sendiri tidak mampu menunjukkannya. Mereka selalu menggunakan model debat ‘asal ngotot’ daripada debat akademik.

Tudahan semacam itu tentu saja tidak mempunyai dasar dan data yang kuat, mungkin seperti pepatah mengatakan ‘tong kosong nyaring bunyinya.’ Oleh sebab itu, jika berhadapan dengan pertanyaan ataupun tuduhan serupa, umat beriman sebaiknya menjawab atau menanggapi dengan santai tapi berbobot. Ingat, Gereja Katolik tidak pernah kekurangan data sedikitpun mengenai praktik dan ajarannya, bahkan data yang paling kuno sekalipun.

Benarkah pertanyaan dan tuduhan soal Rasul Paulus yang memalsukan Injil? Berikut ulasannya:

Pertama, tanyakan kepada si penuduh darimana sumber data yang mengatakan Injil yang kita pakai saat ini sudah palsu. Setelah ia tunjukkan data yang ia punya, coba tanyakan juga kira-kira tahun berapa data tersebut ada dan ditulis. Jika data itu muncul ratusan tahun setelah Injil ditulis, maka dapat dipastikan bahwa itu HOAX.

Kedua, perlu ditunjukkan juga data-data dari abad pertama hingga abad kedua untuk membantah tuduhan yang tidak berdasar itu.

  1. Irenaeus (180). [1]

St. Irenaeus dalam bukunya yang berjudul ‘Against the Heresies‘, buku III, bab 1, 1 mengatakan, “Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun atas para rasul dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita … Matius … menulis Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma … Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga meneruskan kepada kita sevara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan oleh Paulus. Selanjutnya Yohanes, murid Tuhan Yesus…juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.” [2]

[1. We have learned from none others the plan of our salvation, than from those through whom the Gospel has come down to us, which they did at one time proclaim in public, and, at a later period, by the will of God, handed down to us in the Scriptures, to be the ground and pillar of our faith. For it is unlawful to assert that they preached before they possessed perfect knowledge, as some do even venture to say, boasting themselves as improvers of the apostles. For, after our Lord rose from the dead, [the apostles] were invested with power from on high when the Holy Spirit came down [upon them], were filled from all [His gifts], and had perfect knowledge: they departed to the ends of the earth, preaching the glad tidings of the good things [sent] from God to us, and proclaiming the peace of heaven to men, who indeed do all equally and individually possess the Gospel of God. Matthew also issued a written Gospel among the Hebrews in their own dialect, while Peter and Paul were preaching at Rome, and laying the foundations of the Church. After their departure, Mark, the disciple and interpreter of Peter, did also hand down to us in writing what had been preached by Peter. Luke also, the companion of Paul, recorded in a book the Gospel preached by him. Afterwards, John, the disciple of the Lord, who also had leaned upon His breast, did himself publish a Gospel during his residence at Ephesus in Asia.]

  1. Origen (185-254)[3]

Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew mengatakan bahwa, “Injil pertama kali ditulis oleh Matius, seorang pemungut cukai/publican yang kemudian menjadi Rasul Yesus Kristus. Ia menulis Injil untuk umat Yahudi dalam bahasa Ibrani. Injil kedua ditulis oleh Markus, seorang juru tulis St. Petrus, yang telah diangkat sebagai anak (bdk. 1 Pet. 5:13). Injil ketiga ditulis oleh Lukas untuk umat non-Yahudi yang dibawakan oleh Rasul Paulus, dan setelah itu, Injil Yohanes.

[Concerning the four Gospels which alone are uncontroverted in the Church of God under heaven, I have learned by tradition that the Gospel according to Matthew, who was at one time a publican and afterwards an Apostle of Jesus Christ, was written first; and that he composed it in the Hebrew tongue and published it for the converts from Judaism. The second written was that according to Mark, who wrote it according to the instruction of Peter, who, in his General Epistle, acknowledged him as a son, saying, The church that is in Babylon, elect together with you, salutes you; and so does Mark my son.1 Peter 5:13 And third, was that according to Luke, the Gospel commended byPaul, which he composed for the converts from the Gentiles. Last of all, that according to John.].

Berdasarkan beberapa data di atas, dapat diketahui bahwa Injil pertama ditulis sekitar 8-15 tahun setelah kenaikan Yesus ke surga (antara tahun 38-45 AD). Sementara itu, Injil yang ditulis oleh Markus dan Lukas diperkirakan pada antara tahun 64-67; dan Injil Yohanes antara tahun 90-100.

Ketiga, Rasul Paulus tidak mungkin memalsukan Injil, kok bisa?

  1. Banyak saksi yang telah menerima pengajaran dari Injil Matius dan Markus, sehingga apa yang ditulis dalam Injil Lukas (rekan Paulus) dapat dicek kebenarannya.
  2. Jika benar telah dipalsukan, maka tentu ada data tertulis yang menolak pemalsuan itu, karena banyak saksi mata yang masih hidup, yang menerima pengajaran dari Yesus dan para rasul. Sebagai contoh, penolakan terhadap ajaran sesat Gnostik, Manikheisme, Arianisme, Montanisme, Ebionit, Collyridianisme yang muncul pada abad-abad awal hingga abad ketiga masih ada datanya. Sekiranya Rasul Paulus memalsukan Injil tentu ada data dari orang-orang yang memprotes tindakan Paulus. Nyatanya tidak ada data sama sekali, selain ucapan kosong dan tanpa data.

Keempat, membuktikan keontentikan Injil. Bagaimana caranya?

  1. Seseorang harus menemukan jangka waktu ketika karya itu dituliskan sampai manuskrip pertama ditemukan. Jika jangka waktunya pendek, maka semakin sedikit kemungkinan kesalahan dari kisah yang sesungguhnya.
  2. seseorang harus menemukan berapa banyak manuskrip original yang masih ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan ke-otentikan dokumen.
  3. Fakta bahwa manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah kejadian dan terdapat 5000 manuskrip asli dalam bahasa Yunani. Selain itu, ada sekitar 20.000 bahasa non-Yunani yang masih eksis.
  4. Keontetikan Injil juga dapat dibuktikan dari tulisan Bapa Gereja. Sekiranya Rasul Paulus memalsukan tentulah para Bapa Gereja yang mengutip ‘Injil Asli’ akan memprotes tindakan itu. Nyatanya Injil yang dituduh dipalsukan malah paling banyak dikutip oleh Bapa Gereja sejak abad pertama. St. Klemens (tahun 95) telah mengutip ayat-ayat Injil, Kisah para rasul, Roma, 1 Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Sementara itu, St. Ignatius ( tahun 115) juga telah mengutip ayat-ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.

Kelima, darimana sumber tuduhan bahwa Rasul Paulus memalsukan Injil?

Tuduhan bahwa Rasul Paulus memalsukan Injil berasal dari kaum skeptik bernama Bart Erhman dalam buku yang berjudul Misquoting Jesus dan  para tokoh liberal dalam the Jesus Seminar. Mereka ini pengarang-pengarang di siang bolong yang karangannya kebablasan. Kiranya jelas, tuduhan bahwa Injil dipalsukan oleh Paulus adalah HOAX.

Tambahan untuk disimak:

Referensi

Lihat http://katolisitas.org
Lihat http://www.newadvent.org
[1] St. Irenaeus adalah murid St. Policarpus. Sementara St. Policarpus adalah murid Rasul Yohanes
[2]St. Irenaeus, Against Heresies (Book III, Chapter 1) Lihat http://www.newadvent.org/fathers/0103301.htm
[3] Commentary on the Gospel of Matthew (Book I) lihat http://www.newadvent.org/fathers/101601.htm

Renungan Masa Adven: Menjadi Saksi Kabar Sukacita Tuhan

0
Dengan Minggu Gaudete, umat diingatkan bahwa Masa Adven segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus segara dirayakan. Oleh sebab itu, perlu ditumbuhkan harapan yang akan membangkitkan ketekunan dan kesabaran untk mempersiapkan diri.

Menjadi Saksi Kabar Sukacita Tuhan: Renungan Masa Adven, 16 Desember 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Zef. 3:14-18a; Bacaan II: Flp 4:4-7; Injil: Luk 3:10-18

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Secara tradisi, minggu ketiga dalam Masa Adven dikenal sebagai Minggu Gaudete. Gaudete, sebuah kata bahasa Latin yang berarti ‘sukacita.’ Tema perayaan liturgis pada hari minggu ini berfokus pada pesan sukacita dan kegembiraan. Selain itu, bacaan pertama dan kedua, serta Mazmur Tanggapan menggemakan lagu-lagu sukacita.

Dalam bacaan pertama, Nabi Zefanya berbicara kepada umat Israel yang pada waktu itu sedang mengalami penderitaan dan penindasan. Ketika itu, Zefanya berdiri dan berusaha untuk menghibur dan menguatkan semangat mereka kembali. Ia berkata: “Bersorak-sorailah, hai putri Sion! Bertepuk tanganlah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai putri Yerusalem! Tuhan telah menyingirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu” (Zef. 3:14,15). Di sini, Zefanya mengingatkan kita bahwa penderitaan yang kita miliki tidak sebanding dengan kasih dan kemuliaan Allah yang akan dinyatakan kepada kita.

Dalam nada yang sama, pada bacaan kedua, St. Paulus mengetengahkan pesan sukacita. Menarik untuk dicermati, surat kepada orang Filipi ini ditulis ketika Paulus sedang berada dalam penjara dan menunggu waktunya untuk dihukum mati.

Dalam situasi yang cukup tragis dan menegangkan itu, kita barangkali bertanya-tanya, bagaimana mungkin Paulus bisa menulis surat yang begitu bermakna dan sangat inspratif? “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!.. Sebab Tuhan sudah dekat” (Flp 4:4,5).

Di sini, Paulus sejatinya menunjukkan kepada kita betapa indah dan nikmatnya sukacita Kristiani. Bahwasannya, dalam situasi yang begitu kalangkabut dan bimbang, Tuhan senantiasa akan memberi kita sukacita yang sesungguhnya, dan melalui kita juga Tuhan mengendaki agar sukacita itu dibagikan kepada sesama. Sukacita Kristiani kita itu datang dari sebuah kenyataan bahwa kedatangan Yesus, Tuhan dan Penebus kita, itu sudah dekat. Orang yang girang hatinya selalu ingin membagikan sukacitanya kepada sesama.

Lebih lanjut, dalam bacaan Injil, penginjil Lukas menghadirkan ke tengah-tengah kita figur Yohanes Pembaptis, seorang utusan Allah bagi umat-Nya untuk mempersiapkan diri mereka dalam menyambut kedatangan Yesus, sang Juruselamat. Dalam masa itu, Yohanes mengajak para pengikutnya untuk melakukan hal penting yang setiap orang harus perbuat dalam menyambut Yesus. Yohanes mengajak mereka untuk membina sikap berbagi kepada yang berkekurangan: “Barangsiapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa yang mempunya makanan, hendaklah ia juga berbuat demikian” (Luk. 3:11). Injil hari ini memberi kita sebuah jalan menuju sukacita yang sempurna dan sesungguhnya.

Sebagaimana kita rayakan Minggu Gaudete atau Minggu Sukacita ini, apa yang harus kita perbuat untuk menyambut kedatangan Mesias? Melakukan sesuatu yang baik kepada sesama dengan melaksanakan kasih Allah yang tak berhingga adalah suatu ungkapan sukacita yang sesungguhnya, sukacita dalam pikiran dan hati.

Bila kita benar-benar menggap diri sabagai orang yang girang hatinya; hal ini harusnya dibagikan kepada sesama: mereka yang menderita, sakit, dan yang membutuhkan kasih sayang kita. Karena itu, pertanyaan para prajurit dan pemungut cukai kepada Yohanes dalam Injil hari ini: “Apakah yang harus kami perbuat?” (Luk. 3:10; 3:12; 3:14) bisa menjadi pertanyaan kita juga. Hari ini, kita diajak untuk membaharui diri dan bertobat. Sebab, pertobatan dan pembaharuan diri akan membawa kita kepada sukacita yang sesungguhnya dan kedamaian yang sempurna.

Masa Adven ini memampukan kita untuk bersiap diri dalam menyambut kedatangan Tuhan ke tengah-tengah kehidupan kita. Inilah satu kesempatan di mana kita harus bersedia untuk mengubah sikap dan cara hidup. Kita harus bertobat sehingga kita bisa menyadari dan mengalami kehadiran Allah dalam keseharian hidup kita, dan untuk menyambut kedatangan sang Juruselamat. Sejatinya, memiliki hati yang tenang merupakan langkah awal untuk mencapai sukacita yang sempurna.

Kita berdoa, semoga Roh Kudus memperbarui kita dalam kasih-Nya sehingga kita boleh menjadi saksi kabar sukacita Tuhan kepada sesama. Dan semoga kesaksian kita itu menjadi jawaban atas panggilan kita sebagai utusan Allah dalam menyambut kedatangan Mesias, Tuhan dan Penebus kita. Yesus datang ke dunia sebagai tanda kasih Allah yang sempurna dan tak berhingga. Ia datang untuk membawa kita sukacita yang sesungguhnya.

Refleksi Dr. Scott Hahn dalam Minggu Adven Ketiga: Apa yang harus Kami Perbuat?

0
Tema perayaan liturgis pada hari minggu ini berfokus pada pesan sukacita dan kegembiraan. Selain itu, bacaan pertama dan kedua, serta Mazmur Tanggapan menggemakan lagu-lagu sukacita.

Orang-orang dalam bacaan Injil hari ini ‘penuh dengan pengharapan’. Mereka berkeyakinan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan Mesias yang selama ini mereka nantikan. Tiga kali kita mendengar pertanyaan mereka: “Lalu, apa yang seharusnya kami lakukan?”

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Kedatangan Sang Mesias mewajibkan setiap orang, laki-laki dan perempuan, untuk memilih ‘bertobat’ atau tidak bertobat sama sekali. Itulah inti dari pesan Yohanes Pembaptis dan juga pesan Yesus nantinya (lih. Luk. 3:3; 5:32; 24:47).)

Kata ‘pertobatan’ merupakan terjemahan dari kata bahasa Yunani ‘metanoia’ (secara harafiah berarti ‘perubahan pola pikir’). Dalam Kitab Suci, pertobatan selalu berkaitan dengan dua hal: yaitu menjauh dari dosa (lih. Ez. 3:19; 18:30) dan menuju Allah (lih. Sir. 17:20–21; Hos. 6:1).

Sikap ‘berbalik arah’ seperti ini lebih dari sekedar upaya untuk menyesuaikan diri. Hal ini lebih bermaksud pada perubahan sikap hidup yang radikal, ‘yang  menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan’ (Luk. 3:8). Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis memberitahukan orang banyak itu bahwa mereka harus membuktikan iman mereka melalui karya kasih, kejujuran, dan keadilan sosial.

Dalam liturgi hari ini, setiap kita dipanggil untuk berdiri dalam kumpulan orang banyak itu dan mendengarkan ‘kabar baik’ mengenai pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis. Kita diajak untuk memeriksa hidup kita, bertanya dari lubuk hati kita yang paling dalam sebagaimana yang mereka tanyakan, “Apa yang seharusnya kami lakukan?” Pertobatan kita haruslah bersemi, bukan dari ketakutan kita terhadap kemurkaan yang akan datang (lih. Luk. 3:7–9) melainkan dari perasaan sukacita atas dekatnya kedatangan Tuhan yang menyelamatkan.

Tema ini menggema dalam bacaan-bacaan hari ini. Dalam surat Paulus kita mendengarkan seruan: “Bersukacitalah! Tuhan sudah dekat. Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga”.  Juga, dalam Mazmur Tanggapan, sekali lagi kita mendengar ajakan untuk bersukacita, untuk tidak takut pada kedatangan Tuhan di tengah-tengah kita.

Dalam bacaan pertama hari ini, kita mendengar gema dari kabar Malaikat kepada Bunda Maria. Kata-kata dari para Nabi sangat mirip dengan sapaan Malaikat (bdk. Luk. 1:28-31). Maria adalah Putri Sion, seorang pilihan Tuhan, diberitahukan supaya tidak takut melainkan bersukacita karena Allah menyertainya, ‘penyelamat yang Mahakuasa’.

Dia adalah sumber sukacita kita. Karena dalam Dia terlukis Allah yang sudah dekat itu, seperti yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis “Seorang yang lebih besar dari saya akan datang”.

Diterjemahkan dari: https://stpaulcenter.com/what-do-we-do-scott-hahn-reflects-on-the-third-sunday-of-advent/