13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 84

Tokoh Kitab Suci: Biografi Nabi Mikha

0
geraldoobici / Pixabay

Sudah pernah membaca Kitab Para Nabi seperti Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Amos, dll? Nah kita perlu belajar banyak dari para nabi ini. Untuk itu saya menulis tentang biografi dan pencarian Nabi Mikha. Siapakah dia?

[postingan number=3 tag= ‘kitab-suci’]

Seperti Amos, Mikha sendiri adalah tokoh dari pembicaraan petani dan orang yang sederhana. William SL Sor dkk., menyatakan bahwa hidup dan latarbelakang Nabi Mikha tidak banyak dikenal. Pembaca hanya sedikit tahu dari konteks dan bunyi tulisannya. Meskipun demikian, Ensiklopedia Kitab Suci Masa kini memberi kami sedikit informasi bahwa Mikha adalah orang Moresyet (Moresheth Gath) (Mi 1:14).

Moresyet merupakan suatu wilayah Yudea, kurang lebih 25 mil ke arah selatan Yerusalem. Namun dalam kitab Hakim 17 dan 18 muncul nama Mikha dari gunung efraim. Ada juga Mikha Bin Yimla seorang nabi Israel pada jaman raja Ahab (1 Raj 22: 4-28; 2 Taw 18: 3-27). Dari nama-nama itu, siapakah Mikha, kitab?

Nama Mikha Kitab merupakan singkatan dari kata Mikhayehu yang berarti “siapakah seperti Yahwe?” Berdasarkan Catatan Ensiklopedia Kitab Suci dan juga dikenal dengan nama yang searti dengan Mikha adalah Mikhael (mikha’el).

Nama ini dipakai oleh 11 tokoh Alkitab. Tetapi hanya satu yang khas menonjol yaitu malaikat Mikhael yang dalam kitab-kitab Pseudepigrafa dilihat sebagai pelindung dan pembela Israel.

Penulis kitab Mikha umumnya menerima itu Mikha orang Moresyet. Ia lebih muda dari Yesaya dan bernubuat pada pemerintahan Yotam (742-735 SM), Ahas (753-715) dan Hizkia dari Yehuda (715-687). Ia bertindak sebagai utusan Allah pada rentang waktu 715-700 SM. Menurut Klaus Koch, pada tahun-tahun awal kenabiannya, Mikha mulai bernubuat di Israel selatan bersama Yesaya, namun ia kemudian bergerak atas jumlah wilayah utara Israel.

Panggilan Kenabian

Pada bagian pembuka kitabnya (Mi. 1: 1) memberikan informasi bahwa Mikha menjelaskan firman Tuhan berkenaan dengan apa yang dilihatnya tentang Samaria dan Yerusalem. Ia memperjuangkan perkara-perkara orang tertindas dan orang-orang yang hak-hak dieksploitasi.

Persoalan (mišpāt), kekerasan dan krisis sosial seperti korupsi dan publikasi adalah fokus perhatian Mikha. Nabi yang berasal dari desa adalah orang-orang yang terlibat dalam kehidupan dan semangat masyarakat di sana.

Sama seperti pendahulunya Nabi Amos dan Yesaya yang mengkritisi jamannya dengan tajam dan berani, demikian pula Mikha tampil menyuarakan perlawananya terhadap siswa sosial yang bobrok di sekitarnya. Jika Amos banyak masalah penyembahan berhala dan kefasikan yang berkembang pesat di Israel-dari keruntuhan kerajaan Utara, Mikha lebih fokus pada efek ketidakadilan sosial, akibat dari penyembahan berhala dan difusi akibat invansi bangsa asing.

Meskipun ia tinggal di desa, ia tahu bagaimana Korupsi merajalela di kota-kota Israel dan Yehuda. Pelaku-pelaku korupsinya adalah pejabat-pejabat yang berwibawa, memiliki otoritas moral dan politis dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya para pemuka agama (Mi. 2:11).

Nabi-nabi, imam dan pelayan mudah disuap (bdk Mi. 3: 10), mereka mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri. Di dalam kehidupan keluarga, ikatan relasi antara satu sama lain kendor, benar benar-benar kacau balau. Korupsi mempengaruhi penegakan hukum yang tidak adil dan mencederai rasa keteraturan atau masyarakat Israel dan Yehuda (Mi. 3:10).

Situasi konflik dan ketidakadilan hukum ini sangat menjijikkan Mikha. Kehidupan religius menjadi virus dan tidak berdaya guna. Sikap ketidakadilan dan korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat agama dan pemerintahan itu disebabkan oleh kesombongan dan ketidaksetiaan mereka pada Allah.

Para pemuka agama dan pemerintah adalah mereka sendiri dan politik kotornya. Kumbang masyarakat menjadi seperti pada saat peternak-peternak, petani-petani dan mereka yang memiliki lahan sempit.

Berbagai cara sosiologis yang terjadi di masa kenabian Mikha yaitu, pertama, kehancuran ibu kota Kerajaan Utara, yaitu Samaria di tangan bala tentara Asyur pada tahun 722. Raja terakhir yang memerintah di Samaria adalah Raja Hosea (731-722). Ia berontak melawan Asyur.

Raja Hosea kalah dan Kerajaan Utara hancur. Kehancuran Samaria membawa konsekuensi psikologis dan sosiologis bagi Israel melalui kehancuran Kerajaan utara untuk lingkungan di Mesopotamia dan Media (Raj 17: 1-6).

Kekalahan ini juga menciptakan bagian terbesar Kerajaan Israel (10 suku) berhenti hidup sebagai bangsa dengan identitasnya sendiri: lapisan atas menghilang dalam peleburan bangsa-bangsa di Mesopotamia, lapisan bawah dan lain-lain oleh kader kafir dari Mesopotamia ke Israel kemudian terjadilah sinkretis dalam praktek agama. Mikha melihat bencana itu dan tampak cermin dalam Mi. 1: 6-7.

Kedua, serangan Sanherib pada tahun 701 terhadap Kerajaan Selatan. Nabi merasakan kegentaran masa pendudukan itu dan melihat bahwa ancaman itu serius bagi Yerusalem (1: 8-16; 3:12).

Proses disusi akibat invasi dan kekalahan dari kekacauan dalam masyarakat. Terjadinya pemerasan, pengusiran dan perampasan tanah. Para raja menindas rakyatnya, dan para pedagang yang menipu masyarakat yang tak berdaya. Korban dari misi ini adalah masyarakat kecil.

Jika ada ketidakadilan sosial yang terjadi di pusat aktivitas religius, Yerusalem, di arah Mikha, namun ia tidak ingin terjun langsung ke percaturan politik praktis. Sikapnya ini tidak sama dengan Yesaya-rekan nabi sejamannya, yang terlibat dalam politik aktif.

Mikha tidak pernah Menyampaikan keputusan politis yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Ia lebih banyak melihat akibat atau mekanisme para pemerintah sebagai kesalahan yang lebih berbahaya pada kekuatan diri sendiri dari pada Allah (bdk. Mi 7: 1-6). Dari alam yang demikianlah Mikha disebut Allah untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah Bangsa Israel yang mengalami disorientasi, degradasi moral dan ketidakadilan.

Pesan-Pesan Kenabiannya

Pilon mengelompokan pesan Mikha yaitu pertama, pesan hukuman dan ancaman. Maksudnya bahwa Tuhan datang untuk menghukum Samaria dan Israel karena dosa-dosa para pemuka agama, dibaca oleh orang kaya terhadap orang miskin, nabi-nabi yang mudah disuap (bab 1-3).

Kedua, kerajaan damai berpusat di bukit sion, semua orang akan menyembahnya, juru selamat akan datang dari Yerusalem dan sisa-sisa bangsa Israel akan menjadi berkat di tengah bangsa-bangsa yang menguasai mereka (Bab 4-5).

Ketiga, pasal 6-7: 1-6. Pasal 6: 1-8 menunjukan lukisan perkara Tuhan dengan orang-Nya, puncaknya pada ay. 8 dimana Tuhan mengeluarkan apa yang sebenarnya Ia tuntut itu berlaku adil dan cinta kasih. Sementara pasal 6: 9-16 terdiri dari dosa-dosa yang tidak adil dan tidak jujur. Pasal 7: 1-6, Mikhaalihan kemerosotan moral dan etika di tengah masyarakatnya. Keempat, pasal 7: 7-20 menawarkan harapan bahwa sion akan dipulihkan.

Cita-cita Mikha adalah memperbesar Israel dan Israel yang telah dijanjikan Allah suatu kemulian. Namun apalah daya, cita-citanya direngkuh oleh tokoh kemunduran moral para pemimpin religius, ketidakadilan hukum, korupsi dan diskriminasi.

Menurut Mikha, moral dan kemunduran moral yang dilakukan oleh peleburan kaum kafir dengan Israel yang menghasilkan timbulnya sinkretisasi agama dan penyembahan berhala. Penyembahan berhala berarti orang Israel tidak setia atau menyimpang dari perjanjian Allah dengan mereka. Maka, konsekuensi ketidaksetian orang-orang bangsanya kepada Allah membawa bangsa ini kepada pencobaan. Allah menghukum ketidaksetian mereka.

Peristiwa kehancuran Samaria adalah bentuk melahirkan Allah. “Kaum Yakub harus lebih dulu siksaan yang dahsyat dan dukacita, dan selama itu nubuat akan bungkam, dosa-dosa akan menjadi kentara. Kemudian akan diperingkat kemusnahan wafat dan orang Israel akan dibawa tertawan di tengah-tengah bangsa-bangsa lain, hal yang sangat memalukan mereka”. Mikha berteologi bahwa ‘kerendahan hati, alih-alih, dan berlaku adil, harus menjadi kenyataan dalam hidup harian orang-orang, yang ingin menyenangkan hati Allah’.

Sumbangan Kitab Mika

Apa kontribusi Mikha untuk teologi kontekstual Gereja di Indonesia? Gereja Indonesia dan pengalaman yang sama dengan jaman Mikha. Gereja hadir di tengah Indonesia dan berjumpa langsung dengan topik korupsi, perdagangan manusia, jurang yang lebar antara yang miskin dan yang kaya, serta diskriminasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Suara kenabian Mikha terkeras menjadi suara Gereja lokal yang berseru-seru melawan Korupsi, ketidakadilan, karena oleh kelompok tertentu, ekplotasi yang nampak dalam penghancuran ekosistem di beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan dan Papua.

Dalam Injil, terlukis misi Yesus bahwa Ia datang untuk membawa pembebasan bagi yang tawan, menyembuhkan yang sakit dan yang terbaik bagi semua orang, kemudian gereja sebagai mempelai Kristus memiliki tugas yang sama untuk pembebasan banyak orang dari berbagai pengalaman “sakit’.Kita semua diajak untuk meniru dan pelaksanaan pesan Nabi Mikha ini.

Senggolan Kang Je

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Hari menjelang malam ketika tubuh hendak bersiap menyiapkan makan malam kali ini. Sembari mengupas bahan-bahan yang hendak dimasak, siaran TV di depan mata mendadak mengalihkan perhatian dan konsentrasiku.
“Saudara, sejenak kita menyimak berita terbaru yang baru saja kami dapatkan. Densus 88 dan kepolisian sekitar pukul enambelas waktu Indonesia bagian barat, berhasil menemukan sebuah benda yang disinyalir sebuah bom yang diletakkan di dalam rice cooker. Penggrebekan ini dilakukan di sebuah tempat kos di daerah Bintara, Bekasi. Untuk lebih jelasnya, kami sudah terhubung dengan reporter kami di lapangan…”
Tanganku yang tadi tengah mengupas sayur, langsung menghentikan kegiatan. Mataku saja yang awas melihat cuplikan-cuplikan gambar di televisi serta telinga yang menyimak kelanjutan berita dari penyiar berita ini.
Duh….
Kenapa ada bom lagi ya?
Bahkan setelah disimak lagi, belakangan si penyiar mendapat info bahwa bom itu rencananya akan diledakkan pada hari Minggu, saat pergantian tugas Paspanpres di Istana Negara.
Menurut informasi dari yang berwenang, daya ledak bom panci itu bisa menghancurkan apa pun dalam radius 300 meter.
Astaga.
Nggak kebayang kalau itu terjadi.
Syukur banget, sebelum kejadian, sudah ketahuan.
“Eh, itu awas bawang merahnya salah ngupas lho…,” sebuah suara seperti sudah duduk di sampingku. Dengan cueknya dia mengambil satu buah timun lalu dia kunyah. Enak banget kayaknya.
“Untung timunnya sudah kucuci, Kang…,” ujarku begitu tahu ada yang mengunyah timun itu dengan lezat.
“Ah, percaya sudah bersih kok,” jawab Kang Je.
“Timun itu bagus buat mengobati darah tinggi lho, Kang…,” kataku lagi sok tahu.
“Beeettuuulll…” Mulut Kang Je mendadak penuh dengan timun membuat omongannya keras, tapi tidak terlalu jelas. Segera, Ia habiskan dulu makanan di mulutnya itu. “Apalagi yang cepet panas hati pada peristiwa beberapa waktu ini. Bisa langsung naik deh tu darah tinggi…”
“Wah, update juga si Akang teh…” Mengupas bahan memasak ini selesai juga. Aku bersiap memindahkan semuanya ke dapur untuk segera dimasak.
“Ya, iya… Emang cuma kamu yang bisa nonton dan baca berita mulu?” Kang Je membantu membawa hasil kerjaku ke dapur.
“Ngomong-ngomong marah, Kang Je nggak ikutan marah dengan segala situasi yang terjadi akhir-akhir ini?” tanyaku sembari mulai menyalakan api di kompor.
“Ngapain marah? Kan nanti bisa darah tinggi. Males banget…” Kang Je berdiri di sisi kanan, menjauh sedikit dari meja dapur ini. Mungkin maksudnya supaya kegiatan memasakku malam ini nggak keganggu.
“Kan segala kegiatan itu menyangkut pautkan namaMu juga. Dengan segala cara dan latar belakang lainnya ya…”
Kang Je memandangku. Kayaknya dia sedang memastikan, konsetrasiku ini buat masak atau nanya? Serius banget pertanyaannya.
“Meskipun yang melakukan banyak hal itu demi dan untuk namaKu, tapi coba kamu lihat… Apakah itu dilakukan dengan sukacita? Apakah ada damai dari apa yang dilakukan?”
Aku menggeleng pasti.
Dari yang aku tahu, tema kegiatannya memang mencerminkan kedamaian dan keindahan yang tidak bisa dipungkiri. Tapi, kalau dari peserta dan kepentingan yang mungkin menyertainya, tidak ada yang bisa mengatakan pasti. Dan, hal ini yang kemarin-kemarin malah jadi ramai.
“Nah, dengan peristiwa sedemikian saja bisa bikin heboh kamu dan orang banyak, bagaimana kalau Aku yang juga ikutan?” Kang Je seperti memberi tanda kutip dengan tanganNya ketika mengucapkan kata “ikutan”.
“Mmm… Jadi Kang Je nggak ikut ada di sana saat doa-doa dilantunkan? Gak merestui gitu?”
“Lha… Ya nggak gitu kali…” Kang Je bantu mengecilkan api di kompor karena kuali mendadak panas sekali sebab sudah lama di atas kompor begitu. “MaksudKu, dari niat baik itu yang diselipi kemarahan sebagian orang yang ada di dalamnya saja bisa berakibat begini lalu, kalau Aku marah, bisakah kamu bayangkan apa yang terjadi?”
Kumatikan saja kompor yang tadi dikecilkan.
Aku rada tercekat dengan penjelasan Kang Je barusan.
Benar juga ya… Selama ini, rasanya aku juga tidak pernah mencoba mengerti apa yang dialami Kang Je kalau umatNya sedang tak damai begini.
“Kalau Aku mau, apa yang Ku anggap menghina atau tidak sesuai dengan semua ajaran yang Ku ajarkan, bisa saja tho Aku turun tangan. Tinggal senggol dikit saja, beres… Ibarat anak kecil, disentlik dengan jari tangan, udah deh…” Kang Je menjelaskan sembari tersenyum kecil. “Tapi, itu nggak Aku lakukan.”
“Kenapa?” aku jadi penasaran.
Di mata teduhNya itu, mendadak memancarkan sesuatu yang menjadikan hatiku serasa sejuk. Damai gitu. Aku seolah-olah dilingkupi keindahan tak terjelaskan kata-kata.
“Karena Aku…. Mengasihi kalian…”
Plash…
Aku benar-benar terdiam dibuatNya.
Bagaimana mungkin Ia yang sedang sering dihina dan dipakai namaNya seolah-olah demi namaNya juga masih mau mengasihi sedemikian rupa? Kenapa sumbu sabarNya panjang, tak mudah terbakar? Tidakkah hatiNya tersenggol sedikit saja atas semua yang terjadi?
“Kalo Aku seperti yang ada di kepalaMu, seperti kalimat buat the pawer of emak-emak itu, kelar hidup elo….” Kang Je sedikit terkekeh mengatakan hal barusan. “Kamu tahu pasti… Aku tak seperti itu… Meski soal cerewet, mungkin aku bisa lebih dari emak-emak itu haha…”
Aku berusaha tersenyum.
Bisa bergurau juga Sang Junjungan hidup ini.
“Lanjutkan masak malammu… Tetap berikan yang terbaik dan panjang kasihmu saja, satu terhadap yang lain,” Kang Je mencomot tempe goreng yang tadi nyaris gosong.
“Kalau kamu rajin masak gini, Aku bisa ndut deh…” Ia pun berlenggang pergi. Tinggal aku yang kembali menekuni sisa bahan masakan yang harus terselesaikan.
Secara raga, segala masakan ini bisa mengenyangkan.
Namun, segala haus dan lapar jiwa ini terpuaskan ketika Ia selalu mengingatkan dan menyertai dimana pun aku berada kini.

Mendeteksi Keberadaan Neraka

0

Bagi kita orang Katolik, ketika kita berbicara mengenai surga, sebetulnya kita tidak perlu bingung seperti orang yang tidak mengenal Allah [Bdk. Mat. 6:7]. Yesus pernah bilang, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” [Yoh. 14:2-3].

Yesus sendiri juga sudah mengatakan dengan jelas: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” [Yoh 14:6]. Jalan kepada Bapa melalui Yesus. Yesus sudah ‘meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa’ [Yoh 16:28]. Ia berjanji bahwa ‘akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada’ [Yoh 14:3].

Yesus masuk ke tempat Bapa dengan kebangkitan-Nya. Maka bagi kita pun surga itu tidak lain dari ikut dibangkitkan bersama dengan Kristus. Tetapi sebagaimana Kristus bangkit dari maut, begitu juga bagi kita jalan menuju ke surga adalah melalui maut. Jika kita ingin masuk surga, kita harus mati terlebih dahulu. Kebangkitan berarti bahwa sesudah hidup ini kita menerima kebahagiaan dari Allah.

Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Kristus. Paulus bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” [1Kor 15:35]. Lalu dijawab: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” [1Kor 15:42- 44]. Bagaimana semua itu akan terjadi, Paulus juga tidak tahu. Sebab “apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati orang: semua itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” [1Kor 2:9].

Kalau demikian, ‘NERAKAharus dimengerti sebagai lawan dari ‘surga’. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka neraka berarti keterpisahan dari Allah. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka bukan siksaan, sebab setiap orang mendambakan kesatuan dengan Allah. Tanpa Allah, orang tidak dapat hidup bahagia.

Di dunia ini, mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut. Oleh karena itu, Yohanes menyebut neraka sebagai ‘kematian kedua’ [Why 2:11; 20:6.14; 21:8].

Tidak dapat dibayangkan, apa arti dari ungkapan ‘mati terus-menerus.’ Itu memang bahasa kiasan juga. Tetapi, kalau Tuhan ‘memberikan hidup dan nafas kepada semua orang’ [Kis 17:25; bdk. Ayb 12:10; Yes 42:5], maka jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut. Tidak dapat dibayangkan; namun itulah kata yang tepat untuk neraka.

Banyak orang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah yang Mahabaik dan Maharahim menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka?” Bagaimanapun bentuknya, neraka tampaknya tidak cocok dengan Allah sendiri dan karya keselamatan-Nya.

Jawaban yang perlu kita berikan kepada mereka cukup singkat saja. Bahwasanya memang kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak keselamatan yang ditawarkan oleh Allah. Ketegaran hati semacam itu membawa orang itu pada kemusnahan abadi, yaitu neraka.

Lalu, bagaimana dengan wafat dan kebangkitan Kristus? Memang, wafat dan kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka tidak ada. Neraka berarti penolakan total terhadap Allah.

Orang Yahudi pernah bertanya kepada Yesus: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak memberi jawaban; Ia hanya berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” [Luk 13:23- 24]. Neraka tidak mustahil. Seseorang dapat saja dimasukkan ke sana jika ia menutup diri terhadap rahmat dan belas kasihan Tuhan. Kapan terjadinya penghakiman seperti itu, tidak ada orang yang mengetahuinya.

Diolah dari: Katolisitas.org

Berziarah menuju Tuhan

0

Hidup adalah peziarahan. Apakah tujuan terakhir peziarahan umat manusia? Jawabannya adalah persatuan dengan yang Ilahi. Saya akan  menghubungkan refleksi tentang hidup adalah peziarahan dengan konsep inti mistik Jawa, Manunggaling Kawula Gusti (Persatuan Hamba dengan Tuhan). Segalanya berasal dari Allah, karena itu setiap manusia akan kembali bersatu dengan-Nya. Untuk menjelaskan prinsip Manunggaling Kawula Gusti ini, penulis memilih kisah peziarahan Bima untuk mencari “air perwitasari” dalam kisah Bima Suci.

Di pihak lain, saya amat kagum dengan kisah peziarahan hidup santo Agustinus dalam buku Confessiones (Pengakuan-Pengakuan). Di dalam buku ini, santo Agustinus dengan jujur mengisahkan peziarahan hidupnya yang berliku-liku hingga akhirnya menjadi pribadi yang mencapai persatuan dengan Allah. Sebelum pertobatannya, ia melakukan perbuatan-perbuatan yang menurutnya tidak sesuai dengan kehendak Allah.[1] Akan tetapi, setelah pertobatannya, ia mengalami pengalaman yang luar biasa tentang kebaikan Allah. Bahkan, ia menjadi salah seorang tokoh besar dalam Gereja yang memberikan inspirasi kepada banyak orang agar selalu mencari Allah dalam hidupnya.

Saya tertarik untuk menghubungkan peziarahan hidup Bima dengan pengalaman peziarahan Agustinus. Kedua tokoh ini (walaupun Bima hanya tokoh cerita) telah mencari Allah dalam hidup dan telah mengalami persatuan dengan-Nya. Keduanya telah memberikan inspirasi kepada banyak orang hingga saat ini.

 Kisah Bima Suci

Kisah Bima Suci adalah salah satu kisah menarik yang menggambarkan posisi manusia sebagai peziarah kehidupan. Bima Suci adalah kisah mengenai ksatria muda bernama Bima. Ia diutus oleh gurunya untuk mencari dan membawa pulang air kehidupan (air perwitasari). Bima sebagai murid yang setia langsung pergi, meskipun tidak tahu ke mana harus pergi. Ada yang bilang di gunung, dia pun mendaki gunung. Ketika ada yang bilang di gua yang sangat gelap, dia pun tanpa takut menyusuri kegelapan gua. Dan ada yang bilang ke tengah laut, dia pun menyeberang ke sana. Untuk sampai ke tempat-tempat itu, Bima harus berhadapan dengan seribu kesulitan, ancaman dan apa saja yang merupakan bahaya bagi hidupnya. Di tengah laut, dia juga tidak menemukan di mana air itu berada. Malahan di samudera itu ia bertemu dengan seseorang yang sangat kecil, yang serupa dengan dirinya, yang disebut Dewaruci. Dewaruci berkata bahwa “air perwitasari” itu ada di dalam dirinya. Maka, ia meminta kepada Bima memasuki dirinya yang sangat kecil itu. Tentu saja, bima merasa aneh dengan permintaan itu. Sebab dirinya sebesar Gunung, sementara Dewaruci sangat kecil. Tetapi ketika akhirnya Bima menyanggupi, dia pun bisa memasuki Dewaruci itu lewat telinganya. Di dalam Dewaruci, Bima bertemu dengan dirinya sendiri. Dalam perjumpaan itu ia melihat warna-warni; batin Bima mengalami kedamaian dan ketenangan. Di dalam Dewaruci, pendek kata ia mengalami pengalaman luar biasa. Bima sangat bahagia dan dia ingin tinggal selamanya di sana. Tetapi Dewaruci memerintahkannya untuk keluar sebab tugasnya di dunia masih belum selesai.[2]

Dikisahkan juga bahwa Bima melihat boneka gading kecil yang melambangkan Pramana, prinsip hidup Ilahi yang berada di dalam dirinya sendiri serta memberi hidup.[3]  Ketika itu, Bima menyadari bahwa hakekatnya yang paling mendalam adalah manunggal dengan yang Ilahi. Dalam kesadaran itu, Bima mencapai manunggaling Kawula Gusti. Melalui kesatuan ini, ia mencapai kawruh sangkan paraning dumadi, artinya pengetahuan tentang asal dan tujuan segala hal yang diciptakan. Bima mengalami kebahagiaan yang tak terhingga.

Bima adalah contoh metaforis manusia peziarah yang haus dan rindu akan kebijaksanaan.[4] Air kehidupan adalah gambaran dari apa yang disebut dengan kebijaksanaan itu sendiri. Dengan demikian, kebijaksanaan itu menghidupkan orang yang menggapainya. Bagaimana cara mendapatkan kebijaksanaan? Caranya adalah masuk ke dalam Dewaruci yang tak lain adalah gambaran diri Bima. Jadi, Bima itu terdiri dari kosmos besar (dirinya yang sebesar gunung) dan kosmos kecil (jati dirinya yang dimasukinya sendiri).[5] Ketika kebijaksanaan itu terletak pada dirinya yang kecil itu, itu berarti ia terletak di dalam hatinya sendiri. Dalam bahasa mistik religius, kebijaksanaan itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. Tuhan adalah air kehidupan yang menghidupkan orang apabila berjumpa dengan-Nya. Inilah tujuan peziarahan manusia.

 Beberapa Catatan tentang Manunggaling Kawula Gusti

Dalam sastra Jawa klasik terdapat ungkapan yang sangat indah tentang manusia sebagai peziarah kehidupan.

Hidup ini dapat diumpamakan dengan suatu perjalanan jauh. Dalam perjalanan itu orang kadang-kadang mampir sebentar. Paling lama hanya satu malam, kadang-kadang hanya sekejap saja, lalu berangkat lagi. Perjalanan semacam itu selalu terkait dengan kerinduan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Maka dari itu, orang tersebut selama dalam perjalanan selalu berhati-hati (Pupuh 155).[6]

Kalimat “Kerinduan untuk pulang ke rumahnya sendiri,” mempunyai arti yang sangat mendalam. Maksudnya, di tengah kesibukan dunia ini, manusia tidak boleh lupa untuk masuk ke dalam batinnya sendiri.[7] Di dalam batinnya, manusia akan berjumpa dengan tujuan peziarahanya yakni Tuhan sendiri. Tujuan tertinggi mistik Jawa adalah persatuan dengan Yang Ilahi, yang terdapat di dalam dirinya sendiri. Bahkan para mistikus Jawa meyakini bahwa setiap orang yang mengenal dirinya, akan mengetahui Tuhannya. Hal ini ditegaskan dalam teks sastra Jawa (Dandang Gula 3).

Beginilah sabda Duta Mulia, setiap orang yang mengetahui dirinya, juga mengetahui Tuhannya. Tetapi barang siapa tidak mengenal dirinya sendiri, juga tidak mengenal Yang Suksma (yang Ilahi). Maka dari itu, seyogyanya kau mengenal dirimu, kalau tidak, kau sama dengan Kerbau dan Lem, kau juga seekor hewan yang dapat berbicara.[8]

Tuhan bersemayam di dalam diri manusia, tepatnya di bagian paling halus dari hati manusia yang disebut suksma.[9] “Suksma adalah “wadah” segala kehidupan berkumpul, hidup dalam kehidupan-hidup tertinggi, itulah rahasia sejati, rahasia badanmu.” Bahkan teks sastra Dandang Gula 17 menegaskan persatuan antara Tuhan dan manusia ini. “Ketahuilah, anakku, bahwa Adamu dan Ada-Nya Tuhan tidak dapat dipisahkan.”

Persatuan ini dialami ketika manusia mau menarik diri dari keramaian dunia dan menyepi (semadi). Tentang hal ini, teks sastra Asmarandana 1 menulis sebagai berikut.[10]

“Ada orang yang menyepi di pantai. Mereka melakukan konsentrasi di tepi laut. Bukan dua hal yang mereka pikirkan. Hanya pencipta alam semesta yang menjadi pusat perhatiannya.Yang menciptakan dunia adalah tanpa rupa atau suara. Kalbu manusia yang dipandang sebagai wisma-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh, jangan sampai pandanganmu terbelah menjadi dua. Peliharalah baik-baik iman kepercayaanmu dan tolaklah hawa nafsu.”

Singkatnya, manusia mengalami manunggaling Kawula Gusti ketika ia berani masuk ke bagian paling dalam  dari dirinya sendiri. Hal ini bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi yang berani mencari kesunyian; meninggalkan kesibukan dunia. Mereka juga harus mampu mengalahkan keinginan daging berupa hawa nafsu, keangkuhan, kemabukan dan aneka kesenangan duniawi lainnya.[11] Hanya dalam suasana kesunyian batin, orang bisa masuk ke dalam dirinya dan mengalami perjumpaan dengan Yang Ilahi yang bersemayam di dalam suksma. Bima adalah tokoh inspiratif yang telah mengalami manunggaling Kawula Gusti.

 Confessiones

Dalam buku Confessiones, Agustinus secara mendalam merefleksikan peziarahan hidupnya sejak masa kanak-kanak. Ia mengakui bahwa sejak kecil Allah telah mengasihinya melalui orang tuanya.

“Mereka memang mau memberikan daku apa yang berlimpah-limpah mereka punyai dari Engkau, sesuai dengan perasaan yang Kautanamkan dalam diri mereka. Sebab kebaikan yang kuperoleh dari mereka adalah bagi mereka kebaikan pula. Namun, kebaikan itu tidaklah dari mereka, tetapi lewat mereka. Sebab segala kebaikan berasal dari-Mu, ya Allah.”[12]

Masa kanak-kanak dilalui oleh Agustinus bersama orang tuanya. Banyak hal berharga yang diperolehnya dari mereka. Akan tetapi, Agustinus juga mengakui bahwa ia telah berbuat dosa, antara lain: tidak menuruti perintah orang tua dan para gurunya.[13] Yang menarik adalah ketika ia sedang sakit, ibunya hendak membaptisnya menjadi pengikut Kristus. Akan tetapi, hal ini tidak jadi dilakukan karena Agustinus sembuh. Setelah pembaptisan seseorang akan terikat oleh Kristus dan kalau berbuat dosa akibatnya sangat besar.[14] Inilah alasan ditundanya pembaptisan Agustinus.

Merasa Jauh dari Allah

Pada umur 16 tahun, Agustinus jatuh dalam kenakalan masa remajanya. Antara lain, ia terhanyut oleh nafsu seksualnya, bahkan dikendalikan olehnya.

“Apakah kesenanganku waktu itu selain mencintai dan dicintai? Akan tetapi, hal itu tidak terbatas pada pertukaran antara hati yang satu dengan hati yang lain, yang merupakan setapak persahabatan penuh cahaya. Malahan sebaliknya, kabut meruap dari lumpur nafsu badani dan dari gelegak gelora masa remaja. Maka hatiku tertutup mendung dan redup sehingga tak lagi dapat membedakan antara keheningan kasih sayang dan kabut kelezatan nafsu. Keduanya tercampur dan rangsang-merangsang, maka terhanyut kemudaanku yang lemah, melintasi lorong-lorong terjal nafsu-nafsu dan terjerumus ke dalam kancah kebatilan.”[15]

Menurutnya, pada saat kejatuhan itu, ia merasa sangat  jauh dari Tuhan. Hal ini dilukiskan melalui pertanyaan reflektif berikut ini. “Celakalah aku! Akankah aku berani berkata bahwa Kau berdiam diri, Allahku, waktu aku pergi semakin jauh dari-Mu? Apakah kau benar-benar berdiam diri kepadaku?”[16] Singkatnya, Augustinus menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal-hal buruk dalam hidupnya. Segala keinginan dirinya dilampiaskannya.

Di Karthago, Augustinus menganut Manikheisme.[17] Tentang aliran ini, ia melukiskan sebagai berikut.

“Dalam mulut mereka ada jerat-jerat iblis serta semacam perekat yang dibuat dengan mencampuri bunyi nama-Mu, dan nama Tuhan Yesus, dan nama Parakletus, penghibur kami, Roh Kudus. Nama-nama itu tak lekang dari bibir mereka, tetapi hanyalah suara, bunyi bahasa, tidak lebih; di luar itu hati mereka hampa kebenaran. Mereka berkata, “kebenaran! Kebenaran!” Kepadaku mereka banyak membicarakannya, tetapi sesungguhnya di mana pun dalam diri mereka tak ada kebenaran dan mereka menyatakan hal-hal yang tidak benar.”[18]

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Agustinus tidak menemukan kebahagiaan ketika mengikuti Manikheisme. Bahkan ia merasa jauh dari Allah. “Di manakah Engkau bagiku ketika itu dan berapa jauh Engkau? Jauh benar dari-Mu, aku mengembara di negeri asing! Aku berjerih payah dan bergelora karena tidak memiliki kebenaran” Dalam situasi demikian, sesungguhnya Agustinus mencari Allah. Namun, dalam pencarian ini, ia tidak mengikuti kehendak Allah. Yang diikutinya adalah kehendak daging. Akibatnya, ia tidak mengalami kebahagiaan.

Ketika hidup Agustinus kacau balau karena mengikuti Manikheisme, ibunya selalu berdoa kepada Tuhan agar ia bertobat. Menurut Agustinus, Allah hadir melalui ibunya, tetapi ia tidak menanggapinya. Tentang kesalehan ibunya ia menulis demikian.

“Hampir Sembilan tahun lamanya aku bergelimang lumpur yang dalam di keremangan kekeliruan. Selama waktu itu, dengan tidak habis-habisnya ia mengadukan aku kepada-Mu, pada setiap saat ia berdoa. Doa-doanya datang ke hadapan-Mu, namun Kau masih membiarkan aku berguling-guling tergulung dalam kegelapan itu.”
Tuhan Memanggil Agustinus

Tatkala tinggal di Milano (Italia), Agustinus berkenalan dengan banyak tokoh hebat dalam Gereja. Salah seorang tokoh tersebut adalah uskup Ambrosius yang sangat terkenal pada waktu. Agustinus sering mendengarkan kotbah Uskup Ambrosius. Ia sangat tertarik dengan gaya bicara Ambrosius yang menjelaskan Kitab Suci dengan baik. Pada saat itu, Agustinus belum berkeinginan untuk masuk agama Katolik. Akan tetapi, sosok Ambrosius memang mempengaruhi cara berpikirnya tentang agama Katolik. Setelah perjumpaan dengan Ambrosius, ia mulai tertarik untuk mempelajari ajaran Katolik. Ia menemukan kebenaran dalam Kitab Suci. Bahkan, pertobatannya tidak terlepas dari pengaruh uskup Ambrosius.

Di samping itu, ia juga membaca banyak buku yang ditulis oleh para filsuf Neo-Platonis. Atas anjuran pemikir Neo-Platonis yang ditemukan dalam buku-buku tersebut, Agustinus kembali ke dalam dirinya. Tujuannya adalah mencari Allah. Bahwasannya, pengetahuan mengenai Allah dicarinya dengan mata jiwanya. Tentang hal ini, ia berkata, “aku memasuki kedirianku dengan bimbingan-Mu. Aku dapat melakukannya karena Engkau menjadi penolongku.”
Agustinus juga bertemu dengan Simplicianus, seorang yang dikagumi di dalam Gereja, termasuk oleh uskup Ambrosius. Simplicianus mengisahkan pertobatan Victorinus yang dulunya seorang pemuja dewa-dewi dan memiliki banyak pengikut. Kemudian, pada masa tuanya ia bertobat dan menjadi pemeluk agama Katolik. Setelah mendengar kisah itu, Agustinus kembali masuk ke dalam dirinya. Ia melihat dirinya sebagai pendosa.

“Ya Tuhan, Engkau balikkan aku kembali menatap diriku, Engkau menarik aku dari balik punggungku, tempat yang kuambil supaya mataku tidak perlu menatap diriku itu. Engkau menempatkan aku tepat berhadapan muka dengan diriku supaya aku melihat bahwa betapa jelek aku, betapa cacat dan menjijikkan, penuh noda dan borok.”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Agustinus mengalami pergulatan hebat di dalam dirinya. Ia berusaha menarik diri dari keramaian dan merenungkan perjalanan hidupnya. Akhirnya, pada suatu kesempatan ia mendengar suara seorang anak tetangganya yang berulang kali menyampaikan ungkapan penting. “Ambillah, bacalah! Ambillah, bacalah! (Tolle lege!)” Agustinus menganggap suara itu sebagai perintah Tuhan agar ia segera membaca Kitab Suci. Ia berjanji untuk membaca bab pertama yang dibukanya. Akhirnya, ia menemukan ayat berikut ini.
“Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari. Jangan dalam pesta pora dan kemabukan; jangan dalam percabulan dan hawa nafsu; jangan dalam perselisihan dan iri hati; tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:13-14).

Rupanya kata-kata rasul Paulus ini menggugah hidupnya. Bahkan kata-kata ini yang membuat dirinya bertobat. Tatkala ibunya mendengar keinginan Agustinus, ia sangat senang. Ternyata, uskup Ambrosius juga turut bersuka cita atas pertobatannya. Akhirnya, dalam bimbingan Ambrosius, ia dibaptis menjadi pengikut Kristus. Agustinus bahagia dengan peristiwa itu. Bahkan ia berkata, “betapa lambatnya aku akhirnya mencintai-Mu, betapa lambat Kau kucintai!”

“Bagaimana aku harus mencari-Mu, ya Tuhan? Sesungguhnya apabila aku mencari-Mu, Allahku, yang kucari ialah kebahagiaan. Semoga aku dapat mencari-Mu supaya hiduplah jiwaku! Sebab tubuhku hidup dari jiwaku dan jiwaku hidup dari-Mu. Jadi, kebahagiaanku adalah Engkau sendiri. Aku berbahagia kepada-Mu, dari-Mu dan karena-Mu!”

Berkat pembaptisannya, Agustinus merasa dekat dengan Tuhan. Setelah lama mencari, ia akhirnya mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Persatuan dengan Allah ini dialaminya ketika ia berani masuk ke dalam dirinya dan merefleksikan peziarahan hidupnya. Ternyata hidupnya jauh dari Allah. Walaupun banyak prestasi dan kesenangan yang diperolehnya, ia menyadari bahwa semuanya itu tidak memberikan kebahagiaan sejati bagi dirinya. Menurutnya, sumber kebahagiaan sejati itu adalahTuhan sendiri yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

Apabila orang mau bersatu dengan Tuhan, ia harus berjuang melawan dirinya. Yang dilawan adalah keinginan daging (misalnya, godaan syahwat, kemabukan) dan keangkuhan (misalnya ingin dihormati, dipuji). Inilah pesan Agustinus untuk para pengikut Kristus. Pesan ini berdasarkan pengalaman hidupnya.

Titik Temu Kisah Bima Suci dan Agustinus

Ada beberapa hal yang menjadi titik temu antara tokoh Bima dalam kisah Bima Suci dan Agustinus dalam buku Confessiones.

Pertama, Persatuan dengan Tuhan adalah Tujuan Peziarahan. Kisah Bima Suci merefleksikan posisi manusia sebagai peziarah kehidupan. Bima adalah seorang ksatria muda yang dengan gemilang melakukan peziarahan. Setelah melewati aneka rintangan, ia mengalami persatuan dengan yang Ilahi. Ia mengalami kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. Di pihak lain, Agustinus juga adalah seorang peziarah terbesar dalam sejarah Gereja. Sungguh berliku-liku peziarahan hidupnya. Ia tidak pernah puas dengan apa yang diraihnya, dengan pengetahuan yang bisa dikejar oleh akal budinya. Bahkan, Agustinus sering kali merasa jauh dari Allah. Ia mencari kebijaksanaan hidup yang sungguh-sungguh memberikan kedamaian baginya. Kebijaksanaan itu hanya dipenuhi oleh Allah. Akhirnya, ia berkata, “terlambat aku mencintai-Mu, oh Allahku.” Jadi, keduanya (Bima dan Agustinus) sama-sama mengalami bahwa tujuan peziarahan hidup ini adalah persatuan dengan Tuhan. Keduanya sama-sama mengalami Manunggaling Kawula Gusti.

Kedua, Tuhan bersemayam di dalam batin manusia. Yang menarik adalah Bima justru berjumpa dengan yang Ilahi itu di dalam dirinya. Dewaruci adalah gambaran diri Bima. Ketika ia masuk ke bagian paling dalam dari dirinya (suksma), ia mengalami manunggaling Kawula Gusti. Bima mengalami kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan hidup. Ia berjumpa dengan sang Kebijaksanaan itu sendiri (Allah). Di pihak lain, Agustinus juga berjumpa dengan Tuhan di dalam dirinya. Kecerdasan akal budi, segala prestasi, kekayaan dan kesenangan jasmani yang dimilikinya ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan bagi hidupnya. Lalu, ia merefleksikan peziarahan hidupnya. Ia menemukan bahwa Kebenaran yang dicarinya hanya ditemukan dalam Allah. Kebenaran itu letaknya sangat dekat dengan dirinya; bahkan di dalam lubuk batinnya. Tidak perlu lagi menguras akal budi untuk mencari Tuhan. Yang penting adalah mau menciptakan keheningan untuk bisa masuk ke dalam dirinya. Justru hal inilah yang mendorong Agustinus merenungkan Kitab Suci dan ia menemukan ayat penting ( Roma 13:13-14) yang mengubah haluan hidupnya. Agustinus bertobat! Ternyata Tuhan, sumber kebahagiaan hidup itu ditemukan di dalam dirinya.

Ketiga, Mendengarkan orang lain. Bima sangat setia mendengarkan gurunya. Ketika Bima diutus untuk mencari air kehidupan, ia dengan setia melakukannya. Begitu juga ketika Dewaruci meminta Bima agar masuk ke dalam dirinya; ia berani melakukannya. Kesetiaan ini membuat Bima bisa berjumpa dengan air kehidupan yang tak lain adalah Allah sendiri. Di pihak lain, Agustinus juga tampil sebagai pribadi yang mendengarkan orang lain. Salah satunya, ia taat mendengarkan uskup Ambrosius. Ia rajin mendengarkan kotbahnya. Atas teladan hidup uskup Ambrosius, Agustinus tertarik untuk mendalami Kitab Suci. Bahkan, ketika masuk Katolik, yang membaptisnya adalah uskup Ambrosius. Kesetiaan mendengarkan uskup Ambrosius membuat Agustinus bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ia semakin tekun merenungkan Kitab Suci dan menemukan banyak inspirasi untuk hidupnya. Jadi, Bima dan Agustinus mengalami persatuan dengan yang Ilahi tidak terlepas dari ketaatan mereka dalam mendengarkan orang lain

 

Kisah Bima Suci selalu aktual dan sering didiskusikan oleh orang zaman ini terutama yang berminat dengan filsafat Jawa. Begitu juga dengan kisah peziarahan hidup Santo Agustinus. Banyak orang beriman terinspirasi dengan kisah hidupnya. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah Bima Suci dan buku Confessiones ini. Antara lain: Pertama, manusia zaman ini disadarkan bahwa hidup adalah peziarahan untuk menemukan “air perwitasari.” Dalam sudut pandang mistik kristiani, “air perwitasari” itu tak lain adalah Allah sendiri. Orang beriman adalah peziarah yang sedang menuju persatuan intim dengan Allah. Perjumpaan dengan-Nya akan membawa kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian dalam hidup. Tidak perlu pergi jauh untuk mencari-Nya. Sebab Dia berada di dalam lubuk batin manusia. Yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan keheningan batin. Kedua, Persatuan dengan Tuhan sering kali melampaui pertimbangan akal budi. Peziarahan Agustinus menunjukkan kepada manusia zaman ini bahwa kecerdasan akal budi tidak otomatis membawa manusia pada persatuan dengan yang Ilahi. Bahkan Agustinus selalu merasa tidak puas dengan aneka prestasi akal budinya. Dengan kata iain, kecerdasan intelektualnya tidak membawa kebahagiaan. Ia justru mengalami kebahagiaan yang tidak terkira karena ia hanya mengandalkan Allah. Ketika mengalami perjumpaan dengan Tuhan, ia mengalami ketenangan hidup. “Terlambat aku mencintai-Mu, ya Allahku!” Pengalaman ini menyadarkan orang agar jangan mendewakan kecerdasan intelektual. Hal yang lebih penting bagi manusia peziarah adalah mencari apa yang paling berharga yakni persatuan dengan Tuhan, sang sumber kebahagiaan sejati.

Akhirnya, saya menyadari bahwa masih banyak hal menarik yang bisa digali dari buku Confessiones dan kisah Bima Suci. Saya baru menemukan beberapa hal saja. Dengan demikian, eksplorasi lebih mendalam tentang relasi kedua hal ini sangat perlu dilakukan.

Daftar Pustaka

Agustinus, Pengakuan-Pengakuan (Confessiones), diterj. oleh Ny. Winarsih Arifin dan Th. Van den End, Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Riyanto, Armada, Menjadi-Mencintai (Berfilsafat Teologis Sehari-hari), Yogyakarta: Kanisius, 2013.
Suseno, Frans Magnis, Etika Jawa, Jakarta: Gramedia, 1984.
Zoetmulder, P. J, Manunggaling Kawula Gusti, diterj. oleh Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia,1990.

Menggenggam Harta

0
Sumber Gambar: Google.com

Hari Minggu Biasa XXVIII

(Injil Markus 10:17-30)

Mengumpulkan harta secukupnya atau bahkan berlimpah-limpah itu ambisi wajar setiap manusia. Tentu pengandaiannya, jika harta berlimpah, segala kebutuhan terpenuhi. Mau apa saja, bisa diperoleh. Akan tetapi, harta bisa ‘menghambat’ kerinduan seseorang untuk menggapai nilai yang lebih tinggi. Maksudnya, sikap sayang harta atau lekat hati pada harta menghambat seseorang untuk berlangkah ke arah hidup yang lebih bermutu dan menjanjikan kebahagiaan batin tertentu.

Sikap sayang harta atau lekat hati pada harta itulah yang dimiliki oleh seseorang dalam bacaan Injil hari ini. Ia mendatangi Yesus dan bahkan berlutut di hadapan-Nya hanya untuk bertanya, apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal. Menurut Yesus, hidup yang kekal itu diperoleh ketika seseorang taat menghayati segala perintah Allah. Perintah itu antara lain, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang dan menghormati ayah dan ibu. Orang itu dengan tegas mengatakan bahwa semua perintah Allah itu telah dilakukannya, bahkan sejak masa mudanya. Hebat sekali, bukan? Tentu saja Yesus kagum dengan pengakuannya. Akan tetapi, Yesus menantangnya dengan hal lain yakni meninggalkan harta. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Maka, engkau akan beroleh harta di surga. Kemudian, datanglah kemari, dan ikutilah Aku.” Rupanya tantangan ini terlampau berat baginya. Ia kecewa, bahkan sedih. Hartanya berlimpah dan ia tak rela menjualnya atau memberinya kepada orang-orang miskin. Orang tersebut sangat sayang pada hartanya; hatinya tertambat pada hartanya. Kelekatan hati pada harta membuatnya tidak bisa memperoleh hidup kekal dan tidak bisa mengikuti Yesus. Ia tidak bisa menggapai nilai yang lebih tinggi karena dihalangi oleh cintanya kepada harta.

Kita pun kadang-kadang demikian. Setiap hari sibuk mencari harta; sibuk mengumpulkan harta. Bisa jadi, saking sibuk mengumpulkan harta, kita pun lupa untuk bersyukur kepada Tuhan. Kita menganggap bahwa semuanya itu diperoleh karena kerja keras kita semata. Saking sibuk mengumpulkan harta, bisa jadi kita juga mengabaikan perjumpaan pribadi dengan keluarga atau  sahabat atau sesama di sekitar. Dan, setelah harta mulai menumpuk, kita terlampau erat menggegamnya. Hati kita tertambat pada harta dan tak ingin kekurangan. Ketika ada sesama di sekitar kita yang berkekurangan, pintu hati bahkan pintu rumah kita pun tertutup untuknya. Maksudnya, kita tidak peduli. Kita enggan membagi-membantu, barang sedikit. Kita takut kekurangan harta! Emang harta dibawa ke liang kubur???

Menurut saya, hidup ini terasa indah jika kita mau berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain. Hidup ini bermutu jika kita peduli dengan sesama. Meskipun kecil, bantuan sangat berarti bagi yang membutuhkannya. Dan, kita melakukan hal-hal kecil itu tapi dengan cinta yang besar! Bukankah ini yang diharapkan oleh Tuhan Yesus agar kita memperoleh hidup yang kekal?*** (LG)

Siapa yang Berbahagia?

0

Apa itu kebahagiaan? Kebahagiaan adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala hal yang menyusahkan. Begitu menurut KBBI. Kapan kebahagiaan itu datang? Apakah ketika harta berlimpah atau jabatan empuk diraih? Apakah ketika segala yang dibutuhkan tercapai? Tentu tak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Tak mudah karena ada orang yang hartanya berlimpah atau jabatannya empuk di  bidang tertentu, tapi merasa tak tenteram dalam hidupnya. Segala kebutuhan terpenuhi, tapi hati tak tenteram. Selalu ada yang kurang.

Lalu?

Kebahagiaan itu barangkali pertama-tama tak berhubungan erat dengan aneka prestasi manusiawi di dunia ini. Kebahagiaan itu barangkali bukan tentang berlimpahnya harta atau empuknya kursi jabatan dan sederet pencapaian lainnya.

Kebahagiaan itu barangkali pertama-tama perkara hati. Ya, perkara hati! Hati yang bagaimana? Hati yang penuh syukur atas apapun dan dalam keadaan apapun.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kebahagiaan itu bertalian erat dengan keseriusan-ketekunan mendengarkan Firman Tuhan dan memeliharanya dalam hidup. Mendengarkan dan memeliharanya tentu saja berarti melaksanakan-menghayati firman Tuhan setiap hari. Jadi, menjadi pendengar dan pelaku firman!

Begitulah yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini (Luk. 11:27-28). Ketika orang mengatakan, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau,” Yesus menanggapinya dengan berkata, “Yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya.”

Kebahagiaan itu milik orang yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya. Kebahagiaan itu milik pendengar dan pelaku-pelaksana firman Allah! Pendengar dan pelaku firman pasti bahagia dalam hidupnya. Pendengar dan pelaku firman pasti tidak gila harta dan kuasa! Harta dan kuasa akan dimaknai sebagai sarana untuk mempertahankan hidup. Mengapa? Karena hidup penuh nada syukur kepada Sang Sumber segalanya adalah identitas pendengar dan pelaku firman. Ini akar kebahagiaan kristiani!

Apakah Bunda Maria adalah Bunda yang berbahagia? Ya! Mengapa? Karena ia tekun mendengarkan, memelihara dan melaksanakan firman Allah (bdk. Luk. 1:26-56). Dengan demikian, Yesus juga secara ‘tidak langsung’ menegaskan bahwa Maria Bunda-Nya adalah Bunda yang berbahagia! Bunda-Nya tak hanya pendengar, tapi terutama pelaku-pelaksana firman Allah!

Apakah kita berbahagia? Ya, tentu saja! Asalkan kita adalah pendengar dan pelaku Firman seperti Bunda Maria. Mengapa tidak?***

 

Bunda Maria: Karya Seni “Idaman”

0

“Maria adalah karya seni yang sangat indah dari Allah Yang Mahatinggi. Allah mengkhususkan Maria bagi diri-Nya untuk dikenal dan dimiliki. Maria adalah Bunda Allah Putera yang pantas dikagumi. Allah berkenan membiarkan dia sederhana dan tersembunyi selama hidupnya guna menonjolkan kerendahan hatinya. Sebab itu, Ia memperlakukan Maria sebagai orang asing dan menyapanya dengan sapaan, ‘wanita’ (bdk. Yoh 19:26). Tetapi di dalam hati-Nya, Ia menghargai dan mengasihinya lebih dari semua malaikat dan manusia. Maria adalah ‘mata air yang termeterai’ (kid. 4:12) dan mempelai Roh Kudus yang setia. Hanya Roh Kuduslah yang bertempat tinggal di dalam Maria. Maria adalah bait suci dan tempat istirahat Tritunggal Mahakudus. Di situ Allah hadir lebih agung dan lebih ilahi dari pada di manapun di alam raya, tidak terkecuali tempat tinggal-Nya di atas para kerubim dan serafim. Tak satu pun makhluk, betapapun murninya, boleh masuk ke dalam rahim Maria, kecuali jika diberi hak istimewa.”

(Santo Louis Marie-Grignion de Montfort, dalam buku Bakti Sejati, no 5)

Ungkapan Santo Montfort di atas hendak menegaskan bahwa Bunda Maria sangat berharga di mata Allah. Maria sangat berkenan kepada-Nya! Maria adalah karya seni ‘idaman’ Allah. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Allah ‘jatuh cinta’ pada Bunda Maria. Ya, Maria adalah perempuan ‘idaman’ sang penguasa kehidupan!

Jika Allah saja ‘jatuh cinta’ pada Maria, mengapa kita yang ‘diangkat’ menjadi anak Allah tidak  ‘jatuh cinta’ padanya? Jika Sang Penguasa kehidupan saja “jatuh hati” pada Maria, mengapa kita tidak? Mengapa  Bunda Maria tidak menjadi ‘idaman’ kita??***

Orang Tua – Anak: Merawat Relasi Kasih

0

“Orang tua adalah Allah yang kelihatan.” Pada waktu masih kecil, saya sering mendengarkan ungkapan ini dari orang tuaku. Ungkapan ini terdengar tatkala saya kurang menghargai nasehat mereka. Mungkin terkesan menakut-nakuti, tetapi sesungguhnya  ungkapan ini berlandaskan refleksi teologis yang mendalam. Bahwasannya, cinta kepada orang tua merupakan salah satu ungkapan cinta kepada Tuhan. Allah itu tak terjangkau indra, walau manusia selalu merasakan kehadiran-Nya. Sementara itu, orang tua selalu kelihatan dan dirasakan kehadirannya. Orang tua adalah rekan Allah (co-creator) dalam menghadirkan manusia baru di bumi ini. Tuhan juga adalah sang pemelihara kehidupan. Begitu juga orang tua. Mereka bertanggung jawab memelihara anak-anaknya. Sungguh, betapa mulianya peran orang tua ini. Inilah salah satu alasan penting mengapa anak-anak harus menghargai orang tuanya.

Dalam Kitab Suci ditemukan ayat-ayat yang menekankan pentingnya penghargaan terhadap orang tua. Antara lain, “Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.” (Sirakh 3:3-6)

Anak adalah titipan Allah. Kehadirannya adalah berkat tiada tara bagi orang tua. Tuhan adalah pemilikinya; bukan orang tua! Hal ini juga menuntut orang tua untuk sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap anak-anak yang dilahirkan. Melalaikan tanggung jawab ini tak lain adalah melalaikan Tuhan sang pemberi hidup. Tentang anak sebagai ‘titipan’ Tuhan ini, penyair tersohor Kahlil Gibran mempunyai refleksi yang  sangat mendalam dan selalu aktual sepanjang zaman.

“Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.”

Di mata Tuhan, orang tua dan anak tak lain adalah citra-Nya (bdk. Kej. 1: 26). Dengan demikian, keduanya sangat berharga. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya tidak boleh saling mengabaikan! Relasi yang dibangun tentu berlandaskan Kasih Allah yang tiada batas bagi mereka. Dengan kata lain, hubungan antara orang tua-anak berlandaskan kasih; tiada yang lain. Relasi orang tua-anak tidak seperti relasi tuan-hamba!

Menghidupkan

Dalam kandungan, anak bergantung secara total kepada sang ibu. Setelah dilahirkan, ia juga masih menggantungkan hidupnya pada orang tua. Relasi yang berlandaskan kasih Allah menyadarkan orang tua akan perannya yakni menghidupkan. Tuhan adalah pemberi hidup. Sebagai rekan kerja Allah, orang tua mempunyai tanggung jawab untuk menghidupkan anak yang hadir di dalam keluarga. Hal ini tidak hanya dengan memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga spiritual. Dengan kata lain, anak tidak hanya diberi makan atau pakaian (misalnya), tetapi juga diberi perhatian yang tulus; menemaninya dalam setiap situasi hidupnya.

Di pihak lain, anak-anak juga perlu menghidupkan orang tuanya. Hal ini tentu dilakukan ketika anak-anak sudah mulai mengerti dengan hidupnya. Antara lain, mengikuti setiap nasehat, melakukan hal-hal berguna yang tidak hanya membahagiakan dirinya, tetapi juga melegakan hati orang tua. Ketika orang tua sakit atau sudah tua, anak-anak mempunyai tanggung jawab untuk menjaga, memeliharanya! Anak harus ‘menghidupkan’ orang tuanya. Hal ini dilakukan bukan paksaan, tetapi karena kasih yang tulus tanpa pamrih.

Mengampuni

Banyak keluarga zaman ini yang berantakan karena relasi orang tua-anak tidak dijaga dengan baik. Banyak anak yang tidak percaya lagi kepada orang tuanya karena pengalaman pahit tertentu. Di pihak lain, ada juga orang tua yang tidak mau pusing lagi dengan anaknya. Situasi ini membawa lumayan banyak keluarga zaman ini berada di ambang kehancuran.

Bagi orang beriman, saling mengampuni adalah ungkapan iman (bdk. doa Bapa Kami). Dalam hal ini, orang tua  dan anak perlu saling mengampuni. Mengampuni berarti kedua pihak mau menerima satu sama lain; memperbaiki kesalahan, kekhilafan dan duduk bersama menyusun langkah yang lebih baik untuk kebahagiaan hari esok. Mengampuni juga berarti anak-anak tidak mudah lari dari rumah apabila ada persoalan di dalam keluarga. Orang tua pun tidak mudah putus asa apabila anak-anaknya menyebalkan. Apabila sikap saling mengampuni mewarnai relasi orang tua-anak, maka keluarga akan selalu utuh sampai kapan pun.

Perjumpaan Pribadi

Salah satu tantangan besar bagi keluarga zaman ini adalah perjumpaan pribadi antara orangtua-anak yang semakin jarang, terutama di kota-kota besar. Ada orang tua yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berjumpa secara pribadi, bercengkerama dengan anak-anaknya. Di pihak lain, anak-anak lebih akrab dengan pembantu, pengasuh; bahkan lebih akrab dengan barang-barang tekhnologi canggih (HP, Internet, Blackberry, TV, dll.) Situasi ini ini membuat relasi orangtua-anak renggang! Relasi kasih tidak tampak secara jelas! Kebahagiaan bersama yang menjadi tujuan hidup berkeluarga kurang dialami.

Dengan demikian, kalau mendambakan kebahagiaan dalam hidup berkeluarga, hal penting yang harus dilakukan adalah meningkatkan perjumpaan pribadi antara orangtua-anak. Melalui perjumpaan pribadi tersebut, orang tua dan anak-anak dapat membangun relasi kasih personal yang tulus! Dasarnya adalah kasih Allah yang tanpa batas kepada umat manusia. Orang tua mengungkapkan kasihnya secara tulus dengan pelbagai cara kepada anak-anaknya. Demikian juga anak-anak terhadap orangtuanya. Relasi kasih itu menghidupkan!***

Menjadi Imam Yang “Berhati” Maria

0
Sumber Gambar: Google.com

Memilih untuk menjadi imam  adalah salah satu pilihan hidup. Hampir semua orang sepakat bahwa pilihan hidup yang satu ini amat sulit bagi seorang manusia normal. Mengapa? Alasannya adalah dalam pilihan ‘jenis’ ini dituntut penyangkalan diri yang maksimal, pemberian diri yang tiada tara dan secara radikal mengikuti Kristus tanpa terhanyut dalam ‘rayuan’ dunia ini. Tentu pilihan ini mengandaikan sebuah kebebasan pribadi tanpa paksaan pihak lain. Dengan adanya kebebasan pribadi, apapun yang menjadi konsekuensi dari pilihan itu bisa diselesaikan dengan baik. Tanpa sebuah kebebasan, pilihan tersebut tidak membawa kebahagiaan!

Judul tulisan ini mengandung harapan bahwa mereka yang memilih untuk menjadi imam  hendaknya belajar dari Bunda Maria. Frasa ‘berhati Maria’ memaksudkan sebuah keserupaan atau sebuah persatuan yang intim dengan Bunda Maria. Ia adalah potret ideal bagi umat beriman terutama bagi para imam yang secara radikal menjatuhkan pilihan hidup untuk mengabdi Allah dan sesama. Ada banyak alasan yang bisa dipaparkan terkait ajakan bahwa para imam hendaknya ‘berhati’ Maria. Alasan-alasan tersebut secara padat akan diuraikan pada poin selanjutnya.

Yohanes Maria Vianney merupakan seorang kudus yang ‘berhati’ Maria dalam menghayati panggilannya sebagai seorang imam. Penghormatannya yang mendalam terhadap imamat dan kesetiaannya yang tak terhingga dalam mendampingi umat beriman tak terlepas dari keintiman relasinya dengan Bunda Maria. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa St. Yohanes Maria Vianney telah menjadi serupa dengan Bunda Maria, karena itu ia juga telah menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Hal inilah yang perlu diteladani oleh para imam.

Sekilas Tentang Santo Yohanes Maria Vianney

Berkat kesetiaan dan kebajikan hidupnya seperti yang telah disinggung sepintas di atas membuat St. Yohanes layak menjadi teladan bagi para imam. Ia adalah seorang imam yang sederhana, taat pada Allah dan penuh pengorbanan dalam mengabdi sesama. Sesungguhnya secara akademis, St. Yohanes tidak memiliki prestasi yang memuaskan. Bahkan pada waktu kuliah di seminari Tinggi, ia drop out (DO), karena nilai-nilai akademisnya sangat tidak memuaskan. Akan tetapi, ia tidak menyerah dan selalu berupaya untuk belajar sehingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan studinya dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 12 Agustus 1815. Berkat relasinya yang mendalam dengan Allah, St. Yohanes sungguh menjadi alter Christus. Ia sungguh menjadi pribadi yang bertindak demi Kristus Sang Kepala dalam menjalankan tugas kegembalaannya. Hidupnya adalah berpasrah pada Bapa, melaksanakan kehendak-Nya dan mencintai sesama dengan sepenuh hati. Ia bangga dengan sakramen imamat yang diterimanya. Ia sungguh mencintai imamat dan menghayatinya dengan pengorbanan yang maksimal. Kutipan berikut ini kiranya menunjukkan bahwa St. Yohanes sungguh mencintai imamat dan menjunjung tingginya dalam kerendahan hati yang mendalam.

“Seandainya kita tidak memiliki sakramen imamat, kita tidak akan memiliki Kristus. Siapakah yang menempatkan Dia dalam Tabernakel? Imam. Siapakah yang menerima jiwamu pada saat jiwamu memasuki kehidupan? Imam. Siapakah yang memberi jiwamu makanan, memberinya kekuatan agar mampu menyelesaikan ziarahnya? Imam. Siapakah yang mempersiapkan jiwamu agar layak di hadapan Tuhan dengan membasuhnya, pada saat terakhir, dalam Darah Yesus Kristus? Imam- selalu imam. Dan apabila jiwamu sampai pada ajalnya, siapakah yang akan memohon agar jiwamu beristirahat dengan tenang dan damai? Sekali lagi, imam…. Sesudah Tuhan, imam adalah segalanya! Hanya di surga kelak ia akan sepenuhnya sadar akan siapa dirinya.”

Kutipan di atas terkesan berlebihan bila dilihat sepintas. Akan tetapi, kalau ditelisik secara mendalam, apa yang diungkapkan oleh St. Yohanes hanya mau menekankan betapa mulianya sakramen imamat, betapa bahagianya orang yang dengan tulus berikrar setia untuk menjadi wakil Kristus di dunia ini. Menjadi imam itu tugas mulia yang membutuhkan kepasrahan total pada kehendak Allah.

Hal penting lain yang perlu diungkapkan tentang St. Yohanes adalah kedekatannya yang intim kepada Bunda Maria. Sejak masa mudanya ia selalu mempersembahkan hidupnya kepada Bunda Maria. Ia sadar akan segala ketakberdayaan kemanusiaannya dan berupaya untuk ‘bekerja sama’ dengan Maria sehingga ia bisa mengatasinya dengan bijaksana. Ia amat kagum dengan keutamaan-keutamaan hidup Bunda Maria dan berjuang untuk mengaktualisasikannya dalam hidup harian. Alhasil, segala persoalan hidupnya bisa diatasi dengan baik berkat bantuan Bunda Maria.

Kepasrahan yang total kepada Yesus melalui Bunda Maria ini dalam kehidupan St. Yohanes diakui oleh umat beriman, termasuk oleh Paus Benediktus XVI. St. Yohanes terkenal dengan devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda. Bahkan pada tahun 1836, beliau mempersembahkn gereja parokinya di Ars kepada Bunda Maria. Akhirnya waktu dogma “Maria dikandung tanpa Noda” disahkan pada tahun 1854, St. Yohanes menyambutnya dengan suka cita besar.

Keteladanan hidupnya yang mengagumkan sangat membantu umat beriman untuk mengandalkan Allah, termasuk berdevosi kepada Bunda Maria. Ia pernah mengatakan, “setelah memberikan kepada kita segala yang dapat Ia berikan, Yesus Kristus rindu untuk menganugerahkan kepada kita milik-Nya yang paling berharga, yakni Bunda-Nya yang Tersuci.” Ungkapan ini mau menggarisbawahi bahwa kepasrahan yang total kepada Bunda Maria dan tekun menghayati keutamaan hidupnya merupakan sebuah kebutuhan fundamental bagi mereka yang menjadi anak-anak Kristus.

Apa yang telah dilakukan oleh St. Yohanes tentu bukan hanya berguna bagi umatnya dahulu, tetapi juga umat beriman zaman ini. Lebih dari itu, sikap hidup yang luar biasa dari orang kudus ini hendaknya menjadi teladan bagi para imam dan calon imam zaman ini. Hal pokok yang mau digarisbawahi pada tulisan ini adalah imam yang ‘berhati Maria’ dan mencintai imamat seturut teladan Yohanes Maria Vianney. Bisa dikatakan pula bahwa kecintaannya yang tak terbatas kepada sakramen imamat sangat dipengaruhi oleh devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa Noda. Bunda Maria telah membantu dia dalam mencintai panggilannya dengan maksimal. Ia juga telah belajar banyak dari Bunda Maria dalam menghayati pilihan hidupnya sebagai abdi Allah yang setia.

Imam yang “Berhati” Maria

Semua orang beriman yakin bahwa Bunda Maria adalah figur ideal dalam menghayati iman. Keterarahan hidupnya pada Allah tidak diragukan lagi. Keterbukaannya pada rencana dan kehendak Allah sungguh luar biasa (bdk. Luk 1:26-38). Ia adalah teladan umat beriman sepanjang zaman.

Para calon imam dan imam hendaknya juga menjadikan Maria sebagai tokoh teladan. Perannya sebagai tokoh teladan dan juga guru sangat penting bagi mereka yang secara suka rela mengikuti Kristus secara radikal, yang memberikan diri secara total kepada Kristus. Tanpa dia, ada bahaya munculnya suatu spiritualitas yang dingin, picik, tidak mengakar pada Kristus atau hanya ‘suam-suam kuku’. Tidak seorang pun yang melebihi Bunda Maria dalam mengenal Kristus dan menghasilkan rangkaian kebajikan hidup. Ia telah bersatu dengan putra-Nya dalam suka dan duka hidup.

Bunda Maria sebagai Pola Iman

Sebagai seorang guru dan tokoh teladan, Bunda Maria senantiasa berjalan di depan dalam ziarah iman, sebab dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putra Bapa sendiri ke dunia tanpa mengenal pria dan dalam naungan Roh Kudus….percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan (bdk. LG 63). Bunda Maria (Hawa kedua) hanya percaya pada Allah dan tidak seperti Hawa Pertama yang tergoda oleh ular. Muatan imannya adalah putra Allah yang menjadi manusia.

Sama seperti Maria, para imam atau calon imam hendaknya beriman seperti Maria. Allah adalah satu-satunya yang menjadi sumber dan tumpuan hidup. Imam atau calon imam hendaknya tidak tergiur oleh ‘rayuan’ ular yang selalu datang menggoda. Para imam dan calon imam hendaknya tidak mengabdi pada dua tuan (Allah dan setan) (bdk. Mat 6:24). Mengabdi kepada dua tuan membuat para imam “mendua”, tidak terfokus dalam panggilan, selalu bingung dan gelisah serta akhirnya tidak bahagia dengan pilihan hidupnya.

Bunda Maria telah menjadi serupa dengan Yesus, Putranya. Berkat rahmat Allah dan keterbukaan hatinya, Bunda Maria telah menjadi citra Allah yang tiada duanya. Apa saja yang menjadi kehendak Allah telah dihayatinya dengan penuh iman. Berkat rahmat sakramen imamat, para imam diangkat menjadi pribadi istimewa yang serupa dengan Kristus. Sama seperti Bunda Maria, mereka hanya mengandalkan Allah, bersatu dengan Kristus yang telah memilih mereka dan tekun menghayati panggilan dengan sepenuh hati. Karena itu setiap imam dengan caranya sendiri membawa pribadi Kristus yang menjadi tumpuan hidupnya. Mereka diperkaya dengan rahmat istimewa sehingga apa yang mereka kerjakan sungguh menampilkan kasih Kristus dan mampu membawa orang pada persatuan yang mesra dengan Kristus. Tentu persatuan di sini memaksudkan sebuah persatuan batin atau spiritual, sehingga Kristuslah yang hidup dalam diri mereka.

Keserupaan Maria dengan Yesus tentu bukan hanya saat-saat yang membahagiakan, tetapi juga saat Yesus mengalami penderitaan-Nya. Bahkan Bunda Maria setia bersama Yesus hingga di bukit Kalvari. Bunda Maria mengalami pengalaman pahit dalam hidup bersama Putranya. Imannya sama sekali tidak goyah kendati banyak tantangan yang menghadang ziarahnya. Kehidupan para imam zaman ini tentu diwarnai oleh banyak tantangan yang sering kali mengacaukan perjalanan hidup mereka. Akan tetapi, berkat teladan Bunda Maria kiranya para imam dan calon imam hendaknya seperti Maria: mengikuti Kristus dalam untung dan malang, bersatu dengan Kristus dalam segala situasi hidup.

St. Yohanes Maria Vianney pernah mengatakan, “Marilah kita hidup seperti Bunda Maria: hanya mencintai Allah, menginginkan Allah, hanya ingin menyenangkan Allah dalam setiap perbuatan kita. Sesudah Allah, kita harus memiliki kepercayaan yang besar kepada Bunda Yesus yang begitu baik.” Apabila para imam mampu meneladani iman Maria, maka badai zaman ini pasti tidak menghancurkan bahtera panggilan mereka. Iman seperti Maria menjadi pintu kepada kehidupan yang mesra bersama Yesus. Dengan banyaknya tantangan dan berkat kesetiaan dalam menghadapinya, para imam (seperti Bunda Maria) pasti semakin dewasa dalam menghayati panggilan hidup dan melaksanakan kehendak Allah.

Bunda Maria sebagai Model Cinta Kasih

Kesempurnaan Bunda Maria dalam mencintai Allah dan manusia tentu tak terbantahkan lagi oleh para imam dan umat beriman pada umumnya. Cintanya yang total kepada Allah dan sesama merupakan buah dari relasinya yang mendalam dengan sang Cinta itu sendiri. Sumber cinta kasihnya adalah cinta Ilahi. Kita yakin, cinta ilahi menjadi jiwa Bunda Maria dalam mencintai manusia. Kita juga sungguh yakin bahwa kesucian, kemurnian, kesederhanaan, kerendahan hati, kesetiaan, kesabaran dan rangkaian kebajikan hidupnya yang lain bersumber dari cinta ilahi yang menjadi makanan rohaninya.

Para imam hendaknya berkaca pada Bunda Maria yakni memiliki cinta ilahi sebagai sumber inspirasi bagi hidup dan pelayanannya. Seorang imam dipanggil untuk mencintai Tuhan dengan sempurna melebihi segala yang lain. Malahan bisa dikatakan bahwa cinta yang pertama seorang imam adalah Tuhan. Mencintai yang lain hanyalah merupakan aplikasi dari cintanya kepada Tuhan. Para imam mencintai sesama dengan tulus hanya mungkin dijalankan kalau memiliki cinta kepada Tuhan. Ada dua ciri khas cinta Ilahi yang dihayati oleh Bunda Maria dan layak diteladani oleh para imam.

Pertama, cinta ilahi berinisiatif. Tuhan selalu lebih dahulu mencintai manusia. “Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, melainkan Allah yang telah mengasihi kita” (1Yoh. 4:19). Allah adalah sumber cinta kasih itu. Dalam hidupnya Bunda Maria telah menunjukkan inisiatif cintanya kepada sesama. Contoh yang menarik berkaitan dengan hal ini adalah apa yang dilakukan oleh Bunda Maria pada waktu perkawinan di Kana (bdk. Yoh 2:1-11). Ia sangat mencintai tuan pesta dengan meminta bantuan Putranya untuk mengatasi kekurangan anggur yang terjadi. Di sini, terlihat bahwa tuan pesta tidak meminta bantuannya. Hal itu semata-mata inisiatif Maria untuk mengungkapkan cinta Allah kepada sesama.
Sikap Maria ini hendaknya diteladani oleh para imam. Mereka harus berusaha untuk mendahului dalam mencintai siapa pun yang dilayaninya. Mereka harus lebih dahulu berinisiatif mencintai umatnya. Tatkala ada umat yang membutuhkan bantuan, kiranya para imam (seperti Bunda Maria) peka untuk menolong tanpa menunggu ‘disembah’. Dengan demikian, sikap para imam yang setia menunggu untuk dicintai atau dihormati oleh umatnya kiranya menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh memiliki cinta Ilahi. Mereka juga tidak bisa meneladani Bunda Maria.

Para imam diundang oleh Bunda Maria untuk memberi kesaksian tentang cinta ilahi. Kesaksian ini tentu bukan hanya dengan kata-kata, tetapi terutama dengan perbuatan nyata seperti Bunda Maria. Yang pasti adalah manusia zaman sekarang sangat mendambakan imam yang berbuat cinta kasih daripada yang berkata-kata tentang cinta kasih. Keteladanan dalam mengaplikasikan cinta ilahi bisa menggerakkan hati umat zaman ini untuk mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan membagikannya kepada sesama.

Kedua, cinta ilahi bersifat total dan universal. Cinta ilahi itu mencakup pemberian diri yang tulus dari Allah yang terwujud melalui Yesus Kristus (bdk. Yoh 3: 16; Flp 2: 8-9). Selain itu, cinta ilahi itu tercurah untuk semua orang tanpa terkecuali “dari tiap-tiap suku, bahasa, kaum dan bangsa” (Why. 5: 9). Cinta kasih yang total dan universal ini telah dihayati oleh Bunda Maria. Bunda Maria secara total mencintai Yesus dan gereja-Nya. Hal ini terbukti melalui fiat-nya, “ sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk. 1: 38). Ia juga tekun memelihara Sabda Allah yang dikandungnya, bahkan hingga di kaki salib. Selain itu, ia juga menaruh belaskasihan kepada semua orang (bersifat universal), baik yang sejahtera maupun yang miskin sebagaimana telah ditunjukkan oleh Putranya.

Apa yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria ini hendaknya diikuti pula oleh para imam. Mereka harus memperlihatkan cinta ilahi yang total dan universal kepada sesamanya. Totalitas cinta tersebut diukur melalaui penyerahan diri yang tak terbatas kepada gereja; melayani umat Allah dengan sepenuh hati (segenap talenta yang dimiliki) sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Yesus dan Bunda Maria.

Selain bersifat total, penyerahan diri para imam juga bersifat universal. Hal ini memaksudkan bahwa imam mencurahkan cinta kasih Allah kepada semua orang dengan tulus tanpa ‘pilih kasih’. Semua bangsa adalah milik Tuhan, karena itu para imam dituntut untuk membuka hati bagi banyak orang. Kendati demikian, para imam hendaknya tetap menyadari optio fundamentalis-nya (pilihan dasar) yakni melayani orang miskin dan yang tersingkir. Pilihan dasar ini telah diajarkan dan dilakukan oleh Yesus ribuan tahun yang lalu. Para imam diundang untuk tetap setia pada pilihan dasar ini.

 Maria Sebagai Model Persekutuan

Bunda Maria memiliki relasi yang intim dengan Putranya. Ia tidak hanya menyatu dengan putranya saat inkarnasi, saat mengandung, melahirkan Yesus atau pada saat Yesus mengalami kehidupan yang membanggakan tetapi juga pada saat Putranya mengalami penderitaan. Ini adalah sikap iman yang mengagumkan!

Sikap Bunda Maria ini hendaknya menjadi sikap para imam zaman ini. Hampir pasti bahwa para imam mengalami suka dan duka hidup yang silih berganti. Dalam keadaan demikian, para imam diajak untuk selalu bersekutu dengan Yesus. Dengan kata lain, baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka (ditolak, dibenci, dll.) para imam hendaknya tetap menjalin persekutuan yang intim dengan Yesus. Tanpa persekutuan dengan Yesus, para imam bisa jatuh ke dalam ‘jurang’ yang membuatnya menderita dan tak berdaya. Berkaitan dengan hal ini, ada dua pola persekutuan yang diberikan oleh Bunda Maria.

Pertama, pola gerakan ke dalam. Dalam hal ini Bunda Maria bersatu secara rohani dengan Yesus melalui pikiran dan hatinya (bdk. Luk. 1: 38; 2: 19). Ia menyimpan dan merenungkan setiap peristiwa imannya dalam hati. Sikap ini bisa disebut meditasi dan kontemplasi. Inilah yang perlu diteladani oleh para imam. Mereka hendaknya tekun dalam meditasi dan kontemplasi untuk merenungkan sekaligus meresapi seluruh pengalaman iman, pengalaman perjumpaan dengan karya agung Allah sebagaimana yang telah dijalankan oleh Bunda Maria. Melalui meditasi dan kontemplasi, para imam bisa mengalami betapa indahnya persekutuan yang intim dengan Allah.

Kedua, gerakan ke luar. Bunda Maria tentu tidak hanya mengandung Yesus dalam hati dan pikirannya. Ia menyambut Yesus sebagai anaknya yang bertumbuh secara normal dan mengalami dinamika hidup. Bunda Maria setia dalam mendampingi-Nya, menyerahkan-Nya kepada Bapa di Kenisah dan menyertai-Nya hingga di kayu salib (bdk. LG 61). Berkaitan dengan hal ini, para imam diundang untuk menerima Yesus tidak hanya dalam meditasi dan kontemplasi tetapi juga dalam keseluruhan hidupnya. Tutur kata dan tingkah laku imam hendaknya menggambarkan bahwa mereka bersekutu dengan Yesus. Dengan kata lain, persekutuan mereka yang mendalam dengan Yesus dalam hati dan pikiran hendaknya dinyatakan ke luar melalui sikap hidup dalam karya pelayanan.

Dengan demikian, ada keselarasan dan keterkaitan antara gerakan ke dalam dan ke luar. Inilah dua pola persekutuan yang hendaknya dibangun dan dilestarikan oleh para imam dalam penghayatan panggilan dan pelaksanaan karya pelayanannya.

Ketiga poin penting yang telah diuraikan di atas kiranya menjadi undangan yang berharga bagi para imam. Penulis sungguh yakin bahwa St. Yohanes Maria Vianney telah menghidupi ketiga poin penting ini dalam seluruh dinamika hidupnya. St. Yohanes telah menjadi imam yang “berhati” Maria. Kiranya semua sepakat bahwa kalau para imam zaman ini “berhati” Maria, maka mereka bisa menjadi imam yang mengagumkan, serupa dengan Kristus dan penuh penyerahan diri dalam melayani umat Tuhan sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh St. Yohanes.

Patut diakui pula bahwa apa yang telah diuraikan di atas merupakan hal ideal yang membutuhkan perjuangan maksimal untuk mengaktualisasikannya. Para imam bisa menjadi pelayan Tuhan yang “berhati” Maria mengandaikan bahwa mereka berjuang untuk membangun sebuah relasi yang intim dengan Bunda Maria. Berkat sebuah relasi yang intim dengannya, para imam bisa menemukan keutamaan Maria, meresapi seluruh kebajikan hidupnya dan akhirnya berjuang untuk mewujudkannya dalam hidup harian. Kalau para imam bisa menjadi serupa dengan Maria, maka ia juga bisa menjadi serupa dengan Yesus. Sebab Bunda Maria telah lebih dahulu menjadi serupa dengan Putranya. Kalau para imam bisa ‘bekerja sama’ dengan Bunda Maria dalam tugas-tugasnya sebagaimana yang telah dilakukan oleh St. Yohanes, maka mereka bisa menjadi alter Christi di bumi ini.

Semoga kebajikan hidup Bunda Maria meresap dalam diri para imam zaman ini. Setelah meresapi dalam hati, kiranya mereka dapat membagikannya kepada sesama. Semoga apa yang telah dijalankan dan dihayati oleh St. Yohanes Maria Vianney dapat diteladani oleh para imam masa kini. Akhirnya, semoga semua imam “berhati” Maria. ***

Sumber:

Goergen, Donald (ed.). IMAM Masa Kini (Judul Asli: Being a Priest Today) diterj. oleh Konrad Kebung. Maumere: Ledalero, 2003
Griffin, James A. Ikhtisar Katekismus Gereja Katolik (Judul Asli: A summary of the new Catholic Catechism) diterj. Oleh Mgr. Hadiwikarta. Jakarta: Obor, 1996.
Himawan, Agustinus S.(ed.). Harapan dan Cinta dari Uskup untuk Imamnya. Jakarta: Obor, 2010.
Leteng, Hubertus. Cinta Kasih Pastoral Seorang Imam. Ruteng: Sekpas Keuskupan Ruteng, 1999.
———————-. Spiritualitas Imamat: Motor Kehidupan Imam. Maumere: Ledalero, 2003.

Lesek, Yon, dkk. (eds.) Imam: Jantung Hati Yesus. Jakarta: Obor, 2009.

 

Hasil gambar untuk Imam yang berhati Maria, Yohanes Maria Vianney

St. Yohanes Maria Vianney (Google.com)

 

 

Berziarah Bersama Bunda Maria Menuju Tuhan Yesus

0
Sumber Gambar: Google.com

 

Hidup adalah peziarahan. Bagi orang beriman kristiani, tujuan peziarahan adalah persatuan mesra dengan Tuhan Yesus. Ada banyak tokoh dalam Gereja yang telah menjadi peziarah iman yang pantas diikuti. Salah seorang figur penting itu  adalah santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716). Ia lahir pada 31 Januari 1673 di kota Montfort-la-Cane di Btetagne (kini namanya Montfort-sur-Meu)-Prancis Barat. Nama baptisnya adalah Louis. Nama Grignion itu diambil dari nama ayahnya (Jean-Baptiste Grignion); lalu,  nama Marie itu ditambahkan setelah ia mengalami ‘perjumpaan’ yang mesra dengan Yesus melalui kedekatannya dengan Bunda Maria. Sedangkan, Montfort itu diambil dari nama kota kelahirannya. Dengan demikian, namanya yang panjang itu berarti Louis anak Grignion dari kota Montfort yang memiliki devosi mendalam kepada Bunda Maria.

Santo Montfort lahir di tengah keluarga beriman katolik yang taat. Situasi keluarga ini sangat mempengaruhi ziarah hidupnya. Pendidikan iman katolik sungguh diterimanya di dalam keluarga. Hal ini terpancar melalui ketekunannya dalam berdoa, secara khusus berdevosi kepada Bunda Maria. Ia rajin berdoa rosario. Bahkan, ia selalu mengajak adik-adiknya untuk berdoa bersamanya. Jika ada yang tidak mau berdoa, ia berkata, ‘kalau kamu berdoa rosario, kamu akan menjadi cantik sekali.” Kata-kata ini yang membuat  adik-adiknya mau berdoa.

Ketika menjadi siswa di sebuah  kolese Yesuit di Rennes, Louis tidak mudah terpengaruh dengan kenakalan teman-temannya. Ia lebih suka hening dan seringkali berdoa di depan patung Bunda Maria. Rupanya ia meminta petunjuk Bunda Maria untuk hidup selanjutnya. Selain belajar di sekolah, ia juga aktif mengikuti karya kerasulan kecil. Antara lain, ia tekun mengunjungi orang-orang sakit. Pengalaman devosi yang mesra kepada Bunda Maria dan karya kerasulan di antara orang-orang sakit membuat Louis merasa terpanggil menjadi imam. Atas bantuan seorang ibu yang baik (penderma) dari Paris (kenalan ayahnya), Louis pergi melanjutkan studinya di Seminari Tinggi Saint-Sulpice dan juga di universitas Sorbone di Paris.

Singkat cerita, setelah melewati perjuangan yang tidak ringan, Louis ditahbiskan menjadi imam pada 5 Juni 1700. Sebagai ucapan syukur atas peristiwa berahmat ini sekaligus menyerahkan diri kepada Bunda Maria untuk hidupnya sebagai imam, ia menambahkan nama Maria di belakang namanya. Jadi, ia sekarang bernama Louis-Marie! Setelah menjadi imam, kegigihannya dalam mewartakan kerajaan Allah semakin tampak. Secara khusus, ia mengajarkan tentang devosi yang mesra kepada Bunda Maria. Ia juga selalu mengajak umat beriman merenungkan peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan. Bunda Maria adalah bunda Yesus Sang Penyelamat dunia sekaligus bunda para pengikut-Nya (bunda Gereja). Peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan hendaknya mendorong umat untuk menghormati Maria secara istimewa. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah berdoa Rosario. Ia mengajak umat beriman untuk rajin berdoa rosario. Tentu saja ia tidak hanya mengajarkan devosi ini kepada banyak orang, tetapi  juga ia sendiri secara tekun melakukannya setiap hari.

Louis-Marie meninggal dunia pada 28 April 1716 di St-Laurent-sur-Sevre, Prancis. Pada saat itu, usianya masih muda (43 tahun), setelah 16 tahun menjadi imam. Walaupun masih muda, ia sudah menulis beberapa buku penting tentang ajarannya.Ia adalah bapa pendiri Serikat Maria Montfortan (SMM) dan suster Puteri-Puteri Kebijaksanaan (Daughter of Wisdom-DW). Setelah melakukan penyelidikan secara serius, pada tahun 1853 diakui secara resmi bahwa tulisan-tulisannya sesuai dengan ajaran Gereja. Tahun 1888, ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII. Kemudian, pada 20 Juli 1947, ia dikanonisasi (diangkat menjadi orang kudus atau santo) oleh Paus Pius XII.

Bakti Sejati kepada Maria

Santo Louis-Marie Grignion de Montfort telah menunjukkan bagaimana sebaiknya umat beriman kristiani berziarah menuju persatuan yang mesra dengan Tuhan Yesus. Melalui cara hidupnya dan terungkap melalui tulisan-tulisannya tentang Maria, ia menunjukkan bahwa berziarah kepada Tuhan Yesus melalui persatuan yang mesra dengan Bunda Maria adalah pilihan yang tepat. Salah satu buku yang terkenal yang pernah ditulisnya adalah Bakti Sejati Kepada Maria (BS). Hingga saat ini, buku Bakti  Sejati kepada Maria ini telah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa di seluruh dunia. Banyak orang yang  sangat terpukau dengan buku ini. Antara lain, Frank Duff (Pendiri Legio Maria) dan Santo Yohanes Paulus II. Bahkan motto kepausan santo Yohanes Paulus II yakni Totus Tuus dipengaruhi oleh uraian Santo Montfort dalam buku Bakti Sejati! Uraian santo Montfort sangat membantunya dalam memahami devosi kepada Maria.

Dalam buku Bakti Sejati kepada Maria (BS), santo Montfort menulis, “Yang Tak Terhampiri telah mendekati kita. Melalui Maria Dia telah mempersatukan kita dengan diri-Nya secara mesra, sempurna dan malahan  dengan kemanusiaan kita. Namun tidak sedikit pun dari keagungan-Nya hilang. Kita juga harus melalui Maria mendekati Allah dan mempersatukan diri kita secara sempurna dan mesra dengan Yang Mahamulia tanpa takut akan ditolak (BS 157).” Pada bagian lain dalam Bakti Sejati, ia juga menulis, “saya tidak percaya bahwa seorang dapat memperoleh persatuan yang mesra dengan Tuhan dan kesetiaan yang sempurna kepada Roh Kudus, apabila ia tidak berhubungan secara sungguh-sungguh dengan Perawan tersuci dan bergantung sepenuhnya pada bantuan wanita ini (BS 43)”

Kutipan di atas menegaskan bahwa Bunda Maria sangat penting dalam kehidupan umat beriman. Santo Montfort meyakinkan umat beriman betapa Bunda Maria sangat berkenan kepada Allah. Bahkan Allah sendiri jatuh cinta padanya (bdk. Luk 1:26-38)! Keistimewaan Maria ini hendaknya menyadarkan umat beriman agar menjalin kedekatan dengan Bunda Maria bahkan bergantung sepenuhnya pada pertolongannya. Bukan hanya itu! Kebajikan hidupnya yang berkenan kepada Allah itu pantas diikuti oleh para pengikut Puteranya sepanjang zaman.

Selain itu, kesaksian iman santo Montfort di atas juga sekaligus mengajak kita agar menyerahkan diri pada pelukan keibuan sang Bunda. Ia adalah bunda umat beriman. Pembaktian diri kepada Yesus melalui persatuan yang mesra dengan Bunda Maria merupakan pilihan yang tepat. Agar bisa membaktikan diri dengan baik, kita perlu bersikap rendah hati. Kerendahan hati membuat kita dengan mudah merebahkan diri dalam pelukan sang Bunda yang nota bene selalu membuka hati bagi siapa saja yang datang kepada Kristus melalui dirinya. Bahkan dengan kelembutan, ia akan berjalan bersama kita menuju Yesus Puteranya. Ketika sang Putera melihat kita datang kepada-Nya bersama sang Bunda, ia pasti sangat senang. Ia pasti mencintai orang yang menghormati Bunda-Nya, sebab Ia sendiri juga sangat menghormatinya. Akhirnya, Ia  menyambut kita dengan penuh kasih!

Berziarah Bersama Maria

Pemahaman Santo Montfort  tentang peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan dan devosinya  yang mendalam dan terungkap  melalui cara hidup dan beberapa pernyataannya di atas kiranya meneguhkan peziarahan umat beriman, secara khusus selama bulan Oktober ini. Salah satu hal menarik yang umumnya dilakukan oleh umat katolik Indonesia pada bulan ini (dan Mei) adalah berdoa rosario bergiliran dari satu rumah ke rumah yang lain. Antusiasme umat untuk melakukan hal ini lumayan tinggi. Selain merupakan tanda persekutuan di antara umat beriman, kiranya berdoa rosario dari satu rumah ke rumah lain ini merupakan  salah satu lambang bahwa kita sedang berziarah di dunia ini. Kita sedang berziarah menuju persekutuan mesra dengan Tuhan Yesus bersama Bunda Maria.

Dalam doa rosario, kita merenungkan misteri Kristus dan bunda-Nya. Ketekunan dalam merenungkan misteri hidup Kristus dan Bunda Maria harapannya membuat kita merasakan sukacita yang mendalam. Sebab buah dari persekutuan dengan Yesus dan Bunda Maria adalah sukacita!

Hal penting yang juga  perlu selalu disadari adalah doa rosario dari rumah ke rumah ini  bukan rutinitas tahunan tanpa makna. Ia mempunyai makna yang mendalam bagi peziarahan umat beriman. Untuk itu, umat katolik perlu  intensif menjalin hubungan yang mesra dengan Maria melaui doa-doa dan kegiatan rohani-marial lainnya serta berjuang untuk meneladani keutamaan hidupnya.

Apakah menghormati dan meneladani Maria hanya dilakukan pada bulan Oktober (dan Mei)? Tentu saja tidak! Umat beriman diajak untuk terus memperdalam imannya kepada Kristus bersama bunda Maria melalui aneka devosi marial sepanjang waktu, tak terkecuali melalui doa Rosario. Doa yang kristosentris ini (terpusat pada Kristus) perlu dilakukan terus menerus demi kematangan iman. Orang yang sering berdoa Rosario dengan tekun akan semakin mantap dalam beriman kepada Kristus. Alasannya tak lain karena Bunda Maria selalu membawa umat beriman yang menghormatinya kepada Yesus puteranya. Atau seperti yang diyakini Santo Montfort berikut ini. “Tak pernah anda ingat akan Maria tanpa Maria ingat akan Allah atas nama anda. Tidak pernah anda memuji dan menghormati Maria tanpa Maria memuji dan menghormati Allah bersama Anda. Kalau Anda mengatakan “Maria”, dia mengatakan “Allah”. Dia sepenuhnya terarah pada Allah” (BS 225).

Hanya saja, Gereja perlu secara khusus menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Penetapan ini berhubungan peristiwa penting yang dialami oleh Gereja pada tanggal 7 Oktober 1571. Pada tanggal tersebut pasukan Kristen di bawah pimpinan Don Johanes menang atas pasukan Islam (Turki) di Lepanto-Italia. Waktu itu, pasukan Islam Turki hendak menguasai Eropa dalam rangka memperluas wilayah kekuasaannya. Pasukan Kristen kalah dalam hal jumlah pasukan dan perlengkapan perang. Menyadari kondisi tersebut, Paus Pius V (1566-1572)  yang memimpin Gereja pada waktu itu, meminta seluruh Gereja berdoa Rosario kepada Bunda Maria untuk membantu tentara Kristen. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh tentara Kristen. Setelah kalah dalam pertempuran itu, tentara Turki tidak melanjutkan perjuangan mereka menguasai Eropa. Kemenangan ini diyakini  oleh Gereja sebagai campur tangan Bunda Maria.

Sebagai ungkapan syukur atas peristiwa penting itu,  tanggal 7 Oktober dinyatakan sebagai Pesta Santa Perawan Maria Ratu Kemenangan. Kemudian, pesta ini diganti dengan nama Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Penetapan bulan Oktober sebagai bulan Rosario baru dilaksanakan pada 1 September 1883 oleh  paus Leo XIII. Ia meminta agar selama bulan Oktober umat beriman di seluruh dunia berdoa Rosario agar Bunda Maria membantu Gereja dalam mengatasi ancaman yang sedang dihadapi pada masa itu. Melalui  ensikliknya, Octobre mense,  yang dikeluarkan pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menyatakan bahwa  bulan Oktober dibaktikan dan dikuduskan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.

Terlepas dari peristiwa bersejarah itu, Gereja tentu mengajak umat beriman agar selalu melibatkan Bunda Maria dalam ziarah hidupnya sepanjang hidup. Berziarah menuju persatuan mesra dengan Tuhan Yesus bersama Maria merupakan wujud kerendahan hati kita, bahwa tanpa Bunda Maria, kita sebagai orang berdosa tak bisa berjalan dengan baik menuju-Nya. Kita percaya, tangan keibuannya pasti selalu menopang sehingga peziarahan kita aman dan sampai pada pelukan-Nya. Semoga cara hidup dan ajakan santo Louis Marie Grignion de Montfort yang telah dipaparkan di atas membantu kita dalam  menjalin relasi yang intim dengan Bunda Maria sepanjang hidup ini. Yakinlah, apa yang menjadi harapan kita pasti diperhitungkan oleh Tuhan Yesus berkat kerendahan hati kita yang mau bersatu dan berziarah bersama Maria menuju persatuan mesra dengan-Nya. ***