7.3 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 15

Tobat, Jalan menuju Berkat – Renungan Minggu Kedua Adven

0

Tobat, Jalan menuju Berkat: Renungan Minggu Kedua Adven, 04 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 11:1-10; Bacaan II: Rm. 15:4-9; Injil: Mat. 3:1-12

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Keselamatan merupakan rahmat Allah. Pada mulanya rancangan penyelamatan tersebut diikat dalam perjanjian antara Allah dengan Bapa bangsa Israel. Perjanjian ini terlaksana dalam sejarah; dan para nabi menubuatkan bahwa keselamatan Allah akan terlaksana dalam diri mesias.

Sejarah keselamatan Israel sebagai bangsa meliputi kisah jatuh-bangun, jauh-dekat, susah-senang, juga kisah cinta dan cemburu. Kisah hubungan antara Allah (YHWH) dengan umat Israel digambarkan dalam hubungan antar pribadi Allah dan raja. Raja yang takut dan dekat pada Allah akan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Kristus menjadi tanda yang menyelamatkan umat manusia.

Dosa terbesar Israel, umat pilihan Allah, adalah ketidaksetiaan yang menghilangkan loyalitas mereka kepada YHWH. Nabi Yesaya tampil untuk menghilangkan ketakutan dan memberikan harapan kepada umat Israel tentang janji penyelamatan Allah. Nabi Yesaya menubuatkan seorang raja keturunan Daud yang akan menghadirkan kedamaian dan keadilan di bumi. Allah akan memperbaiki dan menyelamatkan umat pilihan-Nya dengan mengutus Mesias (Yes. 11:1-10).

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa Kristus adalah jawaban akan janji Allah dan pemenuhan dari harapan yang lama dinantikan. Kristus menjadi tanda yang menyelamatkan umat manusia. Yesus sebagai Mesias, utusan Allah yang dinubuatkan para nabi, tampil sebagai Tuhan yang penuh belaskasih, adil, Allah yang rahim terutama bagi manusia yang kecil, menderita dan miskin. Hal ini digambarkan dalam kutipan Mazmur “berbelaskasilah Tuhan dan adil, Allah kami adalah rahim.”

Ajakan pertobatan Yohanes sebagai nasihat untuk kerja sama dan terlibat dalam karya keselamatan Allah.

Paulus mendorong umatnya untuk berpegang teguh pada pengajaran Kitab Suci. Paulus memotivasi jemaatnya juga kita secara tidak langsung bahwa kasih Allah yang telah ada di dalam hati harus memampukan kita hidup bersama: menerima perbedaan sebagai rahmat Allah.

Pada pekan kedua Adven ini ketika lilin kasih dinyalakan, kita disadarkan akan perintah yang mendasar sebagai orang Katolik. Selain itu, kita diperkenalkan dengan sosok Yohanes Pembaptis. Skenario kisah Yohanes Pembaptis dapat sangat hidup dalam benak kita bila dibayangkan. Pertama-tama Yohanes yang ditampilkan dengan detail. Selain itu dalam penggambaran suasana dan tempat padang gurun Yudea dan sungai Yordan.

Seruan Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat! Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya! adalah suara perubahan, suara yang menantang sekaligus mengajak kita pada pembaharuan diri: perubahan hidup. Ajakan pertobatan Yohanes sebagai nasihat untuk kerja sama dan terlibat dalam karya keselamatan Allah. Baptisan Yohanes adalah tanda yang menyadarkan kita akan kedosaan kita: sebuah sikap berbalik pada Tuhan dan siap berbuah. Bagi Yohanes, pertobatan adalah pintu masuk untuk mengalami pengampunan dan belas kasih Allah.

Karya keselamatan Allah adalah bukti cinta-Nya yang tak bersyarat.

Kita semua ingin Tuhan datang segera, kita berharap agar bisa bertemu dengan-Nya. Pertanyaannya apakah kita sudah (merasa) pantas untuk menemui atau dikunjungi Tuhan? Seperti kaum Farisi dan Saduki, doa dan perhatian pada hukum bukanlah kunci untuk berjumpa dengan Mesias.

Yohanes mengajak kita untuk menjadikan keadilan dan kasih sebagai bagian dari misi dan perjuangan harian kita. Dengan demikian, kita semua melalui perayaan Minggu Adven kedua dan bacaan-bacaan hari ini ingin diajak untuk pertama-tama, mempersiapkan kedatangan Kristus dengan membiarkan dia lahir dalam hati kita. Kedua, menerima ajakan Tuhan untuk mengubah hidup kita. Ketiga, sabarlah menunggu dengan penuh iman, bertekun dalam doa dan perbuatan kasih. Karya keselamatan Allah adalah bukti cinta Tuhan yang tak bersyarat. Tobat adalah jalan menuju berkat.

Kobarkan Api Misimu – Renungan Pesta Santo Fransiskus Xaverius

0

Kobarkan Api Misimu: Renungan Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Misi, 03 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Kor. 9:16-19, 22-23; Injil: Mrk. 16:15-20

[postingan number=3 tag= ‘martir’]

Misi adalah keluar dari diri sendiri dan berjumpa dengan sesama untuk mewartakan Injil yakni karya keselamatan Allah yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus. Misi bertujuan untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada Allah. Misi juga adalah datang, tinggal, dan hidup sebagai hamba bagi sesama yang dilayani. Semangat inilah yang menggerakkan Rasul Paulus sehingga ia harus memberitakan Injil. Kebangkitan Kristus dan perutusan dari-Nya memampukan Rasul Paulus untuk hadir sebagai seorang hamba dalam Kristus agar ia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang dan atau membawa sebanyak mungkin orang kepada Kristus sumber keselamatan.

Semangat yang sama juga berkobar dalam diri St. Fransiskus Xaverius untuk datang ke Asia termasuk Indonesia untuk mewartakan Injil dan membawa banyak orang kepada keselamatan. Semangat ini bersumber dari pengalaman akan Allah yang mengasihi. Pengalaman ini harus dibagikan dan diwartakan kepada sesama.

Bagaimana dengan kita? Apakah api misi tetap berkobar dalam jiwa kita? Tanpa disadari, dewasa ini, api misi perlahan mulai pudar karena setiap orang sibuk dengan diri sendiri dan tidak peduli dengan keberadaan bahkan keselamatan orang lain. Maka, teladan Rasul Paulus dan St. Fransiskus Xaverius harusnya menjadi pendorong bagi kita untuk berani keluar dari diri sendiri dan membagikan kasih Allah kepada sesama. Kita juga harus mengusahakan kebaikan bersama, toleransi dalam hidup beragama, berbangsa, bermasyarakat, juga di paroki dan di komunitas kita masing-masing. Mari kobarkan kembali api misi di tengah dunia ini dalam semangat kebangkitan Kristus. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Asrama Haji – Mu-Sa-Fir

BUTA: Butuh Tuhan Allah – Renungan Masa Adven

0

BUTA: Butuh Tuhan Allah: Renungan Masa Adven, 02 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 29:17-24; Injil: Mat. 9:27-31

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Kita pasti pernah melihat atau berjumpa dengan orang buta. Dalam aktivitasnya, mereka membutuhkan alat penunjang seperti tongkat atau tuntunan dari orang lain. Namun lebih daripada itu, mereka membutuhkan Tuhan yang adalah penuntun sejati. Hari ini dua orang buta dengan iman yang teguh mengikuti Yesus sambil berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Seruan ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar membutuhkan Tuhan sebagai penuntun perjalanan hidup mereka dan karena keteguhan iman inilah, mereka memperoleh rahmat kesembuhan dari Tuhan Yesus.

Seperti halnya dua orang buta, bangsa Israel juga membutuhkan Tuhan untuk membebaskan mereka dari segala yang jahat. Hal ini dinubuatkan oleh Nabi Yesaya. Ia menegaskan bahwa bangsa Israel akan mendapatkan keselamatan dari Allah dan oleh karena anugerah ini, maka mereka pun mengusulkan dan memuliakan Allah sehingga membuka mata dan pikiran orang sesat untuk berbalik kepada Allah sumber kebenaran.

Lalu bagaimana dengan kita? Masa Adven menjadi kesempatan bagi kita untuk sadar bahwa kita adalah orang-orang buta (orang-orang yang butuh Tuhan) karena Dia adalah satu-satunya penuntun dan sumber keselamatan kita. Maka marilah dengan rendah hati dan iman yang teguh kita berseru “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” sehingga mata kita dapat melihat karya keselamatan Allah dan lepas dari kekelaman dan kegelapan agar pada saat Tuhan datang, kita menjadi orang-orang yang senantiasa memasyurkan nama-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mata hati – Mu-Sa-Fir

Kegelisahan, Ketidakberdayaan, dan Pemenuhan Janji Allah – Renungan Masa Adven

0

Kegelisahan, Ketidakberdayaan, dan Pemenuhan Janji Allah: Renungan Masa Adven, 02 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 29:17-24; Injil: Mat. 9:27-31

Kantor Statistik Nasional (ONS) pada Selasa (29/11) merilis sensus terbarunya. Data dari ONS itu menunjukkan bahwa penduduk beragama Kristen di Inggris dan Wales turun di bawah 50 persen sejak tahun 2001; sementara jawaban kedua yang paling banyak dipilih adalah tidak beragama atau ateis.

Dengan data yang dirilis oleh ONS ini kita jadi tahu bahwa di luar sana telah terjadi krisis iman. Mengenai apa penyebab utamanya, kita tidak tahu pasti. Namun, barangkali adalah karena adanya pengalaman kegelisahan dan ketidakberdayaan yang pada akhirnya membuat mereka ragu dengan keberadaan, kebaikan, dan kuasa Tuhan.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Pengalaman kegelisahan dan ketidakberdayaan semacam itu tentu bukan hal yang baru-baru ini terjadi. Hampir pasti semua orang, di sepanjang sejarah manusia, pernah mengalaminya, termasuk mereka yang diceritakan dalam Nubuat Yesaya pada bacaan pertama hari ini. Untungnya, Yesaya hadir dan memberikan harapan kepada mereka bahwa Allah akan membuat orang-orang tuli mendengar, orang-orang buta melihat, orang-orang yang sengsara bersukaria, orang-orang miskin bersorak-sorak, orang-orang yang sesat pikiran mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut menerima pengajaran. Intinya, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya terus-menerus hidup dalam penderitaan.

Harapan yang diutarakan oleh Nabi Yesaya itu merupakan janji Allah kepada semua orang. Dan janji itu terpenuhi di dalam diri Yesus Kristus. Injil Matius hari ini bercerita tentang dua orang buta. Tentulah kebutaan itu membuat mereka gelisah dan tak berdaya, sebab mereka tidak bisa melihat seperti orang-orang pada umumnya. Makanya, ketika kedua orang buta itu tahu bahwa Yesus ada di sekitar mereka, mereka mengikuti Dia sambil berseru-seru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”

Cerita dari Injil Matius ini berkisar seputar pertanyaan Yesus ‘percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?’ dan jawaban positif oleh kedua orang buta itu ‘Ya Tuhan, kami percaya’. Sebab itu, tekanan dari cerita ini sebenarnya adalah pada pengalaman iman kedua orang buta itu. Disebut pengalaman iman karena penyembuhan itu terjadi berkat iman mereka. Ketika ingin menyembuhkan mereka, Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (ayat 29). Ini menandakan bahwa kepercayaan kepada Allah dalam Yesuslah yang memberikan kesembuhan bagi mereka.

Apa pesannya untuk kita? Pesannya adalah: iman atau kepercayaan kepada Allah harus menjadi pegangan kita semua. Jangan sampai kita tidak beriman. Itu fatal. Begitu juga ketika ada orang kehilangan iman, tugas kitalah untuk meyakinkan mereka bahwa janji Allah tetap berlaku; dan untuk dapat menikmati pemenuhan janji itu kita harus menjadi orang yang percaya.

Nyanyian Sukacita – Renungan PW. Beato Dionisius dan Redemtus, Biarawan dan Martir Indonesia

0

Nyanyian Sukacita: Renungan PW. Beato Dionisius dan Redemtus, Biarawan dan Martir Indonesia, 01 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 26:1-6; Injil: Mat. 7:21, 24-27

Setiap orang memiliki cara untuk mengungkapkan sukacita dalam hidupnya. Ada orang yang mengungkapkannya dengan berteriak kegirangan sambil melompat-lompat, ada juga yang dengan menyanyi dan menari atau cara lainnya.

[postingan number=3 tag= ‘martir’]

Di hari pertama bulan Desember ini, Nabi Yesaya menghadirkan nyanyian sukacita yang harus dikumandangkan di tanah Yehuda oleh bangsa-bangsa yang benar dan tetap setia. Mengapa? Karena Allah sendirilah yang membangun dan Dialah yang memiliki kota yang kuat. Ia telah memasang tembok dan benteng untuk keselamatan kita. Dia adalah gunung batu yang kekal dan merupakan sumber kekuatan utama untuk menghadapi setiap tantangan.

Nyanyian sukacita harus selalu dinyanyikan oleh setiap murid Kristus yang membangun iman-Nya di atas wadas yang kokoh. Iman bukan hanya diungkapkan dalam doa dan seruan ‘Tuhan, Tuhan!’ tetapi iman harus terwujud dalam tindakan nyata yakni melakukan kehendak Allah. Inilah yang ditunjukkan oleh Yesus dalam karya-Nya di dunia. Ia rela melakukan kehendak Bapa-Nya hingga wafat di salib demi keselamatan kita.

Tindakan dan teladan Yesus ini diikuti oleh Beato Dionisius dan Redemtus. Mereka rela meninggalkan kampung halamannya di Portugal demi melakukan kehendak Allah yakni mewartakan Injil di Nusantara hingga wafat di tanah Rencong – Aceh. Darah kemartiran dan teladan hidup mereka adalah nyanyian sukacita bagi tanah Nusantara.

Semoga teladan iman mereka membantu kita untuk setia dalam iman akan Allah dan siap sedia melakukan kehendak Allah dalam ziarah hidup kita di dunia ini walaupun nyawa menjadi taruhannya. Jadikan diri dan hidupmu sebagai nyanyian sukacita dan pujian bagi Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Bahari – Mu-Sa-Fir

Tebar Jala: Tugas Utama menjadi Rasul Kristus

0

Tebar Jala: Tugas Utama menjadi Rasul Kristus: Renungan Pesta St. Andreas, Rasul, 30 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Rm. 10:9-18; Injil: Mat. 4:18-22

[postingan number=3 tag= ‘murid-yesus’]

Saya terlahir sebagai ‘anak pantai’. Rumah orang tua saya berjarak beberapa ratus meter saja dari tepi pantai. Sebagai anak pantai, sudah barang tentu kegiatan mencari ikan di laut menjadi hal yang biasa. Hingga banyak orang mengira bahwa setelah dewasa, saya pasti menjadi nelayan. Bahkan, orang tua saya pernah mengharapkan dan mengarahkan agar saya ikut sekolah pelayaran. Namun, rencana manusia selalu berbeda dari rancangan Tuhan. Karena merasa terpanggil, saya memilih – bukan menjadi penjala ikan – melainkan ‘penjala manusia’ karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus.

Tuhan menjumpai orang-orang sederhana dan memanggil mereka untuk dibentuk seturut yang Dia mau.

Panggilan Tuhan ditujukan kepada semua orang. Sanggupkah saudara-saudari menerimanya? Bisa saja Anda merasa tidak siap dan tidak mampu. Saya pun pernah merasakan hal yang sama. Namun, Kitab Suci memberitahu kita bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk menolak panggilan Tuhan; sebab kemampuan yang kita miliki datang dari Dia. Ketika Tuhan memanggil dan memilih, Dia juga memberikan kemampuan dan perlengkapan.

Santo Andreas, yang pestanya kita rayakan pada hari ini menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan memakai orang sederhana menjadi alat-Nya, seorang penjala ikan menjadi penjala manusia. Injil Matius, dalam bacaan hari ini, memberitahu kita bahwa sebelum menjadi Rasul Kristus, Andreas berprofesi sebagai seorang penjala ikan.

Tuhan Yesus menjumpai Andreas dan saudaranya, Simon yang disebut Petrus, ketika mereka sedang menebarkan jala di danau Galilea. Ini adalah perjumpaan secara pribadi yang mengubah masa depan Andreas dan saudaranya. “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Begitulah kata-kata panggilan Yesus untuk Andreas dan saudaranya. Uniknya, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Tak ada pertanyaan, apalagi penolakan. Sebaliknya, mereka langsung meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

Dari kisah ini, kita dapat memetik beberapa hal. Pertama, Yesus tidak memanggil kaum terdidik dan para ahli Kitab Suci. Sebaliknya, Ia menjumpai orang-orang sederhana dan memanggil mereka untuk dibentuk seturut yang Dia mau. Mengapa? Sebab, Ia tidak memanggil menurut ukuran mata manusia. Manusia melihat apa yang tampak, tapi Yesus melihat hati.

Kedua, untuk memanggil para murid-Nya, Yesus harus pergi ke tepi danau dan bertemu dengan nelayan. Mereka dipanggil dalam peristiwa biasa (yaitu ketika mereka sedang menjalankan pekerjaan sehari-hari) untuk mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. Ketiga, tidak menunggu lama bagi Andreas dan Petrus untuk menanggapi panggilan Yesus. Keputusan cepat yang mereka ambil menjadikan mereka murid yang luar biasa.

Hal yang sama berlaku untuk kita. Tuhan menjumpai dan memanggil kita secara pribadi untuk menjadi murid-Nya. Panggilan kita mungkin tidak spektakuler, sebab Tuhan memanggil kita di saat yang biasa-biasa saja. Tapi, ingat, Dia yang memanggil kita adalah luar biasa, dan pekerjaan yang akan diberikan-Nya kepada kita juga luar biasa, yakni menjadi penjala manusia.

Karena itu, tak ada alasan bagi kita untuk menolak panggilan-Nya; sebab Andreas dan Petrus juga bisa saja menggunakan alasan yang sama ketika mereka dipanggil. Tapi mereka toh segera bertindak dan mengikuti Yesus. Inilah ciri murid yang sesungguhnya. Sebab, pemuridan mencakup pengambilan bagian dalam tugas perutusan Yesus, yakni menebar jala (menjadi penjala manusia).

Hati dan Mulut – Renungan Pesta St. Andreas, Rasul

0

Hati dan Mulut: Renungan Pesta St. Andreas, Rasul, 30 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Rm. 10:9-18; Injil: Mat. 4:18-22

Hati dan mulut adalah dua bagian tubuh manusia yang memiliki fungsinya masing-masing. Hati lebih berkaitan dengan perasaan sedangkan mulut berkaitan dengan perkataan atau pewartaan. Walaupun hati dan mulut memiliki fungsi masing-masing tetapi keduanya harus berjalan beriringan dalam hidup manusia karena apa yang diucapkan seseorang lahir dari hatinya.

[postingan number=3 tag= ‘rasul-yesus’]

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa ‘jika kamu mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.’ Maka, apa yang kita percayai harus sejalan dengan apa yang kita akui, sebab iman yang bukan bersumber dari hati adalah sebuah kemunafikan dan akan menjerumuskan kita pada kesombongan rohani.

Rasul Andreas adalah salah satu contoh dan teladan iman bagi kita. Ketika ia mendengarkan panggilan Yesus, ia dengan segera percaya dan meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus. Inilah pengakuan iman yang langsung diikuti dengan perbuatan atau tindakan iman. Ia bahkan menjadi pewarta kebangkitan Tuhan Yesus  dan menjala banyak orang untuk datang pada Yesus dan mengalami keselamatan.

Kita pun dipanggil oleh Yesus untuk menjadi penjaga manusia. Oleh karena itu, marilah kita gunakan mulut kita untuk mewartakan kebaikan Tuhan kepada sesama sekaligus menghadirkan kasih Allah kepada sesama lewat pelayanan yang lahir dari ketulusan hati. Dengan begitu, mulut dan hati kita menjadi sarana yang membawa keselamatan bagi sesama.

Jangan pernah hilangkan rasa dari hati karena mati rasa dapat membuat iman seseorang menjadi layu dan membuat seseorang tak mampu mengalami kasih Allah. Jadilah penjala manusia dengan mulut dan hati yang penuh kasih. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Ninja – Mu-Sa-Fir

Berjalan di Jalan Tuhan, Pintu Keluar dari Masalah

0

Berjalan di Jalan Tuhan, Pintu Keluar dari Masalah: Renungan Adven, 28 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 4:2-6; Injil: Mat. 8:5-11

Hidup kita tak akan pernah baik-baik saja. Dalam hidup, ada saja persoalan datang silih berganti. Setiap orang, tanpa terkecuali, pasti pernah mengalaminya, entah kecil maupun besar, ringan ataupun berat.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Berhadapan dengan berbagai persoalan dalam hidup, tentulah kita tidak diam-diam saja. Untuk bisa keluar darinya, segala daya upaya kita lakukan. Namun, sekuat apapun kita berusaha, tetap saja ada hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebab, memang, kita harus mengakui bahwa dengan kekuatan sendiri kita tidak sanggup. Lantas, apakah kita menyerah begitu saja?

Tuhan pasti menolong kita asalkan kita meminta kepada-Nya dengan penuh iman dan kerendahan hati.

Tidak. Kita tidak boleh menyerah pada masalah. Sebab, ketika semua jalan lain tampaknya sudah buntu, kita masih punya satu jalan. Dan itu adalah jalan Tuhan. Di jalan Tuhan tersedia sejuta solusi untuk tiap-tiap masalah kita. Yang terpenting kita datang memohon pertolongan kepada-Nya. Ya, harapan selalu ada bagi mereka yang percaya kepada Tuhan. dan, persis tentang harapan, hope, itulah yang didengungkan pada minggu pertama Masa Adven ini.

Hari ini, Injil Matius mengisahkan tentang seorang perwira yang sedang mencari jalan keluar untuk kesembuhan hambanya yang terbaring karena lumpuh. Meski bukan dari kalangan umat pilihan, Israel, dia toh mau datang kepada Yesus dan meminta tolong kepada-Nya.

Perwira ini tahu jalan mana yang dia harus lalui dan kepada siapa dia harus meminta tolong. Ia menemui Yesus di tengah jalan dan berkata kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita” (Mat. 8:6). Yesus pun tergerak hati-Nya untuk menolong. “Aku akan datang menyembuhkannya” (Mat. 8:7).

Sebagai seorang militer, perwira ini tahu kekuatan dari perintah lisan. “Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya” (Mat. 8:9). Sebab itu, ia percaya bahwa kata-kata Yesus dapat menyembuhkan hambanya. “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8).

Di jalan Tuhan, tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Iman perwira ini dipuji karena melampaui segala sesuatu yang dijumpai Yesus di antara umat pilihan Allah. Sebagai jawaban atas imannya, Yesus melaksanakan karya penyembuhan.  Ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan pasti menolong kita asalkan kita meminta kepada-Nya dengan penuh iman dan kerendahan hati.

Ketika kita berhadapan dengan masalah, apa yang kita buat? Berjuang sendiri? Menyerah? Minta bantuan teman? Curhat di media sosial? Saudara-saudari, berjalanlah di jalan Tuhan dan mohonkan pertolongan kepada-Nya. Yakinlah, di jalan Tuhan, tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Hidup di Jalan Tuhan — Renungan Adven Pertama

0

Hidup di Jalan Tuhan: Renungan Adven Pertama, 27 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 2:1-5; Bacaan II: Rm. 13:11-14a; Injil: Mat. 24:37-44

Di hari terakhir masa biasa Sabtu, 26 November 2022 kemarin dan diawal Masa Adven ini, kita diajak dan diingatkan oleh Tuhan melalui Sabda-Nya untuk senantiasa memiliki program hidup yang mantap dan benar agar dapat selamat ketika Tuhan datang.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Program yang ditawarkan kepada kita antara lain: pertama, berjaga-jaga sambil berdoa. Sikap dan tindakan berjaga-jaga dan berdoa merupakan dua hal yang saling mendukung dalam hidup manusia baik secara jasmani maupun rohani. Hal ini menuntut pengorbanan diri dan disiplin diri dari setiap kita. Tindakan berjaga-jaga harus dibarengi dengan doa agar kita tidak jatuh ke dalam cobaan melainkan kita tetap berjalan di jalan Tuhan.

Kedua, berjaga-jaga dan siap siaga. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan kepada kita sekalian untuk berjaga-jaga dan siap siaga selalu karena kita tidak tahu hari kedatangan Anak Manusia. Mengapa Yesus mengingatkan hal ini pada kita? Karena perkembangan zaman telah membuai kita semua sehingga kita hidup sesuka hati atau semau gue tanpa sikap disiplin dan tanggung jawab. Kita harus meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan seperti percabulan, kemabukan, pesta pora, marah, iri dengki, fitnah, mabuk rohani; sebaliknya kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang yakni kasih, pengampunan, kerendahan hati, peduli, pengorbanan, ketulusan hati. Senjata terang ini menggerakkan kita untuk tetap hidup di jalan Allah.

Hidup di jalan Allah bukan tanpa tantangan dan godaan, onak dan duri, seperti tawaran-tawaran duniawi dan kenikmatan sesaat, yang membuat kita hidup sesuka hati tanpa peduli pada sesama dan keselamatan diri. Maka, marilah kita awali masa penantian ini dengan disiplin diri yang tinggi dalam sikap berjaga-jaga dan siap sedia sambil berdoa. Relakah kita menjalankan hal ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
UNM – Mu-Sa-Fir

Minggu Pertama Adven: Siap Sedia Menyambut Kedatangan Tuhan

0

Siap Sedia Menyambut Kedatangan Tuhan: Renungan Minggu Pertama Adven, 27 November 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 2:1-5; Bacaan II: Rm. 13:11-14a; Injil: Mat. 24:37-44

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Hari ini kita memulai Masa Adven. Adven dari kata bahasa Latin ‘adventus’ berarti ‘kedatangan’. Kedatangan siapa? Yaitu kedatangan seseorang yang penting dan ditunggu. Siapakah itu? Tidak lain adalah Yesus sendiri. Jadi, Masa Adven berpusat pada kedatangan Yesus.

Katekismus Gereja Katolik nomor 524 menerangkan bahwa dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghadirkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis [Yohanes Pembaptis], Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Pada Minggu Pertama Adven ini, kita mendengar dari bacaan pertama tentang nubuat Yesaya. Sama seperti tulisan-tulisan lain dalam Kitab Suci, wejangan Yesaya langsung berkaitan dengan peristiwa-peristiwa pada zamannya. Nabi Yesaya mengajak kita supaya fokus dan terarah hanya kepada Tuhan. Adapun pusat dari Nubuat Yesaya di sini adalah Allah sebagai Yang Kudus dari Israel. Tuntutan dasarnya ialah iman kepada Allah itu.

Pada zaman Yesaya itulah, Raja Hizkia menghancurkan ‘bukit-bukit pengurbanan’ di mana orang beribadat di luar Yerusalem. Tujuannya untuk memusatkan ibadat. Memusatkan ibadat ke Gunung Sion berarti memusatkan diri kepada Tuhan. Dengan memusatkan diri kepada Tuhan, orang akan hidup dalam damai dan kasih Tuhan.

Sanggupkah kita memusatkan diri kepada Tuhan? Ternyata, untuk memusatkan diri kepada Tuhan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada sederet hal yang menghambat kita dalam memusatkan diri pada Tuhan, yang oleh Paulus, dalam bacaan kedua, disebut sebagai gaya hidup yang memalukan.

Sebab itu, Paulus menekankan sikap tobat, yaitu kehendak kuat untuk memperbaiki diri dan masyarakat demi menyambut kedatangan Tuhan. Ia mengajak kita agar menghindari gaya hidup yang memalukan tersebut. Sebagai gantinya, orang harus mencari kehormatan yang utuh, sama seperti Yesus yang layak dihormati, sebab Dia adalah teladan yang sempurna.

Satu-satunya sikap yang pantas adalah siap sedia setiap saat.

Mungkin kita berpikir bahwa kita bisa bertobat kapan saja, tidak harus sekarang. Biasanya orang bilang “Nantilah, kalau sudah siap”. Injil Matius hari ini menegaskan bahwa seandainya kita tahu kapan waktunya Tuhan datang, barangkali keputusan kita itu ada benarnya. Namun, kedatangan Tuhan itu tidak pasti dan tak terduga. Sementara kita juga tahu bahwa hukuman dan ganjaran (penghakiman terakhir) akan diberikan kepada masing-masing orang sesuai perbuatannya. Karena itu, satu-satunya sikap yang pantas adalah siap sedia setiap saat, dan kesiapsediaan itu harus dimulai dari sekarang. Kesiapsediaan itu tampak dalam pelaksanaan tugas masing-masing dengan baik sampai kedatangan Anak Manusia.