Katolik Menjawab: Ajaran Bapa-Bapa Gereja Tentang Allah Tritunggal (2)

2
471

Dewasa ini, banyak aliran bermunculan dan membuat ajaran sesuka hati mereka. Bahkan mereka membuat fitnah terhadap Bapa-Bapa Gereja terutama berkaitan dengan ajaran Allah Tritunggal. Seperti kita ketahui, seorang yang bergelar ‘PS’ (katanya pastor versi mereka) menuduh bahwa Tertulianus pada akhir hayatnya menolak ajaran Allah Tritunggal. Oleh sebab itu, menurut ‘PS’ tersebut ajaran Tritunggal harus dibuang karena tidak relevan dengan zaman modern ini. Fitnahan tersebut disebarkan melalui media youtube. Tak sedikit orang percaya akan ucapan ‘PS’ yang ahistori itu.

Tidak heran karena aliran-aliran mereka baru muncul pada abad 16-21, maka mereka tidak tahu sejarah atau sama sekali tidak mau tahu sejarah. Mungkin juga dibangku Sekolah Teologi mereka diajarkan untuk menolak dan membuang sejarah karena sejarah lebih banyak bicara tentang Gereja Katolik. Maka mereka memilih untuk memfitnah dan memutarbalikkan sejarah. Kita tahu motifnya, yakni ‘asal beda dengan Gereja Katolik’.

Menanggapi fitnah ‘PS’ tersebut, maka saya menghimpun ajaran Bapa-Bapa Gereja dari berbagai sumber dan menyajikan dalam tulisan sederhana ini. Mudah-mudahan ‘PS’ dan para pengikutnya, berkenan membaca agar mereka tidak mempermalukan diri mereka dihadapan banyak umat Kristiani yang masih berpegang teguh pada ajaran Bapa-Bapa Gereja. Berikut tanggapan dari saya;

Tertulianus tidak pernah menyangkal ajaran Allah Tritunggal hingga akhir hayatnya. Hal itu, dibuktikan dalam tulisan-tulisan beliau. Dalam bukunya, Against Praxeas 13:6, Tertulianus (160-240) mengatakan “Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.”

Ajaran Allah Tritunggal sendiri telah dikenal oleh gereja perdana. Pada masa Santo Policarpus (69-155) ajaran Tritunggal telah diterima sebagai ajaran yang resmi. Dalam suatu peristiwa ketika St. Policarpus, uskup Smirna menghadapi kemartiran, ia berkata “…Aku memuji Engkau (Allah Bapa),…aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad, Amin.”

Selain itu, tujuh belas tahun setelah Yesus disalib, St. Ignatius dari Antiokhia (50-177) dalam suratnya kepada umat di Efesus, Bab 9 halaman 146, juga menyinggung tentang Allah Tritunggal. St. Ignatius membandingkan umat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘Katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus”.

Baca Juga:

Seperti kita ketahui, Paus  keempat juga menyampaikan ajaran tentang Allah Tritunggal dalam sebuah tulisannya kepada umat di Korintus, bab 46. St. Paus Clement dari Roma (Menjadi Paus tahun 88-99) dalam suratnya mengatakan “Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?”.  Demikian pula St. Teofilus dari Antiokhia (180), mengajarkan bahwa “…ketiga hari sebelum diciptakannya terang, adalah lambang dari Trinitas, Allah, dan Firman-Nya, dan Kebijaksanaan-Nya.”

Begitu juga dengan seorang Filsuf, yaitu Santo Aristides (90-150) mengatakan “orang-orang Kristen, adalah mereka yang di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenal Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus.”

Berdasarkan kesaksian dari ajaran Bapa-Bapa Gereja di atas, kita mengetahui bahwa ajaran Allah Tritunggal merupakan ajaran hakiki dan identitas kekristenan. Mungkin “PS” dan pengikutnya akan berkata, mana ayat yang menulis kata Tritunggal?. Pertanyaan semacam ini merupakan wujud kedangkalan pengetahuan. Kata ‘Tritunggal’ atau ‘Tauhid’ sekalipun tidak ada tertulis di dalam Kitab Suci baik agama Kristen maupun Islam. Lalu dari mana kata ‘Tritunggal’?.

Kata “Tritunggal” tidak berbicara tentang jumlah Tuhan ada berapa melainkan bagaimana Tuhan mewahyukan diri dalam sejarah keselamatan. Pewahyuan tersebut kemudian direfleksikan dan ditafsirkan oleh Para Rasul yang kemudian diturunkan kepada para murid mereka, yang dalam waktu tertentu dirumuskan sehingga terbentuklah kata ‘Tritunggal’. Hal itu bukan berarti bahwa “Tritunggal” buatan Bapa-Bapa Gereja, melainkan refleksi dan tafsir dari Kitab Suci bagaimana Allah mewahyukan dirinya mulai dari Kitab Kejadian (Kej. 1:1-3) ketika penciptaan hingga Kitab Wahyu Kepada Yohanes.

Gambaran Trinitas kita temukan juga dalam Kisah Abraham. Ketika Abraham melihat tiga orang yang mendatanginya pada saat Allah mengulangi janjinya bahwa Abraham akan memiliki anak laki-laki bernama Ishak. “Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya g  waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanahserta berkata: “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih k  tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu l  ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini.” Jawab mereka: “Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu.”(Kej. 18:1-5).

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289