22.6 C
New York
Monday, September 27, 2021

Katolik Menjawab: Gereja Katolik Roma Sumber Pembaktian Hari Minggu?

Aliran adventis merupakan aliran pecahan dari denominasi Protestan yang sangat benci terhadap Gereja Katolik. Pernyataan ini dibuktikan dengan buku-buku yang ditulis oleh Ellen Gould White (EGW) yang berisi konspirasi-konspirasi dan tuduhan terhadap Gereja Katolik. Salah satu buku yang ditulis oleh Ellen Gould White yang menyudutkan iman Katolik berjudul The Great Controversy. Dalam buku tersebut secara khusus menuduh bahwa Gereja Katolik telah mengubah pembaktian pada hari sabat ke hari Minggu. Benarkah demikian?

Perlu kita ketahui bahwa semua nama hari diambil dari nama dewa-dewi: Senin (Diana), Selasa (Mars), Rabu (Merkurius), Kamis (Jupiter), Jum’at (Venus), Sabtu (Saturnus) dan Minggu (Apollo). Nah, jika kita beribadah pada salah satu dari ketujuh hari itu, apakah itu berarti bahwa kita menyembah salah satu dari dewa-dewi itu? tentu saja tidak. Sama sekali tidak ada hubungannya antara ritual keagamaan dengan penyembahan dewa-dewi. Jika kita mengatakan bahwa perayaan hari Minggu merupakan penyembahan terhadap salah satu dewa atau dewi, itu sama saja kita mengatakan bahwa semua agama menyembah dewa-dewi; sebab semua agama beribadah pada salah satu dari ketujuh hari itu.

Sabat Perjanjian Lama

Sabat Yahudi dimulai dari hari Jumat sore sampai Sabtu sore (sesuai kalender Yahudi). Allah melarang umat bekerja pada hari sabat bahkan hukuman bagi pelanggarnya adalah hukuman mati (bdk. Kel. 20:9-11, Kel. 31:14, Kel. 31:15, Bil. 15:32-36). Bagi umat Perjanjian Lama, sabat merupakan tanda peringatan/perjanjian antara manusia (secara khusus Israel) dengan Allah (bdk. Kel. 31:13, 16,17, Im. 19:3,30. Tujuannya, agar manusia menyembah Allah secara khusus (bdk. Kej. 2:2-3, Kel. 20:11).

Sabat Perjanjian Lama Dipenuhi dan Digenapi Dalam Perjanjian Baru

Yesus mengatasi hari sabat, bahkan Ia sering melanggar aturan hari sabat dan membela murid-murid-Nya yang memetik gandum pada hari Sabat (Mat. 12:3, Mrk. 2:25, Luk. 6:3, Luk. 14:5). Yesus membela para murid dengan mengacu kepada yang dilakukan Daud (bdk. Mrk. 2:26). Bahkan Yesus mengadakan penyembuhan pada hari Sabat (bdk. Lukas 13:10-17). Rasul Paulus menegaskan bahwa hari Sabat tidak mengikat umat Kristen (bdk. 2:16, Gal. 4:9-10, Rom. 14:5-6). Sementara itu, Rasul Yohanes menerima wahyu pada hari Tuhan (hari Minggu) (bdk. Why. 1:10). Hal ini menunjukkan pentingnya hari Tuhan/hari Minggu sebagai hari yang dirayakan oleh umat Kristen.

Gereja merayakan liturgi khususnya pada hari Minggu karena hari Minggu adalah hari Kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus sangat penting bagi iman Kristiani sehingga Rasul Paulus berkata, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1Kor 15:14,17). Meskipun Perjanjian Lama menuliskan perintah untuk menguduskan hari Sabat (bdk. Kel. 20:8, 2:3. Tetapi perlu diingat, apa yang ada dalam Perjanjian Lama adalah bayangan atau gambaran yang akan digenapi dalam Perjanjian Baru.

Dalam surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia menekankan bahwa, “Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” (Gal 3:23-25). Selanjutnya, Surat kepada orang Ibrani juga mencatat bahwa, “Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakikat dari keselamatan itu sendiri…” (Ibr 10:1).

Baca Juga:

Bahkan Rasul Paulus menegaskan kembali penggenapan itu, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (lihat Kol 2:16-17). Oleh sebab itu, Sabat dan sunat jasmani dalam PL merupakan bayangan akan keselamatan yang sesungguhnya yang dikaruniakan Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus-inilah inti iman Kristiani-telah digenapi oleh Kristus. Maka sabat tidak lagi mengikat pengikut Yesus.

Salah satu penggenapan itu adalah “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa. karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kolose 2:11-12)

Makna Hari Minggu Menggenapi Makna Sabat

Sabat yang mengacu kepada hari istirahat di akhir Penciptaan. Sementara hari Minggu mengacu kepada Ciptaan Baru berkat kebangkitan (misteri Paskah) Yesus. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor 5:17). Semua dijadikan ciptaan baru di dalam Kristus. Yesus Kristus bangkit pada hari Minggu (bdk. Mat. 28:1, Mrk. 16:2, Luk. 24:1, Yoh. 20:1), menampakkan diri kepada para rasul dan memecahkan roti pada hari Minggu (bdk. 24:13-36, Yoh. 20:19, 20:26). Para rasul melestarikan perayaan akan kenangan bersama Yesus itu pada hari Minggu. “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecahk-mecahkan roti…(bdk. Yoh. 20:7, 1 Kor. 16:2).

Perayaan Hari Tuhan bagi umat Kristen adalah hari Minggu. Sebab tidak mungkin perayaan itu kembali kepada perayaan gambaran atau bayangan yang tak memiliki hakekat keselamatan. Kristus telah menggenapi seluruh gambaran dan bayangan dalam Perjanjian Lama (bdk. Ibr. 10:1). Kebangkitan Yesus dari kematian terjadi pada hari Minggu dan menampakkan diri di hari yang sama (bdk. Mrk 16:2, 9; Luk 24:1; Yoh 20:1, Luk. 24:13-35). Para Rasul juga berkumpul bersama pada hari Minggu (bdk. Luk. 24:36, Yoh. 20:19, 26, Kis. 2:1). Pencurahan Roh Kudus juga terjadi pada hari Minggu (bdk. Kis. 1:4-5).

Para Rasul mulai membentuk ritme kehidupan dengan berkumpul pada hari Minggu (bdk. 1 Kor. 16:2). Bahkan jemaat di Troas berkumpul untuk memecahkan roti (bdk. Kis. 20:7-12). Hari Minggu juga disebut sebagai Hari Tuhan dalam Kitab Wahyu (bdk. Why. 1:10). Perayaan Hari Minggu menjadi pembeda dengan perayaan Umat Yahudi dan agama sekitarnya. Oleh sebab itu sebutan Hari Minggu atau Hari Tuhan mempunyai makna Paskah: Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Yesus. Dan Yesus Kristus adalah Tuhan yang bangkit dari kematian dan membawa kemenangan (bdk. Flp. 2:11, Kis. 2:36, 1 Kor. 12:3). Para Rasul Khususnya Rasul Paulus selalu hadir di Sinagoga untuk mewartakan Yesus Kristus pada hari Saba (bdk. Kis. 13:27). Pandangan Kristiani menghubungkan kebangkita Yesus di hari pertama Minggu” dengan hari pertama kosmik dalam kisah Penciptaan (bdk. Kej. 1:3-5). Maka, kebangkitan Yesus merupakan awal dari ciptaan baru/kehidupan baru.

Kesaksian Bapa Gereja dan Dokumen

Pertama, St. Ignatius dari Antiokhia (35-107)

Dalam suratnya kepada jemaat di Magnesia, St. Ignatius mengatakan: “Jika mereka yang hidup di keadaan terdahulu harus datang menuju pengharapan yang baru, dengan tidak lagi menerapkan hari Sabat tetapi melestarikan Hari Tuhan, [yaitu] pada hari hidup kita telah muncul melalui Dia dan kematian-Nya …., rahasia/ misteri itu, yang darinya kita menerima iman kita, dan di dalamnya kita berteguh agar dapat dinilai sebagai para murid Kristus, Pemilik kita satu-satunya, bagaimana mungkin kita lalu dapat hidup tanpa-Nya, sedangkan faktanya, para nabi juga, sebagai para murid-Nya di dalam Roh Tuhan, menantikan Dia sebagai Pemilik [mereka]?” (St. Ignatius, To the Magnesians 9, 1-2: SC 10, 88-89.)

Kedua, Dokumen Didache bab 14 (70)

“Apabila kamu berkumpul pada hari Tuhan (Hari Minggu), kamu harus memecahkan roti dan mengucapkan syukur, setelah mengaku kesalahankesalahanmu supaya kiranya kurbanmu suci (murni). Dan barangsiapa yang berselisih dengan sesamanya, janganlah berkumpul dengan kamu sekalian sampai saat mereka itu telah berdamai lagi; supaya jangan kurbanmu dinajiskan. Karena itulah yang difirmankan Tuhan: Di tiap-tiap tempat dan pada tiap-tiap waktu haruslah dipersembahkan kepada-Ku suatu kurban yang suci (murni); karena Aku inilah Raja yang Mahabesar; demikianlah firman Tuhan; dan nama-Ku mendahsyat di antara segala bangsa (Mal.

1:11,14)

Ketiga, St. Barnabas (74)

“Kami merayakan hari kedelapan (Minggu) dengan sukacita, yaitu hari di mana Yesus bangkit dari kematian.” (Letter of Barnabas 15:6–8)

Referensi

avatar
Silvester Detianus Geahttps://www.ziarahnews.com/
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Ikut menulis dalam buku bunga rampai "Ibuku Surgaku" (2020), buku bunga rampai "Ayahku Jagoanku" (2021). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini