23.1 C
New York
Tuesday, September 27, 2022

Menjawab Keraguan Orang-orang terhadap Penyaliban dan Wafat Yesus di Kayu Salib

Benarkah Yesus wafat di kayu salib? Jangan-jangan peristiwa penyaliban itu tidak pernah terjadi? Atau, sekalipun terjadi, jangan-jangan bukan Yesus yang disalibkan melainkan seseorang yang diserupakan dengan Dia?

Saudara dan saudari, jelaslah cerita tentang penyaliban Yesus ada dasar dan sumbernya. Bagi orang yang percaya, cerita itu tidak diragukan sedikitpun kebenarnya. Dasar dan sumber pertama untuk meyakini bahwa Yesus benar-benar wafat di kayu salib adalah adanya kesaksian dari para saksi mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu.

Yusuf dari Arimatea adalah salah satu nama dari sekian banyak nama yang menjadi saksi dari peristiwa itu. Diceritakan dalam Kitab Suci bahwa Yusuf dari Arimatea pergi menghadap Pilatus untuk meminta mayat Yesus. Pilatus pun memberi perintah kepada para serdadu untuk menyerahkan mayat Yesus kepadanya. Tapi sebelumnya ia memanggil kepala pasukan dan menyuruhnya untuk terlebih dahulu memeriksa dan memastikan bahwa Yesus benar-benar sudah mati sebelum diberikan kepada Yusuf dari Arimatea (Mrk. 15:44-45).

Terkait hal itu, Injil Yohanes memberikan gambaran yang sangat detail. Dikatakan bahwa para serdadu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19:32-34). Setelah itu jenazah Yesus diberikan kepada Yusuf dari Arimatea untuk dimakamkan.

Bahkan, orang-orang Farisi, yang selama ini berseberangan dengan Yesus tahu juga  bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib. Buktinya: mereka meminta kepada Pilatus agar makam Yesus dijaga sampai hari yang ketiga; sebab jikalau tidak, mereka mencurigai jangan-jangan murid-murid Yesus mungkin akan datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati (lih. Mat. 27:62-66).

Cerita tentang peristiwa penyaliban Yesus dapat kita jumpai juga dari tulisan-tulisan lain di luar Perjanjian Baru. Igantius dari Antiokia (pada permulaan abad ke-2), misalnya, menuliskan: “He was truly of the seed of David according to the flesh, and the Son of God according to the will and power of God; that He was truly born of a virgin, was baptized by John, in order that all righteousness might be fulfilled by Him; and was truly, under Pontius Pilate and Herod the tetrarch, nailed [to the cross] for us in His flesh. Of this fruit we are by His divinely-blessed passion, that He might set up a standard for all ages, through his resurrection, to all His holy and faithful [followers], whether among Jews or Gentiles, in the one body of His Church” (Letter to the Smyrneans, Chapter 1).

Ignatius menerangkan bahwa Yesus sungguh dipaku di kayu salib. Dengan berkata ‘melalui kebangkitan-Nya’ ia mau menunjukkan bahwa Yesus memang wafat. Jadi, baik dari Perjanjian Baru maupun dari tulisan-tulisa para penulis Kristen perdana sama sekali tidak ada keraguan bahwa Yesus benar-benar wafat di kayu salib.

Seandainya pun ada orang yang keberatan untuk percaya terhadap sumber-sumber tersebut (mungkin karena mengganggap bahwa Kitab Suci kita sudah dipalsukan atau alasan lainnya), namun jangan lupa masih ada sumber lain, yang sama sekali tidak ada hubungan dan kepentingannya dengan kekristenan, yang mengakui pula bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib. Sumber tersebut berasal dari seorang sejarawan Yahudi yang bernama Josephus. Dia menulis begini:

Now, there was about this time Jesus, a wise man; for he was a doer of wonderful works, a teacher of such men as receive the truth with pleasure. He drew over to him both many of the Jews and many of the Gentiles. And when Pilate, at the suggestion of the principle men among us, had condemned him to the cross, those that loved him at the first ceased not so to do; and the race of Christians, so named from him, are not extinct even now” (J. Klausner, Jesus of Nazareth, p. 55).

Ada saksi mata, ada tulisan para bapa Gereja, dan ada sumber-sumber non-Kristiani yang sama-sama menerangkan bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib. Bukankah itu sudah merupakan  dasar dan sumber yang kuat untuk percaya? Lantas, apa dasar dan sumber yang Anda gunakan sehingga tidak percaya bahwa Yesus sungguh wafat di kayu salib? Apakah dasar dan sumber yang Anda gunakan itu bisa diterima dan dipercaya oleh semua orang?

Referensi:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/four-reasons-to-believe-jesus-was-really-crucified
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/answering-a-muslim-apologist

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini