10.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 73

‘Injil’ Barnabas, ‘Injil’ Gadungan Abad Pertengahan (seri II)

1
Gambar ilustrasi oleh voltamax / Pixabay

‘Injil’ Barnabas ditulis sekitar abad 16. ‘Injil’ Barnabas menggambarkan Yesus sebagai nabi pembuka jalan bagi ‘nabi tertentu.’ Agaknya hal ini ‘contekan’ dari kisah Yohanes Pembaptis yang membuka jalan bagi Yesus. Selain itu, ‘injil’ Barnabas mengajarkan bahwa Yesus tidak di salib, melainkan seorang yang diserupakan dengan dia, yaitu Yudas. Tentu saja bagi umat Katolik, ‘injil’ ini tidaklah kanonik, karena penulisannya tidak terjadi pada zaman Para Rasul melainkan setelah kematian Para Rasul. Bahkan berabad-abad setelah zaman Para Rasul. Selain itu, isinya mengandung kesalahan-kesalahan fatal terutama tentang letak suatu wilayah, di mana Yesus berkarya. Sebutan ‘injil’ Barnabas pertama kali ditemukan dalam manuskrip Morisco yang berasal dari Moor tahun 1634 oleh Ibrahim al Taybili. Pada tahun 1718 oleh John Toland dan 1734 oleh George Sale.

Mengapa Gereja Katolik tidak mengakui ‘injil’ Barnabas?

Pertama, Menurut Gereja Katolik ‘injil’ Barnabas, tidak otentik, karena ditulis berabad-abad setelah jaman Yesus dan para rasul. Seperti telah dibahas pada sesi I bahwa manuskrip kitab tersebut ditemukan pada abad ke 16 dalam bahaa Italia dan Spanyol. Oleh sebab itu, banyak penyelewengan-penyelewengan, karena saksi hidup tidak ada. Sementara itu, Injil kanonik ditulis pada saat saksi hidup masih ada, sehingga tidak mungkin terjadi penyelewengan.

Kedua, ‘injil’ Barnabas menyampaikan pesan yang bertentangan dengan Injil yang ditulis atas kesaksian para saksi mata pada abad pertama. Keotentikan Injil yang dipakai umat Kristiani saat ini dapat dibuktikan dengan adanya 5.000 manuskrip Perjanjian Baru. Misalnya, ajaran injil Barnabas mengatakan bahwa Yesus pernah berkata  bahwa Ia bukan Mesias dan Ia tidak mati di salib. Namun klaim ini dibantah secara langsung oleh dokumen-dokumen yang lebih awal dan asli/ otentik. Tidak mungkin wahyu Allah dalam Perjanjian Lama yang mengacu kepada kemesiasan Yesus batal karena ‘injil’ Barnabas yang ditulis pada abad ke-16. Nama ‘Barnabas’ sendiri hanyalah karangan si ‘pembuat’ kitab untuk mengacaukan iman Kristiani. Seperti dijelaskan pada sesi I bahwa Barnabas bukan bilangan kedua belas Rasul. Jika ‘injil’ Barnabas ditulis abad ke 16, maka tidak mungkin Barnabas yang tertulis di Kitab Suci masih hidup.

‘Injil’ Barnabas menolak keseluruhan isi Kitab Suci, sehingga ‘penulisnya’ mengatakan bahwa Yesus tidak disalibkan, melainkan Yudas Iskariot. Pandangan seperti ini adalah pandangan Islam, dan bukan ajaran Kristus sendiri seperti yang disampaikan oleh ke-empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Selain itu, ‘penulisnya’ keliru dalam menginterpretasikan bahasa Yunani. Ia menyamakan kata παράκλητος (paráklētos Yunani=Roh Kudus), sehingga menjadi ‘periklutos‘ (artinya yang terhormat) yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Arab “Ahmad.” Tidak ada sama sekali kata ‘periklutos‘ dalam Kitab Suci berbahasa Yunani. Hal ini menunjukkan bahwa ‘si penulis’ tidak tahu bahasa Yunani, sehingga ia mengarang bebas sampai bablas.  Sementara itu, Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan surat- surat Rasul Paulus menjelaskan ciri-ciri atau kriteria Parakletos sebagai berikut:

  1. Ia (Parakletos) menyertai kamu (para murid) selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Benarkah nabi yang dimaksud tidak wafat?
  2. Dunia tidak melihat melihat Dia (Parakletos)…tetapi kamu mengenal Dia. Benarkah nabi yang dimaksud tidak kelihatan secara fisik dan datang pada abad pertama, setelah Yesus naik ke surga?? Dan hanya para murid Yesus yang bisa melihat??
  3. Ia (Parakletos) menyertai kamu…diam di dalam kamu. Benarkah nabi yang dimaksud Bisa diam dalam hati para murid Yesus??
  4. Walau Yesus menemui Bapa di surga) Yesus tidak meninggalkan murid-muridnya sebagai yatim piatu. Benarkah nabi yang dimaksud ada di zaman Para rasul Yesus dan mendampingi mereka?
  5. Penghibur/Roh Kudus/Roh Penolong (Parakletos) yang akan Ku (Yesus) utus dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa. Benarkah nabi yang dimaksud keluar dari Bapa, tidak punya ayah dan ibu?? Sudah sangat jelas bahwa Parakletos bukanlah seorang nabi, melainkan Roh Kudus yang turun setelah Yesus naik ke surga (bdk. Kis. 2:1-11).

Berdasarkan point di atas, kita mengetahui bahwa Parakletos bukan sebagai manusia, melainkan Roh yang dicurahkan kepada Para Rasul pada saat Pentakosta (Hari Turunnya Roh Kudus). Dengan demikian, ‘injil’ Barnabas adalah ‘injil’ gadungan, yang ditulis oleh ‘orang gadungan.’

Ketiga, Surat Barnbas yang pernah dikenal dan dibacakan di Gereja Alexandria di abad ke 2, itu tidak sama dengan ‘injil’ Barnabas. Apabila ditinjau dari isi, tidak ada hubungan Surat Barnabas dengan ‘injil’ Barnabas. Surat Barnabas mewartakan hal yang sama dengan Kitab Suci/Injil yang dipakai oleh umat Kristiani saat ini.

Keempat, kekeliruan yang fatal dan janggal dalam ‘injil’ Barnabas.

  1. Meskipun ditulis dalam bahasa Italia, kitab ini dituliskan dengan gaya Arab/ Islam, sekali- kali dengan kata- kata bahasa Turki, dan tata bahasa Turki, dengan dialek Tuska dan Venezia, seperti yang umum digunakan di kota universitas Bologna (Italia).
  2. Pada pinggiran halaman terdapat catatan- catatan dalam bahasa Arab.
  3. Penjilidan kitab berasal dari Turki, walaupun kertasnya berasal dari Italia.
  4. Terdapat kesalahan- kesalahan ejaan, seperti tidak perlunya huruf ‘h’ ketika suatu kata berawal dengan huruf hidup (contoh “hanno”, padahal harusnya cukup “anno”)
  5. Spasi yang ada di bagian bawah setiap lembarnya mengindikasikan spasi yang dimaksudkan untuk pencetakan.
  6. Banyak frasa yang digunakan dalam ‘injil’ Barnabas mempunyai kemiripan dengan frasa yang digunakan oleh Dante Alighieri, seorang pujangga ternama Italia abad Pertengahan (1265-1321); sehingga dapat disimpulkan bahwa pengarang ‘injil’ ini meminjam/ meniru karya Dante.
  7. Terdapat kemiripan tekstual ‘injil’ Barnabas dengan bahasa setempat tentang ke- empat Injil (terutama bahasa Italia abad Pertengahan) sehingga dapat diperkirakan bahwa kitab ini aslinya dituliskan dalam bahasa Italia. Ini membuktikan ketidak-otentikan kitab ini, sebab bahasa Italia sendiri baru eksis sekitar abad ke- 13 sebagai bahasa tulisan, sehingga tidak mungkin ditulis oleh ‘Barnabas’ murid Yesus di abad pertama)

Kelima, Anakronisme dan ketidaksesuaian sejarah yang tercatat dalam ‘injil Barnabas’

  1. Dikatakan bahwa Yesus dilahirkan di jaman Pontius Pilatus, yang baru naik tahta setelah tahun 26. Ini keliru, karena Yesus lahir pada jaman Kaisar Agustus (Luk 2:1).
  2. Yesus dikatakan ‘berlayar’ ke Nasaret (bab 20), padahal Nasaret bukan kota pelabuhan. Tidak ada pantai atau perairan di Nasaret untuk orang dapat berlayar.
  3. Penulis kitab ini kelihatannya tidak menyadari bahwa kata ‘Kristus’ dan ‘Mesias’ adalah terjemahan dari kata yang sama yaitu ‘Christos’, yaitu yang menjabarkan Yesus sebagai Yesus Kristus. Maka tidak mungkin Yesus yang disebut Kristus itu mengatakan, “Saya bukan Mesias”, [karena sama saja ia mengatakan bahwa saya bukan Kristus, yang adalah namanya sendiri]. (bab 42).
  4. Ada referensi tahun yubelium yang dirayakan setiap seratus tahun sekali (bab 82), bukannya lima puluh tahun sekali seperti yang dituliskan dalam kitab Imamat 25. Anakronisme ini kemungkinan berhubungan dengan Tahun Suci pada tahun 1300 yang ditentukan oleh Paus Boniface VIII, yang menentukan untuk memperingati tahun Yubelium setiap seratus tahun sekali.
  5. Adam dan Hawa dikatakan memakan buah apel (bab 40), padahal seharusnya adalah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej 2:17). Kemungkinan kata apel diperoleh dari terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin, di mana ‘apel’ dan ‘jahat’ sama- sama dikatakan sebagai ‘malum‘.
  6. Kitab tersebut mengatakan bahwa anggur disimpan di dalam gentong/ drum kayu (bab 152). Gentong kayu adalah ciri khas penyimpanan anggur di Gaul dan Italia Utara, dan tidak umum digunakan dalam kerajaan Roma, sampai tahun 300; sedangkan penyimpanan anggur di abad pertama di Palestina adalah di dalam kantong kulit (wineskin) dan tempayan (jar, ‘amphorae‘). Pohon English Oak/ Pedunculate (quercus robur) tidak tumbuh di Palestina, dan kayu jenis lainnya tidak cukup padat untuk digunakan sebagai gentong anggur.
  7. Semua kutipan didasarkan pada Vulgate bible (382 AD). Ketika ‘injil’ Barnabas mengutip Perjanjian Lama, maka yang dikutip lebih sesuai dengan bacaan- bacaan yang ada di kitab Latin Vulgate, daripada yang ada di Kitab Septuagint ataupun Teks Masoretik Ibrani. Padahal terjemahan Latin Vulgate yang adalah hasil karya St. Jerome dimulai tahun 382, bertahun- tahun setelah kematian Barnabas. Maka pengutipan Vulgate ini merupakan indikasi, bahwa kitab ini tidak mungkin ditulis oleh Rasul Barnabas sendiri di abad pertama, saat teks Vulgate sendiri belum ada.
  8. Bab 54 mengatakan: “Sebab ia akan mendapatkan nilai tukar dari emas adalah enam puluh minuti.” Dalam Perjanjian Baru, satu- satunya koin emas, namanya aureus yang nilainya sama dengan 3,200 koin tembaga, yang disebut ‘lepton’ (diterjemahkan dalam bahasa Latin, minuti), sedangkan koin perak Roma mempunyai nilai tukar 128 lepton. Maka nilai tukar 1:60 yang ditulis dalam ‘injil’ Barnabas, adalah interpretasi dari jaman abad pertengahan dari perikop Injil (Mrk 12:42), yang berasal dari pengertian standar di abad pertengahan bahwa minutiberarti seperenampuluh.  Selain itu, disebutkan pemakaian nama koin denarius, yang dipakai di Spanyol tahun 685.

Keenam, Tidak ada bukti yang mendukung keaslian ‘injil’ Barnabas

  1. Tidak seperti kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru yang terbukti keotentikannya dengan adanya lebih dari 5,300 manuskrip Yunani yang berasal dari abad awal sampai abad ke-3, hal ini tidak terjadi pada injil Barnabas. Tidak ditemukan teks asli injil Barnabas sejak abad-abad awal.
  2. Referensi pertama yang menyebutkan tentang injil Barnabas adalah dokumen yang disebut Decretum Gelasianumyang sering dihubungkan dengan Paus Gelasius I, 492-496. Konon injil Barnabas termasuk dalam daftar yang ada dalam Decretum tersebut, sebagai kitab apokrif yang harus dihindari. Namun di dekrit ini tidak disebutkan isi manuskrip injil Barnabas, dan juga keaslian Decretum tersebut juga dipertanyakan. Karena jika memang dekrit itu benar-benar resmi dan otentik dikeluarkan oleh Paus Gelasius I, seharusnya termasuk dalam dokumen-dokumen yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke Latin, oleh Dionysius Exiguus (470-544), anggota Kuria Roma yang menerjemahkan 401 kanon Gereja, termasuk kanon dan dekrit dari Konsili Nicea, Konstantinople, Kalsedon, Sardis dan kumpulan semua dekrit yang dikeluarkan oleh Paus dari Paus Siricius (384-399) sampai Anastasius II (496-498). Namun faktanya, tidak. Juga, jika dekrit ini otentik, mestinya dekrit ini juga termasuk dalam kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Cassiodorus (485-585), administrator Kaisar Theodoris Agung yang bekerjasama dengan Paus Agapetus I (535-536) dalam membuat perpustakaan teks Yunani dan Latin yang digunakan untuk mendukung sekolah-sekolah Katolik di Roma. Namun dekrit ini tidak termasuk di sana. Dengan demikian, para ahli menyimpulkan bahwa daftar kitab apokrif yang ada dalam dekrit itu belum tentu ditulis oleh Paus Gelasius I, namun oleh seorang imam dari Perancis Selatan atau Italia Utara, di abad ke-6, yang mengumpulkan dokumen-dokumen dari periode berbeda. ((Menurut New Catholic Encyclopedia yang dikeluarkan oleh The Catholic University of America, book 6, p. 314, Gelasian Decree Decretum Gelasianum terdiri dari 5 bab, tentang: 1) Roh Kudus dan nama Kristus; 2) Kanon Kitab Suci; 3) Keutamaan Petrus dan Tahta Suci; 4) Otoritas dekrit umum dari konsili-konsili; 5) Otoritas tulisan para Bapa Gereja dan karya tulis Kristiani lainnya yang diterima oleh Gereja. Di sini tidak disebutkan adanya daftar buku-buku yang dilarang.)). Selanjutnya, sekalipun ada teks asli injil Barnabas yang ditulis di abad ke-5, maka teks itu juga pasti bukan ditulis oleh Rasul Barnabas yang menjadi teman seperjalanan Rasul Paulus di abad pertama. Sebab tidak mungkin Rasul Barnabas hidup sampai ratusan tahun (sekitar empat ratus tahun?)
  3. Bentuk yang terawal yang kita ketahui tentang injil Barnabas adalah teks dalam bahasa Italia. Teks ini telah diteliti oleh para ahli Kitab Suci dan disimpulkan bahwa teks tersebut berasal dari abad 15-16 yaitu sekitar 1400 tahun sejak zaman Rasul Barnabas. ((L. Bevan Jones, Christianity Explained to Muslims, rev. ed. (Calcutta: Baptist Mission Press, 1964)).
  4. Walaupun injil Barnabas ini begitu dikenal sekarang di kalangan muslim, namun injil ini tidak dikenal/ dijadikan referensi oleh para penulis/ apologetik muslim sebelum abad ke-15 dan ke-16. Padahal jika injil ini memang sudah ada sejak dulu, hampir pasti mereka akan mengutipnya. Geisler menyebutkan contoh pengarang muslim yang cukup dikenal di abad sebelum abad 15, seperti Ibn Hasm (w. 456 A.H), Ibn Taimiyyah (w. 728 A.H.) Abu’l-Fadl al-Su’udi (menulis tahun 942 A.H.), dan Haji Khalifah (w. 1067 A.H.) mestinya mengacu kepada injil Barnabas dalam tulisan-tulisan mereka, jika memang injil itu sudah ada di masa mereka hidup.
  5. Tidak ada Bapa Gereja di abad ke 1 sampai ke-15 yang pernah mengutipnya. Jika injil Barnabas otentik, tentu sudah pernah dikutip oleh para Bapa Gereja dalam kurun waktu tersebut, seperti yang terjadi pada kitab-kitab Injil kanonik. Bahkan kalau tidak otentik sekalipun, mestinya pernah dikutip oleh setidak-tidaknya seorang penulis pada masa itu. Tapi nyatanya, tidak ada yang pernah mengutipnya selama jangka waktu 1500 tahun.
  6. Selain banyak orang salah paham dengan menyangka bahwa injil Barnabas adalah Surat (Pseudo) Barnabas (70-90) sebagaimana telah disebutkan dalam point  3 di atas,  adapula orang yang menyangka bahwa injil Barnabas sama dengan Akta Barnabas/ Acts of Barnabas (sebelum 478). Padahal keduanya tidak sama. Tidak ada penyebutan tentang nabi Muhammad di Akta Barnabas, dan isi kedua kitab berbeda.
  7. Pesan yang disampaikan oleh injil Barnabas ini (bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia bukan Mesias) juga tidak sesuai dengan klaim dari AlQur’an sendiri, sebab Qur’an sendiri mencatat bahwa Yesus (yang disebut Isa) adalah Mesias (lih. 3:45; 5:19,75), walaupun pengertian Mesias (Al masih) ini tidak sama dengan pengertian Yesus Sang Mesias bagi umat Kristiani.
  8. Terdapat banyak elemen-elemen Islam yang tercantum di dalam teks, yang mengindikasikan bahwa teks tersebut disusun oleh seorang muslim di abad-abad berikutnya. Para ahli mencatat ada sekitar empat belas hal. Di antaranya, disebutkannya kata “puncak” bait Allah di mana Yesus berkhotbah, diterjemahkan dalam bahasa Arab, sebagai dikka, yaitu mimbar/ platform yang digunakan yang di mesjid. ((J. Slomp, “The Gospel in Dispute,” in Islamochristiana(Rome: Pontificio Instituto di Studi Arabi, 1978), vol. 4, 7.)) Atau dikatakan bahwa Yesus hanya datang untuk bangsa Israel, sedangkan Muhammad untuk seluruh dunia (bab 11). Juga penolakan bahwa Yesus adalah Putera Allah. ((sumber utama: Norman L Geisler & Abdul Saleeb, Answering Islam: The Crescent in the Light of the Cross, (Baker Books 1993), p. 295-299)).

Ketujuh, ‘injil’ Barnabas bertentangan dengan sebagian isi Quran

  1. Al-Quran mengatakan Mesias adalah Isa Al-Masih. Sebaliknya, Injil Barnabas mengatakan “Muhammad adalah Mesias, dan Isa selalu menyangkal bahwa Ia bukan Mesias” (Lihat bab 3, 42, 82).
  2. Sura Al-Baqarah ayat 29 mengatakan langit ada tujuh. Juga Sura Al-Isra ayat 44 memberi pernyataan yang sama. Tetapi Injil Barnabas bab 178 dengan tegas mengatakan bahwa langit ada sembilan. Sepertinya penulis kitab ini membaca tulisan Dante yang mengarang khayalan terkenal “Divina Commedia” tentang sembilan langit menuju Firdaus.
  3. Menurut Qs 4:3, “seorang laki-laki dapat menikahi dua, tiga, empat wanita” sekaligus. Bahkan Qs 70:30 menambahkan keempat isteri tersebut adalah “selain budak-budak yang mereka miliki”. Hal ini bertentangan dengan ajaran Injil Barnabas. Menurutnya “hendaklah seorang lelaki puas dengan seorang wanita yang dikaruniakan Allah baginya dan hendaklah dia melupakan wanita lainnya” (Injil Barnabas bab 115).
  4. Saat melahirkan Isa Al-Masih, “Maryam mengalami rasa sakit saat melahirkan” (Qs 19:23). Sedangkan Injil Barnabas bab 13 mengatakan, “Maryam ‘dikelilingi oleh cahaya terang yang luar biasa, seraya melahirkan puteranya tanpa sakit”.
  5. “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya” (Qs 17:13). “Ketika Allah menciptakan manusia dengan kebebasan agar dia boleh mengetahui bahwa Allah tidak membutuhkan manusia, sama seperti seorang raja yang memberikan kebebasan kepada hamba-hambanya” (Injil Barnabas bab 155)

Sangat masuk akal bila mendiang Dr. Abbas Mahmoud Al Aqqad mengatakan Injil Barnabas palsu. Sebab terdapat beberapa ajaran dalam Injil Barnabas yang bertentangan dengan Al-Quran.

Kedelapan, ‘injil’ Barnabas merupakan ‘injil’ gadungan yang tidak layak digunakan sebagai acuan ajaran. Teksnya tidak berasal dari abad pertama masehi seperti Injil yang dipakai umat Kristiani saat ini. Oleh sebab itu, umat beriman diajak untuk berpegang pada Kitab Suci yang telah dikanon dan ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik yang telah menerima kuasa infalibilitas dari Kristus untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:18-19, 18:18). Rasul Paulus sendiri telah mengingatkan jemaat agar tidak mengikuti injil-injil yang lain daripada yang telah mereka terima dari para rasul (lih. 2 Kor 11:4 dan Gal 1:6). Kemungkinan ‘injil’ Barnabas adalah ‘injil’ yang dikarang oleh penganut Gostik dan Docetisme, yang berkembang menjadi ‘injil’ Barnabas di abad ke- 16.

Tambahan untuk disimak:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=zXB4MNIXbao
  2. https://www.youtube.com/watch?v=6QadKVJJ7hw

Referensi:

  1. lihat http://www.katolisitas.org/apakah-injil-barnabas/
  2. lihat https://www.isadanislam.org/kepercayaan-orang-islam/guru-besar-islam-mencap-injil-barnabas-injil-palsu/

Mengapa Pusat Agama Katolik Berada di Vatikan (seri II)?

0

Pada suatu kesempatan seseorang pernah bertanya kepada saya. Mengapa pusat agama Kristen Katolik adanya di Roma dan bukan di Yerusalem? Bukankah Para Rasul berasal dari Yerusalem dan memulai misi penyebaran Injil dari sana?. Pertanyaan serupa mungkin pernah dilontarkan kepada bapak, ibu, dan saudara-saudari. Pada kesempatan ini, tim jalapress setidaknya menjelaskan sedikit latar belakang keberadaan Agama Katolik di Vatikan, Roma.

Pertama, pada masa Gereja Perdana ada lima pusat kekristenan yakni Yerusalem, Antiokhia, Roma (Vatikan), Konstantinopel dan Alexandria. Yesus sendiri memerintahkan Para Rasul untuk menjadi saksinya mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Banyak ahli menafsirkan bahwa ‘ujung bumi’ dalam kisah para rasul adalah Vatikan, Roma (bdk. Kis. 1:8).

Kedua, Vatikan, Roma menjadi pusat Agama Katolik karena latar belakang di mana Petrus mewartakan Injil selama 25 tahun dan martir pada masa kaisar Nero.[1] Kitab Suci memberi kesaksian bahwa Rasul Petrus ditunjuk oleh Yesus untuk menggembalakan domba-dombanNya (bdk. Yoh. 21:15-19, Kis.15:7). Hal itu menunjukkan bahwa Yesus memberikan tugas khusus kepada Petrus sebagai ‘ketua’ dari para rasul. Cukup banyak bukti Kitab Suci yang mencatat bagaimana Petrus berlaku sebagai ‘ketua’ misalnya saat pemilihan pengganti Yudas, khotbah Pentakosta, khotbah di Serambi Salomo, berlaku sebagai ‘hakim’ atas persembahan Ananias dan Safira dan lain sebagainya (baca Kisah Para Rasul dari bab 1-15). Seperti diketahui, dimana ada pemimpin di situ ada pusat kepemimpinan. Contoh sederhana; Jakarta menjadi ibu kota Indonesia, karena Presiden menjalankan roda pemerintahan di Jakarta.

Ketiga, St. Klemens dari Roma paus ketiga (bdk. Flp. 4:3) dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (96): 1 Klemens 5:1-6 menasehati jemaat agar meneladan Gereja Katolik Roma dan Rasul Petrus serta Paulus yang telah dianiaya hingga wafat.

Keempat, Gereja melestarikan dan mengenang akan Rasul Petrus dan sejarah Gereja Perdana.

Penulis: Silvester Detianus Gea

[1]Lihat Eusebius, The Chronicle 42, 43, 68, Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:291 dan Tertullian, Antidote Against the Scorpion 15,3 in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:152.

Jika Anda Pernah Merasa Cemas, Bersyukurlah! Berikut Alasannya

0
Gambar ilustrasi oleh TheDigitalArtist / Pixabay

Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya ‘kecemasan’. Kecemasan itu seringkali muncul pada saat kita berhadapan dengan pilihan-pilihan. Apalagi ketika pilihan itu menyangkut hidup atau mati.

Orang-orang cenderung melihat kecemasan itu sebagai sesuatu yang ‘jelek’. Padahal, pendapat seperti itu tidak seluruhnya benar. Sebagai orang beriman, kita justru seharusnya bersyukur ketika kita masih merasakan adanya kecemasan di dalam diri. Lho, kok bisa begitu?

Ya, kecemasan itu muncul karena adanya pilihan-pilihan. Jika tidak ada pilihan, itu berarti tidak ada yang perlu kita cemaskan. Kita hanya ikut saja sesuai dengan apa yang diarahkan. Tapi, dalam arti itu juga, kita sebenarnya tidak mempunyai kebebasan.

Jika kita tidak bebas, tidak mungkinlah ada pilihan bagi kita. Kita hanya akan menjadi robot, yang betindak sesuai dengan arahan dari si pemegang remote. Apakah kita mau seperti itu? Jelas tidak. Nah, kalau demikian, jika Anda pernah merasakan kecemasan, bersyukurlah. Itu tandanya bahwa Anda dan saya masih diberikan kebebasan.

Orang-orang mendefenisikan kebebasan itu sebagai suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas. Kondisi di mana kita mempunyai kemampuan untuk memilih, mencintai, dan peduli. Jika kita tidak bebas, kita tidak akan bisa melakukan itu semua.

Kebebebasan itu dianugerahkan Tuhan kepada masing-masing kita. Pertanyaannya adalah: mengapa Tuhan menaruh kehendak bebas di dalam diri kita? Bukankah jauh lebih baik jika kita tidak diberikan kebebasan supaya kita tidak terjerumus ke dalam dosa?

Jawabannya sederhana: Tuhan tidak mau kita menjadi seperti robot. Yang Tuhan mau adalah supaya kita menjadi ciptaan yang mampu menjadi ‘tuan atas diri kita sendiri’ dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatan kita sendiri. Kita disebut bebas kalau kita sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatan kita.

Lagipula, justru karena kebebasan itulah, makanya menjadi masuk akal jika pada saat akhir dari perjalanan hidup kita di dunia ini, kita dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan. Jika kita tidak pernah diberikan kebebasan, maka tidak tepatlah kita dimintai pertanggungjawaban.

Kita beruntung sekali karena Tuhan tidak menciptakan kita seperti robot; sehingga kita bisa menentukan sendiri apa yang kita inginkan dan bebas bertindak seturut kehendak kita sendiri – yang tentu saja diharapkan supaya tidak melanggar apa yang dikehendaki oleh Tuhan.

Dengan kehendak bebas itu, kita bisa menaruh perasaan terhadap orang lain, kita berempati, kita jatuh cinta, dan kita peduli. Dengan kehendak bebas itu pula, kita mampu mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Hanya karena kita memiliki kebebasan makanya kita tahu bersyukur dan tahu berterima kasih kepada Tuhan. Jika kita diciptakan tanpa kebebasan, kita tidak perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan sebab semuanya berjalan sesuai ‘remote’ yang dikendalikan oleh Tuhan.

Tuhan tidak mau mengendalikan hidup kita seperti seseorang yang pegang remote. Ia tidak mau kita menjadi seperti robot. Tuhan hanya mengingatkan supaya kita tidak menyalahgunakan kebebasan yang kita miliki; sebab penyalahgunaan kebebasan bisa menjerumuskan orang ke dalam dosa. Persis itulah yang terjadi dengan manusia pertama. Mereka jatuh ke dalam dosa karena menyalahgunakan kebebasan yang Tuhan berikan.

Satu hal yang perlu kita ingat: yaitu bahwa kehendak bebas yang kita miliki bukan tidak ada batasnya. Kebebasan kita ada batasnya. Yang membatasi kebebasan kita adalah kebebasan orang lain.

Bahwasanya kita bebas melakukan apa saja, itu betul. Tapi ingat, orang lain juga mempunyai kebebasan yang sama. Nah, supaya tidak terjadi benturan, kebebasan kita itu harus digunakan secara bijak. Kebebasan yang tidak terbatas hanya dimiliki oleh Tuhan. Tuhan bisa berbuat apa saja seturut kehendak-Nya. ***

‘Injil’ Barnabas, ‘Injil’ Gadungan Abad Pertengahan (seri I)

0
DarkWorkX / Pixabay

Pada postingan saya terdahulu [a]) saya menyinggung sebuah kitab yang disebut Injil Barnabas dan bagaimana beberapa apologis non-Kristen telah menggunakannya untuk membela sudut pandang mereka akan Yesus. Saya menunjukkan bahwa kitab yang disebut “injil” ini penuh dengan anakronisme, dan bahwa sebenarnya tidak ada bukti akan keberadaannya sebelum abad pertengahan. Sejak hal itu dipublikasi, saya telah menerima beberapa email yang meminta kepada saya untuk menjelaskan lebih lanjut persoalan ini.

Apa itu ‘Injil’ Barnabas?

Injil Barnabas [b] adalah sebuah ‘kitab’ yang memuat seputar kehidupan Yesus.[c] Kitab ini berbeda dengan  Surat Barnabas [d], baik dalam gaya tulisan maupun isinya. Sang penulis ‘injil barnabas’ mengidentifikasikan dirinya sebagai Barnabas, seorang rasul, dan membuat beberapa klaim yang tidak konsisten dengan keempat Injil kanonik. Menurut teksnya, Yesus bukanlah Anak Allah, melainkan seorang nabi semata: Yesus mengaku, dan berkata yang sebenarnya: ‘Aku bukanlah sang Mesias’ (Bab 42) [e]. Kitab tersebut juga mengklaim bahwa Yesus diangkat ke surga oleh Allah, dan bahwa sebenarnya si Yudas Iskariotlah yang diserupakan seperti Yesus dan kemudian disalibkan: Dimana Allah yang hebat bertindak secara hebat, demikian rupa bahwa Yudas dirubahkan cara bicaranya dan rupanya agar menyerupai Yesus dan kita meyakini dia sebagai Yesus (Bab 216) [f]

Maka mereka membawa [Yudas] ke Bukit Kalvari, dimana mereka biasa menggantung para penjahat, dan mereka menyalibkan dia telanjang; oleh karena aibnya yang besar. Yudas sejatinya tidak melakukan apapun selain berteriak: ‘Allah, mengapa Engkau meninggalkanku, melihat bahwa sang penjahat terlepas dan saya mati secara tidak adil?’ Sebenarnya Saya berkata bahwa suara, rupa, dan pribadi Yudas menjadi seperti Yesus, sehingga para murid dan pengikutnya semuanya percaya bahwa dia adalah Yesus; dimana beberapa berpaling dari doktrin Yesus, meyakini bahwa Yesus adalah seorang nabi palsu, dan bahwa oleh kuasa gaib dia telah melakukan mujizat-mujizat yang dia lakukan: karena Yesus telah berkata bahwa dia tidak akan wafat sampai mendekati akhir dunia; karena pada waktu itu dia akan diambil dari dunia. (Bab 217)[g]. [1]

[Bila ‘Injil Barnabas’ benar ditulis oleh Rasul Barnabas tentu ia TIDAK akan mengatakan hal yang berbeda dengan kesaksian Injil Sinoptik dan Injil Yohanes yaitu bahwa Yesus sungguh disalibkan].

Kapan ‘Injil Barnabas’ Ditulis?

Tidak diketahui secara pasti kapan, mengapa, dan oleh siapa ‘Injil Barnabas’ itu ditulis, akan tetapi para sarjana memberikan perkiraan tanggal berdasarkan petunjuk-petunjuk di dalam teks tersebut.

Dari manuskrip yang selamat dan telah dikonfirmasi, ada satu dalam bahasa Spanyol dan satu dalam bahasa Italia. Manuskrip Italia secara umum ditulis sekitar tahun 1600 Masehi, dan versi Spanyol sekitar tahun 1800’an. Sarjana biblis Jan Joosten meyakini bahwa bukti-bukti internal dalam teks tersebut mengacu kepada penanggalan yang lebih awal:

Dalam periode ini, penanggalan hanya dapat ditentukan melalui penyelidikan akan konteks penulisan. Meskipun sebagian besar dari hal yang dikatakan di dalam ‘injil Barnabas’ sedikit banyak hal-hal atemporal, beberapa detil yang ada dapat dihubungkan pada titik periode abad ke empat-belas.

Bukti terkuat adalah penyinggungan akan peringatan seratus tahun pada bab 82 [h] dan 83 [i]. Karena peringataan umat Kristiani diperpendek pada tahun 1349 menjadi setiap 50 tahun sekali (dan kemudian 25 tahun sekali). Gagasan akan peringatan ratusan tahun mengacu kepada separuh pertama abad keempat belas. Sekalipun secara rutin hal ini disingkirkan oleh para sarjana yang memilih penaggalan lebih lanjut, satu keping bukti ini tidak pernah secara efektif dibantah. (The Date and Provenance of the Gospel of Barnabas [j]).

Sebagai tambahan ada beberapa anakhronisme lain di dalam manuskript, tersebut:

– Bab 152 mendeskripsikan anggur disimpan di dalam tong-tong kayu, yang tidak digunakan secara luas dalam kekaisaran Romawi sampai 300 tahun setelah masa Yesus.

– Bab 91 mengacu kepada “40 Hari” masa puasa tahunan, akan tetapi puasa selama 40 hari masa Prapaskah tidak dapat ditelusuri lebih awal daripada tahun 325 Masehi.

– Kutipan dari Perjanjian Lama berkorespondensi dengan pembacaan dalam Vulgata bahasa Latin, dimana Santo Hironimus (Jerome) tidak memulai pengerjaan [Vulgata tersebut] sebelum tahun 328 Masehi.

Hal itu hanyalah sekedar beberapa contoh fatal. Bila ‘Injil Barnabas’ ditulis oleh sang rasul seperti klaimnya, maka ia tidak mungkin mempunyai kesalahan-kesalahan yang sangat fatal dan ahistori tersebut.

Abaikan Meme-Meme

Ada beberapa meme yang muncul dari waktu ke waktu mengklaim bahwa sebuah ‘Injil’ berusia 1500 tahun telah ditemukan di Turki dan bahwa pihak Vatican menjadi sangat khawatir mengenai hal itu sehingga tidak dipublikasikan. Klaim ini mulai beredar pada tahun 2012 setelah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki mengkonfirmasi bahwa mereka telah mendepositkan sebuah manuskrip biblis 52-halaman dalam bahasa Siria ke dalam Museum Ethnography di Ankara. Koran-koran Turki berspekulasi bahwa itu mungkin sebuah salinan akan Injil Barnabas. [k]

Sekalipun bila versi Turki tersebut benar-benar berumur 1500 tahun,  sangat tidak mungkin ditulis oleh Barnabas, karena rasul Barnabas (bukan golongan kedua belas rasul) Yesus telah wafat pada saat itu.

Bagaimana Pendapat Ahli?

Mendiang Dr. Abbas Mahmoud Al Aqqad dalam bukunya yang berjudul “Hayatul Masih fit Tarikh was Kusyufil ‘ashril Hadiets”, (Cairo: Darul Hilal) menguraikan kepalsuan ‘Injil Barnabas.’ [2] Oleh sebab itu, ia mengajak setiap orang untuk menjauhi ‘Injil Barnabas’ karena isinya sangat menyesatkan.

Tambahan untuk disimak:

Catatan kaki sumber:

[a] http://www.catholic.com/…/jon-sor…/islam-and-the-crucifixion
[b] http://barnabas.net/
[c] http://www.newadvent.org/fathers/0817.htm
[d] http://www.newadvent.org/fathers/0124.htm
[e] http://barnabas.net/in…/chapters/435-42-i-am-not-the-messiah
[f] http://barnabas.net/inde…/chapters/405-216-judas-transformed
[g] http://barnabas.net/in…/chapters/406-217-judas-was-crucified
[h] http://barnabas.net/in…/chapters/479-82-woman-a-truth-seeker
[i] http://barnabas.net/index.php/chapters/480-83-the-other-food
[j] http://www.academia.edu/…/_The_Date_and_Provenance_of_the_G…
[k] http://www.nationalturk.com/…/1500-year-old-syriac-bible-fo…

Sumber: http://www.catholic.com/…/why-the-%E2%80%98gospel-of-barnab…

[1] Ajaran ini mirip ajaran sesat Gnostisisme.
[2] Seorang guru besar terkenal di Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir.

Menteri Susi Pernah Sembunyi di Biara Katolik

0

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti hadir di Vatikan untuk bertemu secara khusus dengan Paus Fransiskus pada Selasa (12/12/18).

Usai pertemuan istimewa itu, Menteri Susi juga menghadiri jamuan makan malam yang dibuat Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan Antonius Agus Sriyono. Jamuan makan malam itu juga dihadiri sejumlah pastor dan suster. Menteri Susi kemudian membagikan ingatannya tentang sebuah biara Katolik di Sukabumi.

“Saat saya remaja, saya pernah kabur ke biara di Sukabumi karena menolak dikawinkan dengan pria yang jauh lebih tua dari saya. Saya lari ke biara dan sembunyi di sana,” ujar Susi seperti dilansir dari Kompas.com (13/12/18).  Cerita itu disambut tawa mereka yang hadir dalam jamuan makan malam itu. Menteri Susi sendiri tidak begitu mengingat dengan jelas nama biara itu. Bisa jadi itu adalah sebuah Biara Ursulin di Sukabumi.

Kunjungi Biara Ursulin                                 

Menteri Susi, seperti diceritakan Suster Moekti K. Gondosasmito OSU asal Indonesia, juga mengunjunjungi Biara Ursulin di Roma pada Rabu (12/12/18). Dia juga didampingi News Director Kompas TV, Rosianna Magdalena Silalahi.

Orang nomor satu di KKP ini datang ke Unione Romano Dell’Ordine Di S. Orsola atau Rumah Induk Ursulin Uni di Roma. Di sini berkumpul para biarawati Ordo Ursulin dari berbagai negara. Salah satu biarawati asal Indonesia adalah Suster Moekti K. Gondosasmito OSU. Suster Moekti mengaku sangat senang mendapatkan kunjungan istimewa dari Menteri Susi.

“Saya senang sekali Ibu Susi bisa ke sini. Berbicara dengan beliau meyakinkan saya dan kami semua betapa kita membutuhkan lebih banyak Susi lainnya yang berani,” kata Suster Moekti. Menteri Susi, sambung Suster Moekti, telah menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dengan menjaga laut. Para Suster Ursulin bangga melihat kaum perempuan secara konsisten terus berkarya menjalankan visinya. Ini mempunyai kesamaan visi yang dijalankan Ordo Ursulin yang telah banyak membangun sekolah, termasuk sekolah khusus remaja putri. Perempuan harus ikut dalam membangun dunia yang lebih baik.

Renungan Masa Adven: Tuhan Datang, Ayo Bangkit!

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay,com

Banyak alasan membuat kita patah hati dan patah semangat. Kita selalu merasa mempunyai alasan untuk itu. Orang Israel mengalami hal yang sama. Mereka dibuang dari negerinya sendiri. Tapi, umat Israel diberi pengharapan oleh Allah. Mereka akan hidup sebagai orang-orang yang diselamatkan sebab Allah akan berjalan bersama mereka. Tuhan memulihkan keadaan mereka.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Umat Israel dibawa ke tempat pembuangan. Mereka sudah mengalami suka duka hidup ini dan tercerai berai. Allah mau mengumpulkan mereka kembali. Hidup kita mirip dengan pengalaman bangsa Israel. Kita tercerai berai dan makin menjauh dari Tuhan akibat dosa. Tuhan memberi penghiburan, yaitu Ia akan datang untuk membebaskan kita. Syarat dan ketentuan berlaku, yaitu kita harus bertobat dan patuh terhadap Tuhan.

Kita diajak supaya tidak tertidur di dalam kegelisahan dan ketakutan sebab Tuhan yang kita imani bukan Tuhan yang tega, melainkan Tuhan yang peduli. Ia tidak tega melihat hidup kita menderita, melainkan Ia peduli dan mau menyelamatkan kita. Justru karena kepedulian-Nya itulah, makanya Ia rela menjadi manusia sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Ia akan datang untuk membebaskan kita dari penindasan dan perbudakan dosa. Ia tidak membiarkan hidup kita merana.

Tuhan akan datang untuk melawat kita. Kita diminta supaya sabar menanti dan tidak berbuat dosa. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Siapkan jalan bagi Tuhan, luruskan jalan baginya!”. Semua orang akan melihat keselamatan yang dari-Nya.

Ya, keselamatan kita datang dari Allah. Ayo bangkit! Mari kita menantikan kedatangan Tuhan dengan penuh pengharapan dan persiapan. Yang lekak-lekuk harus diluruskan dan diratakan. Seruan Yohanes pembaptis mesti didengar oleh setiap orang.

Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan. Selama ini hidup kita mungkin banyak bengkoknya. Kita menyimpang dari jalan Tuhan dan membuat jalan lain. Saatnya untuk kita luruskan dan kembali ke jalan Tuhan.

Hati kita mungkin kosong, kita begitu kecewa pada Tuhan sebab kita merasa Tuhan meninggalkan kita. Saatnya untuk kita timbun kembali. Sikap kita terlalu congkak, kita merasa paling hebat, saatnya untuk kita ratakan. Segala perilaku yang berliku-liku, diluruskan. Hanya dengan cara itu, kita dapat melihat keselamatan yang datang dari Tuhan.

Mengapa Pusat Agama Katolik Berada di Vatikan (Seri I)?

0

Banyak kaum Evangelis mempertanyakan mengapa Gereja berakhir di Roma. Menurut mereka Kitab Suci mengatakan mengenai “Yerusalem Baru” dan tidak mengatakan mengenai Gereja di Roma sampai pada akhir Kitab Kisah Para Rasul. Memahami hal ini sesungguhnya kembali kepada penerimaan kita bahwa Petrus diberikan kunci-kunci Kerajaan oleh Yesus (Mat. 16:18). [Selain itu, Rasul Petrus diberikan mandat untuk menjadi gembala atas domba-domba (bdk. Yoh. 21:15-19)].

Gereja Katolik meyakini adanya bukti biblis dan historis[a] tak terbantahkan yang mendukung keunggulan Petrus. Petrus mewartakan Injil sampai ke Roma dan meninggal di sana. Setelah itu penerus-penerusnya berada di sana dan melanjutkan penggembalaan. [hal ini tentu saja untuk menggenapi perkataan Yesus bahwa ia akan menyertai GerejaNya sampai akhir jaman]. Sementara, itu di Yerusalem sekitar tahun 70, terjadi penganiayaan hebat yang membuat Gereja hampir mati suri sampai sekitar tahun 130. Banyak artikel yang meneguhkan keberadaan Rasul Petrus dan wafatnya di Roma.[b].

Yerusalem Baru Dalam Kitab Wahyu Bukan Sebuah Tempat Fisik

Sama halnya Perjanjian Lama penuh dengan bayangan akan [tipologi] Perjanjian Baru, umat Katolik meyakini bahwa Alkitab menunjukkan jelas bahwa Yerusalem Baru dalam Kitab Wahyu bukanlah kota historis Yerusalem. Kita tidak percaya bahwa Israel masa kini adalah sebuah wujud spiritual yang sama dengan Israel dalam sejarah sebelum masa Kristus. Setelah penyaliban, tabir Bait Suci Yahudi terbelah menjadi dua (Mar 15:37-39, Luk 23:44-46, Mat 27:51). Pada titik itu, pemindahan otoritas terjadi dan kita percaya bahwa bibit Gereja menjadi Israel Baru.

Katekismus Gereja Katolik artikel 63 menjelaskan: Israel adalah bangsa imam-imam Allah (Bdk. Kel 19:6), yang telah diberkati dengan “nama Allah” (Ul 28:10). Itulah bangsa orang-orang, “yang menerima Sabda Allah sebelum kita” (MR, Jumat Agung, Doa umat meriah 6), bangsa “kakak-kakak” dalam iman Abraham. [KGK #63]. Setelah wafat Yesus, nubuatan Perjanjian Lama mengenai Yerusalem secara jelas dipahami sebagai referensi akan umat Allah dan bukannya kota historis Yerusalem. Ini berarti bahwa takhta Gereja dapat berada dimanapun di bumi. Ini membuka pintu akan kepindahan ke tempat yang paling bagus untuk bibit Gereja yang sedang berjuang. Itu bukan berarti tidak ada kepentingan historis akan Yerusalem maupun ia menyangkal bahwa Allah masih mempunyai hati kepada umat Yahudi dan suati hari mereka akan bertobat. Lihat artikel saya mengenai Teologi Penggantian[c] untuk lebih jelasnya.

‘Ujung Bumi’ Dalam Kisah Para Rasul adalah Roma

Yesus ingin agar Injil diwartakan ke seluruh dunia. Bila tidak terjadi penganiayaan di Yerusalem dapat dipertanyakan sejauh mana Injil dapat berjalan. Penganiayaan memaksa para rasul untuk keluar dari Yerusalem. Kita melihat dalam Kisah Para Rasul sebuah gerakan yang kuat untuk mendirikan Gereja di Roma sebagai ‘ujung bumi’. Disitulah Kisah Para Rasul berakhir. Santo Lukas menyatakan, “Inilah bagaimana kita akhirnya sampai di Roma” (Kis 28:14). Beberapa Evangelis berpikir bahwa Kisah para Rasul berakhir terlalu tiba-tiba. Mereka gagal melihat bahwa pendirian Gereja Perdana di Roma adalah tujuan dan Lukas mengakhiri bukunya saat hal ini terpenuhi. Kepindahan ke Roma terjadi sangat awal dalam sejarah Kristiani yang kita dapat temukan dalam Alkitab. Yesus sendiri berkata “jadikanlan semua bangsa murid-Ku” (bdk. Mat 28:19) dan itu dapat terpenuhi apabila Injil telah diwartakan sampai ke ujung bumi yakni Roma. Mereka yang berpikir bahwa Roma adalah kota binatang [dalam Wahyu] mungkin perlu membaca ini[d].

Petrus Mempunyai Kedudukan Tertinggi Diantara Para Rasul

Seorang imam Ortodoks menunjukkan bahwa Yakobus yang membuat keputusan seputar permasalahan sunat di Yerusalem, bukan Petrus (Kis 15:19). Seperti kita ketahu, Yakobus adalah Uskup Yerusalem sehingga masuk akal bahwa Yakobus akan membuat keputusan di dalam wilayah pelayanannya/keuskupannya. Dia membuat keputusan tersebut berdasarkan ceramah Petrus (Kis 15:14). Keputusannya adalah tanggapan atas petunjuk Petrus. Tiada bukti biblis akan perebutan kekuasaan diantara Santo Yakobus (Uskup Yerusalem) dan Santo Petrus. Akan tetapi ada banyak bukti bahwa Petrus adalah sebagai pemimpin. Sekedar untuk kita ketahui, Petrus disebut lebih banyak dari para rasul lainnya dalam Kitab Suci (152 kali). Ia berdiri dan berkata mewakili para rasul (Mat 19:27, Kis 1:15, 2:14). Ia berdiri pada kelahiran Gereja saat Pantekosta untuk memimpin mereka (Kis 2:14). Selain itu, para murid disebut dengan “Petrus dan para rasul” (Kis 2:37, 5:29) dan Petrus diberikan otoritas ‘kuasa melepas dan mengikat’ sebelum para rasul lainnya (Mat 16:18). Ia  selalu disebut pertama saat daftar para rasul dimunculkan (Mat 10:1-4, Mar 3:16-19, Luk 6:14-16, Kis 1:13) — beberapa kali hanya “Petrus dan mereka yang bersama dia” (Luk 9:32).Yohanes berlari mendului Petrus ke makam akan tetapi saat dia tiba dia berhenti dan tidak masuk ke dalam. Dia menunggu dan membiarkan Petrus masuk. (Yoh 20:4). Petrus turun dari perahu di tengah badai, sekalipun mereka semua takut mereka akan mati di dalam badai (Mat 14:29).

Petrus adalah yang tertua

Yesus berkata pada petrus untuk “Berilah makan domba-dombaKu [Yunani: ‘arnia’]… gembalakanlah domba-dombaKu [Yunani: ‘probata’]… berilah makan domba-dombaKu [Yunani: ‘probata’]” (Yoh 21:15-17). Perbedaan antara ‘arnia’ dan ‘probata’ sangat signifikan. ‘Arnia’ adalah anak/bayi domba, sedangkan ‘probata’ adalah domba dewasa. Kemungkinan Yesus meminta kepada Petrus untuk menjaga baik umat awam (arnia), dan para rasul (probata). Terlepas dari penafsiran akan anak-anak domba dan domba dewasa, secara jelas Yesus meminta kepada Petrus untuk memberi makan dan menggembalakan kawanan dombaNya. Nampaknya Dia meminta Petrus untuk menggembalakan GerejaNya di bumi, mewakiliNya.”Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu (Yunani: ‘hymas’, bentuk jamak, atau “kamu semua”) seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau (Yunani ‘sou’, bentuk tunggal personal, atau “kamu sendiri”), supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Lukas 22:31-32). Petrus mengawasi ‘masuknya’ bangsa Samarita, dan non Yahudi [ke dalam Gereja]. Ini dapat menghancurkan iman, akan tetapi dibawah bimbingan Petrus Gereja turut bersama, karena Petrus adalah pempimpin mereka.

Perpindahan Pusat Kekristenan Dari Yerusalem Ke Roma

Dari sudut pandang praktis, kita tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya kepausan berada di Yerusalem. Yerusalem selalu berada dalam keadaan kacau, dan telah ditaklukkan berkali-kali. Yerusalem di bawah kekuasa Islam selama berabad-abad setelah masa Kristus. Kita dapat membayangkan nasib Kepausan di bawah kekuasaan Islam. Itu akan menjadi bencana. Benar, Roma telah dijarah berkali-kali pada tahun 410, 455 dan 546 oleh suku-suku Jerman [barbar], dan sekali lagi pada tahun 1527 oleh Kaisar Agung Roma, Charles V, akan tetapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kekacauan Yerusalem. Umat Katolik percaya Allah tahu persis apa yang Dia lakukan saat Dia memindahkan takhta Gereja ke Roma jauh dari timur tengah selama generasi pertama sesudah Kristus.

Catatan Kaki

[a] http://catholicbridge.com/catholic/pope_peter_rock.php

[b] http://catholicbridge.com/catholic/did_peter_die_in_rome.php

[c] http://catholicbridge.com/catholic/replacement_theology.php

[d] http://catholicbridge.com/catholic/were_catholics_pagan.php

Sumber: http://catholicbridge.com/…/why_did_the_catholic_church_mov…

Penerjemah:  Maximinus

Editor: Silvester Detianus Gea

Catatan: Tulisan dalam tanda kurung ‘[ ]’ adalah tambahan editor.

Menteri Susi Pudjiastuti Bertemu Paus Fransiskus

0

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengunjungi Tahta Suci Vatikan. Kunjungan itu diadakan atas undangan Tahta Suci. Pada kesempatan itu, Susi Pudjiastuti bertemu dengan Paus Fransiskus, Rabu waktu setempat, (12/12/2018). Seperti diketahui, Paus Fransiskus pernah menyerukan pentingnya menjaga keutuhan lingkungan hidup pada Our Ocean Conference di Bali pada Oktober 2018. Adapun konferensi tersebut dihadiri oleh para pemimpin dunia kelautan. Pada kesempatan itu, disepakati komitmen bersama untuk menjaga ekosistem laut dan isu penangkapan ikan illegal.

Seperti dikethaui, beberapa TV swasta pada Rabu malam (12/12/2018), memberitakan bahwa Menteri Susi salah satu pemimpin dari beberapa negara yang ditemui oleh Paus Fransiskus. Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus menyerukan pentingnya membangun komitmen dan kerja sama global untuk ‘Menjaga Rumah Bersama’ sebagaimana disebutkan dalam Ensiklik Laudato Si. Ensiklik tersebut dikeluarkan pada tahun 2015. Ensiklik ini dikeluarkan untuk menanggapi pemanasan global yang merusak ‘Rumah Bersama.’ Paus mengajak setiap orang untuk menjaga alam semesta dan seluruh ciptaan sehingga terjadi keharmonisan.

Menteri Susi begitu antusias mendengar seruan Paus yang menekankan pentingnya menjaga laut sebagai bagian dari ‘Rumah Bersama’. Susi berharap seruan Paus menjadi perhatian bagi pemimpin dunia untuk menjaga ‘Rumah Bersama’, terutama laut. Selain itu, Menteri Susi menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan undangan kepada Paus Fransiskus untuk berkunjung ke Indonesia.

Editor: Silvester Detianus Gea

Kitab Kidung Agung Vulgar? Benarkah?

1
PIRO4D / Pixabay

Mungkin saudara-saudarai seiman, sering ditanya mengenai Kitab Kidung Agung yang isinya seperti ‘porno’. Namun saudara-saudari seiman kesulitan untuk menjelaskan kepada penanya. Kitab Kidung Agung merupakan kitab yang unik dan memiliki nilai sastra yang tinggi serta mengandung makna yang dalam. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan yang mumpuni dan mendalam untuk memahami isi dan pesan yang mau disampaikan. Tidak heran jika orang-orang non-Kristen menanyakan karena mereka tidak mengerti maksud dari ayat-ayat ‘romantis’ dan terkesan ‘vulgar’. Tetapi bagi umat beriman tentu tidak kaget dengan ayat-ayat itu, karena memiliki pemahaman yang ‘mendalam’ terhadap Kitab Suci. Pada kesempatan ini tim jalapress.com menjelaskan sedikit pengalaman setelah mengikuti seminar  berjudul “Ke Surga Dengan Tubuh???” yang disampaikan oleh RD. Josep Ferry Susanto pada tanggal 25 Januari 2014 di Gereja Katedral Jakarta. Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita ketahui tentang Kitab Kidung Agung yaitu:

Pertama, Kitab Kidung Agung setiap menyebut bagian tubuh manusia selalu merujuk pada kisah penciptaan (bdk Kej. 1-2). Mengapa? Ketika Tuhan menciptakan manusia, Ia berkata, ‘Sungguh Amat Baik.’ Sungguh amat baik artinya agung, mulia dan melebihi segala sesuatu. Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa diciptakan dalam keadaan telanjang, mereka tidak berkata satu sama lain; Porno. Kok bisa? Karena mereka masih belum jatuh dalam dosa. Tujuan penciptaan alat kelamin atau seksualitas pada mulanya adalah untuk melanjutkan keturunan. Tetapi setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia menggunakan yang ada pada dirinya secara salah. Kitab Kidung Agung memuat sastra puisi yang selalu menunjukkan kekaguman atas tubuh manusia terutama tubuh perempuan. Sesungguhnya hal itu adalah sebuah kritikan terhadap orang-orang yang menyalahgunakan anggota tubuhnya. Kitab Kidung Agung selalu mengacu pada Kitab Kejadian untuk mengajak setiap pembaca agar kembali kepada citra yang semula, tanpa prasangka buruk terhadap tubuh. Oleh sebab itu, semua orang diajak untuk menghagai tubuh sesamanya seperti ia menghargai tubuhnya sendiri. Terlebih tubuh manusia hendaknya dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan dalam bentuk karya dan karsa.

Kedua, Kitab Kidung Agung juga memuat kejadian-kejadian masa lalu, misalnya menikahkan gadis di bawah umur. Oleh sebab itu, Kitab Kidung mengkritisi kebiasaan buruk itu. Tidak heran jika selalu merujuk kepada Kitab Kejadian yang membahas tentang kekudusan pernikahan (Bdk. Kej. 1:26-28 2:21-25).

Ketiga, Kitab Kidung Agung harus dibaca dengan bimbingan Roh Kudus agar pikiran tidak ‘negatif”. Sebagai contoh, Jika anda menyayikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa.” Salah satu penggalan syairnya berbunyi, ‘Melambai-lambai nyiur di pantai’…Apakah anda kira punya tangan?. Berbisik-bisik Raja Kelana…Apakah ada kerajaan Kelana?. Tentu kalimat dalam kutipan itu memakai majas personifikasi. Demikian pula ‘kasus’ kalimat dalam Kitab Kidung Agung, ada yang harafiah ada pula yang memakai majas personifikasi atau kiasan. Setidaknya ada dua makna kata ‘mempelai perempuan’ yang ada dalam Kitab Kidung Agung yaitu Umat atau jemaat Allah dan isteri Salomo. Sementara itu, ‘mempelai laki-laki’ merujuk pada dua makna yaitu, Kristus dan Raja Salomo.

Jika umat beriman membaca Bab 7 Kitab Kidung Agung, pikiran umat beriman hendaknya tertuju kepada jemaat yang dikasihi oleh Tuhan. Hindari pikiran negatif menghampiri pikiran saudara-saudari. Nikmatilah bacaan itu secara sederhana seperti membaca sebuah puisi yang di dalamnya mengandung makna yang dalam. Tidak jauh berbeda maknanya dengan Surat Rasul Paulus Kepada Umat di Korintus (bdk. 1 Kor. 12:12-27) yang menggunakan bagian tubuh sebagai gambaran peran jemaat dalam pelayanan. Rasul Paulus mengatakan, ‘Satu tubuh, namun anggotanya banyak. Kemudian ia menyinggung tentang peran masing-masing anggota tubuh seperti kaki,tangan, telinga, mata, penciuman. Sementera itu Kitab Kidung Agung menyebut bagian tubuh seperti pinggang, pusar, perut, buah dada, leher, mata, hidung, kepala , rambut dan lain sebagainya.

Semua itu ciptaan Tuhan yang amat mulia, oleh sebab itu hendaknya digunakan demi kemuliaan Tuhan. Setiap anggota tubuh manusia berharga dimata Tuhan, oleh sebab itu umat beriman diajak menjaga tubuh kita agar tidak tercemar oleh pesta pora dan kemabukan. Damai Kristus beserta kita.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Jumlah Umat Katolik Indonesia dan Dunia

0
mgil888 / Pixabay

Katolik Indonesia

Umat Katolik di Indonesia berjumlah 6,9 juta (2,91%) pada tahun 2013 dan pada tahun 2016 naik kurang lebih 7 juta orang (hamper 3%) dari jumlah populasi penduduk nasional.

Konsentrasi umat Katolik agak merata di Bali dan Nusa Tenggara, dengan pertumbuhan 1,19%. Pertumbuhan dan persebaran tertinggi ada kawasan Indonesia Timur (Maluku-Papua) sebesar 6,39% dan yang terendah di Sumatra sebesar (–0,65%). Pertumbuhan tertinggi ada di Provinsi Papua (6,58%) dan terendah di Provinsi Gorontalo (-6,64%).

Total jumlah Keuskupan di Indonesia adalah 37 Keuskupan. Keuskupan di Pulau Jawa ada 7 yaitu: Keuskupan Agung JakartaKeuskupan BogorKeuskupan BandungKeuskupan PurwokertoKeuskupan Agung SemarangKeuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang.

Keuskupan di Pulau Kalimantan, ada 8 yaitu: Keuskupan Agung PontianakKeuskupan Agung SamarindaKeuskupan KetapangKeuskupan SanggauKeuskupan SintangKeuskupan PalangkarayaKeuskupan Tanjung Selor dan Keuskupan Banjarmasin.

Keuskupan di Pulau Flores ada 4 yaitu: Keuskupan Agung EndeKeuskupan RutengKeuskupan Maumere dan Keuskupan Larantuka.

Keuskupan di Pulau Sumba ada 1 yaitu: Keuskupan Wetebula.

Keuskupan di Pulau Timor, ada 2 yaitu: Keuskupan Agung Kupang dan Keuskupan Atambua.

Keuskupan di Pulau Sulawesi, ada 2 yaitu: Keuskupan Agung Makassar dan Keuskupan Manado.

Keuskupan di Pulau Ambon, ada 1 yaitu: Keuskupan Amboina.

Keuskupan di Pulau Irian/Papua, ada 5 yaitu: Keuskupan Manukwari/SorongKeuskupan JayapuraKeuskupan Timika, Keuskupan Agung Merauke, dan Keuskupan Agats/Asmat.

Keuskupan di Pulau Bali dan NTB, ada 1 yaitu: Keuskupan Denpasar.

Keuskupan di Pulau Sumatra, ada 6 yaitu: Keuskupan Agung MedanKeuskupan SibolgaKeuskupan Agung PalembangKeuskupan PadangKeuskupan Tanjungkarang dan Keuskupan Pangkalpinang.

Sedangkan jumlah Paroki di seluruh Indonesia sebanyak: 1.205 Paroki, dengan rincian: Pulau Jawa (295 Paroki), Pulau Kalimantan (173 Paroki), Pulau Flores (211 Paroki), Pulau Sumba (24 Paroki), Pulau Timor (78 Paroki), Pulau Sulawesi (94 Paroki), Pulau Ambon (40 Paroki), Pulau Papua (116 Paroki), Pulau Bali dan NTB (24 Paroki), Pulau Sumatra (150 Paroki).

Jumlah Keuskupan Katolik di Dunia

Buku Statistik Gereja, menyebut jumlah umat Katolik meningkat. Menurut ‘Annuarium Pontificium’ (Buku Tahunan Kepausan) 2015 dan Annuarium Statisticum Ecclesiae (Buku Tahunan Statistik Gereja) 2013 yang dikeluarkan di Vatikan tanggal 16 April 2015, masing-masing memperlihatkan beberapa aspek baru dalam kehidupan Gereja sejak Februari 2014 hingga Februari 2015, dan perubahan yang terjadi tahun 2013.

Statistik yang mengacu tahun 2013, menunjukkan dinamika Gereja Katolik di 2.989 yuridiksi gerejawi di dunia. Dapat terlihat dalam periode ini satu Keuskupan dan dua Eparki (keuskupan untuk Katolik Timur) ditingkatkan menjadi Tahta Metropolitan. Juga didirikan tiga Tahta Episkopal baru, tiga Eparki dan satu Eksarkat Episkopal Agung (semuanya untuk Katolik Timur), serta satu Prelatur Teritorial ditingkatkan menjadi Keuskupan, dan satu Prefektur Apostolik menjadi Vikariat Apostolik.

Sejak tahun 2005, jumlah umat Katolik di seluruh dunia meningkat dari 1.115.000.000 menjadi 1.254.000.000, atau bertambah sebanyak 139 juta umat. Dalam dua tahun terakhir, umat Katolik yang dibaptis meningkat dari 17,3% menjadi 17,7%. Ada peningkatan 34% umat Katolik di Afrika, yang mengalami pertumbuhan penduduk 1,9% antara tahun 2005 dan 2013. Peningkatan umat Katolik di Asia (3,2% di tahun 2013, dibandingkan dengan 2,9% di tahun 2005) lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk di Asia.

Di Amerika, umat Katolik terus mewakili 63% dari pertumbuhan penduduk. Di Eropa, di mana penduduknya cenderung stagnan, terjadi sedikit peningkatan jumlah umat yang dibaptis dalam beberapa tahun terakhir. Persentase Katolik yang dibaptis di Oseania tetap stabil meskipun penduduknya menurun.

Sejak tahun 2012 hingga 2013, jumlah Uskup bertambah dari 5.133 menjadi 5.173 (bertambah 40 Uskup). Di Amerika Utara dan Oseania terjadi pengurangan dari 6 menjadi 5, berbeda dengan pertambahan 23 Uskup di bagian lain benua Amerika itu, 5 di Afrika, 14 di Asia dan 9 di Eropa.

Jumlah imam, diosesan dan religius, meningkat dari 414.313 di tahun 2012 menjadi 415.348 di tahun 2013.

Calon Imam, Diosesan dan religius, turun dari 120.616 di tahun 2011 menjadi 118.251 di tahun 2013 (-2%). Peningkatan 1,5%, justru terjadi di Afrika, dibandingkan dengan penurunan 0,5% di Asia, 3,6% di Eropa dan 5,2% di Amerika Utara.

Jumlah Diakon permanen terus tumbuh subur, melewati 33.391 di tahun 2005 menjadi 43.000 di tahun 2013. Mereka secara khusus berada di Amerika Utara dan Eropa (96,7%), dan sisanya 2,4% terbagi di Afrika, Asia dan Oseania.

Jumlah kaum religius berkaul selain imam bertumbuh sebesar 1%, dari 54.708 di tahun 2005 menjadi 55.000 di tahun 2013. Peningkatan jumlah itu terjadi di Afrika sebesar 6% dan Asia sebesar 30%, dan penurunan di Amerika (2,8%), Eropa (10,9%) dan Oseania (2%). Penurunan signifikan kaum religius wanita, dimana saat ini sebanyak 693.575 dibandingkan dengan 760.529 di tahun 2005: (-18,3%) di Eropa, (-7,1%) di Oseania, dan (-15,5%) di Amerika. Namun, tercatat peningkatan 18% di Afrika dan 10% di Asia.

Catatan: Data ini bisa berubah setiap tahun, terutama di Indonesia pada tahun 2018 ada penambahan jumlah paroki.

Sumber:

1. Lihat dan bdk, dengan data pada pcp Vatikan Information Service
2. Lihat dan bdk, juga pada buku: Bernadus Barat Daya & Silvester Detianus Gea“Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional, Hingga Pejabat Negara”, YAKOMINDO, 2017.