11.7 C
New York
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 27

Perayaan Kamis Putih: Ekaristi Menggerakkan Hati untuk ‘Membasuh Kaki Sesama’

0

Malam perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama para murid-Nya ini dapat dikatakan sebagai malam lahirnya Sakramen Ekaristi. Tentang hal ini, Rasul Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus sebagaimana dibacakan malam ini menegaskan:

“Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuhku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan dalam Darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang” (1Kor. 11:23-26).

Perayaan Ekaristi (eucharistia: syukur) tak lain adalah perayaan syukur Yesus kepada Bapa-Nya sebagai ungkapan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa sekaligus pemberian diri-Nya secara total kepada kita. Penyerahan tubuh-Nya (yang dilambangkan dengan roti) dan darah-Nya (dilambangkan dengan anggur) merupakan ungkapan pemberian diri yang total. Semuanya ini dilakukan-Nya dengan tujuan agar manusia diselamatkan. Jadi, keselamatan kita adalah tujuan pemberian diri-Nya.

Tuhan Yesus juga meminta para murid-Nya agar terus melakukan hal tersebut. “Perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sepanjang zaman Gereja terus melakukan apa yang diwariskan oleh Yesus itu melalui Perayaan Ekaristi yang dirayakan setiap hari di seluruh dunia. Perayaan yang dipimpin atas nama Kristus oleh Bapa Suci, para Uskup dan para imam dan melibatkan umat beriman ini telah terbukti menghidupkan Gereja hingga saat ini. Gereja bertahan karena Ekaristi!

Bagi kita Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup umat beriman. Disebut demikian, karena di dalam Ekaristi, umat beriman berjumpa dengan Kristus melalui sabda-Nya dan teritimewa melalui santapan Tubuh dan Darah-Nya (roti dan anggur). Karena itu, orang yang tekun mengikuti Ekaristi pasti sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Yesus dan pasti mendapatkan rahmat berlimpah dalam hidup.

Hal penting lain yang direnungkan pada perayaan Kamis Putih adalah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 13:4-15).

“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak. Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:4-15).

Apa yang dilakukan Yesus ini adalah tindakan tidak biasa dalam masyarakat Yahudi. Ini pekerjaan seorang hamba! Hanya hamba yang bertugas membasuh kaki tuannya. Bukan sebaliknya! Tak ada pula guru yang membasuh kaki para muridnya. Hanya murid yang membasuh kaki gurunya. Itulah alasannya mengapa Petrus pada awalnya tidak mau dibasuh kakinya oleh Yesus, gurunya. Tapi akhirnya Yesus tetap membasuh kaki Petrus.

Tindakan Yesus ini memiliki pesan yang sangat mendalam. Antara lain: ini ungkapan kerendahan hati-Nya yang tulus! Yesus mau para murid-Nya menjadi pribadi rendah hati. Yesus juga mau agar para murid-Nya saling melayani. “Kamu pun wajib saling membasuh kaki!” Itu yang dikatakan-Nya. Inti perutusan mereka adalah pelayanan. Mereka harus menjadi pelayan; harus melayani satu sama lain. Tak hanya asal melayani, tapi melayani dengan rendah hati. Keutamaan seorang pelayan adalah kerendahan hati!

Apa hubungan Ekaristi dengan membasuh kaki? Menurutku, hubungannya adalah Ekaristi menggerakkan hati orang untuk saling membasuh kaki. Membasuh kaki artinya melayani satu sama lain. Maksudnya, perjumpaan dengan Kristus yang dialami dalam Ekaristi mengandung perutusan penting yakni pelayanan kepada sesama. Bahkan perjumpaan dengan Kristus itu mendesak orang untuk pergi melayani sesama dan tidak hanya tinggal diam.

Selain itu, rahmat yang berlimpah yang diterima melalui Ekaristi harus dibagikan; jangan dinikmati sendiri, sebagaimana Yesus rela membagi-bagikan diri-Nya (tubuh dan darah-Nya) demi keselamatan manusia. Semuanya ini dilakukan dengan tulus dan rendah hati. Dengan demikian, menurut saya, Ekaristi mendorong atau menggerakkan hati umat beriman agar menjadi pelayan yang rendah hati seperti Yesus. Ekaristi mendorong kita saling membasuh kaki dalam semangat kerendahan hati.

Mari sejenak melihat ziarah hidup kita yang telah berlalu! Kita sudah sering mengikuti Ekaristi baik saat misa harian maupun hari Minggu dan Hari Raya lainnya. Harapannya kita sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mendapatkan banyak rahmat yang mengalir dari Ekaristi.

Apakah Ekaristi yang kita ikuti selama ini mendorong kita menjadi pelayan? Apakah perjumpaan kita dengan Kristus mendesak kita agar melayani sesama dan tidak hanya hidup bagi diri sendiri? Apakah Ekaristi menggerakkan hati untuk saling membasuh kaki? Harapannya, kita semua sudah melakukannya. Harapannya kita semua telah menjadi pelayan yang rendah hati. Di mana kita melakukannya? Di mana saja kita berada sesuai panggilan dan perutusan kita masing-masing (keluarga, komunitas, lingkungan, tempat kerja, di tengah masyarakat, dan sebagainya).

Kalau sudah melakukannya, itu berarti kita sudah menjadi pribadi Ekaristi. Yang saya maksudkan dengan pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau berbagi kepada sesama, peduli dengan sesama, tergerak untuk membantu sesama dan tidak hanya hidup untuk diri sendiri. Pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau saling membasuh kaki (saling melayani). Pribadi Ekaristi melakukan semuanya itu dengan tulus dan penuh kerendahan hati. Teladan sempurna pribadi Ekaristi adalah Tuhan Yesus. Dialah pelayan sejati!

Tetapi jika belum sungguh-sungguh melakukannya, semoga perayaan Kamis Putih malam ini membarui hidup kita agar semakin menjadi pribadi Ekaristi. Semoga ke depan kita juga semakin mencintai Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup kita. Semoga kita juga semakin menjadi pribadi yang ‘mau saling membasuh kaki’ (melayani) dan rela berbagi dengan sesama terutama yang sangat membutuhkannya di jalan panggilan dan perutusan kita masing-masing. Semua itu kita perlu lakukan dengan tulus dan rendah hati. Itulah pribadi Ekaristi!***

Salam Ekaristi!

Yang Perlu Diketahui tentang Perayaan Perjamuan Malam Terakhir Yesus Bersama Murid-Murid-Nya

0
Perjamuan Terakhir Yesus Bersama Murid-Murid-Nya (www.biblestudy.com)

 Agar umat beriman memiliki pemahaman yang cukup tentang perayaan Perjamuan Malam Terakhir Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya, saya mengutip langsung apa yang tertulis dalam Dokumen Gerejawi no. 71 berjudul “Perayaan Paskah dan Persiapannya” tentang perayaan tersebut. Dokumen ini dikeluarkan pada 16 Januari 1988. Uraian secara singkat tentang Kamis Putih terdapat pada nomor 44-57. 

*** 

44. Dengan Misa petang Kamis Putih “Gereja mengawali Tri Hari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir; pada malam Kristus dikhianati, karena cinta akan orang-orangnya yang di dunia, Ia mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para Rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat, juga mempersembahkannya sebagai kurban”.

45. Perhatian sepenuhnya harus diberikan kepada misteri-misteri yang peringatannya dirayakan dalam Misa ini: pengadaan ekaristi dan imamat serta perintah kasih persaudaraan; itulah yang juga harus menjadi bahan homili hari ini.

46. Misa Perjamuan Malam Terakhir dirayakan petang hari, pada waktu yang paling sesuai untuk partisipasi seluruh jemaat. Semua imam dapat berkonselebrasi dalam Misa petang, juga bila mereka pada hari ini telah berkonselebrasi dalam Misa krisma atau karena alasan pastoral harus merayakan Misa lain.

47. Bila dituntut keadaan pastoral, Ordinaris wilayah dapat memperkenankan Misa petang kedua di gereja-gereja dan kapel-kapel umum. Bagi kaum beriman yang tak dapat mengambil bagian dalam Misa petang, ia dapat, bila perlu, memperkenankan Misa juga pagi hari. Misa demikian itu tak pernah boleh diperkenankan untuk orang perorangan atau kelompok-kelompok kecil atau mempengaruhi partisipasi Misa utama petang hari. Menurut tradisi kuno Gereja pada hari ini semua Misa tanpa jemaat dilarang.

48. Sebelum perayaan tabernakel harus kosong sama sekali. Hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrasi dalam perayaan kurban ini. Jumlah hosti yang harus dikonsekrasi harus cukup juga untuk komuni pada Jumat Agung.

49. Untuk menyimpan Sakramen Mahakudus harus dipersiapkan kapel dan dihias dengan pantas yang mengundang untuk doa dan meditasi; dianjurkan suatu kesederhanaan yang sesuai dengan hari-hari ini, sedangkan semua penyelewengan harus dihindari. Bila tabernakel berada dalam kapel tersendiri yang terpisah dari ruang utama gereja, dianjurkan menyediakan tempat penyimpanan dan penyembahan di situ.

50. Sementara “Gloria” dinyanyikan, lonceng-lonceng dibunyikan, bila lazim, dan setelah itu hening sampai Gloria di malam Paskah, kecuali jika ditentukan lain oleh Konferensi Waligereja atau Uskup setempat. Selama waktu itu juga orgel dan alat musik lain hanya boleh dipakai untuk mendukung nyanyian.

51. Pada hari ini sesuai dengan tradisi diadakan pencucian kaki pada pria-pria yang terpilih; maksudnya ialah untuk menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang, “tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Kebiasan ini hendaknya dipertahankan dan maksudnya diterangkan kepada kaum beriman.

52. Untuk persembahan dapat diadakan sumbangan bagi kaum miskin, terutama bila dikumpulkan selama masa Prapaskah sebagai buah matiraga; dalam pada itu orang menyanyi “Ubi caritas est vera”.

53. Amat layaklah pada hari ini para diakon, akolit atau pembantu komuni menyambut komuni langsung dari altar, pada saat komuni, untuk kemudian membawanya kepada orang sakit, agar mereka ini lebih erat dihubungkan dengan Gereja yang merayakan.

54. Setelah doa penutup diadakan prosesi. Sakramen Mahakudus dibawa melalui gereja ke tempat penyimpanan; pembawa salib terdepan, diikuti pembawa lilin dan dupa; Madah “Pange lingua” atau nyanyian ekaristis lain dinyanyikan. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak dilaksanakan, bila keesokan harinya pada Jumat Agung tidak diadakan perayaan Sengsara dan Wafat Kristus.

55. Sakramen Mahakudus ditempatkan dalam tabernakel yang kemudian ditutup. Pentakhtaan dengan monstrans tak diperkenankan. Tempat penyimpanan tak boleh berbentuk “makam suci”; hendaknya juga dihindari ungkapan “makam suci”; tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan hosti suci untuk komuni pada Jumat Agung.

56. Kaum beriman hendaknya diajak untuk setelah Misa Kamis Putih mengadakan adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus dalam gereja. Dalam pada itu dapat dibacakan sebagian dari Injil Yohanes (bab 13-17). Adorasi ini setelah tengah malam tanpa upacara, karena hari Sengsara Tuhan sudah mulai.

57. Setelah Misa altar ditutupi. Salib-salib bila mungkin diselubungi dengan kain merah atau ungu, bila tidak, sudah terjadi Sabtu sebelum Minggu Prapaskah ke 5. Di depan gambar para Kudus tak boleh dinyalakan lilin. ***

 

Sumber: Dokumen Gerejawi No. 71, “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Januari 2005).

Paus Fransiskus: “Salib Kristus, Mercusuar Harapan”

0
Paus Fransiskus (Vatican Media)

Dalam Katekese pada Audiensi Umum mingguan, Paus Fransiskus memusatkan perhatiannya pada Triduum Paskah dan perayaan misteri penyelamatan Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Kristus.

***
Selama Audiensi Umum Rabu (31 Maret 2021), Paus memusatkan perhatiannya pada Triduum Paskah, pada hari-hari pusat tahun Liturgi, merayakan misteri Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Tuhan.

Perintah cinta yang baru

Menjelang Kamis Putih dan Misa Perjamuan Tuhan, Paus mengenang Kristus yang membasuh kaki para murid, perintah cinta-Nya yang baru, dan penetapan ekaristi-Nya sebagai kenangan abadi pengorbanan tubuh dan darah-Nya untuk keselamatan semua orang.

Penyembahan Salib

Mengalihkan perhatiannya pada Jumat Agung, Paus Fransiskus berkata, “Dalam tindakan liturgis, kita akan diberikan Salib untuk disembah. Dengan menyembah Salib, kita akan menghidupkan kembali perjalanan Anak Domba yang tidak bersalah yang dikorbankan untuk keselamatan kita.”

Pada hari itu, dia melanjutkan, “Kita akan membawa dalam pikiran dan hati kita penderitaan orang sakit, orang miskin, yang ditolak dunia ini; kita akan mengingat “domba yang dikorbankan”, korban perang yang tidak bersalah, kediktatoran, kekerasan, aborsi. ”

“Di hadapan gambar Allah yang disalibkan,” kata Paus, “kita akan mendoakan banyak orang, terlalu banyak orang yang disalibkan di zaman kita, yang hanya dapat menerima dari-Nya penghiburan dan makna penderitaan mereka.”

“Sejak Yesus mengambil ke atas diri-Nya sendiri luka-luka kemanusiaan dan kematian itu sendiri,” kata Paus Fransiskus, “Kasih Tuhan telah mengairi padang gurun kita ini, Dia telah menerangi kegelapan kita.”

Paus bertanya, “Mengapa dunia berada dalam kegelapan? Dia menjawab dengan mengatakan bahwa kita hidup di dunia yang diliputi oleh perang, dunia di mana anak-anak kelaparan dan kurang pendidikan. Banyak orang menggunakan narkoba untuk merasa sedikit lebih baik. Ini bencana, padang gurun,” katanya. Ada kelompok-kelompok kecil, jelas Paus; ini adalah umat Allah “yang menyimpan dalam hati mereka keinginan untuk menjadi lebih baik. Tapi mari kita hadapi itu: di Kalvari maut ini, Yesuslah yang menderita di dalam diri murid-murid-Nya.”

Paus Fransiskus berkata bahwa dengan luka Kristus kita telah disembuhkan, dan dengan wafat-Nya kita semua telah dilahirkan kembali. Berkat Dia yang ditinggalkan di kayu salib, “tidak ada seorang pun yang akan sendirian lagi dalam kegelapan kematian,” katanya.

Bunda orang percaya

Saat hening pada Sabtu Suci, Paus Fransiskus menggambarkannya sebagai “hari hening, dialami dalam tangisan dan kebingungan oleh murid-murid pertama, dikejutkan oleh kematian Yesus yang memalukan”. Dia juga menekankan bahwa, hari Sabtu ini merupakan “hari Maria”, karena dia juga menjalaninya dengan air mata, “tetapi hatinya penuh dengan iman, penuh harapan, penuh cinta.”

Bunda Allah, kata Paus, tetap berada di kaki salib, dengan jiwanya yang tertusuk. Tapi ketika semuanya sepertinya sudah berakhir, “dia terus berjaga, dia menepati harapannya pada janji Tuhan yang membangkitkan orang mati.”

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa dengan melakukan ini “di saat-saat paling gelap di dunia, dia menjadi Bunda orang percaya, Bunda Gereja, dan tanda pengharapan. Kesaksian dan perantaraannya menopang kita ketika beban salib menjadi terlalu berat bagi kita.”

Paus juga memperingatkan agar kita tidak menyangkal apa yang dipercayai demi uang, seperti musuh Yesus di kuburan yang menyangkal bahwa Dia telah bangkit.

Dalam kegelapan Sabtu Suci, lanjut Paus, “kegembiraan dan terang akan menerobos dengan ritus Malam Paskah dan nyanyian Haleluya yang meriah.”

Mercusuar harapan

Mengakhiri katekese, Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa tahun ini umat beriman akan merayakan Paskah dalam konteks pandemi.

Namun dia menekankan bahwa meskipun dalam banyak situasi penderitaan, “Salib Kristus seperti mercusuar yang menunjukkan pelabuhan kapal-kapal yang masih mengapung di lautan badai.”

“Itu adalah tanda harapan”, katanya, “itu tidak mengecewakan kita; dan itu memberitahu kita bahwa tidak ada satu pun air mata, tidak satu tangisan pun yang hilang dalam rencana keselamatan Tuhan.”***

 

Artikel ini diterjemahkan dari Pope at Audience: The Cross of Christ, a beacon of hope – Vatican News

Tuhan itu baik sepanjang waktu

0

Tuhan selalu baik

Tuhan selalu baik
Dia menaruh lagu pujian di hatiku ini
Tuhan selalu baik
Melalui malam yang paling gelap, terang-Nya akan bersinar
Tuhan itu baik, Tuhan itu baik sepanjang waktu

Jika Anda berjalan melalui lembah
Dan ada bayangan di sekeliling
Jangan takut, Dia akan membimbingmu

Dia akan membuatmu tetap aman dan sehat
Dia telah berjanji untuk tidak pernah meninggalkanmu
Juga tidak mengabaikanmu, dan firman-Nya benar

Kita adalah orang berdosa dan sangat tidak layak
Tetap bagi kita, Dia memilih untuk mati
Memenuhi kita dengan Roh Kudus-Nya

Sekarang kita bisa berdiri dan bersaksi
Bahwa kasih-Nya abadi
Dan belas kasihan-Nya itu tidak akan pernah berakhir

Meskipun saya mungkin tidak mengerti
Semua rencana yang Engkau miliki untuk saya
Hidupku ada di tangan-Mu
Dan melalui mata iman
Saya bisa melihat dengan jelas

Tuhan selalu baik
Dia menaruh lagu pujian di hati saya
Tuhan selalu baik
Melalui malam yang paling gelap, terang-Nya akan bersinar
Tuhan itu baik, Tuhan itu baik sepanjang waktu

***
Teks di atas adalah terjemahan lagu berjudul “God is good all the time” yang diciptakan dan dipopulerkan oleh penyanyi terkenal, Don Moen. Lagu rohani populer ini dirilis tahun 1998. Secara pribadi, saya sangat menyukai lagu ini. Ini lagu favoritku. Kesukaan ini sangat beralasan, antara lain: syairnya sederhana, mendalam dan selalu relevan dengan pergulatan iman sepanjang waktu. Lagu ini meneguhkan sekaligus membarui imanku kepada-Nya dalam segala situasi.

***
Memang benar, saat hidup baik-baik saja, kita cukup mudah berkata: Allahku luar biasa, Ia begitu baik padaku, Ia sangat mengasihiku, Ia sangat peduli denganku, Ia menyelenggarakan segalanya bagiku. Allahku baik. Saya tidak akan berpaling dari-Nya. Semua orang bisa berkata seperti ini manakala hidup diwarnai sukacita.

Tapi saat hidup suram, atau saat mengalami penderitaan, tak mudah bagi kita berkata: Allah itu baik, Ia mengasihiku, Ia memelihara hidupku dan sebagainya. Hanya orang tertentu yang bisa melakukannya. Hanya orang kuat yang bisa melakukannya.

Pada situasi suram-kelam, kita cenderung berkata: Allahku tidak peduli, Ia tak lagi mengasihiku, Ia meninggalkanku, Ia rupanya sangat jauh dari hidupku, dan sebagainya. Atau barangkali ada yang marah dan berkata: Allahku jahat, Allahku mungkin sudah tidak ada lagi, dan lain-lain.

Akan tetapi, suasana penderitaan seharusnya menjadi medan dan kesempatan berharga untuk memurnikan iman, menguji kematangan penyerahan diri kepada Tuhan. Iman kepada-Nya dimurnikan dalam penderitaan, ibarat emas murni yang harus dibakar dalam tanur api untuk membuktikan kemurniannya.

Orang yang cukup matang dalam beriman, akan tetap berkata: Tuhan itu baik, Ia masih mengasihiku walau saat ini saya menderita. Ia masih menganugerahkan nafas kehidupan kepadaku. Ia pasti terus memulihkan kehidupanku, Ia pasti memampukan saya menghadapi penderitaan ini. Ya, Ia Allah yang baik.

Jadi, orang yang cukup matang dalam iman, dalam segala situasi, baik gembira maupun derita, akan selalu berkata: Allah itu baik sepanjang waktu (God is good all the time). Tapi barangkali hanya sedikit orang yang bisa mengungkapkan hal ini.

Dalam konteks ini, jika iman kita cukup matang, seharusnya pada saat pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir ini, kita tetap berkata: God is good all the time, Allah itu baik sepanjang waktu. Pandemi ini justru seharusnya mematangkan iman-penyerahan diri kita kepada-Nya. Seharusnya demikian.Ya, seharusnya. Walau saya sadar, ini tak mudah dan mengandaikan kematangan iman. ***

Homili Minggu Palma Paus Fransiskus: “Marilah Kita Memandang Yesus di Kayu Salib dengan Ketakjuban”

0
Paus Fransiskus merayakan Misa Minggu Palma di Basilika Santo Petrus pada 28 Maret 2021. / Vatican Media.

Ini teks lengkap Homili Paus Fransiskus pada Perayaan Ekaristi Minggu Palma di Basilika Santo Petrus, Minggu 28 Maret 2021.

***

Setiap tahun liturgi ini membuat kita takjub: kita melewati sukacita menyambut Yesus saat Dia memasuki Yerusalem ke dalam kesedihan menyaksikan Dia dihukum mati dan kemudian disalibkan. Rasa takjub yang mendalam itu akan tetap bersama kita sepanjang Pekan Suci. Mari kita renungkan lebih dalam lagi.

Sejak awal, Yesus membuat kita takjub. Orang-orangnya menyambutnya dengan khidmat, namun dia memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai. Orang banyak mengharapkan seorang pembebas yang kuat pada Paskah, namun dia datang untuk menggenapi Paskah dengan mengorbankan diri-Nya sendiri. Mereka berharap untuk menang atas orang Romawi dengan pedang, tapi Yesus datang untuk merayakan kemenangan Tuhan melalui salib. Apa yang terjadi dengan orang-orang yang dalam beberapa hari berubah dari berteriak “Hosanna” menjadi berteriak “Salibkan dia”? Apa yang terjadi? Mereka mengikuti ‘gagasan tentang Mesias’ daripada Mesias. Mereka mengagumi Yesus, tetapi mereka tidak membiarkan diri mereka takjub oleh-Nya. Ketakjuban tidak sama dengan kekaguman. Kekaguman bisa bersifat duniawi, karena mengikuti selera dan ekspektasinya sendiri. Ketakjuban, di sisi lain, tetap terbuka untuk orang lain dan untuk hal baru yang mereka bawa. Bahkan hari ini, ada banyak orang yang mengagumi Yesus: Dia mengatakan hal-hal yang indah; Dia dipenuhi dengan cinta dan pengampunan; teladan-Nya mengubah sejarah… dan seterusnya. Mereka mengagumi-Nya, tapi hidup mereka tidak berubah. Mengagumi Yesus saja tidak cukup. Kita harus mengikuti jejaknya, membiarkan diri kita ditantang oleh-Nya; untuk beralih dari kekaguman menjadi ketakjuban.

Apa yang paling menakjubkan tentang Tuhan dan Paskah-Nya? Itu adalah fakta bahwa Dia mencapai kemuliaan melalui penghinaan. Dia menang dengan menerima penderitaan dan kematian, hal-hal yang, dalam pencarian kita akan kekaguman dan kesuksesan, lebih suka hindari. Yesus – seperti yang dikatakan Santo Paulus – “mengosongkan diri-Nya… dia merendahkan dir-Nnya” (Filipi 2:7-8). Ini adalah hal yang luar biasa: melihat Yang Mahakuasa menghampakan diri-Nya. Untuk melihat Sabda yang mengetahui segala sesuatu mengajari kita dalam keheningan dari ketinggian salib. Untuk melihat Raja segala raja bertahta di salib. Melihat Tuhan alam semesta dilucuti dari segalanya dan dimahkotai dengan duri, bukan kemuliaan. Untuk melihat Dia dihina dan dipukuli. Mengapa semua penghinaan ini? Mengapa, Tuhan, apakah Engkau ingin menanggung semua ini?

Yesus melakukannya untuk kita, untuk menyelami kedalaman pengalaman manusiawi kita, seluruh keberadaan kita, semua kejahatan kita. Untuk mendekat kepada kita dan tidak meninggalkan kita dalam penderitaan dan kematian kita. Untuk menebus kita, untuk menyelamatkan kita. Yesus ditinggikan di kayu salib untuk turun ke jurang penderitaan kita. Dia mengalami kesedihan kita yang terdalam: kegagalan, kehilangan segalanya, pengkhianatan oleh seorang teman, bahkan ditinggalkan oleh Tuhan. Dengan mengalami dalam daging pergumulan dan konflik terdalam kita, Dia menebus dan mengubahnya. Cintanya mendekati kelemahan kita; itu menyentuh hal-hal yang paling membuat kita malu. Namun sekarang kita tahu bahwa kita tidak sendiri: Tuhan ada di sisi kita dalam setiap penderitaan, dalam setiap ketakutan; tidak ada kejahatan, tidak ada dosa yang akan memiliki kata terakhir. Tuhan menang, tetapi telapak tangan kemenangan melewati kayu salib. Karena telapak tangan dan salib tidak bisa dipisahkan.

Marilah kita memohon rahmat agar takjub. Kehidupan kristiani tanpa ketakjuban menjadi menjemukan dan suram. Bagaimana kita bisa berbicara tentang sukacita bertemu Yesus, kecuali kita setiap hari takjub dan kagum dengan kasih-Nya, yang memberi kita pengampunan dan kemungkinan awal yang baru? Ketika iman tidak lagi mengalami ketakjuban, ia menjadi tumpul: ia menjadi buta terhadap keluhuran rahmat; ia tidak bisa lagi merasakan Roti hidup dan mendengarkan Sabda Tuhan; ia tidak bisa lagi melihat keindahan saudara-saudari kita dan anugerah ciptaan. Tidak ada jalan lain selain berlindung dalam legalisme, klerikalisme dan dalam semua hal yang dikutuk Yesus pada bab 23 dari Injil Matius.

Selama Pekan Suci ini, marilah kita mengarahkan pandangan kita ke salib, untuk menerima rahmat ketakjuban. Ketika Santo Fransiskus dari Assisi merenungkan Tuhan yang disalibkan, dia heran bahwa saudara-saudaranya tidak menangis. Bagaimana dengan kita? Bisakah kita tetap tergerak oleh kasih Tuhan? Apakah kita sudah kehilangan kemampuan untuk dibuat takjub oleh-Nya? Mengapa? Mungkin iman kita menjadi tumpul karena kebiasaan. Mungkin kita tetap terjebak dalam penyesalan kita dan membiarkan diri kita dilumpuhkan oleh kekecewaan kita. Mungkin kita telah kehilangan kepercayaan kita atau bahkan merasa tidak berharga. Tetapi mungkin, di balik semua “kemungkinan” ini, terletak fakta bahwa kita tidak terbuka terhadap karunia Roh yang memberi kita rahmat ketakjuban.

Mari kita mulai dengan ketakjuban. Marilah kita memandang Yesus di kayu salib dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, betapa Engkau mencintaiku! Betapa berharganya aku bagimu!” Marilah kita dibuat takjub oleh Yesus sehingga kita dapat mulai hidup kembali, karena keagungan hidup tidak terletak pada harta benda dan promosi, tetapi dalam menyadari bahwa kita dicintai. Inilah keagungan hidup: menemukan bahwa kita dicintai. Dan kemegahan hidup justru terletak pada keindahan cinta. Di dalam Yesus yang tersalib, kita melihat Tuhan dipermalukan, Yang Mahakuasa dihina dan dibuang. Dan dengan rahmat ketakjuban kita menyadari bahwa dalam menyambut mereka yang dipecat dan dibuang, dalam mendekati mereka yang diperlakukan buruk oleh kehidupan, kita mencintai Yesus. Karena di situlah Dia: di dalam diri mereka yang terkecil, ditolak dan dibuang, di dalam diri mereka yang dikutuk oleh budaya pembenaran diri kita.

Injil hari ini menunjukkan kepada kita, segera setelah kematian Yesus, ikon takjub yang luar biasa. Ini adalah adegan perwira yang, setelah melihat bahwa Yesus telah mati, berkata: “Sungguh orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39). Dia takjub dengan cinta. Bagaimana dia melihat Yesus mati? Dia melihatnya mati dalam cinta, dan ini membuatnya takjub. Yesus sangat menderita, tetapi dia tidak pernah berhenti mencintai. Inilah rasanya takjub di hadapan Tuhan, yang bahkan bisa mengisi kematian dengan cinta. Dalam cinta yang cuma-cuma dan belum pernah terjadi sebelumnya, perwira kafir itu menemukan Tuhan. Kata-katanya – Sungguh, orang ini adalah Putra Allah! – adalah “meterai” narasi Kisah Sengsara. Injil memberi tahu kita bahwa banyak orang sebelum dia mengagumi Yesus karena mukjizat dan karya-karyanya yang luar biasa, dan telah mengakui bahwa dia adalah Putra Allah. Namun Kristus membungkam mereka, karena mereka bertahan pada tingkat kekaguman duniawi pada gagasan tentang Tuhan yang harus dipuja dan ditakuti karena kekuatan dan keperkasaan-Nya. Sekarang sudah tidak mungkin lagi, karena di kaki salib tidak ada kesalahan: Tuhan telah menyatakan diri-Nya dan memerintah hanya dengan kekuatan cinta.

Saudara dan saudari, hari ini Tuhan terus memenuhi pikiran dan hati kita dengan ketakjuban. Dengan ketakjuban itu, marilah kita memandang Tuhan yang tersalib. Semoga kita juga berkata: “Engkau benar-benar Anak Allah. Engkau adalah Tuhanku.” ***

 

Teks ini diterjemahkan dari Full text: Pope Francis’ 2021 Palm Sunday homily (catholicnewsagency.com)

Minggu Palma: “Merenungkan Misteri Yesus sebagai Raja yang Menderita”

0

Hari ini umat Katolik mulai memasuki Pekan Suci. Pekan Suci ini diawali dengan perayaan Minggu Palma. Dalam perayaan ini umat Katolik mengenang kembali Yesus yang memasuki kota Yerusalem dan disambut oleh banyak orang dengan sorak-sorai. Mereka hendak menempatkan Yesus sebagai raja yang mereka nanti-nantikan.

Suasana sorak sorai ini digambarkan oleh penginil Markus: “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” (Mrk. 11:8-10)

Tapi Yesus tak seperti raja dunia yang sering memimpin dengan tangan besi, haus kekuasaan, sewenang-wenang dan rakus. Ia juga tak seperti raja dunia yang gila harta, tahta dan aneka kenikmatan duniawi lainnya. Ia raja yang berbeda. Hal ini, antara lain, ditandai dengan caranya memasuki kota Yerusalem. Ia tidak menunggang kuda sebagaimana lazimnya raja duniawi pada zamannya. Kuda adalah simbol kegagahan, keberanian dan kuasa. Yesus lebih memilih keledai muda sebagai tunggangan-Nya. Keledai sering dianggap sebagai hewan yang bodoh. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah raja sederhana, miskin dan rendah hati. Ia tak memerintah dengan tangan besi. Ia tak seperti raja dunia yang sering memimpin pasukan untuk berperang melawan musuh. Yesus adalah raja yang memerintah dengan kasih, melalui kata-kata dan cara hidup-Nya. Ia lemah lembut; raja damai. Yang dikehendaki-Nya hanya kedamaian. Bukan permusuhan atau perang.

Setelah secara meriah merenungkan bagaimana Yesus disambut dengan sorak-sorai sebagai raja, umat beriman diajak merenungkan misteri penderitaan yang dialami oleh Yesus (Mrk. 14:1-15:47). Suasana sukacita serentak berubah menjadi suasana hening: merenungkan sengsara dan wafat Yesus Kristus. Apa sesungguhnya yang hendak disampaikan melalui kedua hal ini?

Sesungguhnya umat beriman diajak untuk menyadari bahwa Yesus yang diimaninya adalah adalah raja yang menderita. Selain raja yang miskin, sederhana dan rendah hati, ia juga raja yang menderita, bahkan tergantung di salib seperti penjahat walau Ia tak bersalah. Tapi penderitaan-Nya menyelamatkan dunia. Bahkan melalui peristiwa salib semua orang datang kepada-Nya: “Dan Aku, apabila Aku sudah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh. 12:32). Kata-kata Yesus ini dahsyat maknanya. Terbukti hingga saat ini masih banyak orang yang mau datang dan menyembah Dia yang ditinggikan di salib itu.

Penderitaan-Nya juga sebagai wujud ketaatan-Nya pada kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Ia memang raja yang taat pada kehendak Bapa. Ia raja yang mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Hal ini direnungkan dengan sangat indah dan mendalam oleh rasul Paulus.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:6-11)

Ketaatan Yesus bagaikan ketaatan Hamba Yahwe sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.

“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes. 50:4-7)

Perayaan hari ini seharusnya menggerakkan hati umat beriman untuk bersyukur atas apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Pemberian diri-Nya sebagai raja yang miskin, sederhana, rendah hati dan pembawa damai adalah teladan yang mengagumkan. Umat beriman juga diundang menjadi pribadi yang miskin di hadapan Allah, sederhana, rendah hati dan menjadi pembawa damai di tengah dunia.

Kesediaan-Nya untuk berkorban, menderita sengsara dan wafat di salib adalah hadiah terindah bagi kita. Sebab semuanya itu dilakukan-Nya demi cinta-Nya kepada Bapa dan demi keselamatan dunia. Ketaatan-Nya yang total pada kehendak Bapa dan pemberian diri-Nya yang tulus demi keselamatan dunia adalah teladan yang mengagumkan. Kita pun diundang terus belajar dari-Nya agar taat pada kehendak Bapa, bukan tunduk pada keinginan diri sendiri atau kehendak dunia yang kadang-kadang bertentangan dengan kehendak Bapa. Kita pun diundang untuk belajar berkorban: tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Kita memang perlu berkorban untuk orang lain, terutama untuk mereka yang menderita: menyapa, menemani dan mendoakan mereka atau memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan kita. Yesus adalah teladan kita.

Selamat memasuki Pekan Suci!

“FRANCESCO”: Film Dokumenter tentang Paus Fransiskus mulai tayang secara global pada 28 Maret 2021

0
Paus Fransiskus dengan sutradara Evgeny Afineevsky (Vaticannews.va)

“Francesco”, film dokumenter yang disutradarai oleh Evgeny Afineevsky yang didedikasikan untuk Paus Fransikus, akan disiarkan secara global mulai Minggu, 28 Maret. Berbicara tentang pengalamannya dengan film tersebut, Afineevsky berkata: “Yang paling saya kagumi tentang Paus adalah caranya menyatukan orang-orang.”

***

Tayang perdana di Festival Film Roma, film “Francesco” yang disutradarai oleh sutradara nominasi Oscar Evgeny Afineevsky, akan mulai streaming secara global pada Minggu 28 Maret di saluran Discovery+.

“Merupakan suatu kehormatan untuk menjadi tuan rumah pemutaran perdana global Francesco di Discovery+, menyoroti pandangan tajam dan mendalam salah satu pemimpin yang paling dicintai dan berpengaruh di dunia, Paus Fransiskus,” kata Lisa Holme, SVP grup “Konten dan Strategi Komersial” (Content and Commercial Strategy) untuk Discovery, Inc.

Mengaitkan filmnya tentang Paus Fransiskus dengan film-film sebelumnya, dan khususnya tentang Suriah, Afineevsky mengatakan kepada Vatican News: “Dalam dua film saya sebelumnya, saya menyadari bahwa umat manusia berada dalam krisis dan saya melihat bagaimana film dan penceritaan visual saya dapat membantu memberi perhatian pada masalah dunia yang penting dunia saat ini dan mengandung seruan untuk bertindak. Saya bisa melihat bagaimana film saya mampu membawa suara orang-orang yang tidak bersalah dan penting dari seluruh dunia ke layar lebar. Setelah Suriah, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dapat membawa harapan, cahaya, menyebarkan kemanusiaan dan cinta, menginspirasi perubahan pada banyak masalah dunia yang paling aktual di sekitar kita. Saya kemudian mengetahui tentang Paus Fransiskus dan tindakan kemanusiaannya yang luar biasa yang dia lakukan terhadap semua umat manusia di planet ini, melakukan tindakan dan memberikan perhatian pada semua masalah penting saat ini. Jadi, saya mengambil langkah pertama menuju kesembuhan saya sendiri, sekaligus menghadirkan jalan menuju harapan bagi kemanusiaan kita, dengan menghadirkan Paus Fransiskus sebagai figur penting untuk menginspirasi persatuan bagi seluruh umat manusia.”

“Fransiskus, sebagai pemimpin Gereja Katolik”, kata sutradara itu, “selalu mendorong untuk menyatukan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat. Perjalanannya yang berani baru-baru ini ke Irak adalah tindakan yang terbukti dan contoh yang sederhana di bidang ini. Itu adalah sesuatu yang kita lewatkan akhir-akhir ini. Saya juga menyadari bahwa saya ingin lebih memperhatikan banyak masalah global dan penting lainnya yang kita sebagai manusia telah ciptakan di masa-masa penuh gejolak ini dan Paus Fransiskus sebagai seseorang, yang dapat menunjukkan kerendahan hati, kebijaksanaan melalui pelajaran hidup dan kemurahan hatinya yang luar biasa terhadap kita semua, dan melalui tindakannya, yang dapat kita tiru atau pelajari, dapat membantu kita membangun jembatan menuju masa depan yang lebih baik dan berkembang sebagai komunitas global ”.

Sutradara dari keluarga Yahudi ini menyatakan dirinya sebagai orang yang tidak beragama. “Saya seorang dari budaya Yahudi”, katanya tentang dirinya sendiri. “Saya lahir Yahudi, keluarga saya Yahudi. Saya menghormati agama. Tapi saya bukan orang yang religius. Dan film saya bukan tentang Gereja Katolik. Ini tentang seorang pria yang memimpin sebuah institusi penting, ini tentang pemahaman, iman, dan sesuatu yang jauh lebih besar dari Gereja. Ini tentang kita, tentang kemanusiaan, bagaimana kita menciptakan bencana di sekitar kita. Ini tentang manusia rendah hati yang mencoba menunjukkan kepada kita jalan menuju masa depan… terutama sekarang ketika pandemi telah menciptakan ‘garis merah’ yang memisahkan kita dari masa lalu dan masa depan kita.”

“Saya merasa harus berterima kasih kepada Paus atas kesabarannya dengan saya”, kata Afineevsky. “Dia sangat rendah hati. Anda tidak merasakan superioritas, Anda merasa nyaman di sampingnya seolah-olah Anda duduk di sebelah kerabat atau teman. Dia suka mendengarkan sehingga Anda merasa seperti dia ada di sini untuk Anda. Dia memiliki selera humor yang tinggi, dia juga penggemar berat olahraga. Dia memiliki semangat yang hebat – dia selalu positif. Yang paling saya kagumi adalah bagaimana dia menyatukan orang; dan transparansi yang dia bawa ke dalam Gereja, pemberdayaan wanita dengan munculnya figur perempuan yang bekerja di Takhta Suci, di posisi tinggi.”

Sutradara ini juga menjelaskan bagaimana pandemi mengubah film: “Saya pikir pandemi benar-benar mengubah ide saya tentang dokumenter. Dan seperti yang Anda lihat, semua tentang ‘garis merah’ inilah yang memaksa kita untuk menyadari apa yang perlu kita evaluasi ulang… apa yang perlu kita tinggalkan di masa lalu dan tindakan apa yang perlu kita ambil untuk masa depan kita. Adegan pembukaan ketika Paus berjalan ke mimbar di lapangan St. Petrus yang kosong membuat Anda terguncang hingga ke inti jiwa Anda. Pemandangan ini bagi setiap orang dapat terlihat seperti akhir dunia dan mungkin akhir dari sejarah umat manusia, jika kita sebagai masyarakat dan manusia tidak berhenti sejenak dan mengevaluasi kembali semua yang telah kita lakukan.”

Film ini juga membahas masalah pelecehan seksual dan kekuasaan di Gereja. Dan Afineevsky menyatakan bahwa ini adalah bagian yang paling dia banggakan: “Pelecehan seksual dan penyalahgunaan kekuasaan di Gereja adalah mikrokosmos pelecehan di berbagai komunitas. Paus Fransiskus melakukan banyak hal untuk memerangi pelecehan seksual dan korupsi di Gereja. Menunjukkan bagaimana itu terjadi dan bagaimana Paus bekerja keras untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, sangatlah penting dan kuat. Perubahan membutuhkan waktu. Apa yang telah saya saksikan, apa yang telah disaksikan oleh Juan Carolos Cruz dan apa yang disaksikan oleh para korban lainnya, adalah bahwa Paus Fransiskus mengambil langkah yang tepat ke arah yang benar untuk membarui lembaga ini. Itu tidak bisa diubah dalam semalam, tapi kita bisa melihat dan menyaksikan dalam film bahwa dia melakukan banyak hal untuk mengubah situasi dan berada di jalur yang benar.”

Sebuah bagian dalam film tentang pasangan gay menyebabkan banyak diskusi segera setelah penayangannya di Festival Film Roma. Paus berbicara tentang undang-undang sipil, tentang kemungkinan mengatur serikat sipil homoseksual, seperti yang terjadi di beberapa negara, tanpa mengasimilasinya dengan pernikahan sakramental seperti antara seorang pria dan seorang wanita; tentang kebutuhan untuk melindungi orang dari semua jenis diskriminasi dan tentang hak anak gay untuk tidak dikucilkan dari keluarga aslinya, mengundang orang tua untuk memahami dan menyambut mereka. “Dari perkataan Paus yang saya masukkan dalam film”, sutradara ini menjelaskan, “secara pribadi saya mengerti bahwa dia, sebagai seorang paus, hanya ingin melindungi kehidupan setiap manusia, tidak peduli warna kulit, agama, atau kehidupan seksual mereka. Inilah mengapa dia ingin kaum gay dilindungi dari segala jenis diskriminasi.”

“Film ini,” Afineeysky menyimpulkan, “adalah surat cinta untuk bumi dan semua penghuninya dan akan ada di sana sebagai pengingat yang kuat tentang apa yang bisa terjadi jika kita berhenti ‘mencintai satu sama lain’. Semoga kita semua mengikuti kesaksian hidup dan tindakan indah dari pria luar biasa ini, Paus Fransiskus. Saya berharap ini akan membawa perhatian pada isu-isu global penting yang digambarkan dalam film tersebut; dan bahwa kita dapat bersatu untuk melakukan perubahan di dunia dan melestarikannya untuk masa depan. Dengan Paus Fransiskus sebagai tokoh sentral dalam film tersebut, itu adalah bukti kekuatan satu orang untuk membuat perbedaan. Dan ini adalah inspirasi bagi pemirsa untuk melakukan hal yang sama.” ***

 

Artikel ini diterjemahkan dari The film “Francesco” on Discovery+ – Vatican News

Paus Fransiskus: Inkarnasi adalah ‘Jantung dan Inspirasi’ dari “The Divine Comedy” Karya Dante Alighieri

0
Dante portrait by Domenico di Michelino. / Credit: Jim Forest (CC BY-NC-ND 2.0) // Catolicnews.agency.com

Dalam sebuah Surat Apostolik (Candor lucis aeternae – Splendor of Light Eternal) untuk peringatan 700 tahun wafatnya Dante Alighieri, Paus Fransiskus mengatakan bahwa misteri Inkarnasi Kristus adalah “jantung dan inspirasi sejati” dari karya puisi Dante yang terkenal, The Divine Comedy (Komedi Ilahi).

“Misteri Inkarnasi, yang kita rayakan hari ini, adalah jantung dan inspirasi sejati dari seluruh puisi,” kata Paus Fransiskus, pada tanggal 25 Maret, pada hari raya Kabar Sukacita.

Komedi Ilahi “mempengaruhi apa yang para Bapa Gereja sebut sebagai ‘divinisasi’ (pengilahian) kita, pertukaran yang mengagumkan, pertukaran luar biasa di mana Tuhan memasuki sejarah kita dengan menjadi daging, dan umat manusia, dalam dagingnya, dimampukan untuk memasuki alam ketuhanan, dilambangkan dengan mawar yang diberkati,” ujarnya.

Paus Francis mengeluarkan Surat Apostolik Candor Lucis aeternae pada kesempatan “Dantedì,” nama Italia untuk hari Dante (Dante Day). Hari Dante adalah bagian dari perayaan selama setahun dari penyair dan filsuf besar Italia, yang meninggal pada tahun 1321.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa dengan suratnya dia ingin bergabung dengan paus sebelumnya “yang menghormati dan memuji penyair Dante, terutama pada hari kelahiran atau kematiannya, dan untuk mengusulkan lagi agar diperhatikan oleh Gereja, komunitas besar umat beriman, cendekiawan sastra, teolog, dan seniman.”

Tanggal 25 Maret adalah tanggal yang diyakini banyak cendekiawan menandai awal perjalanan Dante dalam “The Divine Comedy”.

“Pada ulang tahun ini,” kata Francis, “suara Gereja hampir tidak bisa diabaikan dari peringatan universal pria dan penyair Dante Alighieri. Lebih baik dari kebanyakan, Dante tahu bagaimana mengekspresikan dengan keindahan puitis kedalaman misteri Tuhan dan cinta.”

“Puisinya, salah satu ekspresi tertinggi dari kejeniusan manusia, adalah buah dari inspirasi baru dan mendalam, yang terhadapnya penyair (Dante) menyebut: ‘Puisi Suci / Yang mana surga dan bumi telah meletakkan tangannya’ (Paradiso XXV, 1-2),” lanjutnya.

Paus berkata bahwa “pada Dante kita hampir dapat melihat cikal bakal budaya multimedia kita, di mana kata dan gambar, simbol dan suara, puisi dan tarian bertemu untuk menyampaikan satu pesan.”

“Tapi karya penyair agung juga menimbulkan pertanyaan provokatif untuk zaman kita sekarang. Apa yang bisa dia komunikasikan kepada kita di zaman sekarang ini? Apakah dia masih memiliki sesuatu untuk dikatakan atau ditawarkan kepada kita? Apakah pesannya relevan atau berguna bagi kita? Masih bisakah itu menantang kita?” Tanya Paus Fransiskus.

Menurut Paus, Dante mengajak kita untuk menjadi pendampingnya dalam perjalanan: “Jika Dante menceritakan kisahnya dengan mengagumkan, menggunakan bahasa rakyat namun mengangkatnya ke bahasa universal, itu karena dia memiliki pesan penting untuk disampaikan, salah satunya dimaksudkan untuk menyentuh hati dan pikiran kita, untuk membarui dan mengubah kita bahkan sekarang, dalam kehidupan sekarang ini.”

“Sebuah pesan yang dapat dan harus membuat kita menghargai sepenuhnya siapa kita dan arti dari perjuangan kita sehari-hari untuk mencapai kebahagiaan, kepuasan dan tujuan akhir kita, tanah air kita yang sejati,” tulisnya, “di mana kita akan berada dalam persekutuan penuh dengan Tuhan, Cinta yang tak terbatas dan abadi. ”

“Dante adalah manusia pada masanya, dengan kepekaan yang berbeda dari kepekaan kita di bidang tertentu, namun humanismenya tetap tepat waktu dan relevan, sebuah titik acuan yang pasti untuk apa yang ingin kita capai di zaman kita sekarang.”

Di bagian pertama suratnya, Paus Fransiskus memberikan gambaran umum tentang pernyataan yang dibuat oleh para paus abad terakhir tentang Dante, seperti ensiklik Benediktus XV, In praeclara summorum, yang diterbitkan untuk peringatan 600 tahun kematian penyair, dan Surat apostolik Santo Paulus VI Altissimi cantus.

Paus Fransiskus mengutip dari Altissimi cantus: “Mungkin ada beberapa orang yang bertanya mengapa Gereja Katolik, atas kehendak Kepalanya yang terlihat, begitu peduli untuk mengembangkan ingatan dan merayakan kemuliaan penyair Florentine. Tanggapan kita mudah: dengan hak istimewa, Dante adalah milik kita! Kita, yang ingin kita katakan, tentang iman Katolik, karena dia memancarkan kasih kepada Kristus; milik kita, karena dia sangat mencintai Gereja dan menyanyikan kemuliaan Gereja; dan milik kita juga, karena dia diakui dan dihormati oleh Paus di Roma, Wakil Kristus.”

Dia mencatat bahwa Santo Yohanes Paulus II sering merujuk Dante dalam pidatonya, dan Paus Emeritus Benediktus XVI sering menarik poin untuk refleksi dan meditasi dari puisinya.

Paus Fransiskus juga menggunakan gambar karya Dante (Dante’s Paradiso: Gambar Firdaus karya Dante) dalam ensiklik pertamanya, Lumen fidei, dan menandai peringatan 750 tahun kelahiran penyair itu dengan pesan pada tahun 2015.

Dante Alighieri lahir di Florence pada tahun 1262. Ia menikah dengan Gemma Donati, dan dikaruniai empat orang anak. Kerusuhan dan perselisihan politik di Florence menyebabkan pengasingan abadi sang penyair dari kota kesayangannya pada tahun 1302.

Pada 1315, dia dijatuhi hukuman mati bersama anak remajanya. Tempat pengasingan terakhirnya adalah Ravenna, di mana dia meninggal pada 13-14 September 1321.

“Meninjau peristiwa-peristiwa dalam seluruh hidupnya di atas dalam terang iman, Dante menemukan panggilan dan misi pribadinya. Dari sini, secara paradoks, dia muncul bukan lagi sebagai orang yang gagal, orang berdosa, kecewa dan kehilangan semangat, tetapi seorang nabi pengharapan,” kata Paus.

Dia menjelaskan bahwa meskipun Dante mencela korupsi di beberapa bagian Gereja, dia juga menganjurkan pembaruan, memohon pemeliharaan Tuhan untuk mewujudkannya.

Dante mengingatkan para pembacanya bahwa kebebasan bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi “syarat untuk terus naik lebih tinggi,” kata paus. “Perjalanannya melalui tiga kerajaan dengan jelas menggambarkan pendakian ini, yang pada akhirnya mencapai surga dan mengalami kebahagiaan total.”

Menurut Paus Fransiskus, karya Dante juga berisi “risalah Mariologi yang luar biasa.” Dia berkata: “Dengan lirik yang luhur, khususnya dalam doa St. Bernard, penyair mensintesis refleksi teologi tentang sosok Maria dan partisipasinya dalam misteri Tuhan:

Engkau Bunda Perawan, putri Putramu,
Rendah hati dan tinggi melebihi semua makhluk lainnya,
Batas yang ditetapkan dari nasihat kekal,
Engkau adalah orang yang begitu mulia
Kepada manusia alam memberi, bahwa Penciptanya
Tidak meremehkan menjadikan dirinya makhluknya.
(Paradiso XXXIII, 1-6)

Paus mencatat kehadiran penting perempuan dalam The Divine Comedy, termasuk Perawan Maria, Beatrice, dan Lucia. Dia juga menyoroti masuknya Santo Fransiskus dari Assisi oleh Dante, yang digambarkan dalam Canto XI dari puisi Paradiso.

“St. Fransiskus dan Dante memiliki banyak kesamaan,” katanya. “Fransiskus, bersama para pengikutnya, meninggalkan biara dan keluar di antara orang-orang, di kota-kota kecil dan di jalan-jalan kota, berkhotbah kepada mereka dan mengunjungi rumah mereka. Dante membuat pilihan, tidak biasa untuk usia itu, untuk menyusun puisi besarnya tentang kehidupan setelah mati dalam bahasa sehari-hari, dan untuk mengisi kisahnya dengan karakter yang terkenal dan tidak jelas, namun memiliki martabat yang setara dengan para penguasa dunia ini.”

Dia juga menggarisbawahi bahwa ciri umum lain dari keduanya adalah kepekaan mereka terhadap keindahan ciptaan sebagai cerminan Penciptanya.

“Kita bisa mendengar dalam parafrase Dante tentang Bapa Kami, gema dari Nyanyian Matahari Santo Fransiskus: ‘Terpujilah nama-Mu dan kemahakuasaan-Mu / Oleh setiap makhluk …’ (Purgatorio XI, 4-5),” dia mencatat.

“Dante,” dia menyimpulkan, “dapat membantu kita untuk maju dengan ketenangan dan keberanian dalam ziarah kehidupan dan iman yang kita masing-masing terpanggil untuk melakukannya, sampai hati kita menemukan kedamaian dan kegembiraan sejati, sampai kita tiba di tujuan akhir dari seluruh umat manusia: ‘Cinta yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang lain’ (Paradiso, XXXIII, 145).” ***

 

Artikel ini diterjemahkan dari Hannah Brockhaus dalam Pope Francis: The Incarnation is the ‘heart and inspiration’ of Dante’s Divine Comedy (catholicnewsagency.com)

Paus Fransiskus: “Dante Alighieri itu Nabi Harapan dan Penyair Belas Kasih”

0
Dante Alighieri (Vaticannews.va)

Paus Fransiskus merilis Surat Apostolik berjudul “Kemegahan Cahaya Abadi” (Candor lucis aeternae) yang menandai peringatan 700 tahun kematian penyair besar Italia, Dante Alighieri, dan menyoroti relevansi, keabadian, dan kedalaman iman dalam karya agung Dante: “The Divine Comedy” (Komedi Ilahi).

***

700 tahun setelah kematiannya pada tahun 1321, ketika diasingkan di Ravenna dari Florence tercinta, Dante masih berbicara kepada kita. Dia berbicara kepada pria dan wanita saat ini, meminta untuk dibaca dan dipelajari, tetapi juga untuk didengarkan dan ditiru dalam perjalanannya menuju kebahagiaan, yaitu Cinta Tuhan yang tak terbatas dan abadi.

Demikian tulis Paus Fransiskus dalam Surat Apostoliknya “Kemegahan Cahaya Abadi (“Candor lucis aeternae – Splendor of Light Eternal”), yang diterbitkan pada 25 Maret, Hari Raya Kabar Sukacita. Tanggalnya bukan kebetulan: misteri inkarnasi, yang berasal dari penerimaan Maria secara penuh dan total atas rencana Tuhan, kata Paus, adalah “jantung dan inspirasi sejati dari seluruh puisi” karena itu mempengaruhi pertukaran luar biasa di mana Tuhan memasuki sejarah kita dengan menjadi daging, dan umat manusia “diangkat kepada Tuhan, yang di dalam-Nya ia menemukan kebahagiaan sejati.”

Para Paus dan Dante

Terbagi dalam sembilan alinea, Surat Apostolik “Kemegahan Cahaya Abadi” diawali dengan uraian singkat mengenai pemikiran berbagai Paus tentang Dante. Kemudian, Paus Fransiskus memikirkan kehidupan Alighieri, menyebutnya sebagai “paradigma kondisi manusia” dan menekankan “ketepatan waktu dan kepentingan abadi” dari karyanya. Faktanya, itu adalah “bagian integral dari budaya kita,” tulis Paus, “Membawa kita kembali ke akar kekristenan di Eropa dan Barat. Itu mewujudkan warisan cita-cita dan nilai-nilai yang terus ditawarkan oleh Gereja dan masyarakat sipil” hingga saat ini sebagai “dasar dari tatanan sosial yang manusiawi di mana semua dapat dan harus melihat yang lain sebagai saudara dan saudari.”

Kehendak bawaan untuk kebahagiaan

Ada dua pilar utama dalam “Komedi Ilahi” (The Divine Comedy) – jelas Paus – yaitu “kehendak bawaan dalam hati manusia” dan “pemenuhan dalam kebahagiaan yang dianugerahkan oleh visi Cinta yang adalah Tuhan.” Inilah mengapa Dante menjadi “nabi harapan”: karena dengan karyanya ia mendesak umat manusia untuk membebaskan diri dari “hutan gelap” dosa untuk menemukan “jalan yang benar” dan dengan demikian mencapai “kepenuhan hidup dan waktu dalam sejarah” dan “kebahagiaan abadi di dalam Tuhan”. Jalan yang ditunjukkan oleh Dante, sebuah “ziarah” sejati, adalah “realistis dan dalam jangkauan” semua, karena “rahmat Tuhan selalu menawarkan kemungkinan perubahan dan pertobatan.”

Perempuan dalam Karya Dante

Surat Apostolik “Candor lucis aeternae” juga menonjolkan tiga sosok perempuan dalam karya Dante, “The Divine Comedy” (Komedi Ilahi): Maria, Bunda Allah, mewakili kasih; Beatrice, mewakili harapan; dan Lusia, mewakili iman. Ketiga perempuan ini, yang mewakili tiga kebajikan teologis, menemani Dante pada berbagai tahap ziarahnya, menunjukkan bahwa “kita tidak diselamatkan sendirian”, tetapi bahwa bantuan dari mereka yang “dapat mendukung dan membimbing kita dengan kebijaksanaan dan kehati-hatian” adalah perlu. Apa yang menggerakkan Maria, Beatrice dan Lusia, pada kenyataannya, selalu adalah cinta ilahi, “sumber keselamatan dan kegembiraan”, “untuk hidup yang diperbarui dan dengan demikian menuju kebahagiaan.”

Dante dan Santo Fransiskus Assisi

Paus kemudian mendedikasikan paragraf lain untuk Santo Fransiskus, yang dalam karya Dante digambarkan dalam “mawar putih yang diberkati”. Dia melihat “banyak kesamaan” antara Santo Fransiskus dan penyair agung (Dante): keduanya, pada kenyataannya, berbicara kepada orang-orang, yang pertama “pergi keluar di antara orang-orang”, yang kedua memilih untuk tidak menggunakan bahasa Latin, tetapi bahasa sehari-hari (bahasa daerah), bahasa semua orang. Keduanya, terlebih lagi, membuka diri “pada keindahan dan nilai” ciptaan, cermin dari Penciptanya. Seniman brilian, yang humanismenya “tetap tepat waktu dan relevan,” Alighieri juga – Paus menegaskan – “cikal bakal budaya multimedia kita, karena dalam karyanya” kata dan citra, simbol dan suara, puisi dan tarian bertemu untuk menyampaikan satu pesan.”

Pesan untuk semua

Paus selanjutnya memberi selamat kepada para guru yang “dengan penuh semangat mengkomunikasikan pesan Dante dan memperkenalkan orang lain pada kekayaan budaya, agama dan moral yang terkandung dalam karya-karyanya” dan dia meminta agar “warisan” ini tidak dikurung di ruang kelas dan universitas, tetapi diketahui dan menyebar luas berkat komitmen komunitas Kristen dan asosiasi budaya.

Dia juga mengajak seniman untuk “memberikan suara, wajah dan hati, bentuk, warna dan suara pada puisi Dante dengan mengikuti jalan keindahan yang dia lalui dengan sangat ahli,” untuk menyebarkan “pesan perdamaian, kebebasan dan persaudaraan.” Menurut Paus, sebuah tugas yang masih relevan seperti sebelumnya di momen bersejarah ini adalah kita “diselimuti oleh situasi ketidakmanusiawian yang mendalam dan kurangnya kepercayaan diri serta prospek untuk masa depan.” Oleh karena itu, Dante, sang penyair agung itu- Surat Apostolik menyimpulkan – dapat “membantu kita untuk maju dengan ketenangan dan keberanian dalam ziarah kehidupan dan keyakinan yang harus kita lakukan masing-masing, sampai hati kita menemukan kedamaian sejati dan kegembiraan sejati, sampai kita tiba di tujuan akhir seluruh umat manusia: Sang Cinta yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang lainnya.”***

 

Artikel ini diterjemahkan dari Isabella Piro dalam Pope Francis celebrates Dante: Prophet of hope and poet of mercy – Vatican News

Hari Raya Kabar Sukacita: “Terjadilah Kehendak-Mu!”

0

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk. 1:26-38)

***

Hari ini, Kamis, 25 Maret, Gereja Katolik merayakan perayaan besar, Maria diberi kabar atau Hari Raya Kabar Sukacita. Umat Katolik merenungkan dengan sungguh-sungguh bagaimana Allah secara khusus melibatkan Bunda Maria dalam mewujudkan karya keselamatan di tengah dunia (Bdk. Luk. 1:26-38). Melalui malaikat Gabriel, Allah meminta persetujuan Maria untuk menjadi bunda Allah.

Setelah terjadi dialog iman yang singkat tapi mendalam antara malaikat Gabriel dan Bunda Maria, akhirnya terjadi kesepakatan. Maria menyetujui tawaran keselamatan dari Allah untuk menyelamatkan dunia dengan melibatkan dirinya. Persetujuan Maria ini merupakan ungkapan iman Maria bahwa yang berasal dari Allah itu pasti yang terbaik. Allah yang mahakasih dan penyayang itu tak mungkin mencelakakan dirinya.

Maria juga yakin bahwa Allah yang mahakasih itu menyertai ziarah hidupnya ke depan. Ia hanya seorang hamba yang mau taat kepada Allah. Itulah alasannya ia dengan lantang berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Semoga seperti Bunda Maria yang mau bekerja sama dengan Allah untuk mewujudkan karya keselamatan di dunia,  kita juga terus diajak agar terbuka pada kehendak Allah dan bersedia membuka diri untuk bekerja sama dengan-Nya demi mematangkan iman kita masing-masing dan terus berbuah setiap hari: menjadi berkat bagi sesama dan alam ciptaan-Nya. Semoga seperti Maria, kita selalu membiarkan kehendak Allah terjadi dalam hidup ini dan selalu yakin bahwa kehendak Allah itu selalu yang terbaik.

Kita hanya perlu menyerahkan diri kita dengan segala pergumulannya kepada Allah seraya berkata seperti Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Ini seruan iman sekaligus doa yang singkat dan berbobot.

Marilah bersama-sama dengan penuh iman kita berseru, “Aku milik-Mu semata-mata dan segala milikku kupersembahkan kepada-Mu ya Yesus terkasih, melalui Maria, ibumu yang tersuci.”

“Per Mariam ad Jesum” (Kepada Yesus melalui Maria). Ave Maria!***