5.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 77

Resensi Buku: Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias

1

Buku dengan judul “Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias” mengangkat banyak hal tentang budaya dan kearifan lokal suku Nias.  Pada bagian pertama buku ini, memuat gambaran umum tentang Kepulauan Nias, secuil tentang keberadaan suku Nias, cerita tentang asal-muasal nenek moyang suku Nias, juga tentang pandangan dari para Arkeolog dan Antropolog. Pada bagian kedua buku ini, lebih menggambarkan mengenai kearifan lokal masyakat suku Nias, seperti tentang tata cara pernikahan suku Nias, mulai dari mencari jodoh, pertunangan, penentuan jujuran, hingga legenda penciptaan manusia (Fomböi Böröta Niha) dan lain sebagainya.

Semua itu tentu diulas dalam perspektif adat istiadat masyarakat suku Nias. Pada bagian ini ada klarifikasi atau bantahan terhadap tuduhan orang-orang tidak bertanggungjawab tentang adat istiadat pernikahan suku Nias. Pada bagian ketiga, memuat berbagai pepatah, baik ‘pepatah besar’ (Sebua) yang jumlahnya kurang lebih sebanyak 256 pepatah, maupun ‘pepatah kecil’ (Side’ide) yang jumlahnya mencapai 64 pepatah. Selain itu, juga dtampilkan berbagai informasi terkait obyek wisata, menu makanan dan minuman khas Nias, berbagai jenis perabotan rumah tangga tradisional, lengkap dengan gambar-gambar yang dicantumkan dalam galeri foto pada bagian akhir buku ini.

Buku ini digarap oleh Silvester Detianus Gea dan H. Lisman B.S. Zebua. Kata sambutan: Bruno A. Richard Telaumbanua, ST. Editor dan Kata Pengantar: Dr. Bernadus Barat Daya, S.H., M.H. Desain Cover: Edizaro Waruwu. Diterbitkan oleh Penerbit YAKOMINDO. Copyright©2018, dengan ISBN dari Perpustakaan Nasional RI Nomor: 978-602-60620-4-8. Jumlah halaman: 187 (15 x 23 cm). Buku ini layak dibaca oleh khalayak, terutama bagi warga masyarakat suku Nias. Keterpanggilan untuk mengenal budaya dan kearifan-kearifan lokal suku Nias, tentu perlu menjadi ‘kebutuhan’ dan keniscayaan bagi warga suku Nias. Demikian pula, berusaha mengenal adat istiadat suku Nias, sama dengan perwujudan rasa cinta akan diri sendiri, leluhur dan moyang serta tanö niha. Ya’ahowu!

Penulis: Silvester Detianus Gea

 

Mengapa Jemaat Kristen non-Katolik Tidak Boleh Menerima Hosti dalam Ekaristi?

0
Gambar ilustrasi dari Pixabay.com

Tidak asing bagi umat Katolik bahwa syarat agar seseorang boleh menerima komuni adalah sudah dibaptis secara Katolik atau diterima ke dalamnya dan telah menerima komuni pertama.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pada perayaan-perayaan Ekaristi yang bertema khusus, hadir juga orang-orang non-Katolik, misalnya dari berbagai denominasi Kristen. Apakah mereka boleh menerima hosti? Jawabannya: tidak. Mengapa? Karena mereka tidak dibaptis Katolik atau diterima ke dalamnya; dan tidak menerima komuni pertama. Tapi, bukan hanya itu. Masih ada alasan-alasan lain yang membuat mereka tidak diperbolehkan menerima komuni dalam Ekaristi.

Pertama, Kristen non-Katolik menolak hosti dan anggur yang telah dikonsekrasi sebagai sunguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus (bdk. Kanon 844). Kristen non-Katolik hanya meyakininya sebagai lambang. Sementara itu, Gereja Katolik meyakini bahwa hosti dan anggur yang telah dikonsekrir sebagai sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus.

Kedua, ketika Kristen non-Katolik memisahkan diri dari Gereja Katolik, maka Sakramen Tahbisan atau Imamat tercabut daripadanya. Dengan demikian, persekutuan-persekutuan Gereja Reformasi telah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan penuh (bdk. KGK, 1400, UR 22).

Ketiga, Kitab Hukum Kanonik (KHK) 844 – § 1. Para pelayan Katolik menerimakan sakramen-sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman Katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan kan.

Keempat, Kanon 844, § 2. § 3. Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

Kelima, Kanon 844 § 4. Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan Katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik dan berdisposisi semestinya.

Referensi:
Kitab Hukum Kanonik. 2016. Jakarta: KWI.

Belajar dari Zakheus: Berjaga-jaga dan Bertobat — Renungan Harian

0
UserBot / Pixabay

Belajar dari Zakheus: Berjaga-jaga dan Bertobat: Renungan Harian Katolik, Selasa 20 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Why. 3:1-6, 14-22; Injil: Luk. 19:1-10

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, pada hari-hari terakhir menjelang berakhirnya tahun liturgi, kita disuguhkan dengan bacaan-bacaan Kitab Suci yang berisi tentang akhir zaman. Dikatakan bahwa pada saat akhir zaman itulah Tuhan akan datang ke dunia ini untuk kedua kalinya. Tetapi, mengenai kapan persisnya Ia datang, tidak ada seorang pun yang tahu. Kitab Suci menggambarkan kedatangan-Nya seperti pencuri yang datang pada malam hari, artinya tak seorang pun yang mengetahuinya.

Dalam rangka menyambut kedatangan Tuhan itu, dari kita dituntut dua hal. Pertama, kita harus senantiasa berjaga-jaga. Orang yang berjaga-jaga sadar apa yang dilakukannya, dan tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Tuhan mau supaya ketika Dia datang, kita didapati-Nya sedang melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Dia tidak mau kita ‘terlelap’ dalam prilaku menyimpang; yang menjauhkan kita dari jalan-Nya. “Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu” (Why. 3:3).

Kedua, kita harus bertobat. Hampir pasti tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak berdosa. Semua berdosa. Tetapi, tidak semua orang berdosa mau bertobat. Memang, berdosa itu biasa; tetapi bagaimana bangkit dari kedosaan itu dan membangun sikap tobat, itulah yang luar biasa. Yang luar biasa inilah yang harus kita lakukan, karena tidak cukup kalau kita hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Saudara-saudari yang terkasih, kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, jelas tujuannya. Dalam Nubuat Daniel sudah dikatakan: “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan. 12:2).

Tuhan datang untuk mengadili orang hidup dan orang mati. Masing-masing kita akan dinilai berdasarkan rekam jejak kita masing-masing. Semuanya akan tercatat di dalam satu kitab, yang oleh penulis Kitab Wahyu disebut ‘Kitab Kehidupan’ (Why. 3:5).

Situasi akhir zaman sangatlah mencekam dan menyeramkan. Selain bangkitnya orang mati (Bdk. Dan. 12:2), juga terjadinya gejala alam yang luar biasa. “Pada akhir zaman, sesudah siksaan-siksaan yang berat, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang” (Mrk. 13:24-25).

Tentu tidak ada orang yang mampu bertahan dalam situasi seperti itu. Tetapi, Daniel, dalam nubuatnya memberi harapan kepada kita. Ia berkata, “Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu” (Dan. 12:1). Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana caranya supaya nama kita tidak dihapuskan dari kitab itu. Caranya bagaimana? Kembali lagi pada dua poin di atas, yakni berjaga-jaga dan bertobat. Hanya dengan cara itu kita bisa memastikan bahwa nama kita tercatat di dalam Kitab Kehidupan. Penulis Kitab Wahyu menuliskan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya” (Dan. 3:5).

Kita tahu bahwa sumber dosa kita ada tiga, yakni pikiran, perkataan, dan perbuatan. Maka, dengan berjaga-jaga, artinya kita sadar dan memperhatikan segala apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan. Nah, bagaimana jika kita ‘khilaf’ dan tidak mampu menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita? Tidak ada cara lain, selain bahwa kita harus bertobat.

Pertobatan yang benar, tidak setengah-setengah. Total. Kita bisa melihat contohnya dari sikap Zakheus dalam Injil hari ini. Zakheus dikenal luas sebagai orang pendosa, korup. Zakheus tahu itu. Ia sadar betul bahwa ia sudah salah arah. Tetapi, ia tidak mau ‘terlelap’ di dalam kedosaannya itu. Ia mau bertobat secara total. Makanya, ia berjanji kepada Tuhan, katanya: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk. 19:8).

Seperti biasanya, Tuhan tidak akan menghakimi, apalagi menghukum; sebab Ia Mahakasih. Ia memberikan kesempatan kedua bagi siapa saja yang mau bertobat. Ia juga justru akan menghargai usaha kita untuk bertobat, sama seperti yang dilakukan-Nya pada Zakheus, sang pendosa itu. Tuhan berkata kepada Zakheus: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham” (Luk. 19:9).

Saudara-saudari yang terkasih, selama ini mungkin banyak kali kita sesat pikir. Kita suudzon terhadap orang. Kita berburuk sangka terhadap sesama. Mungkin juga selama ini kita suka nyinyir terhadap orang lain. Kita melontarkan ucapan-ucapan yang tidak semestinya terhadap sesama karena kita pikir mereka salah, tanpa tabayyun terlebih dahulu. Mungkin pula kita menyakiti orang lain, dengan perbuatan kita.

Maka, marilah kita belajar dari Zakheus; sebab kita tidak lebih baik dari Zakheus. Sama seperti Zakheus, kita harus membangun sikap tobat yang total. Total di sini berarti tidak hanya ucapan bibir, tetapi harus disertai dengan tindakan nyata. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bertobat. Yakinlah, Tuhan yang Mahakasih itu tidak akan menghakimi, apalagi menghukum kita. Ia pasti akan mengampuni dosa-dosa kita. Hanya dengan cara ini, kita bisa memastikan bahwa nama kita tercatat dalam Kitab Kehidupan, sehingga ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya, kita selamatkan-Nya.

Resensi Buku: “Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional, Hingga Pejabat Negara”

0

Dalam catatan sejarah perjuangan bangsa, banyak tokoh yang (beragama Katolik) terlibat aktif dalam memperjuangkan lahirnya negara bangsa Indonesia. Tokoh yang terlibat itu, tersebar di berbagai wilayah nusantara seperti di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Timor, Flores, dll. Sebagian dari mereka telah “diakui” oleh Negara dengan memberikan gelar tanda ‘Pahlawan’, tetapi sebagian besar lainnya belum dan bahkan telah dilupakan.

Setelah RI merdeka, ada pula tokoh-tokoh Katolik yang dipercayakan mengurus Negara dalam Kabinet. Baik pada zaman presiden Soekarno, Soeharto, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo B Yudoyono hingga Joko Widodo. Total jumlah posisi menteri babinet dari era Soekarno hingga era Joko Widodo dalam kurun waktu 72 tahun (1945-2017) berjumlah 1.434 posisi jabatan di kabinet. Dari jumlah tersebut, ada 58 posisi jabatan yang diduduki oleh tokoh Katolik. Ke-58 posisi jabatan itu ditempati (dijabat) oleh 25 orang (1,82%) tokoh Katolik. Dengan rincian; zaman Soekarno (10 orang), zaman Soeharto (6 orang), zaman Habibie (nol), zaman Abdurahman Wahid (1 orang), zaman Megawati Soekarnoputri (2 orang), zaman Susilo B Yudoyono (3 orang) dan zaman Joko Widodo (3 orang).

Kami sengaja membuat buku ini dengan banyak pertimbangan, diantaranya; bahwa kenyataan hingga saat ini, belum ada buku khusus yang menghimpun profil para tokoh Katolik dalam satu buku. Kalaupun ada sejumlah buku biografi dan otobiografi para tokoh yang pernah ditulis sebelumnya, namun buku-buku tersebut memuat secara detail tentang satu tokoh saja dan bukan merupakan kumpulan (antologi) riwayat dari banyak tokoh dalam satu buku. Buku dengan judul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional, Hingga Pejabat Negara” yang kami tulis ini, merupakan analékta atau semacam bunga-rampai beberapa profil dari sejumlah tokoh tsb, baik para tokoh yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan, maupun para tokoh yang pernah duduk sebagai pejabat negara dalam pemerintahan RI.

Sari pati yang menjadi latar penulisan buku ini ialah untuk memperkenalkan riwayat hidup singkat dan rekam jejak dari para tokoh tsb, kepada masyarakat publik secara lebih luas. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan referensi bagi siapa pun untuk mengenal lebih jelas tentang peran dan kedudukan para tokoh tersebut pada zamannya masing-masing. Dalam buku ini mengulas juga rekam jejak para tokoh seperti; Mgr. Albertus Magnus Soegijapranata, Marsekal Muda (Anumerta), Agustinus Adisucipto, Wage Rudolf Soepratman, Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Tjilik Riwut, Laksamana Muda (Anumerta), Yosaphat Sudarso, Robert Wolter Monginsidi, Ignasius Slamet Riyadi, Karel Sadsuitubun, Franciscus Georgius Josephus Van Lith, SJ.

Juga termasuk rekam jejak para tokoh Pejuang yang nyaris terlupakan seperti; Ignasius Fransiscus Michael Chalid Salim, Lim Bak Meng, Cornelius Simanjuntak, Hendik Hermanus Joel Ngantung, Aloysius Sugiyanto, Ignasius Dewanto, Lukas Kustaryo, Richardus Kardis Sandjaja, Soeradi, Hadi, dll. Ada pula beberapa tokoh yang dianggap sebagai tokoh inspirator seperti; Soe Hok Gie, Y.B. Mangunwijaya, Aloysius Benedictus Mboi, Christina Maria Rantetana, Harry Tjan Silalahi, Yosepha Alomang.

Selain itu, beberapa tokoh yang pernah menjabat sebagai menteri kabinet RI mulai dari era Soekarno (1945-1967), seperti; F.X. Soeprijadi, Mr. Ignasius Joseph Kasimo HendrowahyonoIr. M.J. SuwartoF. S. HaryadiProf. Mr. A. SuhardiA. B. de Rozari, Drs. Franciscus Xaverius SedaProf. Dr. Ir. Kanjeng Pangeran Haryo P.K. HaryasudirjaProf. Dr. Mr. Munajadjat Danusaputro dan Mr. Oei Tjoe Tat, SH. Era Soeharto (12 Maret 1967-21 Mei 1998), seperti; Drs. Franciscus Xaverius SedaDr. Cosmas BatubaraProf. Dr. BS. MulyanaJenderal TNI (Pur) Leonardus Benyamin MoerdaniProf. Dr. Johannes Baptista Sumarlin dan Prof. Dr. J. Soedrajad Djiwandono. Dilanjutkan dengan pd era Reformasi seperti; Dr. Alexander Sonny KerafYakob Nuwa WeaDr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.A., M.Sc, Dr. Mari Elka PangestuDr. Nafsiah Mboi, SpA, MPHIgnasius DjonanFranciscus M Agustinus Sibarani, dan Dr. Thomas Trikasih Lembong. Selain para tokoh itu, juga diperkenalkan beberapa organisasi (Parpol dan Ormas) yang berbasis Katolik seperti; Partai KatolikPMKRIPemuda KatolikWKRI dan ISKA.

Pada bab akhir buku ini, dilengkapi dengan susunan menteri kabinet Orde LamaOrde Baru dan Orde Reformasi, mulai dari Kabinet PresidensialKabinet Sjahrir I-IIIKabinet Amir Sjarifuddin I-IIKabinet Hatta I-IIKabinet DaruratEra Demokrasi Parlementer Kabinet RISKabinet SusantoKabinet HalimKabinet NatsirKabinet Sukiman-SuwirjoKabinet WilopoKabinet Ali Sastroamidjojo I-II, Kabinet Burhanuddin HarahapKabinet Djuanda,Kabinet Kerja I-IVKabinet Dwikora I-II dan Kabinet Ampera I-II. Hingga dilanjutkan pada kabinet era Soeharto, dimulai dari Kabinet Pembangunan I-VII, dan kabinet Reformasi (era B.J. HabibieGus DurMegawati SoekarnoputriSBY dan Jokowi).

Buku ini digarap oleh Bernadus Barat Daya & Silvester Detianus Gea dengan tim editor: Ign. Kikin P Tarigan & Cheluz Pahun. Sambutan pengantar, ditulis oleh Dirjen Bimas Katolik RI. Sedangkan Kata Pengantar dibuat oleh Dr. J. Kristiadi (Direktur CSIS). Prolog dan Epilognya ditulis oleh Sekretaris Eksekutif Komisi HAK-KWI dan Ketua PP-PMKRI. Diterbitkan oleh Penerbit YAKOMINDO. Copyright©2017, dengan ISBN dari Perpustakaan Nasional RINomor: 978-602-60620-1-7. Jumlah halaman: 362 (15 x 23 cm).

Apa yang ditulis dalam buku ini, memang bukanlah sebuah rekam jejak lengkap dan sempurna dari para tokoh, tetapi penggalan penting yang layak diketahui pembaca. Dengan menerbitkan buku ini, rujukan publik atas diri masing-masing tokoh akan melengkapi khazanah perbendaharaan sumber-sumber data tentang para tokoh bersangkutan. Upaya ‘menuliskan’ sejarah pada umumnya atau profil pelaku sejarah itu pada khusunya, bukan saja sekadar untuk mendokumentasikannya, tetapi lebih dari itu sebagai salah satu cara ‘pelurusan’ dari upaya orang-orang tertentu yang entah sengaja atau tidak, telah menulisnya secara salah dan serampangan terhadap fakta atau pun identitas pelaku sejarah itu. Menimba dan mempelajari contoh hidup dan kearifan tokoh masa silam, juga sama dengan kita belajar untuk mempersiapkan diri dalam kiprah kehidupan berbangsa di masa datang. Terutama bagaimana meneruskan gelora semangat Katolik 100% dan Indonesia 100%“Pro Ecclesia Et Patria”

 

Berdoa tanpa Batas — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh StockSnap / Pixabay

Berdoa tanpa Batas: Renungan Harian Katolik, Sabtu 17 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: 3 Yoh. 1:5-8; Injil: Luk. 18:1-8

Kita ini adalah pengikut Kristus; orang-orang yang beriman kepada Kristus. Tandanya kita sebagai pengikut Kristus, yaitu bahwa kita mengikuti ajaran Kristus. Apa ajaran Kristus? Tidak lain adalah ajaran kasih.

Yesus memperkenalkan kepada kita HUKUM KASIH. Ia berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39). Ia menambahkan bahwa ‘pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi’ (Mat. 22:40).

Apa buktinya bahwa kita mengasihi Tuhan? Yaitu kita terus membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Relasi yang baik itu tercermin dari komunikasi yang kita bangun dengan Tuhan. Itulah doa. Yesus menegaskan bahwa ‘Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya’ (Bdk. Luk. 18:7).

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada para murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Jangan mengaku sebagai pencinta Tuhan tapi dalam kehidupan sehari-hari justru malas berdoa.

Ketika seseorang mencintai, dia tidak mungkin tinggal diam. Paling tidak dia akan terus mencari perhatian atau memberi perhatian, misalnya dengan berkomunikasi terus-menerus. Jika kita mengaku sebagai pencinta Tuhan, mestinya kita selalu berkomunikasi dengan Tuhan dalam dan melalui doa.

Jangan pernah menghitung doa. Pernahkah kita menghitung berapa kali kita berkomunikasi dengan orang yang kita cintai? Cukup tiga kali sehari, sehingga seperti minum obat? Tentu tidak. Tuhan mau supaya kita selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Doa yang rutin dan diulang-ulang mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Bahkan, dari bacaan hari ini dikatakan, diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan memperhitungkan doa dari hamba-hamba-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya. Makanya dipercaya bahwa doa novena mempunyai daya kekuatan yang luar biasa dan kemungkinan untuk dikabulkan sangat besar.

Kadang kita mau doanya satu kali tapi berharap Tuhan langsung mengabulkan doa kita. Tuhan juga pasti akan melihat keseriusan kita. Jika mau berdoa, jangan dihitung. Doa itu komunikasi. Seperti halnya kita berkomunikasi tidak dihitung, demikian juga doa jangan dihitung.

Orang yang mampu mengasihi Tuhan, seharusnya juga mampu mengasihi sesama. Dua hal ini sudah satu paket. Dengan kata lain, orang yang hidup doanya baik, mestinya hidup keseharian dengan sesamanya juga baik. Jangan mengaku sebagai pencinta Tuhan, jika dalam kehidupan sehari-hari kita cenderung tampil sebagai pembenci seama. Yohanes menasihatkan, katanya: “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing” (3 Yoh. 1:5).

Apa yang dikatakan oleh Yohanes ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Yesus. Yesus berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39). Orang beriman tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Kita memperlakukan sesama, sekalipun orang asing, seperti kita memperlakukan diri kita sendiri.

Yohanes menuliskan: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allahdan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh. 4:20).

Di situlah letak hebatnya ajaran Yesus. Kita tidak hanya diminta untuk mengasihi orang-orang yang dekat dengan hidup kita, tetapi juga orang-orang asing, atau bahkan musuh sekalipun.

Yesus berkata: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian” (Mat. 5:46-47).

Mengasihi orang yang dekat dengan hidup kita, itu biasa. Mengasihi orang yang kita cintai, itu lebih biasa lagi. Yang luar biasa adalah kalau kita mampu mengasihi orang asing dan mengasihi musuh. Yesus bersabda: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).

Tentu tidak gampang untuk menerapkan ini di dalam kehidupan sehari-sehari karena kita masih dililit oleh ego kita masing-masing. Tetapi, tidak berarti bahwa kita tidak bisa melakukannya. Kita tentu saja bisa melakukannya, asalkan ada niat dan usaha.

Semoga kita semua mau membangun relasi yang baik dengan Tuhan melalui hidup doa yang baik; serta mau membangun relasi yang baik dengan sesama, siapapun mereka, entah teman dekat, orang asing, bahkan musuh sekalipun. Yakinlah, Tuhan akan memperhitungkan semua perbuatan baik kita. Amin.

Sejarah Novena

0

Novena adalah bagian dari harta rohani Gereja. Novena berasal dari bahasa Latin “Novem” artinya sembilan. Perjanjian Baru mencatat, jarak kenaikan Yesus ke surga dan turunnya Roh Kudus  berjumlah 9 hari. Pada peristiwa itu Yesus memerintahkan para rasul supaya mereka kembali ke Yerusalem dan menunggu datangnya Roh Kudus (bdk. Kis 1:12, 14). Sembilan hari kemudian, Roh Kudus turun atas para rasul yang disebut hari Pentakosta. Kemungkinan “periode doa sembilan hari” yang dilakukan oleh para rasul ini yang menjadi dasar dari doa novena. Jemaat perdana biasanya berkabung selama sembilan hari atas meninggalnya seseorang yang mereka kasihi. Oleh sebab itu, dipersembahkan suatu Misa novena bagi kedamaian jiwa orang yang telah meninggal itu. Hingga kini, perayaan novendialia atau Novena Paus selalu dilaksanakan apabila Paus berpulang.

Sementara itu, pada abad pertengahan terutama di Spanyol dan Perancis, doa novena dipanjatkan sembilan hari sebelum Natal. Hal itu melambangkan sembilan bulan yang dilewatkan oleh Yesus dalam Rahim Bunda Maria. Doa Novena ini sesungguhnya berfungsi untuk mempersiapkan diri merayakan kelahiran Yesus Kristus. Pada perkembangannya banyak novena disusun untuk membantu umat mempersiapkan diri menyambut suatu perayaan atau menghadapi peristiwa tertentu. Novena-novena itu berisi permohon agar para kudus mendoakan umat beriman yang menghadapi pergumulan hidup. Beberapa novena yang sudah lazim diketahui oleh umat antara lain, Novena Medali Wasiat, Novena Hati Kudus Yesus, Novena Roh Kudus, Novena St. Yosef, Novena St. Yudas Tadeus, Novena Tiga Salam Maria, dan lain sebagainya.

Menurut buku pedoman Indugensi, “Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan tekun ambil bagian dalam novena yang diadakan sebelum perayaan Natal, Pentakosta, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa.” Kiranya kita mengetahui bahwa Gereja menekankan bahwa novena merupakan praktek rohani untuk meneguhkan iman individu. Dengan demikian novena merupakan doa pribadi yang dipanjatkan untuk memohon rahmat dan karunia khusus. Berikut novena yang populer didoakan oleh sebagaian umat Katolik antara lain:

  1. Novena Tiga Salam Maria

Novena Tiga Salam Maria berasal dari Santa Mechtildis (1241-1298). Santa Mechtildis mendaraskan novena ini ketika mengalami masalah, kecemasan dan memohon didoakan oleh Bunda Maria agar suatu intensi segera dikabulkan. Ketika  menjelang ajalnya, ia semakin rajin dan tekun mendaraskan Novena Tiga Salam Maria. Konon, Bunda Maria mengabulkan permohonannya dan meminta agar ia berdoa tiga kali Salam Maria. Beberapa Santo yang berjasa dalam mewartakan doa Tiga Salam Maria antara lain, Santo Antonius dari Padua, Santo Leonardus dari Porto Mauritio dan Santo Alfonsus de Liguori. Setidaknya tujuan doa Novena Tiga Salam Maria adalah memohon doa dari Bunda Maria dan pendampingan dari Bunda Maria melalui doanya, agar kita dapat menghadapi kesulitan.

  1. Novena Hati Kudus Yesus

Novena Hati Kudus Yesus adalah devosi rohani yang ditujukan kepada hati kudus Yesus, lambang kerahiman Ilahi kepada umat Manusia. Devosi ini dikenal di kalangan Gereja Katolik Roma, Anglikan dan Lutheran. Devosi ini pertama kali diperkenalkan oleh Marguerite Marie Alacoque, seorang biarawati Prancis. Doa tersebut terinspirasi dari penglihatan Rohani yang dialaminya. Ia melihat Yesus menampakkan diri-Nya dan meminta supaaya Marguerite berdoa kepada hati-Nya yang mahakudus. Dalam Ensiklik Miserentissimus Redemtor Paus Pius XII mengatakan, bila orang ingin memperbaiki diri dari dosa-dosanya dapat berdoa kepada Hati Yesus yang Mahakudus.

  1. Novena St. Antonius Padua

Novena St. Antonius Padua merupakan novena dari vision St. Antonius dari Ordo Fransiskan. Ia mengalami vision berulang kali berkat keteladanan hidupnya yang suci dihadapan Allah. Umat beriman mendaraskan doa novena ini ketika mengalami peristiwa kehilangan suatu barang, memohon pasangan hidup, Meskipun kita melakukan berbagai macam novena tetapi jangan lupa, puncak dari seluruh hidup Kristiani adalah Ekaristi. Oleh sebab itu, kiranya kita tidak mengabaikan Ekaristi Kudus karena melakukan berbagai novena. Novena bukan pula doa sulap agar Tuhan mengabulkan segala hal yang kita inginkan. Tentu saja selain berdoa kita perlu berusaha mencari jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi.

Tuhan Bukan Tukang Sulap

0
Gambar ilustrasi oleh kellepics / Pixabay

Entah sadar atau tidak, seringkali kita memperlakukan Tuhan bak tukang sulap. Kita minta ini, kita mau Tuhan beri. Kita minta itu, kita mau Tuhan kasih. Kita seolah ingin mengatur Tuhan. Akibatnya, ketika kemauan dan keinginan kita itu tidak terwujud, kita kecewa. Lalu, kita bilang bahwa ‘Tuhan tidak peduli’ pada kita.

Kita lupa bahwa tidak jarang ketika kita meminta sesuatu pada Tuhan, kita memintanya bukan atas dasar kebutuhan, melainkan semata-mata karena kemauan. Kita minta karena kita mau, bukan karena kita butuh. Padahal, jelaslah Tuhan hanya akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Seringkali apa yang kita inginkan, bukan itu yang kita butuhkan. Maka, wajarlah jika Tuhan tidak mengabulkannya.

Jangan pernah lupa bahwa rencana dan rancangan Tuhan selalu tepat waktu dan tepat sasar. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Ia juga tahu kebutuhan kita. Segala keputusan-Nya tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Maka dari itu, jika saat ini permintaan kita ‘tidak dipenuhi’ atau lebih tepatnya ‘belum dikabulkan’, janganlah cepat-cepat kecewa pada Tuhan.

Boleh jadi, apa yang kita minta bukan itu yang kita butuhkan. Atau boleh jadi juga waktu Tuhan belum tiba. Ingat, waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Tuhan paling tahu kapan waktu terbaik bagi-Nya untuk mengabulkan permohonan kita. Kata pengkhotbah, ‘segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya’ (Pkh. 3:1). Sabarlah menanti sampai waktu Tuhan itu tiba.

Ketika kita meminta sesuatu dari Tuhan, jangan sampai kita berdiam di tempat. Jangan lupa bahwa Tuhan mau kita kerja. Paulus pernah berkata, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes. 3:10). Tuhan sudah memberi kita tools untuk bekerja, yaitu tangan dan kaki kita. Tuhan mengabulkan permintaan kita melalui hasil kerja kita.

Paulus pernah menuliskan hal itu kepada orang-orang di Filipi. Ia berkata: ‘Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya’ (Flp. 2:13).

Jangan pernah menyalahkan Tuhan, jika ternyata kita hanya berleha-leha. Tuhan tak pernah salah; sebab jika Dia dapat salah, maka Dia pasti bukan Tuhan.

Selama ini, kita merasa tidak bisa karena kita terlampau jauh mengandalkan kemampuan sendiri. Padahal, kemampuan kita pastilah terbatas. Kita lupa bahwa memang dengan kemampuan sendiri kita tidak akan pernah mampu, tapi kita mempunyai Tuhan yang senantiasa membantu. Kemampuan kita datang dari Tuhan. Jika Tuhan sudah membantu, maka tidak ada kata ‘tidak bisa’. Dalam Tuhan kita bisa.

Dalam doa, katakanlah: “Tuhan, terjadilah kehendak-Mu.” Jangan paksakan kehendak kita kepada Tuhan. Tuhan itu ibaratnya seperti ‘tukang tenun’. Ia senantiasa merenda hidup kita agar menghasilkan yang terbaik. Jika kita mengalami sedikit tekanan, jangan kuatir. Barangkali itu cara Tuhan untuk mengatur hidup kita. Ingat sabda Tuhan: “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat. 7:11).

Benarkah Salib Terbalik Simbol Satanisme atau Anti Kristus?

0

Pada masa kini, banyak aliran atau sekte tertentu yang menuduh Gereja Katolik sebagai antikristus karena salib terbalik pada kursi Paus. Hal itu umumnya mereka lihat dari foto Beato Paus Yohanes Paulus II yang sedang duduk di kursi dengan lambang salib terbalik. Benarkah tuduhan semacam itu?. Pada kesempatan ini tim jalapress.com akan menyampaikan bantahan atau klarifikasi secara sederhana. Kita perlu tahu, bahwa tuduhan semacam itu merupakan tuduhan yang tidak tepat dan konyol. Salib terbalik memiliki makna yang dalam dan sangat Katolik.

Dalam tradisi Katolik, salib terbalik merupakan Salib Santo Petrus. Menurut kesaksian para Bapa Gereja, Rasul Petrus dihukum mati dengan cara disalib, namun ia memilih disalib terbalik karena merasa tidak layak disalib seperti Kristus. St. Jerome (342-420) berdasarkan penelitiannya terhadap dokumen- dokumen sejarah di Roma mengatakan, ““Simon Petrus,… saudara Andreas Rasul, dan ia sendiri adalah pemimpin para rasul, setelah menjadi uskup di Antiokhia dan pemberitaan kepada kaum Yahudi yang tersebar… di Pontus, Galatia, Kapadosia, Asia dan Bitinia, di tahun kedua pemerintahan Kaisar Claudius, pergi ke Roma untuk mengusir Simon Magus, dan mendirikan di sana tahta suci selama dua puluh lima tahun sampai tahun terakhir Nero, yaitu ke-empat belas. Oleh Nero ia dipaku di kayu salib dan dimahkotai dengan kemartiran, kepalanya di bawah terarah pada tanah, sedangkan kakinya terangkat tinggi, sebab ia berkeras bahwa ia tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhan-nya….Ia dikuburkan di Roma di Vatikan, dekat Via Triumphalis, dan dirayakan dengan penghormatan seluruh dunia.”

Dengan demikian kita tidak bimbang dengan tuduhan yang tidak berdasar dari orang-orang non-Katolik. Kita sendiri mengetahui bahwa Gereja Katolik menggunakan simbol salib terbalik pada kursi Paus untuk mengingat bahwa Paus adalah penerus Rasul Petrus, pemimpin Gereja perdana  (bdk. Yoh. 21:15-19). Selain itu, penggunaan salib terbalik merupakan simbol bahwa kepemimpinan Paus harus mengikuti teladan Rasul Petrus, yang rela menyerahkan nyawa untuk Tuhan dan Gereja-Nya.

Mengapa ada salib terbalik yang dipakai oleh kelompok Satanis?. Pendiri “gereja setan atau satanic Church” adalah seorang pendeta dari Amerika bernama La Vey. Salib terbalik yang dipakai oleh kelompok “gereja setan atau satanic Church” tidak sama dengan Salib yang ada pada kursi Paus. Dengan kata lain salib yang dipakai “serupa tetapi tak sama” terutama makna historis dan makna spiritual. Salib terbalik digunakan oleh kelompok Gereja Setan sekitar abad ke 18. Sementara pemakaian salib terbalik Rasul Petrus telah ada sejak abad pertama. Penggunaan salib terbalik oleh “gereja setan atau satanic Church” sebenarnya untuk mengecoh umat Kristiani terutama umat Katolik. Gereja Katolik justru semakin kokoh dan kuat sebab Yesus telah berjanji bahwa Gereja-Nya akan dijaga sampai akhir jaman dan alam maut tidak akan menguasainya. Dengan demikian mencocok-cocokkan Salib yang dipakai Paus dengan kelompok ‘gereja setan atau satanic Church” merupakan tindakan sia-sia dan konyol.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Benarkah Hari Minggu Berasal dari Perayaan Kaum Pagan?

0

Banyak orang beranggapan bahwa perayaan hari Minggu berasal dari penyembahan dewa Matahari atau ritual pagan. Tentu saja anggapan seperti itu perlu dijawab agar tidak ada lagi orang yang gagal paham.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Pertama, perlu kita ketahui bahwa semua nama hari diambil dari nama dewa-dewi: Senin (Diana), Selasa (Mars), Rabu (Merkurius), Kamis (Jupiter), Jum’at (Venus), Sabtu (Saturnus) dan Minggu (Apollo).

Nah, jika kita beribadah pada salah satu dari ketujuh hari itu, apakah itu berarti bahwa kita menyembah salah satu dari dewa-dewi itu? Jawabannya: tentu saja tidak. Sama sekali tidak ada hubungannya antara ritual keagamaan dengan penyembahan dewa-dewi. Jika kita mengatakan bahwa perayaan hari Minggu merupakan penyembahan terhadap salah satu dewa atau dewi, itu sama saja kita mengatakan bahwa semua agama menyembah dewa-dewi; sebab semua agama beribadah pada salah satu dari ketujuh hari itu.

Kedua, kebangkitan Yesus dari kematian terjadi pada hari pertama setelah hari Sabat (bdk. Mrk. 16:2, 9; Luk. 24:1, Yoh. 20:1). Selain itu, Yesus menampakkan diri kepada dua orang murid yang menuju Emaus dan kepada kesebelas rasul pada hari Minggu (bdk. Luk. 24:13-36, Yoh. 20:19).

Ketiga, bila kita menelusuri kebiasaan para rasul, kita akan menemukan bahwa  mereka berkumpul dan berdoa setiap hari, termasuk hari Minggu. Setiap kali mereka berkumpul dan berdoa, mereka selalu memecah-mecahkan roti sebagaimana pesan Yesus kepada mereka (bdk. 1 Kor. 11:23-29). Dengan demikian, kita menemukan bahwa para rasul tidak pernah memerintahkan supaya beribadah hanya pada hari Sabat.

Perayaan hari Minggu sebagai ‘Hari Tuhan’ juga diteguhkan oleh kesaksian dari Bapa-Bapa Gereja.[1] Berikut kesaksian mereka:

1). Ignatius dari Antiokhia (35-107).
Dalam suratnya kepada jemaat di Magnesia ia mengatakan: “Jika mereka yang hidup di keadaan terdahulu harus datang menuju pengharapan yang baru, dengan tidak lagi menerapkan hari Sabat tetapi melestarikan Hari Tuhan, pada hari hidup kita telah muncul melalui Dia dan kematiannya …., misteri itu, yang darinya kita menerima iman kita, dan di dalamnya kita berteguh agar dapat dinilai sebagai para murid Kristus, pemilik kita satu-satunya. Bagaimana mungkin kita dapat hidup tanpa-Nya, sedangkan faktanya para nabi juga sebagai para murid-Nya di dalam Roh Tuhan, menantikan Dia sebagai Pemilik?” (bdk. St. Ignatius, to the Magnesians, SC 10, 88-89).

2). Yustinus Martir (150-160 ).
Dalam First Apology-nya, ia mengatakan: “… pada hari yang disebut haru Minggu, semua yang hidup di kota maupun di desa berkumpul bersama di satu tempat, dan ajaran-ajaran para rasul atau tulisan-tulisan dari para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengizinkan, lalu ketika pembaca telah berhenti, pemimpin ibadah mengucapkan kata-kata pengajaran dan mendorong agar dilakukan hal-hal baik tersebut. Lalu kami semua berdiri dan berdoa, dan seperti dikatakan sebelumnya, ketika doa selesai, roti dan anggur dan air dibawa, dan pemimpin selanjutnya mempersembahkan doa- doa dan ucapan syukur … dan umat menyetujuinya, dengan mengatakan Amin, dan lalu diadakan pembagian kepada masing- masing umat, dan partisipasi atas apa yang tadi telah diberkati, dan kepada mereka yang tidak hadir, bagiannya akan diberikan oleh diakon .…..” (St. Justin, First Apology, ch. 67).

3). Hieronimus (347-420).
“Hari Minggu adalah hari Kebangkitan [Kristus], hari itu adalah hari umat Kristen, itu adalah hari kita” (St. Jerome, In Die Dominica Paschae II, 52: CCL 78, 550.)

4). Agustinus (354-430)
St. Agustinus mengajarkan tentang hari Minggu sebagai Hari Tuhan, sebagai berikut: “Oleh karena itu, Tuhan juga telah menempatkan meterai-Nya pada hari-Nya, yang adalah hari ke-tiga setelah sengsara-Nya. Namun demikian, dalam siklus mingguan, hari itu [Minggu] adalah hari ke-delapan setelah hari ke-tujuh, yaitu hari setelah hari Sabat, dan hari yang pertama dalam minggu” (St. Augustine, Sermon 8 in the Octave of Easter 4: PL 46, 841).

Sejauh ini kiranya jelas bagi umat Kristiani bahwa perayaan hari Minggu sesuai dengan ajaran para rasul dan para bapa gereja. Ajaran tersebut mempunyai dasar dan landasan Alkitabiah yang tak terbantahkan oleh siapapun. Perayaan hari Minggu adalah perayaan Kristiani yang telah memperoleh ‘kemenangan atas maut dan menjadi ciptaan baru seperti sejak semula ketika Allah menciptakan’.

[1] Pendapat Para Bapa Gereja dikutip dari www.katolisitas.org.

Bunda Maria Diangkat Ke Surga, Alkitabiahkah?

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Dalam kunjungannya ke Gereja Gethsemani, St. Birgitta mengalami penampakan Bunda Maria. Ia bersaksi bahwa Bunda Maria menampakkan diri, menyatakan kebangkitan dan pengangkatannya ke surga pada hari ke-3.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Adapun Gereja Makam Maria di Yerusalem tersembunyi di bawah tanah. Makam itu terletak  di lembah Kidron dekat Gereja Segala Bangsa dan Taman Gethsemani. Sebuah Gereja bundar yang dibangun di atas makam Bunda Maria ditemukan sekitar tahun 455.

Pada awalnya, Gereja itu dibangun kembali oleh Mauritius Tiberius (582 – 602) namun dihancurkan orang-orang Persia pada tahun 614. Namun, Gereja tersebut dibangun kembali oleh seorang peziarah Armenia Arculf pada tahun 680.

Adapun bangunan Gereja yang dibangun kembali terdiri dari dua tingkat. Pada tingkat atas ada 4 altar dan pada bagian bawah mempunyai altar pada ujung timur. Sementara itu, makam Bunda Maria terletak di sebelah kanan. Prajurit Perang salib di kemudian hari hanya menemukan reruntuhan. Kemudian, mereka membangun kembali pada tahun 1130 ditambah dengan biara Benediktin.

Ketika prajurit perang salib kalah tahun 1187, Sultan Saladin menghancurkan seluruh bangunan Gereja bagian atas. Namun demikian, Biarawan Fransiskan memelihara dan merestorasi hingga diambil alih oleh Ortodox Yunani pada tahun 1757.

Kini, yang tersisa dari Gereja atas hanya lapangan dengan portal dan gerbang lengkung ditunjang 8 kolom marmer, yang diperkirakan berasal dari tahun 1130. Apabila turun 7 tangga ke dalam terdapat 48 anak tangga lebar di mana terdapat makam Ratu Melisande.

Pada anak tangga ke-20 menuju Gereja bawah sebagian besar gua dalam batu dan terlihat arsitektur Byzantin abad ke-5. Selain itu, terdapat  salib dengan palang yang tidak sama. Pada pusat palang sebelah timur memiliki panjang 52 kaki dengan lebar 50 kaki. Di sinilah terdapat makam Bunda Maria yang kosong sejak abad pertama.

Pada sisi yang menghadap ke pintu barat ada 3 lubang dibuat pada batu makam.[1] Paus Pius XII (1 November 1950) melalui dogma Munificentissimus Deus mengatakan: “Setelah menyelesaikan tugasnya di dunia, Perawan Maria diangkat jiwa dan raganya dalam kemuliaan suraga.”

Kiranya semakin jelas bagi kita bahwa baik pandangan bahwa Bunda Maria pernah dimakamkan atau langsung diangkat ke surga dapat diterima. Yesus sendiri berkata: “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ketempat_Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (bdk. Yoh. 14:3).

Wahyu 12:1-6 merupakan gambaran keberadaan Bunda Maria di surga. Isi perikop itu menggambarkan masa lampau yang dialami oleh Bunda Maria, St. Yusuf dan Yesus. Lebih dari itu kita bisa melihat ayat 5 yang menggambarkan Bunda Maria yang melahirkan gembala segala bangsa. Tidak ada gembala segala bangsa selain Yesus dan tidak ada perempuan lain yang melahirkan gembala segala bangsa selain Bunda Maria. Selain itu, Wahyu 12 merupakan gambaran masa depan kebangkitan yang dialami oleh murid-murid Yesus yang setia.

Dokumen Liber Requiei Mariae (Buku perihal beristirahatnya Bunda Maria) menegaskan kepercayaan pengangkatan Bunda Maria ke surga telah ada sejak abad ke-3 dan ke-4. Tradisi menjelaskan bahwa semua rasul hadir ketika Bunda Maria wafat. Sementara Rasul Thomas hadir 3 hari kemudian karena ia berada di India.

Ketika Bunda Maria dimakamkan, seorang Yahudi menghalangi. Ia menghalangi dengan memegang keranda tempat Bunda Maria. Maka terjadilah mukjizat, kedua tangan orang itu lepas dari tubuhnya. Tangan orang tersebut melekat kembali berkat doa para rasul dan pertobatannya.

Dokumen “The Passing of Mary” (Kepergian Maria) yang dianggap berasal dari Yusuf dari Arimathe memberi informasi bahwa Rasul Thomas saksi pengangkatan Bunda Maria. Rasul Thomas menyaksikan Bunda Maria menjatuhkan tali ikat pinggangnya dari langit sebagai bukti. Akhirnya, atas permintaan Thomas, makam Bunda Maria dibuka dan ternyata makam ini kosong.