“Surat dari yang Tersalib”

0
241
TheDigitalArtist / Pixabay

Saudara, saudari-ku yang sedang berziarah…….
Rintik-rintik letih menjadi detik, yang sedikit lagi menjadi akhir dari cerita lama-Ku. Kehilangan.

Dalam ratap-Ku pada luka yang tak sempat dijamah, kalian malah menertawa-Ku,mencemohkan-Ku, mengejek-Ku. Sebab Aku hanya mampu bergantung pada kayu Salib sambil menahan sakit dari sisa-sisa bilur yang kalian berikan untuk-Ku pada musim yang hampir menua ini.

Aku sadar, mencintai kalian adalah luka bagi-Ku, sebab hatimu ada pada allah lain. Tapi, Aku tidak membenci kalian, sebab Aku tidak mau menuai tangisan Bapa-Ku yang di Surga karena ketidaksetiaan-Ku.

Kini, Aku terpaku dengan tangan terentang membatasi langit dan bumi, antara rentetan kebahagian dan pecahan dosa yang tertimbun.

Mengucapkan selamat tinggal pun tak sanggup Aku kalimatkan.Sebab mimpi telah mengajak-Ku untuk pulang, sebelum air mata itu menghujani diri kalian. Mungkin, hari terlampau jauh untuk diberi kabar, bahwa kemarin, Aku dan kalian harus melukis diri, sebelum cawan penderitaan dan kematian-Ku, Ku-ambil dari Bapa-Ku.

Kepergian-Ku bersama dosa yang telah dihakimi adalah bukti bahwa Aku masih, akan, dan tetap mencintai kalian, walau diri-Ku tetap saja ditikam oleh air mata palsu itu. Oleh kebohongan kalian.

Dan kali ini, Aku kehilangan doamu, sebab wujudmu tak lagi bertuan hari itu. Aku tidak tahu, apakah kalian benar-benar lupa memberi sepucuk harap itu untuk-Ku, ataukah memang kalian tak sempat membuatnya.

Namun, mesti terus mendulang kepalsuan yang ke sekian kalinya, Aku akan selalu merindukan sajak itu, walau hanya sebait.

Kalian tahu? Sepotong bait bernoda telah menjadi salib yang kini jadi milik-Ku. Sendirian. Dan sekarang, Aku terpaku pada tubuhnya. Pada setiap dosa yang menangis minta pengampunan.

Darah dan keringat pun bersetubuh, membelai setiap luka yang sedang menganga. Tapi, dari sakit yang sedang merambah menjamah tubuh-Ku, ingatlah, bahwa pada ujung paku yang meruncing, ada dunia lain yang harus kalian hindari. Sebab di atasnya, darah sedang menangis. Aku yakin, kalian tahu maksud-Ku.

Dan juga sampaikan pesan-Ku ini pada diri kalian, bahwa Aku merindukan doa dan sujudmu, bukan air mata penyesalan tanpa aksi. Aku lelah. Selesailah sudah!!!!!!!

Salam dari sahabatmu yang engkau hina.

Yesus
(Renungan ini dibawakan oleh Fr. Niko Pukan, Frater Tahun Orientasi Rohani pada saat jalan Salib Jumat Agung di Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Peteus Ritapiret-Maumere, Jumat, 19 April 2019)

Saat ini, sy berdomisili di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, calon imam keuskupan Ruteng. Mahasiswa STFK Ledalero. Dipercayakan menjadi ketua redaksi majalah Biduk milik Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada tahun 2016-2018, menjalankan tahun orientasi pastoral di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng