5.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 14

Bintang – Renungan Hari Senin Pekan III Adven

0

Bintang: Renungan Hari Senin Pekan III Adven, 12 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Bil. 24:2-7.15-17; Injil: Mat. 21:23-27

Piala dunia Qatar tahun 2022 ini menghadirkan banyak pemain bintang. Mereka hadir untuk membela negaranya masing-masing sekaligus memberikan hiburan bagi umat manusia karena sepak bola adalah perpaduan antara seni, skill dan taktik.

Para pemain sepak bola di satu sisi adalah bintang lapangan hijau tetapi di sisi lain mereka adalah bintang yang mempersatukan umat manusia di tengah perang antara Rusia dan Ukraina, terorisme, rasisme dan bencana kemanusiaan lainnya.

Dalam bacaan pertama hari ini, Bileam tampil dan bernubuat tentang kedatangan Mesias di tengah situasi penjajahan yang dialami oleh bangsa Israel. Mesias yang datang adalah ‘seorang pahlawan yang akan memerintah bangsa yang tak terbilang banyaknya. Ia adalah bintang yang terbit dari Yakub dan ia akan meremukkan pelipis -pelipis Moab dan menghancurkan semua anak Set.’

Bintang yang sejati dan cemerlang hadir dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita. Ia hadir untuk menghalau kegelapan dunia. Mukjizat-mukjizat-Nya adalah bukti kuasa kasih Allah bagi manusia; dan lewat tanda-tanda inilah kita dapat melihat jati diri-Nya. Namun, para imam kepala dan pemuka agama Yahudi menolak untuk mengakui-Nya. Hati mereka telah tertutup oleh egoisme diri sehingga mereka tidak melihat Sang Bintang sejati di hadapan mereka.

Sebagai orang Katolik, kita diajak di masa Adven ini untuk membuka hati dan diri kita agar diterangi oleh Yesus Kristus Sang Bintang Sejati sehingga kita mampu menjadi bintang bagi sesama lewat tindakan-tindakan dan tutur kata kita yang penuh kasih. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Tapal Batas – Mu-Sa-Fir

Sukacita Tuhan Mengusir Ketakutan dan Keraguan Kita – Renungan Hari Minggu Adven III

0

Sukacita Tuhan Mengusir Ketakutan dan Keraguan Kita: Renungan Hari Minggu Adven III, 11 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 35:1-6a,10; Bacaan II: Yak. 5:7-10; Injil: Mat. 11:2-11

Lilin ketiga yang berwarna merah muda sudah dinyalakan dan kita semakin dekat dengan perayaan peringatan kelahiran Tuhan yang kita tunggu-tunggu. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat” (Fil. 4:4-5). Inilah ajakan Tuhan dalam perayaan Minggu Adven ketiga yang biasa disebut sebagai Minggu Sukacita. Kedatangan Tuhan inilah yang menjadi alasan kita untuk bersukacita. Sejak semula misi kedatangan Tuhan tidak berubah dan kita diminta untuk mempersiapkan diri kita: menerima-Nya dan mewartakan Dia.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Yesaya dalam bacaan hari bernubuat kepada umat Israel yang sedang dalam pembuangan di Babilonia. Allah, melalui Yesaya, ingin hadir dalam hidup dan perjuangan orang Israel. Yesaya tidak berbicara kepada orang yang segala sesuatu dalam hidupnya berjalan baik.  Yesaya justru bersuara kepada kita yang panik mengahadapi masalah. Sebagai nabi, Yesaya ingin berbisik kepada kita yang kebingungan dan ragu dengan pilihan hidup kita. Yesaya hadir dengan sabdanya untuk kita yang takut mendekati Tuhan. “Kuatkanlah hatimu, jangan takut! Lihatlah, Allahmu akan datang menyelamatkan kamu”. Tuhan akan datang untuk membawa pulang umat Israel kembali ke tanah kelahiran dan rumah mereka.

Rasul Yakobus dalam kerangka yang sama tentang penantian akan Tuhan meneguhkan para pengikut Kristus untuk sabar dalam penderitaan. Yakobus menjadikan petani sebagai teladan dalam membangun keutamaan tersebut. Waktu seorang petani menanti hasil panenannya adalah penantian yang aktif dengan sederet kerja dan perhatian: menjaga kebersihan dan memperhatikan proses tumbuh kembang tanaman dengan pupuk dan racun hama.  Proses panjang harus dilewati untuk menikmati hasil yang bernilai.

Dalam konteks penantian kedatangan Tuhan, Penginjil Matius ingin memberikan sisi lain dari Yohanes Pembaptis. Yohanes yang pada awal tampil ke publik dengan seruan pertobatan dan pengampunan dosa digambarkan sedang terpenjara. Kabar baik dan sukacita atas karya Tuhan menembus batas tembok-tembok penjara. Yohanes yang pernah memperkenalkan Kristus kepada murid-muridnya (Yoh. 1:29) sekali lagi mengarahkan para muridnya kepada Yesus. Ia ingin para muridnya memiliki pengalaman pribadi dan pertemuan dengan Tuhan. Yohanes ingin agar dengan mendengar dan melihat apa yang dilakukan Yesus para muridnya mendapat peneguhan iman akan Kristus yang ia ajarkan. Yesus menjawab harapan Yohanes: menjadikan Kristus sebagai guru spiritual baru. Yohanes ingin mengarahkan murid-muridnya pada jalan hidup baru, pengalaman baru, tantangan baru, hubungan baru dengan Tuhan serta cara baru untuk mencintai dan menjangkau orang lain.

Kita perlu membuka hati dan membiarkan Allah bekerja: mengubah hidup kita.

Penginjil Matius berusaha memberikan pandangan yang cukup seimbang tentang figur Yesus dan Yohanes Pembaptis serta hubungan antar keduanya. Pada mulanya Yesus mempresentasikan keagungan Tuhan dan keajaiban Allah yang hadir dalam tanda dan mujizat kepada murid-murid Yohanes. Yesus kemudian mempresentasikan Yohanes kepada orang banyak. Kebesaran Yohanes Pembaptis tampak dalam tugas menyiapkan jalan bagi Tuhan dan perannya sebagai saksi tentang Mesias.

Perubahan merupakan tantangan sekaligus rahmat dan kesempatan untuk menghidupkan iman dan kasih kristiani kita. Tantangan dan kesulitan dalam hidup kadang merupakan jalan kecil menuju kekudusan. Setiap umat beriman harus belajar untuk setia dan teguh dalam imannya di tengah krisis: keraguan dan ketakutan sekalipun. Yesus sebagai Mesias menunjukkan tanda-tanda kuasa kerajaan Allah. Ia selalu datang dan hadir dalam hidup kita dengan rahmat, cinta, pengampunan dan pelayanan. Kita perlu membuka hati dan membiarkan Allah bekerja: mengubah hidup kita.  Yesus memberikan kita kelimpahan hidup dan sukacita untuk menjadi saksi-saksi-Nya.

Kabar sukacita merupakan pokok pewartaan Gereja di mana dari dalam diri kita digali pengalaman perjumpaan dengan Yesus. Melalui perjumpaan dengan Yesus kita diharapkan untuk mau menjumpai orang lain di sekitar kita dan membagikan sukacita yang kita terima. Paus Fransiskus melalui surat Apostolik pertamanya Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) mengajak semua orang Katolik untuk terlibat dalam misi pewartaan Injil sebagai perjalanan transformasi dan reformasi hidup. Kisah kasih Tuhan yang lahir dan membaharui diri kita diharapkan bisa menjadi kado untuk sesama yang lain.

Cinta Tuhan Meringankan Beban Kita – Renungan Hari Ini

0

Cinta Tuhan Meringankan Beban Kita: Renungan Hari Ini, 07 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 40:25-31; Injil: Mat. 11:28-30

Kita sering mendengar bahkan mengungkapkan kalimat hidup adalah perjuangan. Di balik pernyataan ini terdapat pengalaman yang tak dapat disangkal dan perasaan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita tidak pernah luput dari masalah dan beban hidup. Tantangan dan penderitaan menguras tenaga, pikiran dan perasaan kita.

[postingan number=3 tag= ‘cinta-tuhan’]

Dalam banyak peristiwa kita ingin memikul semua beban sendiri. Kadang masalah yang kita perjuangkan secara diam-diam tampak lewat perubahan fisik, raut wajah, senyum bahkan masalah bisa terlihat melalui perkataan dan perbuatan kita. Pertanyaan yang mesti direnungkan adalah bagaimana sikap kita dalam menanggapi penderitaan, tantangan dan beban hidup? Kepada siapakah kita harus mengadu dan meminta pertolongan? Siapa yang bisa kita andalkan?

Nabi Yesaya mengungkapkan pengalaman bangsa Israel dalam masa pembuangan di mana mereka menjadi orang asing, merasa jauh dari Tuhan (bait Allah). Mereka merasa seperti kehilangan kekuatan: lemah, lesu dan tidak berdaya. Dalam keadaan itu Yesaya tampil mengingatkan mereka bahwa Tuhan senantiasa hadir dan memperhatikan mereka. Kekuatan baru akan mereka dapatkan jika mereka tabah dan sabar menantikan Tuhan. Perikop Injil Matius menampilkan Yesus yang mengundang semua orang yang letih, lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Ia menjanjikan kelegaan dan ketenangan. Yesus juga memberikan motivasi untuk belajar pada-Nya.

Tantangan dan penderitaan yang tidak bisa kita hindari dapat menjadi kesempatan untuk menunjukan iman kita. Sebagai orang percaya kepada Kristus, orang Katolik diajak untuk menghidupi imannya terutama dalam mengahadapi realitas kehidupan. Iman kita tentu diuji dalam cara kita melihat dan menanggapi penderitaan dan tantangan. Kita percaya bahwa tantangan dan cobaan tidak akan melampaui kemampuan kita.

Belajar pada Kristus berarti mengikuti cara hidup Kristus: berpusat pada Allah dan mengandalkan Allah. Tuhan mengajak kita untuk membawa semua beban penderitaan, masalah, ketakutan dan dosa kita ke hadapan-Nya. Kelegaan rohani kita hanya akan dicapai dengan mengakui kelalaian dan dosa kita di hadapan Tuhan dalam Sakramen Tobat dan Ekaristi.

Tuhan menjanjikan beban yang manis dan ringan karena Ia tidak membiarkan kita sendiri. Tuhan mengambil bagian memikul beban dan penderitaan kita. Cinta kasih Kristus meringankan  beban hidup kita. Dalam masa Adven ini kita diingatkan tentang nubuat-nubuat para nabi tentang Mesias, Allah yang datang sebagai penebus dan penyelamat.

Kristus sebagai pemenuhan wahyu tersebut hari ini ingin terlibat dalam penderitaan, masalah dan perjuangan hidup kita. Apakah kita ingin melibatkan Dia dalam perjuangan kita dan menjadikan Dia sebagai Super Hero kita?  Apakah kita ingin berjuang sendiri? Doa adalah obat untuk hati kita yang lelah; dan berpasrah pada Allah adalah senjata untuk mendapatkan kasih dan perhatian-Nya.

Kebesaran Tuhan dan Undangan-Nya – Renungan PW. Santo Ambrosius

0

Kebesaran Tuhan dan Undangan-Nya: Renungan PW. Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja, 07 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 40:25-31; Injil: Mat. 11:28-30

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Hidup adalah rangkaian perjuangan yang tak kunjung putus di mana setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman jatuh-bangun dan susah-senang. Namun, semuanya dapat diatasi berkat kasih dan kemurahan Tuhan. Dia adalah Allah yang Mahabesar, Mahakuasa, Mahapengasih  yang adalah sumber kekuatan bagi setiap orang lemah dan dalam ziarah perjuangan hidup. Apabila kita setia menantikan Tuhan, maka kita akan memperoleh kekuatan yang baru sehingga tidak akan lesu ketika berlari dan tidak akan lelah ketika berjalan dalam ziarah hidup ini.

Kebesaran Allah hadir melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Dalam kebesaran-Nya, Ia mengundang kita semua untuk datang kepada-Nya dan belajar daripada-Nya tentang kerendahan hati dan kelemahan-lembutan. Mengapa? Karena Dia adalah guru sejati; guru kerendahan hati yang dalam kebesaran dan keagungan-Nya, Ia rela menjadi manusia dan bersolider dengan manusia. Ia juga adalah guru yang lemah lembut sehingga rahmat kerahiman selalu dilimpahkan bagi kita.

Dengan datang dan belajar pada-Nya, kita akan memperoleh ketenangan dan damai. Inilah yang dilakukan oleh St. Ambrosius. Dalam kelemahannya, ia selalu datang pada Tuhan Yesus sehingga ia dapat menjadi gembala umat yang baik dan benar.

Marilah kita penuhi undangan Tuhan untuk datang dan belajar pada-Nya sehingga kita mampu mengambil bagian dalam kerendahan hati dan kelembutan hati-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Sikhar – Mu-Sa-Fir

Gembala dan Domba – Renungan Hari Selasa Pekan II Adven

1

Gembala dan Domba: Renungan Hari Selasa Pekan II Adven, 06 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 40:1-11; Injil: Mat. 18:12-14

Menurut Alkitab, gembala berarti seseorang yang ditugaskan atau dipercayakan untuk menuntun, membimbing, mendidik, mengajar dan membawa umat untuk mengenal Sabda Tuhan agar mereka bertumbuh dalam iman akan Allah sehingga mereka mengalami sukacita keselamatan. Sebaliknya menurut Alkitab, domba adalah umat yang lemah dan bergantung sepenuhnya pada gembala. Oleh karena itu, gembala dan domba memiliki hubungan yang sangat erat dan terkait satu sama lain.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dalam bacaan-bacaan hari ini, kita disajikan tentang Gembala dan domba. Nabi Yesaya dalam nubuatnya menampilkan suara sang gembala yang berseru-seru di belantara kehidupan umat manusia untuk menyiapkan jalan bagi Allah karena ketika Tuhan datang maka perhambaan akan berakhir dan pengampunan akan diberikan dengan kasih.

Berkaitan dengan Gembala, Yesus menegaskan tentang tugas utama seorang gembala yakni menuntun domba-domba kepada Allah. Oleh karena itu, apabila ada domba yang tersesat, maka sang gembala harus mencari  sampai menemukannya sehingga dapat membawanya kembali kepada Allah. Mengapa? Karena sebagai domba,  kadang kita memilih jalan sendiri sesuai dengan keinginannya tanpa menghiraukan suara gembala. Selain itu, kita juga ibarat rumput  dan bunga di padang yang pada saatnya akan kering dan layu, tetapi apabila kita tetap hidup dalam Firman Allah maka kita akan tetap hidup bersama dengan Allah.

Marilah kita tetap hidup di jalan Allah sekaligus kita pun tetap menyerukan suara sang gembala sejati kita yakni Yesus Kristus Tuhan kita agar setiap orang yang tersesat dapat kembali kepada Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Rakerprop – Mu-Sa-Fir

Menemukan-Mu Sukacitaku, Tuhan – Renungan Hari Biasa Pekan II Adven

0

Menemukan-Mu Sukacitaku, Tuhan: Renungan Hari Biasa Pekan II Adven, 06 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 40:1-11; Injil: Mat. 18:12-14

Wajah dunia modern ini didandan dengan sekian rupa perkembangan dan kemajuan yang menarik perhatian kita. Kita disodorkan begitu banyak tawaran dan pilihan. Ada begitu banyak hal yang menyita perhatian kita bahkan menyesatkan kita.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dalam perziarahan kita di dunia ini kita pasti membutuhkan Kompas penuntun, seorang penunjuk arah, ataupun teman seperjalanan. Jika kita kurang fokus dan kehilangan arah, maka tujuan hidup kita bisa tersesat di dalam pekerjaan, tersesat di dalam hobi, tersesat dalam gadget bahkan tersesat di kamar tidur kita. Kita bisa tersesat dalam kegelapan dosa kelalaian dan kesenangan pribadi kita. Ada begitu banyak tempat yang tak terjangkau google map, kita butuh seseorang yang bisa menjangkau kita di tempat-tempat terisolasi, tempat terpencil, dalam keadaan kita yang lemah dan tak berdaya.

Penggembalaan merupakan tugas yang sulit dan sangat berisiko. Padang penggembalaan tak selalu menumbuhkan rumput hijau dan menampung air segar. Selain itu ada banyak binatang liar yang tidak hanya membahayakan ternak tetapi juga mengancam keselamatan sang gembala. Ternak gembalaan kadang keluar dari kawanan mencari tempat favoritnya sendiri, terpisah jauh menuju jalan-jalan kecil, lereng-lereng bukit bahkan menuju lembah yang curam. Nabi Yesaya menggambarkan Tuhan Allah Israel sebagai seorang gembala: Ia menggembalakan ternak-Nya dan menghimpunkan-Nya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba di pangkunya dan induknya dituntun dengan hati-hati.

Begitu besar sukacita Tuhan jika mendapatkan kembali kita, domba yang tersesat ini, dalam pangkuan-Nya.

Dalam konteks bacaan hari ini masa adven dapat dilihat sebagai saat berhenti sejenak (pause) untuk menyadari keterpisahan kita dari kawanan domba. Masa adven menjadi moment untuk menyadari situasi tersesat di mana Tuhan di sisi lain sedang mengarahkan pandangan dan langkah-Nya pada kita. Pemazmur bahkan meneguhkan kita yang hilang ini, “lihat, Tuhan datang dengan kekuatan: untuk menghibur umat-nya sembari berkata “Tenangkanlah hatimu” (Yes 40:2). Penginjil Matius menyimpulkan perumpamaan domba yang hilang dan sukacita sang gembala dengan pernyataan yang sangat bagus, “Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Begitu besar sukacita Tuhan jika mendapatkan kembali kita, domba yang tersesat ini, dalam pangkuan-Nya. Melalui bacaan Injil hari ini penginjil Matius ingin memperkenalkan identitas Allah kepada umat-Nya. Ia adalah Allah yang panjang sabar dan penuh kasih setia. Allah kita merupakan Bapa yang Maharahim dan selalu siap mengampuni. Ia adalah Allah yang menerima kembali orang berdosa yang dengan rendah hati dan sungguh-sungguh menyesali dosa, bertobat dan mohon pengampunan pada-Nya.

Tuhan memberikan kita kesempatan untuk melakukan peziarahan pribadi. Dalam segala situasi dan keadaan kita saat ini ingatlah beberapa pesan bacaan hari ini. Tuhan memperhatikan kebutuhan kita: Ia menjaga dan menemani kita dalam peziarahan kita. Kedekatan dan persahabatan dengan Tuhan hanya dapat terjadi jika kita tetap terkoneksi dengan-Nya melalui saluran doa dan tobat. Kita adalah seekor anak domba dari satu kawanan gembalaan Tuhan, bukan yang terbuang. “Menemukan kita adalah sukacita besar bagi-Nya.”

Mukjizat Itu Nyata – Renungan Hari Biasa Pekan II Adven

0

Mukjizat Itu Nyata: Renungan Hari Biasa Pekan II Adven, 05 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 35:1-10; Injil: Luk. 5:17-26

Bertemu Tuhan dan biarkan Tuhan bertamu adalah impian dari banyak orang beriman. Masa adven sebagai masa penantian kedatangan Tuhan memberikan kita kesempatan mendalami kisah penantian. Orang-orang Israel diberikan janji tentang Tuhan yang akan datang dengan misi khusus, menyelamatkan umat manusia.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dalam iman, kita juga menerima janji keselamatan tersebut. Kedatangan dan kehadiran Allah dalam kerangka keselamatan membawa perubahan. Nabi Yesaya mengungkapkan bahwa Allah sendiri telah datang menyelamatkan umat-Nya (Yesaya 35:1-10). Hal ini digambarkan melalui tindakan Allah yang mendorong kaki yang goyah melangkah, tangan yang lesu terangkat bahkan padang kering menjadi hutan lebat yang penuh bunga. Keselamatan yang dahulu hanya janji menjadi nyata. Kehadiran-Nya membawa sukacita abadi: orang buta melihat, orang yang tuli mendengar, orang bisu bersorak-sorai memuji Allah. Allah menjadi sumber kehidupan, kedamaian dan kesejahteraan.

Hari ini kita menyaksikan hal-hal yang sangat menakjubkan melalui bacaan Injil. Penginjil Lukas melukiskan keselamatan melalui peristiwa penyembuhan. Ada begitu banyak kisah penyembuhan di dalam Kitab Suci tetapi skenario yang dibuat Lukas dalam bacaan ini sangat unik dan menarik. Adegan menaiki rumah dan membongkar atapnya dapat dilihat sebagai adegan utama dari penduduk desa. Yesus mengambil peran sentral dengan mengakui sikap iman penduduk kemudian menyapa dan mengutus si lumpuh. Akhirnya kepada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi Yesus menunjukkan otoritasdan kuasa-Nya terutama kuasa untuk mengampuni dan menyembuhkan.

Orang Israel hidup dalam penantian akan mesias yang dijanjikan dengan pola hidup menurut hukum Taurat. Pemahaman yang tertutup dan ketat pada hukum telah membuat ahli taurat dan orang Farisi sendiri menjadi buta, tuli, dan lumpuh terhadap kebutuhan sesamanya. Adven adalah waktu untuk belajar dan mengapresiasi hidup. Kita siapkan hati agar layak menerima Tuhan. Pertama-tama, masa adven mengajak kita belajar mengenal kehadiran Tuhan dan mempersiapkan kedatangan-Nya. Kedua, adven mendorong kita untuk aktif dan kreatif mencari jalan, menemukan kemungkinan untuk dapat bertemu Tuhan. Ketiga, adven mendewasakan kita dalam memberi tanggapan dan reaksi kita terhadap mujizat, perbuatan ajaib Tuhan. Keempat, pertemuan dengan Tuhan membangkitkan kita dari kelumpuhan mejadi lebih sabar dan kuat menghadapi tantangan hidup. Kisah penyembuhan hari ini membuat kita belajar bersyukur atas berkat Tuhan dan memuji Allah yang memberikan keselamatan.

Tuhan Sumber Sukacitaku – Renungan Hari Senin Pekan II Adven

0

Tuhan Sumber Sukacitaku: Renungan Hari Senin Pekan II Adven, 05 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 35:1-10; Injil: Luk. 5:17-26

“Semua bunga ikut bernyanyi, gembira hatiku. Segala rumput pun riang ria, Tuhan sumber gembiraku”. Syair lagu ini menjadi inspirasi bagiku untuk merenungkan bacaan-bacaan hari ini.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Nabi Yesaya menegaskan dalam nubuatnya bahwa Tuhan akan datang menyelamatkan umat manusia. Kedatangan Tuhan akan disertai kemuliaan, sukacita, dan sorak sorai. Tuhan adalah sumber sukacita umat manusia karena kedatangan-Nya membawa pembaruan bagi seluruh muka bumi sehingga alam semesta kembali bersahabat dengan umat manusia. Persahabatan ini membawa damai sejahtera dan sukacita bagi semua umat manusia.

Nubuat Nabi Yesaya terpenuhi dan berpuncak dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Dia hadir dan menjadi sumber sukacita bagi semua orang karena Ia membarui semua hubungan antara Allah dan manusia yang sudah terjerumus ke dalam dosa. Hal ini dialami oleh si lumpuh. Sebelum disembuhkan dari sakit fisiknya, Yesus terlebih dahulu mengampuni dosanya karena dosa dipandang sebagai penyebab sakit yang dialaminya. Pengampunan dosa merupakan jalan menuju pintu keselamatan dan sukacita bersama dengan Allah.

Bagaimana dengan kita? Apakah perjumpaan kita dengan Tuhan membawa sukacita bagi kita? Marilah kita mohon Rahmat sukacita dari Allah agar dalam situasi apa pun Dia tetap menjadi satu-satunya sumber sukacita bagi kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Rumput hijau – Mu-Sa-Fir

Antara Rindu dan Tobat – Renungan Adven Minggu Kedua

0

Antara Rindu dan Tobat: Renungan Adven Minggu Kedua, 04 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 11:1-10; Bacaan II: Rm. 15:4-9; Injil: Mat. 3:1-12

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Yesaya. Seperti kita ketahui, Yesaya adalah satu dari sekian nabi dalam Perjanjian Lama yang menyampaikan informasi tentang Dia yang akan datang. Dalam nubuatnya [KBBI: nubuat berarti wahyu yg diturunkan kepada nabi (untuk disampaikan kepada manusia); atau dapat juga berarti ramalan], Yesaya memberi petunjuk bahwa Dia yang akan datang itu akan bertindak sebagai hakim. Sebagai hakim, tugasnya adalah mengadili. Perkataan ini mengingatkan kita pada kalimat dalam doa Aku Percaya: Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa. Dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati.

Dia yang akan datang itu akan bertindak sebagai hakim atas hidup dan mati kita. Namun, Ia tidak seperti hakim dunia. Hakim dunia kadangkala keputusannya sepihak, sepintas, dan tergantung apa kata orang banyak. Dia yang akan datang itu adalah hakim yang adil. Sebagai hakim yang adil, Dia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut apa kata orang. Justru sebaliknya, Ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas dengan kejujuran.

Kalau hidup kita dipimpin oleh Dia yang akan datang itu, maka suasana damai pasti kita rasakan dalam kita.

Apakah Dia yang akan datang itu hanya akan bertindak sebagai hakim atas hidup dan mati kita? Jawabannya: tidak. Selain menjadi hakim, Dia juga datang untuk menjadi pemimpin bagi kita. Dan, buah dari kepemimpinannya adalah damai [KBBI: damai adalah keadaan tidak bermusuhan, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, aman, rukun, tenang, dan tenteram]. Seperti apa damai itu? Nabi Yesaya memberi gambarannya.

Bagi Yesaya, suasana damai itu dapat dibayangkan seperti ketika serigala tinggal bersama domba dan macan tutul berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil menggiringnya. Lembu dan beruang sama-sama makan rumput dan anaknya sama-sama berbaring, sedang singa makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

Kalau hidup kita dipimpin oleh Dia yang akan datang itu, maka suasana damai pasti kita rasakan dalam kita. Tapi, kalau hidup kita belum atau tidak dipimpin oleh Dia, maka buahnya adalah kebalikan dari damai. Hubungan kita dengan orang lain, dengan teman, dengan saudara dan dengan anggota keluarga serasa kucing dan tikus: tidak pernah akur.

Sampai di sini kita kita seharusnya sadar bahwa betapa pentingnya Dia yang akan datang itu untuk kita. Itulah sebabnya, banyak orang merindukan Dia. Persis itulah salah satu poin penting dari perayaan minggu kedua Adven ini, yaitu rindu kedatangan-Nya.

Dia yang akan datang itulah yang akan mendekatkan Kerajaan Allah kepada kita, dan kita kepada surga.

Namun demikian, rindu saja tidak cukup. Kerinduan yang tidak disertai dengan persiapan adalah kerinduan yang sia-sia. Selain rindu akan kedatangan-Nya, kita juga harus siap menyambut-Nya. Ibarat kata, Natal itu pasti akan kita rayakan, tapi merayakan Natal tanpa persiapan akan terasa seperti rutinitas tahunan saja. Karena itu, tidak ada cara lain untuk menyambut Dia selain dengan jalan pertobatan. Pertobatan merupakan cara merupakan cara mempersiapkan diri yang paling baik bagi kedatangan-Nya. Makanya, Yohanes Pembaptis, yang notabene adalah pembuka jalan bagi-Nya, berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 3:2). Jadi, pada minggu kedua Masa Adven ini kita diingatkan kembali agar bertobat dan berbalik kepada Tuhan.

Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa waktu kita sudah tidak banyak lagi sebab Kerajaan Sorga sudah dekat. Dia yang akan datang itulah yang akan mendekatkan Kerajaan Allah kepada kita, dan kita kepada surga. Bagi Yohanes Pembaptis, kedatangan Kerajaan Surga itu seperti hari pengadilan. Saat itu, setiap orang akan diadili. Tapi, seperti kata Yesaya, Dia yang akan datang itu adalah hakim yang adil. Yang terpenting kita bertobat, Dia pasti tidak menghukum kita. Sebab itu, jangan menunggu lama. Jangan bilang nanti saja baru bertobat. Bertobat bukan urusan nanti tapi sekarang. Semoga kerinduan kita akan kedatangan Tuhan dapat kita isi dengan upaya pertobatan, agar ketika Dia datang, Dia mendapati kita dalam keadaan siap dan tak bercela. Amin.

Bertobatlah dan Hiduplah dalam Damai – Renungan Adven Kedua

0

Bertobatlah dan Hiduplah dalam Damai: Renungan Adven Kedua, 04 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 11:1-10; Bacaan II: Rm. 15:4-9; Injil: Mat. 3:1-12

Dunia modern saat ini menawarkan segala macam hal yang serba gampang dan instant sehingga membuat kita terbuai bahkan tidak sadar jika kita jatuh dalam dosa. Bahkan pegangan hidup kita bukan lagi berdasarkan hukum Tuhan yang terdapat dalam Kitab Suci tetapi ditentukan oleh suara mayoritas yang terus berteriak tanpa peduli dengan sesamanya.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Hari ini, bacaan-bacaan Kitab Suci mengajak kita untuk sadar dan bertobat serta hidup dalam damai dengan semua orang. Mengapa? Pertama: “Karena Dia yang akan Datang adalah Hakim yang adil.” Hal ini dinubuatkan oleh Nabi Yesaya. Hakim yang adil itu keluar dari Tunggul Isai dan Ia dipenuhi dengan Roh Allah. Ia akan mengadili setiap orang dengan adil dan jujur bukan atas desas desus atau apa yang tampak. Kehadiran-Nya membawa damai bagi semua makhluk.

Kedua: “Karena hidup damai bersatu dengan semua orang adalah sarana untuk memuliakan Allah.” Buah dari pertobatan adalah kesadaran dan kemampuan untuk hidup dalam semangat kesatuan, satu hati dan satu suara dalam melaksanakan kehendak Allah. Dengan semangat ini, kita melaksanakan amanat Yesus yang dengan teladan hidup-Nya telah menerima kita untuk kemuliaan Allah. Dia adalah keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Ketiga: “Karena dengan bertobat dan hidup dalam damai, kita telah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus Kristus.” Yohanes Pembaptis adalah suara yang berseru-seru di Padang Gurun. Ia adalah tokoh yang dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, kita juga harus mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Caranya adalah dengan bertobat dan menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan itu yakni rendah hati, damai, jujur, peduli dan penuh cinta kasih.

Di Masa Adven ini, marilah kita bertobat dan hidup dalam damai dengan semua orang agar kita mampu menangkal terorisme, anarkisme, dan hoaks, yang merusak persatuan kita dengan Tuhan dan sesama. Mampukah kita melaksanakan pertobatan dalam hidup ini dan menghasilkan buah sesuai pertobatan itu? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Susu Jahe – Mu-Sa-Fir